Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
S1-11


__ADS_3

Pagi pun tiba, semua keluarga berkumpul untuk sarapan namun Karin tak terlihat ikut sarapan bersama.


"Dimana Karin? kenapa tidak ikut sarapan bersama kita?" tanya mami Vika.


"Gak tahu mam, mungkin Karin masih marah gak mau ketemu dengan Rafael,soalnya dari kemaren Karin gak mau keluar kamar." jelas Rafael sambil menyuap nasi.


"Ken, coba lihat Karin, mama takut dia kenapa-kenapa, soalnya hanya kamu yang dekat dengannya."


"Dia kan sudah besar, dia tahu mengurus dirinya sendiri, kalau lapar pasti juga keluar, jangan terlalu dimanja dia, nanti malah melunjak" saut Sasa dengan sewot.


Ken tak menjawab, dia langsung berdiri dan pergi kekamar Karin. Beberapa ketukan pintu tak kamar Karin, tak ada sautan. Ken mencoba membuka pintu kamarnya ternyata tidak di kunci. Ken melihat Karin yang masih diatas kasur namun tubuhnya di tutupi seluruhnya dengan selimut.


"Karin, apa kamu sudah bangun? kenapa tidak ikut sarapan di bawah, apa kamu sakit?" tanya Ken di ambang pintu.


"Tuan sarapan saja duluan, nanti Karin menyusul." jawab Karin dari dalam selimut.


"Baiklah kalau begitu, cepat turun untuk sarapan." Saat Ken hendak pergi tangannya tanpa sengaja menyenggol gelas yang ada dimeja hingga jatuh dan melihat beberapa obat yang belum sempat Karin minum.


Ken pun menghampiri Karin,"Karin, buka selimutmu, apa kamu sakit? kenapa ada obat disini, capat buka atau aku yang paksa.?" Karin pun tetap tak mau membuka selimutnya, hingga Ken pun membuka selimut Karin dengan paksa, dan mendapati ke adaan Karin yang sebenarnya.


Wajah Karin terlihat pucat dan lemas, mata Karin terlihat layu dan saat Ken memeriksa Karin tubuhnya sangat panas.


Tak perlu banyak bicara lagi, Ken langsung mengangkat tubuh Karin dan dan bergegas membawanya turun.


"Rafael siapkan mobil, Abang akan membawa Karin kerumah sakit." Rafael yang kaget pun sampai tersedak dan langsung berlari menyiapkan mobil.


"Ada apa dengan Karin Ken?" tanya mami Vika.


"Nanti Ken kabari, setelah tahu hasilnya, dan kamu Sasa bisa pergi sendiri kan."

__ADS_1


Ken dan Rafael pun bergegas pergi kerumah sakit membawa Karin. Sesampainya dirumah sakit Karin langsung diperiksa sedangkan Rafael dan Ken menunggu di luar.


"Ini semua gara-gara kamu, awas saja kalau Karin sampai kenapa-kenapa." Ken menarik kerah baju Rafael.


"Bang, aku benar-benar gak sengaja aku hanya bercanda." Rafael menahan tangan Ken yang masih menarik kerah nya.


"Tapi canda mu menyusahkan Karin."


"Oke aku akan minta maaf sampai Karin benar-benar memaafkan aku, dan aku akan bertanggung jawab atas kesalahan ku." Ken pun melepas kerah Rafael. Dan Rafael merapikan kerahnya kembali.


Tak lama dokter pun keluar, Ken dan Rafael langsung menghampiri.


"Bagaimana keadaan Karin dok."


"Gak perlu kuatir Pasien memiliki riwayat penyakit asam lambung dan saat ini sedang kambuh dan juga sedang mengalami demam, jadi pasien harus di rawat beberapa hari disini sampai pulih dan tolong jangan biarkan dia telat makan." dokter pun pergi dan Ken bersama Rafael Langsung melihat Karin yang masih terbaring dengan keadaan pucat.


Rafael menghampiri Karin dan memegang tangannya." Karin, maafin aku ya, aku benar-benar, gak ada niatan buat kamu begini, aku cuma main-main aja, jika kamu memaafkan aku akan merawat mu sampai sembuh.


"Iya bang, kalau begitu Rafael pulang dulu nanti Rafael balik lagi gantiin Abang." Rafael pun pergi ke meninggalkan Karin dan Rafael.


Sekarang Ken duduk di samping Karin setelah tadi Rafael. Ken tak bicara apa-apa hanya memandang wajah Karin yang masih terlelap.


