Bukan Salahku Menjadi Pelakor

Bukan Salahku Menjadi Pelakor
Karin jadi Tiara


__ADS_3

Setelah dua hari mendapatkan perawatan Ken berangsur mulai sadar. Dokter yang menanganinya, mengatakan Ken mengalami amnesia LAKUNAR yaitu mengalami hilangnya ingatan secara acak dan itu bisa di sembuhkan, tak merusak ingatan masa lalu dan masa sekarang hanya saja tak bisa mengingat semua kejadian secara berurutan.


Ken mengingat mama Vika dan Rafael tapi tidak dengan Karin, Yang Ken ingat Karin adalah adik bungsunya yang bernama Tiara.


Karin mencoba menerima kenyataan bahwa Ken tak mengingat bahwa dirinya adalah istrinya bukan adik bungsunya yang sudah meninggal.


Di tambah lagi mama Vika dan Rafael meminta Karin berpura-pura menjadi adik bungsu Ken demi kesembuhan Ken.


Sungguh akan menjadi cerita rumit, dan juga menyakitkan untuk Karin. Namun apa boleh buat, itu sudah jalan cerita Karin. Untung Ken mengingat Karin sebagai orang yang dia sayang walaupun harus pura-pura daripada di ingatnya menjadi orang jahat itu kan sangat menyakitkan lagi. Untuk sementara waktu Karin harus bertahan sampai Ken kembali ingat siapa Karin sebenarnya.


Saat sadar Ken selalu mencari Karin sebagai Tiara.


"Ma si bungsu kemana" tanya Ken yang sedang mendapatkan suapan dari mama Vika.


"Tiara lagi sama Rafael ada yang di urus sebentar." jawab mama Vika dengan tenang.


"Ma, maafin Ken seharusnya Ken sebagai anak pertama bisa jagain si bungsu, gara-gara Ken lalai, Tiara jadi hamil tanpa suami. Ken janji akan menjaga si bungsu dengan baik buat Nebus kesalahan Ken." Ken mengira Karin hamil akibat pemerk*saan, yang membuat Ken menyalahkan dirinya sendiri tanpa dia ingat kalau itu adalah anaknya.


"Sudahlah Ken, Tiara juga sudah menerima kenyataannya, yang penting sekarang kamu harus segera pulih kembali." Mama Vika mulai berbohong demi putranya.


Setelah selesai urusan Karin dan Rafael kembali kerumah sakit.


Rafael merasa kasihan dengan Karin, yang harus berpura-pura, entah sampai kapan. Walaupun Karin tak menampakkan kesedihan nya , namun Rafael paham bahwasanya Karin saat ini sangat sedih.


"Kak, sekarang kamu sementara akan menjadi si bungsu, jadi aku akan memanggil kamu Tiara, aku harap kamu bisa sabar untuk sementara sampai Abang sembuh." ucap Rafael.


"Aku sudah siap dengan semuanya asalkan mas Ken bisa pulih aku akan tetap bertahan. Oya sebenarnya dimana Tiara adikmu?." tanya Karin yang tak mengetahui siapa sebenarnya Tiara.


"Tiara, sudah meninggal tujuh tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat menuju London, Saat itu Abang memaksa Tiara sekolah di sana padahal Tiara maunya menyusul aku ke Australia."


"Terus bagaimana dengan mas Ken setelah kejadian itu?"

__ADS_1


"Abang Sangat terpukul, karena Tiara adalah adik yang paling dia sayang bahkan aku sampai iri, perhatiannya semua di berikan hanya buat Tiara. Sejak saat itu mas mulai berubah, semua aktivitas yang biasa ia lakukan bersama bungsu ia hentikan dan selalu fokus pada kerjanya."


"Terus dengan mbak sasa?"


"Setelah dua tahun berlalu, Abang bertemu dengan Sasa karena di kenalkan oleh manager nya Sasa, Abang jatuh cinta pada pandangan pertama namun tidak dengan Sasa. Beberapa bulan Abang sudah seperti orang gila cinta. Entah bagaimana ceritanya Sasa menerima lamaran Abang, dan langsung menikahinya padahal aku dan mama tidak begitu setuju, tapi apa boleh buat Abang sudah mencintainya."


Mendengar penjelasan Rafael, wajar saja jika Ken menganggap adiknya masih hidup.


Tak terasa Karin dan Rafael sampai di depan pintu kamar rawat Ken. Karin menarik nafas dalam-dalam dan mencoba semua terlihat normal. Rafael hanya bisa mengusap pundak karin agar tetap kuat.


Saat Karin masuk Karin melihat suaminya tersenyum padanya membuat hatinya ingin lepas dari posisinya.


