Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Diary Hati


__ADS_3

Esok hari saat jam istirahat Risda dan juga Bintang pergi ke kantin lagi bersama sama saat mereka lagi asik makan datanglah Rita mengatakan 'bolehkah saya bergabung lagi dengan kalian".


"Silakan" saja jawab Risda.


Ehm "bolehkan jika saya menjadi teman kalian".


Boleh jawab Bintang.


Oh iya Rita sepertinya kamu tidak seruangan dengan kami ya.


Iya aku di ruang VII/2.


Flashback Off


Bintang menepikan mobilnya di tepi pantai untuk menetral hatinya yang sedang kerkabung sedih, perih dan kecewa bercampur menjadi satu.


Bintang keluar dari mobil yang ia kendarai dan duduk diatas kap depan mobil sambil matanya menatap hamparan ombak yang saling bergulung gulung dan saling berkejaran itu.


Bintang tidak memikirkan tentang kesehatannya saat itu ia membiarkan angin laut malam yang berhembusan menerpa kulitnya. Berjam jam Bintang terduduk termenung seorang diri dengan tatapan mata kosong memandangi hamparan ombak lautan yang begitu luas.


Dalam hati Bintang terus bermonolog dengan hatinya sendiri dan bertarung dengan isi pikirannya sendiri.


Risda Zay Akli kamu adalah cinta pertamaku, setiap sepertiga malam aku selalu melangitkan namamu.


Risda aku mengagumimu dalam diam, aku tidak berani mengungkapkan perasaanku padamu karena aku tahu kamu bukanlah tipe yang mudah jatuh hati apalagi jatuh cinta, kamu begitu menjaga hatimu itu untuk menghindari kekecewaan yang kemungkinan datang di kemudian hari.


Risda aku iklas jika pilihanmu bukan diriku asalkan kau bahagia dengam pilihanmu itu, aku iklas jika hatimu di tempati olehnya bukan diriku.


Risda adalah cinta pertama Bintang, sudah lebih dari tujuh tahun Risda menempati hati Bintang.


Bintang membiarkan air dari kelopak matanya menetes setetes demi setetes, tidak ada ungkapan penyesalan dari hati Bintang mengapa ia begitu mencintai Risda hanya rasa kecewa yang teramat sangat yang menjadi dalang kesedihan Bintang yaitu rasa sulit untuk mengiklaskan cinta pertamanya untuk mencintai orang lain selain dirinya.


...*Jarum berputar ke arah angka yang berbeda dan kemudian bertemu kembali di angka yang sama. Hari berganti hari akan tetap terus menyandang nama yang sama yaitu dari hari senin hingga minggu, hari terganti den**gan pekan, dari pekan menjadi bulan, dari bulan berubah ke tahun, dari tahun ke tahun menjadi abad. Kenangan dan masa tidak selalu di tempat hanya memori ingatan yang akan selalu terlintas dalam pikiran*. ...

__ADS_1


...****************...


Setelah Bintang pamit izin pulang Risda masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di kursi tempat biasa ia merenungkan atau mengungkapkan semua keganjalan yang melekat dalam hatinya itu. Risda membuka buku diary kesanyangannya dan satu pulpen yang bertinta hitam untuk Risda goreskan tintanya itu diatas lembaran kertas diary berwarna putih itu.


Menyembunyikan kenyataan jika hati ini telah dikau miliki ialah pilihanku, menyembunyikan fakta jika aku telah mecintaimu bukanlah yang mudah untuk ku lalui.


Seharusnya daku bisa membagi rasa yang menghendap dalam hati ini kepada sahabatku tapi tidak kulakukan cukuplah hatiku ini dan Allah yang mengetahui seberapa besar cinta yang telah tumbuh di hatiku ini.


Ingin ku ungkap rasa cinta di hati ini untukmu tapi daku tiada kuasa


Memandangmu dalam diam tanpa kata seolah mengungkapkan rasa, tanpa bicara diri ini seperti telah menyatakan cinta.


Tuan apakah dikau tahu hati ini dulu membeku tetapi sekarang telah mencair dengan kehadiranmu, hatiku telah terbuka akan cinta padamu.


Aku berdiam diri menyembunyikan rasa bukan karena tidak mampu mengungkapkannya tetapi marwah diriku dipertaruhkan jika itu kulakukan, namun apakah dikau tahu seberapa lantang dan tidak tahu malunya aku dengan terang terangan melangitkan namamu dan memintamu untuk menjadi teman halalku sampai akhirat nanti.


Tentulah dikau tidak akan mengetahuinya tuan. Tidak apa apalah tuan aku bisa memakluminya.


