Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Rencana


__ADS_3

Butuh perjuangan yang keras untuk bisa sembuh agar Karin bisa bicara lagi.


Semua usaha dan kerja keras tak akan mengecewakan siapapun yang sabar termasuk karin. Akhirnya ia pun bisa bicara dan bisa memanggil nama putra kesayangannya.


"Bunda....bunda cepat siap- siap. Papa mau ajak kita jalan-jalan beli mainan." ucap Arthur yang berlari dengan langkah mungilnya menghampiri Bundannya di ikuti ken dari belakang.


"Kita jalan- jalan sebentar ya sayang. Mas hanya ingin membahagiankan istri dan anak mas."


"Ayo bunda ikut, Arthur sudah gak sabar mau jalan-jalan." Rengek Arthur sambil mengguncang tangan bundanya.


" Baiklah sayang, bunda akan ikut tapi gak boleh beli barang banyak mainan. Lihatlah dikamar bermain arthur sudah penuh dengan mainan."


"Iya bun, tapi gak janji."


Keluarga kecil itu memilih jalan-jalan ke mall. Dengan antusias arthur menarik tangan bundanya berkeliling, sedangkan ken hanya mengikuti dari belakang. Ini adalah kali pertamanya arthur pergi jalan- jalan dengan bundanya.


"Papa, ayo cepat arthur mau kesana lagi." triak Arthur yang sudah gak sabar.


"Sayang sudah ya, bunda sudah capek sekali"


"Iya sayang, papa juga sudah capek membuntuti kalian berdua. Kita lanjut lain kali ya." ucap Ken


"Gak mau. Arthur maunya ke sana. Sekali aja habis itu sudah."


"Lihatlah mas, hasil didikan mas, Arthur jadi anak manja." ucap Karin.


"Kok jadi nyalahin mas. Kalau gitu mas ikut merajuk aja biar gak di salahin."


"Mas...jangan kaya anak kecil. Malu sama anak. Lihat tu Arthur memperhatikan kita."


"Jadi gak. Atau Arthur menangis." Ancam Arthur.


"Baiklah sekali ini saja. Bunda mau lihat apa sih yang ingin Arthur cari, Mudah-mudahan tebakan bunda salah."


Ken dan karin mengikuti langkah kaki putranya. Benar saja tebakan mereka, Tujuan Arthur adalah mainan dan kali ini robot keluaran terbaru yang di inginkan Arthur dengan harga yang lumayan mahal untuk sebuah mainan. Robot yang di inginkan Arthur di bandrol dengan harga 11 juta.


Karin mengacak pinggang dengan mata melotot melihat yang di inginkan putranya. Arthur paham yang akan di ucapkan bundanya dan lebih memilih merayu papanya yang lebih santai.

__ADS_1


"Papa, Arthur mau robot ini. Arthur belum punya, belikan ya pa." rengek Arthur dan ken menatap Karin yang sepertinya tak setuju.


"Baiklah, buat anak papa apa sih yang gak."


"Hore...papa memang yang terbaik."


"Mas......."


Ken hanya merangkul Karin dan berbisik di telinga."Jangan marah, mas cuma mwnuruti kemauan putra mas. Kalau sayang mau sesuatu katakan saja mau harganya 10x lipat dari harga mainan Arthur akan mas belikan. Apa gunanya mas kerja dan terus mengembangkan perusahaan kalau uangnya gak di gunakan untuk kebahagian anak istri."


"Tapi Karin gak suka kalau terlalu menghamburkan uang hanya untuk barang yang ujung-ujungnya hanya jadi pajangan."


Setelah puas jalan-jalan mereka pun pulang ke rumah, Walaupun masih menyisakan rasa mengesal di hati karin, Karena keinginan putranya itu uang 11 juta melayang begitu saja untuk sebuah robot yang mungil itu.


Setelah sampai rumah. Karin meminta Arthur langsung tidur sedangkan mainannya masih karin pengang.


Dengan patuh Arthur menuruti perintah bundanya dan beranjak pergi ke kamar tanpa membantah.


Sedangkan Karin dan Ken pun pergi ke kamar karena sudah lelah .


