
Ken memeluk tubuh karin menenangkan hati terluka.
"Maafkan aku yang telah menghancurkan kebahagiaanmu, bisakah kau menunggu sedikit lebih lama. Proses perceraian ku dengan Sasa, yang belum ada ujungnya, membuat ku tak bisa menikahimu untuk saat ini. Aku janji akan tetap bertanggung jawab, karena itu anak kita." ucap Ken pada Karin.
"Aku akan menunggu sampai kapan pun itu tuan asal kan, janin ini bisa ku rawat sampai dia lahir" jawab Karin.
"Aku akan bertanggung jawab penuh atas semua nya, asal kamu mau sabar menunggu sampai waktunya tiba, sebab jika aku menikahimu sekarang, Sasa akan menang dan dia akan membawa Joy Dan jika tuduhan terhadap ku tidak benar, Sasa akan kalah dan harus keluar tanpa Joy. Aku ingin menjadikanmu satu-satunya istriku bukan istri ke dua." Karin hanya mengangguk mendengar penjelasan Ken, tak dapat memaksa keadaan.
Saat ini yang terpenting Ken tidak memintanya untuk menggugurkan kandungannya itu sudah membuat Karin lega, apa lagi Ken mau menerima darah dagingnya itu membuat Karin lebih bahagia dan sanggup menunggu sampai Ken mau menghalalkan dirinya.
"Tuan, tangan tuan berdarah, biar Karin obati ya." Karin langsung mengambil p3k dan mengobati luka di tangan Ken dan di perban.
Tak lama ponsel Ken berdering dan itu dari Anton, Ken diminta untuk segera ke kantor ada hal penting yang perlu dibahas.
"Karin, sekarang bersiaplah, aku sudah meminta dokter Bara untuk membuatkan jadwal pemeriksaan kandunganmu dengan dokter terbaik, tapi maaf aku gak bisa menemanimu, karena aku harus ke kantor, kamu gak papa kan?" tanya Ken.
"Iya tuan, kalau begitu saya bersiap dulu" jawab Karin singkat.
Tak lama karin dan Ken berangkat ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter kandungan. Ken hanya mengantarkan sampai parkir. " Karin, nanti kamu pulang naik taksi ya, aku gak bisa jemput dan ingat jangan pulang malam-malam." pesan Ken
"Iya tuan. Tuan gak usah kuatir Karin bisa jaga diri kok." jawab Karin. Ken pun langsung pergi meninggalkan Karin untuk ke kantor.
Karin Langsung masuk kerumah sakit dan mengikuti prosedur yang sudah di jelaskan Ken dan kini Karin tinggal menunggu giliran.
Setelah cukup lama karin menunggu giliran, akhirnya tiba giliran karin untuk di periksa dan langsung menemui dokter.
Karin duduk di kursi pasien berhadapan dengan dokter yang masih memandangi sesuatu.
Setelah selesai tanda tangan dokter Sandi baru melihat wajah pasiennya. Alangkah terkejutnya dengan yang dokter Sandi lihat.
"Karin...."panggil dokter Sandi.
"Iya saya Karin." jawab Karin.
"Apa kamu lupa dengan ku, ini aku sandi kita pernah bertemu di taman waktu itu."Jelas sandi namun Karin masih belum ingat.
"Maaf dok, saya gak ingat pernah ketemu dokter." Jawab Karin.
"Ya udah, kalau kamu lupa kita kenalan lagi. Aku dokter Sandi." sandi mengulurkan tangannya pada Karin sambil tersenyum.
"Saya Karina" Karin membalas menjabat tangan sandi dan juga tersenyum.
"Sebelum di periksa, Karin bisa jelaskan dulu keluhan selama kehamilan ini." pinta sandi
__ADS_1
Karin menjelaskan panjang lebar mengenai kondisinya selama kehamilan. Sandi hanya mengangguk- angguk mendengar keterangan dari Karin.
Setelah mengetahui keluhan Karin sandi pun memeriksa kandungan Karin yang masih muda.
"Karin, kandungan mu cukup baik, dan ini yang bermasalah adalah ibunya." jelas sandi
"Memangnya saya kenapa dok? Saya baik-baik saja kan" tanya Karin yang langsung cemas.
"Kamu baik-baik saja, cuma masalah stres yang harus segera di atasi, jika tidak bisa menggangu pertumbuhan janinnya." jelas Sandi.
"Ohhhh, baiklah dok, saya akan berusaha untuk mengatasi stres saya jika itu berbahaya untuk anakku."
"Bagus lah kalau begitu, ini ada beberapa resep vitamin dan juga untuk mengurangi mual, dan satu lagi jangan lupa konsumsi susu untuk ibu hamil, itu sangat penting."
