
Akhirnya Karin sudah di izinkan pulang, namun seminggu sekali harus kontrol kandungannya
Anton mengantarkan Ken dan Karin ke Apartemen Yang baru di belinya. Memiliki fasilitas lengkap dan dekat dengan rumah sakit juga kantor.
Untuk mencapai apartemennya mereka harus menggunakan lift karena apartemen ada di tingkat 15.
"Selamat datang tuan dan nyonya, ini tempat tinggal kalian yang baru, sudah saya pertimbangkan dengan berbagai aspek dan memilih apartemen ini." Ucap Anton yang di serahkan untuk mencarikan apartemen walaupun atas persetujuan Ken juga.
"Bagaimana sayang, apa kamu suka tempat ini?" tanya Ken pada Karin.
"Karin suka, tempatnya nyaman dan fasilitasnya lengkap. Tapi kenapa kita harus pindah kesini kenapa gak di tempat kemaren?"
"Kita akan membuka lembaran baru, jadi buang semua kenangan buruk di sana dan kita akan mulai lembaran baru di sini." ucap Ken.
"Baiklah, aku pergi dulu, silahkan kalian nikmati tempatnya dan bi Wiwik baru datang nanti sore." ucap Anton dan pergi
"Bi Wiwik kesini mas?" tanya Karin.
"Iya, kalau gak kesini terus siapa yang masak, sayang kan lagi hamil jadi gak boleh beraktivitas yang berat."
"Mas aku pengen lihat kamarnya." ucap Karin dan Ken pun menggandeng Karin menuju kamarnya.
"Ini kamar kita sayang."
"Kok kamar mandinya kelihatan? kan malu kalau lagi mandi kelihatan dari sini." protes Karin
"Malu dengan siapa, aku kan suamimu lagian aku sudah tahu tubuhmu dan kamu tahu tubuhku apa lagi yang harus di sembunyikan."
"Tapikan..." belum selesai Karin bicara Ken sudah membungkamnya dengan bibirnya.
Cukup lama pemanasan yang di lakukan Ken pada Karin.
"Aku sudah rindu sayang, maukah kamu melayani, aku janji akan hati-hati dan tak akan menyakiti, Sudah terlalu lama aku menahannya dan sepertinya sudah mencapai puncaknya." ucap Ken dengan nafas sedikit memburu dan kembali menyusuri leher jenjang Karin dan kembali ke bibir.
"Mas janji gak akan menyakitiku?" ucap Karin yang mulai di landa panas.
Ken mengangkat tubuh Karin yang sedari tadi berdiri, dan membawa tubuh wanitanya dan meletakkannya di atas kasur dengan lembut.
__ADS_1
Pemanasan pun di mulai, Ken yang sudah menahan hasratnya cukup lama dan belum terlampiaskan menyusuri leher dan telinga membuat sensasi tersendiri buat Karin, tangan liar mulai menjamah bagian-bagian yang membangkitkan sesuatu.
Permainan bibir yang panas sesat dan meluncur ke bukit kembar yang kencang yang siap dinikmati.
Suara ketukan pintu terdengar membuat sepasang suami istri ini tergangu dengan aktivitasnya.
"Mas ada orang, di luar." ucap Karin.
"Pasti Anton, ngapain juga balik lagi, ganggu orang saja." Gerutu Ken sambil kembali mengenakan kemejanya walaupun tak di kancing.
"Jangan marah, siapa tahu Anton ada perlu lagi dengan mas. Tanti malam kan masih bisa lanjut lagi." bujuk Karin yang sudah terbuka tubuh bagian atas."
"Ya udah, mas keluar dulu, sayang istirahat saja disini." Ken mencium kening Karin dan keluar.
Ken segera membuka pintu dan tahu kalau itu Anton." Ngapain kesini lagi, ganggu orang saja."
"Maaf tuan gak tahu kalau tuan sedang eemmmm dengan istrinya. Saya kesini cuma mau ngasih tahu kalau asisten dokter gadungan itu melakukan percobaan bunuh diri."
