
Tak ada firasat atau pun apa. Joy datang ke rumah wanita yang baru saja ia pecat. Pak pengawas mengetuk pintu rumah Rara berkali-kali dan untuk ke sekian kalinya baru terdengar suara kehidupan.
"Tunggu sebentar!" terdengar suara dari dalam sambil terbatuk-batuk. Tak lama seorang wanita membukakan pintu. Joy yang berdiri tepat di depan pintu menatap wanita tua dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Badannya kurus, uban di rambutnya sudah tumbuh dan kulitnya mulai terlihat ada keriput di tambah lagi berpakaian lusuh.
Joy masih mengenalnya, ia masih sama seperti yang dulu kecantikannya tak pernah pudar walaupun sudah di telan usia.
"Mama... Ini benar-benar mama. Kenapa mama jadi begini." Joy masih terpaku dalam lamunan, tak pernah membayangkan akan bertemu dengan mamanya dengan keadaan yang memprihatinkan.
"Bu, Raranya ada?" tanya pak pengawas sontak membuyarkan lamunan Joy.
"Rara. Bukannya masih kerja? dia belum ada pulang kerumah." Jawab Karin.
"Anu... Rara." pak pengawas
"Tadi Rara pulang, katanya gak enak badan, makanya saya datang kesini mau menjenguknya. Ternyata Rara belum pulang ya." Joy memotong pembicaraan pak pengawas pada Karin. Pak pengawas pun kebingungan.
"Rara sakit? Rara kamu di mana? Sudah tahu sakit kenapa gak langsung pulang." Karin mulai cemas dan terbatuk-batuk.
"Pak, tolong cari Rara. Kasihan ibunya mengkuatirkannya. Biar saya tunggu di sini." perintah Joy.
"I-ya pak.." pak pengawas pun langsung pergi meninggalkan Joy bersama Karin.
"Kamu siapa nak?" tanya Karin sambil mempersilahkan masuk.
Joy pun masuk kedalam barakkan Rara. Di dalam hanya ada tikar yang menjadi alas duduk tak ada harta yang terpajang. Mata Joy berkeliling memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada.
"Ma... Malang sekali hidupmu selama bertahun-tahun lamanya. Seharusnya ini tak terjadi padamu, seharusnya di hari tua mama mama bisa hidup dengan tenang menikmati masa tua bersama papa." Mata Joy berkaca-kaca namun Joy berusaha menahannya.
"Kamu apanya Rara nak. Kok ibu baru pertama melihat kamu? dan sepertinya kamu bukan orang biasa." Tanya Karin.
__ADS_1
"Panggil saya Jo. Saya dari Kota X. Saya pemilik bangunan tempat Rara bekerja.
"kota X ya..." Karin terdiam sejenak lalu melanjutkan ngobrol dengan Jo.
"Nak Jo. Maaf ibu gak bisa menyuguhkan apa-apa. Soalnya gak ada apa-apa di rumah.
"Gak perlu repot-repot Bu. Saya bisa bertemu dengan ibu saja saya sangat bahagia. Bu? apa ibu mengenal saya?" tanya balik Jo dan Karin hanya terkekeh.
"Tentu saja saya kenal nak. kan nak Jo sendiri yang baru memperkenalkan diri pada ibu." harapan Jo seketika pupus saat mama karinnya tak mengenalnya lagi. Karin tiba-tiba saja batuk terus menerus.
"Bu, apa ibu baik-baik saja. Apa ibu sudah berobat?" tanya Jo yang nampak kuatir.
"Ibu baik-baik saja nak. Obat ibu tadi habis makanya ibu batuk terus, nanti nunggu Rara pulang minta belikan obat di warung biar bisa sedikit meredakan batuk ibu.." jelas Karin yang masih batuk.
"Biar saya belikan Bu, apa nama obatnya. Saya kasihan melihat ibu batuk terus, pasti itu sangat menyiksa. Atau kita ke dokter saja biar di sana dapat obat yang lebih bagus dan ibu bisa sembuh."
"Makasih nak sudah perhatian. Gak usah mengkuatirkan ibu. Ibu sudah biasa merasakan ini." tolak Karin membuat hati Joy kian hancur. Rasanya ingin sekali ia berkata jujur dan segera membawa Karin ke kota untuk mengobatinya dan mempertemukan dengan papanya. Tapi setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, akhirnya Joy mengurungkan diri untuk jujur dan memilih untuk menjaga mama dan adiknya sementara waktu sampai mereka siap untuk mendengarkan sebuah kejujuran yang tak mungkin bisa di terima secara mendadak dan mencari tahu kejadian yang sebenarnya kenapa Karin tak berusaha kembali menemui papanya.
Tak lama kemudian Rara muncul dengan membawa satu kantong plastik berwarna hitam di tangannya.