Salahkan aku bila begitu mencintaimu


Memang tampangmu biasa saja


Hartamu tidak sekaya para sultan


Dan fisikmu itu tidak segagah para idamanku


Tapi


Sikap tegasmu dan pemahaman agamamu yang membuat aku mencintaimu dengan tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam.


Risda menutup buku diarynya dengan senyum mengembang di wajah manisnya, Risda menaskahkan semua ungkapan isi hatinya dalam buku diary itu dengan maksud suatu hari nanti jika memang Allah berkendak, cinta Risda terbalaskan oleh Albert, Risda akan menyerahkan buku diary itu pada Albert sebagai tanda seberapa besarnya cinta Risda pada Albert


Ahmad Alfarisi Albert cinta pertama Risda Zay Akli. Cinta pertama sangatlah indah bukan, namun jika cinta itu tidak bisa dimiliki hanya bisa di kagumi dalam diam, betapa tersiksanya hati. Itulah yang Risda rasakan saat ini.

__ADS_1


Risda menyimpan buku diary dan peralatan tulisnya ke tempat khusus penyimpanan buku dan pulpen setelah itu Risda merapikan kembali kasur yang ada dalam kamarnya untuk ia istirahatkan badannya kembali.


Risda berbaring diatas tilam kasur setelah sebelumnya menyelimuti dirinya dengan selimut sampai sebatas dada.


Risda terbayang pada saat moment perdebatan antara ia dengan Albert yang selalu terjadi saat pertemuan meeting zoom di kelas, bahkan masalah sepele saja di permasalahkan, masalah kecil jadi besar, dari besar menjadi rumit sehingga Risda pusing dan mengaku kalah setelah itu selalu Risda minta maaf karena menganggap dirinya tidak sopan dan meminta klarifikasi atas topik permasalahan yang ada.


Risda tertawa cekikikan seorang diri di kamarnya kala teringat perdebatan konyolnya itu dengan di temani lampu remang remang dari ruang tamu yang tembus pencahayaannya sampai kamar Risda.


Yang Risda herankan kenapa setiap terjadi perdebatan antara ia dengan pak Albert tidak ada satupun mahasiswa atau mahasiswi lain yang membantunya, mereka semua bungkam seperti patung yang berdiam diri tanpa suara.


Risda terkejut mendapati jam sudah larut malam Risda buru buru memejamkan matanya untuk beristirahat.


Adzan shubuh berkumandang merdu, yang dikumandangkan oleh muadzin di masjid.


Sayup sayup suara adzan terdengar sampai ke telinganya Risda


Risda tersadar dari kelelapan tidur nyenyaknya, Risda mendudukkan dirinya diatas tilam kasur empuk yang di tempatinya itu sambil mengumpulkan kesadarannya kembali dan menunggu adzan selesai di kumandangkan.


Setelah adzan selesai dikumandangkan, Risda buru buru melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk shalat shubuh, setelah shalat shubuh Risda melanjutkan kegiatannya dengan membaca ayat suci Al-Qur'an, dzikir dan di sudahi dengan mencurahkan segala isi hatinya pada sang Maha Kuasa.


Arah jarum jam menunjukan pukul delapan pagi saatnya aktivitas perkuliahan online di mulai kebetulan pagi ini dosen yang mengajar pak Albert sang pujaan hati Risda, sudah tentu Risda bersemangat sekali dengan mata kuliah hukum islam karena bisa bertemu dengan sang pujaan hati dalam diam.


Oh manisnya sayangku hari ini, tampan sekali ucapan yang keluar dari mulut Risda saat wajah tampan pak Albert muncul di layar monitor labtop Risda, untung Risda tidak meng on kan microfont di meeting zoom, jadi pak Albert tidak tahu apa yang dikatakan Risda barusan.


Astaqfirullah ucap Risda setelah tersadar dari ucapannya barusan


Ya Allah ampunkan hamba-Mu ini, Ya Allah tolonglah jaga hatiku ini untuk tidak terpedaya dengan cinta sesaat. Ya Allah tolonglah aku.


Risda begitu takut akan dosanya pada Allah, tapi mau bagaimana lagi Risda hanya seorang insan biasa yang berlumuran dosa, yang masih sangat bodoh dalam mengelola hatinya sendiri, padahal hatinya ia sendiri yang mengelolanya tanpa campur tangan insan lain, tapi mengapa harus melenceng terpelesat ke arah yang salah.


Risda tahu tidak ada yang salah dari yang namanya jatuh cinta, yang salah itu jika cinta itu datang sebelum adanya hubungan yang di ridhai Allah.


Itulah yang akan menjadi kesalahan jika tidak di kendalikan dengan baik.

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2