
"Ra..." Suara pelan terdengar memanggil nama putrinya.
"Karin. . .kamu sadar sayang. jangan banyak bicara mas panggilkan dulu dokter." Ken pun memencet bel yang ada di nakas samping ranjang Karin dan tak lama salah satu dokter dan perawat datang untuk memeriksa ke adaan Karin.
Setelah selesai di periksa, Ken pun tak sabar menanyakan ke adaan Karin. " Bagaimana ke adaan istri saya dok?" tanya Ken.
"Sepertinya, istri bapak sudah melewati masa kritis dan mudah-mudahan bisa segera pulih, kita lihat sampai besok semoga pernafasannya bisa segera stabil." Jelas dokter.
"Sayang, kamu yang kuat ya, cepat pulih, mas akan disini menemani kamu."
"M-a-s. . . K-e-n. . ." kata yang keluar dari mulut Karin dengan tersendat-sendat dan ia pun menitikkan air mata.
ππππ
Joy pergi meninggalkan Rara setelah mengobati lebam di wajah Joy bekas tinjuan Arthur, ia memilih menginap di hotel ketimbang kembali ke rumah dengan alasan untuk menenangkan kondisi.
Rara kembali ke ruang ibunya, ia buru-buru menghampiri Karin saat melihat ada dokter dan perawat keluar dari ruangan ibunya.
"Ibu. . ." Rara menghambur ke pelukan Karin saat menyadari ibunya sudah sadar.
"Ra...ibumu baik-baik saja, doakan saja segera stabil." Ken mengusap punggung putrinya yang masih memeluk Karin.
Arthur yang juga baru datang pun ingin sekali memeluk bundanya, namun ia tahan dan membiarkan adiknya untuk bersama ibunya.
ππππ
Ke esokkan harinya, Joy pergi ke suatu tempat untuk memastikan orang ingin menghancurkan orang tuanya berhenti, dan tidak lagi memisahkan mereka.
__ADS_1
Joy menunggu di depan tempat yang tak berharap akan ia datangi. Seorang laki-laki berpakaian formal masuk dalam mobil dan hendak pergi, namun sampai depan gerbang Joy menghadang dengan mobilnya.
Mobil yang di hadang Joy pun berhenti mendadak. Dan sopir mobil tersebut menghampiri mobil Joy.
"Apa yang anda lakukan, menghalangi mobil kami lewat?" tanya sopir tersebut pada Joy.
"Suruh majikanmu keluar atau tak akan ku biarkan mobil ini bisa keluar." ucap Joy dan sopir itu kembali menemui bosnya dan menyampaikannya. Tak lama laki-laki itu keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Joy. Joy mencoba menahan emosinya melihat ayah kandungnya yang tak mengakui dirinya dari kecil.
"Wah, ternyata ada kejutan yang tak terduga. Ada apa kamu datang kemari Joy" tanya pria itu. dengan mempertegas nama Joy.
"Aku minta padamu, jangan pernah lagi mengganggu mama Karin dan papa Ken. Jika sekali lagi kamu lakukan itu, akan ku pastikan kamu tak akan bisa menikmati harimu dengan bebas lagi." ancam Joy dan membuat pria itu hanya tertawa sinis.
"Kamu berani mengancam ku? kamu pikir aku takut, Laki-laki yang sudah menghancurkan perusahaan ku dan merendahkan nama baikku seharusnya tak pantas untuk hidup, Tapi aku suka melihat penderitaan yang dia alami sekarang ini. Dan kamu anak durhaka apa gunanya membela orang tua angkat mu dan menelantarkan ibu kandungmu sendiri. Apa yang mereka berikan hingga membuat kamu sampai berani mengancam ku, Lihatlah dirimu sekarang, seperti orang tak di anggap lagi setelah mereka menemukan keluarga yang sebenarnya, kamu hanya akan menjadi sampah dalam hidup mereka."
"Tutup mulutmu, mereka masih lebih baik dari pada kamu yang lebih rendah dari pada binatang yang masih mau merawat anaknya sekalipun anaknya cacat."