"Apa kamu bilang, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Untung saja cepat ketahuan dan sudah di tangani dokter, itu pun saya dapat kabar dari kantor polisi sebelum saya pergi dari sini tadi."
"Baik pak, akan segera saya urus, dan maaf sudah mengganggu bapak yang sedang eeemmm"
"Tahu dari mana kamu?"
"Itu di wajah sama dada bapak banyak marahnya apa lagi kalau bukan habis eeeemmm. Saya pergi pak." Anton pun langsung lari meninggalkan Ken yang masih berdiri di depan pintu.
"Dasar pengganggu."
Ken kembali kekamar dan berencana melanjutkan yang belum tuntas, namun keinginannya pupus setelah mendapati Karin sudah tertidur.
"Gagal sudah, pelepasan." gumam Ken dan kembali keluar membuat secangkir kopi sendiri.
Ken memilih bersantai dengan secangkir kopi, dan rokok yang tak pernah ia tinggalkan dan nonton acara TV yang membosankan.
Karin terbangun dari tidurnya dan tak melihat suaminya disampingnya. Karin keluar kamar dan mendapati suaminya sedang nonton film.
__ADS_1
Karin menghampiri dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Ken.
"Mas marah ya aku tinggalin tidur?" tanya Karin sambil mendongakkan kepalanya menghadap Ken.
"Tidak." dengan nada datar "aku masih bisa melakukannya kapanpun."
"Aku tahu mas kecewa, mas gak bisa nutupin dari Karin."
"Terus kalau aku kecewa, bagaimana ngobatinnya." Ken menundukkan wajahnya dan menatap wajah istrinya yang ada di pangkuannya. Karin hanya menggeleng.
"Ya sudah, gak usah di obati. Mas mau nonton saja."
Karin duduk dan Beralih ke pangkuan Ken dan saling berhadapan."Kenapa sayang, mas masih mau nonton."
Karin langsung menyatukan bibirnya dengan Ken. "Mas aku gak mau mas kecewa, mas sudah merawat Karin selama sakit dan membuat mas lelah, jadi Karin gak boleh menolak kemauan suami Karin ini."
"Beneran, masih mau lanjut, mas gak maksa."
Tanpa bicara lagi, Ken dan Karin melanjutkan apa yang belum tuntas.
Sesaat setelah aktivitas ranjang, bi Wiwik datang ke apartemen. Bi Wiwik di sambut langsung oleh Ken Sedangkan Karin masih rebahan di ranjang karena kelelahan.
"Sayang, bangun bi Wiwik sudah datang, apa kamu gak mau bertemu dengannya." panggil Ken.
"Biarkan saja tuan, non Karin istirahat. Jangan di ganggu."
"Ya sudah bi, kamar bibi di sana, saya mau keluar nanti kalau Karin nyari bilangkan saya pulang malam." Ken pun pergi keluar apartemen
"Iya tuan." jawab bibi dan segera meletakkan barang-barangnya di kamar.
Ken pergi kerumah sakit tempat Nisa yang hampir mati bunuh diri. Nisa adalah asisten dokter gadungan yang ingin mencelakai Karin dan anaknya, Nisa merupakan sahabat Karin waktu SMA, Nisa ke Jakarta bersama Rahayu setelah Karin dengan iming-iming pekerjaan yang sama dengan Karin. Kenzo pernah bertemu Nisa sekali dan pernah mencicipinya sekali, setelah itu tidak pernah bertemu dan akhirnya bertemu lagi tapi menjadi napi.
Nisa yang sudah sadar menatap Ken dengan penuh ketakutan.
Ken sangat benci Nisa yang sekarang namun Ken ada pertanyaan yang belum di jawab Nisa, dan memaksa Ken harus menemuinya lagi. Setelah ingin membunuh istri dan calon anaknya Nisa seperti tak pantas hidup lagi di mata Ken.
Karin sama sekali tak turun ranjang sejak Ken pergi dan sampai Ken kembali lagi.
__ADS_1
Makan malam sudah siap saat Ken datang namun wajah istrinya juga gak terlihat menyambutnya.