"Baiklah dok, terimakasih atas sarannya, kalau begitu saya permisi dulu." Karin pun meninggalkan sandi keluar ruangan.
Sandi menatap kepergian Karin sebelum menghilang di balik pintu.
"Karin, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, setelah pertemuan pertama itu, wajahmu tak pernah hilang dari ingatanku, dan kini secara tidak sengaja kita dipertemukan kembali, mudah-mudah kita bisa bertemu lagi." gumam sandi sambil tersenyum mengingat wajah Karin.
Setelah selesai periksa, Karin menunggu taksi yang di pesan ken sebelumnya untuk mengantarkan pulang, namun cukup lama Karin menunggu namun tidak ada datang yang datang malah pesan yang berisikan pembatalan karena taksi yang di pesan mengalami masalah.
Dengan sedikit cemberut, Karin akhirnya memilih berjalan ke halte tak jauh dari rumah sakit untuk menunggu bus.
Saat Karin sedang berjalan klakson mobil mengagetkan Karin yang berhenti di sampingnya.
"Mau ke halte dok, nunggu bis buat pulang." jawab Karin.
"Ayo bareng denganku, biar aku antar pulang" ajak sandi.
"Gak usah dok, nanti merepotkan dokter." tolak Karin.
"Gak papa." Sandi pun turun dan langsung menarik tangan Karin untuk masuk dalam mobilnya."
Selama diperjalanan tak banyak yang mereka bicarakan. Namun pertanyan sandi membuyarkan lamunan karin.
"Mana Suamimu, kok gak jemput?" tanya Sandi.
"Anu...dok, dia lagi di kantor ada urusan penting."
"Seharusnya, sebagai suami harus mengutamakan istrinya yang lagi hamil, apa lagi malam-malam begini, emangnya dia gak peduli."
"Dia peduli kok dok, cuma mungkin pekerjaannya memang sangat penting."
__ADS_1
"Oya Karin, kamu apa benar-benar lupa sama aku?" tanya sandi memastikan.
"Saya benar-benar gak ingat pernah ketemu dokter." jawab Karin.
"Aku yang menghampiri mu saat kamu duduk di taman sendirian. Ya walaupun sebentar tapi aku masih mengingat wajahmu dan senyumanmu." sandi menjelaskan lagi dan Karin mencoba mengingat-ingat itu.
"Dokter, yang menghampiri saya pakai kacamata bulat dan kemeja kotak-kotak itu ya."
"Iya benar sekali, akhirnya kamu ingat juga denganku."
"Maaf banget dok, saya benar-benar gak ingat, soalnya penampilan dokter yang sekarang dengan yang kemarin sangat berbeda dan gak nyangka kalau anda seorang dokter kandungan."
"Panggil aja aku Sandi, dokter itu hanya gelar saat kerja kalau di luar aku adalah Sandi."
"Baiklah mas Sandi makasih banyak, atas tumpangannya, saya berhenti di depan aja, nanti masuknya saya jalan kaki aja."
"Kenapa gak sekalian sampai depan, aku gak keberatan Lo."
"Gak papa sampai pinggir jalan aja."
Akhirnya mobil berhenti di pinggir jalan utama dan menurunkan Karin.
"Makasih ya mas sudah ngantarin Karin."
"Sama-sama, apa boleh lain kali kita ketemu lagi?" tanya Sandi.
"Jika dipertemukan kita pasti ketemu lagi. Ya sudah silahkan mas Sandi lanjutan perjalanannya, Karin juga mau pulang." Karin pun melambaikan tangan ketika mobil Sandi pergi meninggalkan Karin
Karin pun berjalan sendirian menuju rumah. Karin berharap ken tidak tahu bahwa dirinya di antar pulang laki-laki.
Saat sedang berjalan klakson mobil kembali mengagetkan Karin dan itu Ken yang baru saja pulang.
"Ayo masuk, kenapa jalan kaki?" tanya Ken pada Karin yang baru masuk mobil.
"Karin menunggu antrian panjang, dan menunggu taksi yang sudah dipesan semuanya lama."
"Terus kenapa gak diantar sampai rumah."
"Karin yang minta di turunkan di pinggir jalan soalnya Karin pengen jalan kaki aja." jelas Karin dan akhirnya sampai di halaman rumah.
Ken keluar duluan dan membukakan pintu untuk Karin dan langsung mengangkat tubuh Karin.
"Tuan gak perlu di gendong, Karin bisa jalan sendiri." Karin langsung melingkarkan tangannya di leher Ken.
__ADS_1
"Jangan protes, malam ini aku sangat bahagia, dan akan membaginya denganmu." jelas Ken.
"Benarkah, Karin gak sabar ingin mendengarnya, Karin juga punya kabar baik."