"Jangan menyudutkan mama Sasa, Kamu memang laki-laki brengsek, aku bersyukur kamu tidak mengakui ku, karena aku tak Sudi punya papa yang tak punya hati. Dan aku ingatkan sekali lagi jika aku tahu kamu masih berusaha membuat keluarga papa Ken hancur, aku pastikan namamu saja yang akan kembali." Joy pun pergi meninggalkan Beni.
"Ternyata kamu mewarisi sifat ku." gumam Beni lalu kembali ke dalam mobil untuk pergi.
ππππ
Karin mulai sadar dan pernafasannya juga mulai stabil. Alangkah bahagianya Ken, Rara dan Arthur pagi itu.
"Bunda... "Arthur memeluk bundanya yang sudah tak tertahan setelah bertahun-tahun kehilangan nya. " Bunda jangan tinggalkan Arthur lagi, Arthur sangat rindu dengan bunda." Ucap Arthur di sertai Isak tangis seperti anak kecil.
Dengan lemah Karin mengusap pucuk rambut putranya dan memberikan senyuman.
__ADS_1
"Arthur... Rara..." panggil Karin dengan suara lemah. Rara yang ada di samping pun ikut memeluk ibunya.
"Ibu cepat sembuh ya, Rara kangen ibu yang sehat, Maafin Rara Bu, gara-gara Rara ibu jadi begini."
"Tidak sayang, semua sudah takdir. Dengan begini semua pertanyaanmu bisa terjawab. Maafkan ibu yang hanya bisa memberikan penderitaan padamu." Rara makin terisak-isak dalam tangisnya.
Ken yang sedari tadi berdiri tak jauh dari Karin pun menghampiri dan mengusap pucuk rambut Rara.
"Papa juga minta maaf yang tak bisa peka akan kehadiran mu putri papa, dan mulai sekarang papa akan memberikan apapun untukmu."
"Terimakasih mas, masih mau menerima aku dan putriku, yang sudah bertahun-tahun meninggalkanmu."
"Jangan katakan itu, selamanya kamu adalah istriku dan Rara putriku tak kan ada lagi yang bisa memisahkan kita, setelah kamu benar-benar pulih kita berkumpul bersama di rumah."
"Mas... di mana Joy, kenapa aku belum melihatnya, Joy masih bersama mu kan mas, atau apa dia sudah berkeluarga?" tanya Karin pada Ken...
"Joy... Joy..."
"Aku di sini ma?" saut Joy yang sudah berdiri di ambang pintu. lalu berjalan menghampiri Karin. Rara nampak senang bisa melihat Joy kembali setelah sedikit cemas kalau Joy akan pergi dan tak kembali.
"Joy disini ma, mama masih ingat dengan Joy kan, sampai kapanpun Joy akan selalu ada untuk mama." Joy pun menggegam tangan Karin dan berkali-kali menciumnya.
"Sampai kapanpun mama akan selalu ingat denganmu sayang, terimakasih karena dirimu kita bisa berkumpul lagi." Joy hanya mengangguk.
"Mas aku begitu bahagia, semua anak-anak ku sudah besar. terimakasih mas sudah menjaga mereka untukku. Aku harap masih bisa menemaninya sampai mereka semua berkeluarga."
Kesedihan pun kini berubah menjadi kebahagiaan yang tiada Tara, Tuhan masih memberi kesempatan bisa berkumpul satu keluarga yang awalnya terasa mustahil. Mungkin kesempatan ini tak akan di sia-siakan dan akan di habiskan bersama sebisa mungkin dan berharap ujian dan cobalah berhenti sampai di sini dan di gantikan kebahagiaan seutuhnya.
__ADS_1
"Aku harap kebahagiaan ini tak akan sirna, dan cukup sudah penderitaan yang mama Karin alami. Walaupun aku bukan darah dagingnya, tapi bagiku mama Karin adalah mama kandungku Dan akan ku pastikan tak akan ada lagi yang berani membuat mama menderita lagi." gumam Joy di balik senyumnya.