Karin menghampiri Ken dan berpura-pura menjadi seorang adik kesayangannya.


"Kak Ken, gimana keadaannya apa sudah baikkan? apa kepalanya masih sakit."


"Peluk kakakmu ini baru akan kakak jawab," Karin pun memeluk Ken membuat kerinduannya pada suaminya sedikit terobati.


"Kakak sudah baik, kakak bentar lagi sudah bisa pulang dan ganggu kamu lagi." ucap ken dalam pelukan Karin. Karin pun mendapat ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya seperti sedang gemes dengan Karin.


"mau buah apa kak?"


"Buah apa aja." Karin pun mengupas buah apel untuk Ken.


"Kak, apa kakak benar- benar gak ingat dengan aku, padahal waktu pertama kali kakak sadar aku ingin sekali yang kakak ingat adalah aku." ucap Karin sambil menyuapi Ken buah.


"Tentu saja aku ingat. Pertama kali yang ada di pikiranku adalah kamu, bawel, adik kakak yang paling cantik dan manja." Ken mencubit hidung Karin.


"Kakak gak ingat sama istri kakak?"


"Istri. Hai adikku yang bawel, kakak nie masih bujangan, kakak belum nikah. kenapa menanyakan seorang istri. Atau kamu mau jodohkan kakak ya?"

__ADS_1


"Kak Ken gak boleh menikah kak Ken adalah milikku, jadi gak boleh ada wanita yang dekat-dekat dengan kakak mengerti." ucap Karin tegas walaupun sebenarnya hatinya menangis.


"Tenang saja sayang, sebelum kamu menikah kakak tidak akan menikah." ucap Ken sambil mencubit bibi Karin.


"Abang mau jadi bujang lapuk." saut Rafael bercanda namun Karin melotot memandangi Rafael.


"Gak masalah, mau jadi bujang lapuk, atau seumur hidup gak nikah, asalkan adikku harus hidup bahagia."


"Aku sudah bahagia kak, kakak masih menyayangiku dan tak membenciku aku sudah sangat bersyukur, aku harap kakak bisa segera pulih dan kembali mengingat semuanya." tangis Karin tak terbendung saat dirinya harus pura-pura.


"Jangan menangis sayang, kakak tak pernah membencimu, setelah kakak sembuh kita akan memulai semuanya dari awal. kakak ingin menghabiskan waktu yang terbuang bersamamu."


Mama Vika yang sedari tadi mendengar percakapan Karin dan Ken dari sofa, hatinya sangat sedih, melihat pengorbanan seorang istri demi kesembuhan suaminya.


"Tiara, istirahat dulu sayang, kasihan janinmu jika kamu gak istirahat, biar mama sama Rafael yang jaga di sini." ucap mama Vika.


"Nanti ma, aku belum capek, aku masih ingin ngobrol dengan kakak." Ucap Karin.


"Kalau gitu, sini tidur disamping kakak, biar kakak cerita kan dongeng buat kamu."


"Mau cerita dongeng tentang apa yang kakak ingat?" tanya Karin sambil merebahkan tubuhnya di samping Ken.


"Maunya apa, dongeng kancil, kura-kura monyet, Cinderella, snow white, Rapunzel atau apa?"


"Itu dongeng anak-anak kak, aku sudah dewasa, aku mau yang lain."


Ken membacakan cerpen tenang bidadari yang menghilang, setiap kata-kata mutiara yang Ken bacakan terasa begitu menusuk di hati. Air mata Karin tak terbendung, karena begitu indah kata-kata itu, seperti itu berasal dari hati suaminya.


"Hari ini kau titipkan hatimu di relung jiwaku, dalam keadaan terluka parah. Aku tak tahu apakah aku mampu mengobati luka-luka itu, tapi aku kan berusaha semampu aku bisa. Aku janji akan kembangkan sayap putihmu untuk bisa kau kepakkan kembali. Suatu saat kau bisa bawa aku terbang ke nirwana cintamu. Surga tempat kita bernaung. pada langit ku kanfaskan namamu, pada udara ku alirkan energi cinta kita. Agar dunia tahu engkau adalah permaisuri ku."


Kata-kata yang mengiringi lelap tidur Karin dalam pelukan suami dan juga kakak tercinta.

__ADS_1


Makasih dah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ๐Ÿ‘โค๏ธโญ๐Ÿงฟโœ๏ธ ditunggu.


๐ŸŒบDari sini kebahagiaan Karin di mulai kembali, walaupun Ken sedikit berbeda dan menganggapnya sebagai adik namun kasih sayang nya sama seperti seorang suami yang mencintai istrinya. Hari-hari Karin di hiasi segudang cinta dari Kenzo untuk Karin๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’.๐ŸŒบ


__ADS_2