"Maaf jika membawamu masuk dalam hidupku, Selama ini aku selalu bersikap kasar dan bahkan memukulmu,membuat mu menangis, tapi aku tak bisa melepaskan mu, aku sudah terbiasa melihat senyum manismu, melihat tingkahmu saat melawanku, kehangatan sikapmu membuat ku menjadi candu, selalu mencari mu disaat aku butuh kedamaian.Tapi maafkan aku tak bisa menjadikanmu lebih jauh dari ini, aku janji akan menjagamu selama dirimu ada didekat ku walaupun tak selamanya aku bisa membelamu, bertahanlah disaat deritamu datang, kuatlah saat badai cobaan datang menghampiri mu, suatu hari dia saat yang tepat aku akan melepaskan mu membiarkan kebahagiaanmu kau raih. Mungkin aku lelaki terlalu egois hanya memikirkan kebutuhan ku dan keinginan ku tanpa memikirkan orang-orang yang akan tersakiti. Tapi aku belum siap jika harus kehilangan orang-orang yang aku sayang menjauh dariku." Ken memegang erat tangan Karin menumpahkan isi hatinya yang tak pernah diungkapkannya.


"Tuan..." panggil Karin yang ternyata mendengar semua yang Kenzo ucapkan, senyum tipis terpapang di bibir Karin.


"Terimakasih sudah jujur pada Karin. Jangan minta maaf pada Karin, Karin sudah menerima jalan takdir Karin yang menjadi pelayan tuan, Karin tak meminta lebih dari ini, Karin hanya tak ingin menjadi perusak rumah tangga tuan, jika tuan bahagia bersama keluarga tuan, Karin pun ikut bahagia. Harapan Karin hanya satu, suatu saat Karin bisa bebas dari tuan sebelum ada rasa lebih dalam pada tuan. Karin ingin kembali ke desa berkumpul bersama keluarga disana, membina rumah tangga yang bahagia di kampung."


Ken berfikir sejenak mendengar keinginan Karin. "Baiklah, jika itu maumu aku akan membebaskan mu dan membiarkan mu kembali pada keluarga mu, aku tak Mau menjadi lelaki terlalu jahat lebih dari ini, aku juga gak mau melihat mu tertekan disini."

__ADS_1


"Apa yang tuan katakan benar, apakah tuan sungguh-sungguh akan melepaskan ku." Ken pun mengangguk Karin langsung bahagia dan memeluk erat Ken.


"Terimakasih tuan, aku janji tak akan pernah melupakan semua kebaikan tuan, semua kasih sayang yang tuan berikan padaku."


Tak lama Rafael pun datang ke rumah sakit menjenguk Karin.


"Bang, tadi Kak Sasa pesan Abang suruh pulang, biar Rafael yang jagain Karin disini."


"Tuan lebih baik tuan pulang, kasian istri tuan menunggu dirumah."


"Baiklah, kalau kamu gak mau aku temani aku akan pulang."


"Bukan begitu maksud Karin tuan."


"Baiklah, aku pulang, jagain Karin, jangan ganggu Karin."


"Siap bos." Ken pun pergi meninggalkan Karin dan Rafael.


Rafael pun menghampiri Karin."Karin aku minta maaf, gara-gara aku, kamu sampai masuk rumah sakit, aku benar-benar menyesal, aku Janji gak akan mengulanginya lagi, asalkan kamu mau memaafkan ku."


"Kak Rafael tahu, betapa takutnya Karin kemaren, Karin benar-benar takut dan bingung, gak tahu arah untuk pulang, Karin berharap kak Rafael kembali menjeput Karin, tapi nyatanya kak Rafael ninggalin Karin dan tak kembali. Karin sampai kedinginan disana kak di halte bus." jelas Karin sambil menitikkan air mata.


"Aku sadar aku salah, aku janji gak akan mengulanginya lagi, please maafin aku." Rafael memohon mengharap maaf dari Karin.


Karin menghapus air mata yang masih membasahi pipi, dan menatap Rafael sambil tersenyum. " Karin gak sejahat itu kak, Karin sudah maafin kak Rafael asal kak Rafael gak melakukan kesalahan yang sama, lagian Karin sebentar lagi kembali ke kampung, dan gak akan kembali kesini lagi."


"Kenapa? Apa kamu benar-benar membenciku sampai kamu mau Pulang kampung."


"Gak kak, aku gak membenci kak Rafael, aku hanya ingin kembali kepada orang tua ku dan adik-adik ku."

__ADS_1


"Baiklah jika itu sudah keputusan mu, aku juga sudah tidak punya hutang permintaan maaf padamu."


__ADS_2