"Baru pulang nak? Apa yang kamu bawa itu." tanya Karin yang menghampiri putrinya..
"Rara tadi beli beras dua liter sama telur lima biji, ya cukuplah untuk tiga, empat hari ke depan." Jawab Rara.
Saat hendak masuk, langkah Rara terhenti saat melihat pria yang sudah memecatnya. Rara sudah bersumpah tak akan memaafkan laki-laki yang sudah menghancurkan mata pencahariannya untuk membantu ibunya.
"Ngapain bapak kesini. Belum puas bapak memecah saya? Apa lagi yang bapak inginkan. Sekarang cepat pergi rumah ini gak menerima orang sombong seperti anda."Dengan ketus Rara mengusir Joy. Namun Joy hanya tersenyum dan tak merasa tersinggung sama sekali.
"Rara, yang sopan kalau bicara. Ibu gak pernah mengajari kamu berkata kasar pada orang lain. Sekarang minta maaf dengan nak Jo, atau malam ini kamu tidur diluar." bentak Karin.
"Tapi Bu, gara-gara orang ini Rara gak punya pekerjaan lagi. Rara gak tahu lagi harus bekerja kemana untuk membayar kontrakan ini." Jawab Rara pada ibunya.
__ADS_1
"Ibu gak peduli alasan kamu. Sekarang kamu harus minta maaf sama nak Jo. Ibu gak suka sikap kamu yang seperti itu. Kalau kamu gak punya kerjaan kamu masih bisa bantu ibu jualan keliling." Dengan cemberut Rara pun menghampiri Joy yang berdiri tak jauh dari Rara
"Maaf...saya pak, maafkan kata-kata saya yang kasar." ucap Rara sambil mengulurkan tangannya pada Joy. Joy pun langsung menjabat tangan Rara.
"Sudah saya maafkan, dan saya juga minta maaf. Saya benar-benar gak tahu kalau kamu benar-benar membutuhkan pekerjaan itu." jawab Joy.
"Maafkan kakak ya dek, gara-gara kakak kamu di marahi mama. Tapi aku bangga padamu kamu tumbuh menjadi anak yang patuh pada mama" Gumam Joy sambil terus menatap Rara.
Terdengar suara teriakan dari arah luar memanggil nama Karin.
"Bu Karin cepat keluar!" Teriak suara perempuan. Karin, Rara dan Joy pun keluar.
"Bu, sepertinya kita bakalan di usir dari sini bu." bisik Rara sambil memegang lengan ibunya.
Karin mendekati wanita pemilik barakkan tersebut dan mengatakan sesuatu yang tak di terima oleh pemilik barakkan. Dengan kasar wanita itu mendorong Karin hingga jatuh tersungkur. "Ibu..." ucap Joy dan Rara kompak dan menghampiri Karin untuk membantunya berdiri.
"Apa yang kamu lakukan pada ibu Karin. Anda bisa melukainya." ucap Joy.
"Wanita tua seperti dia pernah di beri pelajaran. Dia sudah telat membayar sewa dan setiap di tagih selalu minta renggang waktu. Kalau tidak bisa bayar sekarang lebih baik kalian angkat kaki dari sini. Masih banyak orang yang butuh tempat untuk di sewa." Jelas wanita itu dan para penghuni barakkan yang lain pun melihat kejadian yang memalukan yang dia alami Karin.
Joy merasa geram melihat ibunya di permalukan hanya karena belum bisa bayar sewa." Berapa yang harus saya bayar untuk melunasi sewa ibu Karin." tanya Joy.
"Anda mau membayar tunggakan sewa Bu Karin? Ya baguslah kalau begitu. Bu karin sudah menunggak selama 3 bulan dan perbulannya 500 ribu jadi tolong bayar 1.500.00,00. "
"Hanya segitu saja, mempermalukan orang." Gerutu Joy lalu mengambil dompet di sakunya. Ia pun mengambil uang lembaran merah dan biru.
"Ini uang 3.000.000. Sekalian untuk tiga bulan kedelapan. Sekarang silahkan anda pergi dan jangan membuat gaduh di sini." Joy memberikan uang tunai pada wanita tersebut dengan segera langsung di ambil oleh wanita itu
"Baiklah saya terima uang ini. dan saya harap kedepannya jangan sampai terlambat lagi." Wanita itupun pergi meninggalkan Joy.
Joy kembali menghampiri Karin yang bersama dengan Rara."Ibu gak papa. Apa ada yang terluka?" Joy mencoba memeriksa tubuh Karin.
__ADS_1
"Ibu gak papa nak, ibu baik-baik saja. Terimakasih atas bantuan nak Jo. Ibu janji akan mencicilnya kalau sudah ada uang." jawab Karin
"Gak usah dipikirkan tentang uang tadi, itu gak seberapa di banding dengan hinaan pada ibu." Joy pun memeluk Karin dengan erat.