Dengan menghembuskan nafas panjang, Karin meletakan mainan Arthur di atas meja rias dan pergi membersihkan diri dan mengganti pakaian.


"Sudah selesai yang? kemari duduk samping mas, ada yang ingin mas bahas."


"Sudah mas, mas mau ngomongkan masalah apa mas?" tanya Ken sambil menghampiri suaminya dan menyandarkan kepalanya di pundak Ken.


"Mas punya rencana untuk membawa Arthur menemui neneknya di desa mumpung Arthur belum sekolah, nanti kalau sudah sekolah akan lama bisa mengunjungi neneknya. Gimana menurut sayang?"


"Kalau karin sangat senang mas, Karin juga sudah rindu dengan ibu juga dengan Bima dan Adit. "


"Kalau begitu lusa kita berangkat, biar gak terlalu buru-buru dan besok masih sempat cari oleh- oleh buat ibu sama Bima dan Adit."


"Makasih mas, untuk semuanya. Karin benar-benar beruntung bisa memiliki suami yang sangat baik dengan karin dan juga keluarga karin." Karin memeluk dan mencium pipi tanda Karin begitu bahagia.


"Jangan memuji, nanti mas bisa besar kepala. Lagian ini sudah tanggung jawab mas sebagai seorang suami buat membahagiakan istri dan ibu dan adik- adik sayang juga keluarga mas."


Mereka pun merencanakan untuk persiapan mudik. Tak lupa mereka juga merencanakan sekolah untuk Arthur.

__ADS_1


Keesokan harinya jam masih menunjukan jam 5 pagi. Arthur sudah menggedor pintu kamar orang tuanya.


"Bunda.... papa.....Buka pintunya. Arthur mau ambil robot." Suara Arthur membuat ken terbangun sedangkan Karin masih mandi.


Dengan langkah malasnya Ken membukakan pintu untuk Arthur.


"Ini masih terlalu pagi untuk main Arthur." ucap papanya namun tak di gubris Arthur dan malah secepat kilat mengambil rohotnya dan bermain di rajang orang tuanya.


" Papa kita main perang- perangan yuk!"


"Gak nak. papa masih ngantuk mau tidur lagi. Arthur main di kamarnya ya."


"Gak mau. Bunda ayo main perang yuk." ajak Arthur saat melihat karin keluar dari kamar mandi.


"Nak ini masih pagi. Kalau mau bermain itu ada waktunya. Bunda gak mau anak bunda gak disiplin waktu bermain."


"Tapi Arthur sudah gak sabar mau main."


"Jangan membantah. Sini papa peluk kita tidur lagi. Nanti kalau sudah jamnya main ajak bunda nemanin main." ucap ken dan Arthur pun mengangguk.


"Bunda sini sebentar peluk Arthur. Biar Arthur bisa bobok lagi."


Karin tak bisa menolak keinginan putranya ini. putra yang di perjuangkan antara hidup dan mati bahkan tak merawatnya selama lima tahun.


Kini saat dirinya kembali sehat. Karin ingin menebus semua waktu yang hilang dengan menghabiskan waktu untuk kebahagiaan putranya.


Karin menghampiri putranya yang sudah merebahkan diri di samping papanya.


"Bun peluk... " rengek Arthur minta di peluk.


"iya sayang, anak bunda paling manja. Dan selalu buat bunda kuwalahan. Bunda akan berikan pelukan hangat." ucap karin sambil memeluk Arthur.


"Papanya gak di peluk nie. Kan papanya juga mau." ucap ken yang menatap karin.


"Papanya tiap malam sudah dapat pelukan hangat dari bunda."


"Bukannya di peluk tapi dibelakangi tiap malam. Masak papa di kasih punggung sama bunda thur."

__ADS_1


"Iya kah bun?"


"Gak sayang. papa kamu bohong. Papamu pasti merajuk kalau sampai bunda membelakang papa. Jadi gak usah didengar omongan papa oke. Arthur percaya kan sama bunda." Athur pun mengangguk sebelum kembali tertidur.


__ADS_2