
"Aaaa terbang" teriak Irsyad terkejut yang merasakan badanya melayang yang di karenakakn kakak kesayangannya yang mengangkat dan menyalto badan adiknya itu di sofa empuk yang berada di ruang tamu.
Adi, Nur dan Zay melongo terkejut melihat Risda yang sanggup mengangkat dan menyalto badan adiknya yang bahkan ukuran badan Irsyad lebih besar ketimbang badan Risda. Tidak ada seorangpun anggota keluarganya yang mengetahui kalau Risda bisa ilmu beladiri hanya Bintang dan Rita yang mengetahuinya saja. Adi, Nur dan zay hanya mengetahui kalau Risda hanya hobi olahraga untuk pembentukan keidealan fisik saja tidak tahu menahu tentang ilmu beladiri.
Irsyad terbaring terlentang diatas sofa sedangkan Risda berdiri di sampingnya dengan napas yang sama-sama ngosa ngosan kecapekan berlari. Beberapa detik tatapan mata Irsyad dan Risda saling beradu yang satu dengan tatapan tajam yang satunya lagi tatapan mata memohon ampun.
Risda membuang pandangan matanya dari adik kesayangannya itu dan kemudian melompati sofa itu kembali yang ada di hadapannya terlalu ribet jika harus memutar lagi pikir Risda.
Phoom suara pintu kamar Risda, yang dengan sengaja Risda tutup keras dengan sekali tendangan pelan. Pelan menurut Risda yang terbiasa latihan boxing namun tidak bagi yang lainnya.
Adi, Irsyad, Nur dan Zay mengelus dada mereka masing-masing terkejut kala Risda menendang pintu kamarnya. Tiga pasang mata yang berada di ruang tamu itu menatap Irsyad tajam. Irsyad mendapatkan tatapan mata tajam itu meraba tengkuk lehernya itu sendiri merasakan merinding "kenapa adik diliatin sampai segitunya".
"Makanya kalau becanda jangan berlebihan" ucap Nur jengkel lalu pergi meninggalkan Irsyad yang masih terbaring diatas sofa".
Zay yang mendengar penuturan istrinya itu bisa menyimpulkan kalau irsyad lah yang menjahili kakaknya duluan. Zay tau karakter Risda yang sering megabaikan apapun yang menurutnya tidak penting jika Risda sudah membalasnya kemungkinan besar fatal kesalahan Irsyad kali ini. Tatapan tajam Zay masih tajam pada Irsyad dikarenakan Zay masih menganalisis siapa yang salah di sini.
Irsyad melihat mama tersayangnya pergi berlalu ke dapur lalu pandangan Irsyad beralih pada Zay bapaknya yang masih menatapnya tajam "pak" panggil Irsyad.
"Yang banting kamu tadi kalau bukan kakakmu mungkin bisa jadi tulak belulangmu akan remuk nak". Irsyad dengan susah payah menelan ludahnya sendiri kala mendengar pernyataan Zay, kenapa Iryad lupa sedingin dan setegas apa kakaknya itu.
Zay berbalik badan dan masuk ke dalam kamar.
"Abang".
"Apa?".
"Kakak marah ya sama aku" tanya Irsyad dengan mata mengembun ingin menangis.
Adi hanya menanggapi Irsyad dengan senyuman dan berlalu pergi menuju ke arah dapur.
Setetes dua tetes air mata Irsyad jatuh menyadari telah membuat kakak kesayangannya marah padanya dengan keusilan berlebih darinya.
__ADS_1
"Nih ambil" ucap Adi sambil menyodorkan pel pada Irsyad.
"Apa ini bang".
"Pel" jawab Adi ringan.
"Iya tahu itu pel" tunjuk Irsyad dengan dagunya "terus mau diapain" tanya Irsyad polos.
"Ya di pel lah adikku sayang. Coba lihat ke lantai air pada bercecer".
Sontak Irsyad melihat ke lantai. Benar apa yang dikatakan Adi air di lantai pada bercecer percikan sana sini yang berasal dari badan Risda yang basah yang disebabkan oleh Irsyad sendiri yang menyiramnya. Irsyad menghembus napasnya pelan lalu mengambil alih gengang pel yang berada di tangan Adi lalu mengepel semua bagian lantai yang basah.
Irsyad menghentikan aktivitas pelnya sebentar lalu menatap mata Adi dalam yang duduk di kursi tamu sambil menunggu azan shubuh sambil memainkan ponselnya. Adi menyadari kalau Irsyad sedang memperhatikan dirinya "kenapa?" tanya Adi.
"Abang kalau kakak tidak maafin aku gimana?" tanya Irsyad yang sudah ingin menangis rasanya.
"Usahalah minta maaf pada kakak introvert kamu itu".
"Eee eeeh kenapa nangis?" panik Adi "besok waktu sarapan cobalah minta maaf pada kakak ya?".
"Iya bang".
"Sudah siap pelnya?".
"Sudah" suara terisak sambil menghapus airmatanya.
"Simpan pelnya sana ke belakang setelah itu kita ke masjid".
Tanpa jawaban ataupun sahutan, Irsyad melangkahkan kakinya untuk menyimpan pel.
"Ayok bang".
__ADS_1
"Panggil bapak dek, biar kita pergi barengan" suruh Adi pada Irsyad tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya itu.
"Ini bapak bang" membalikkan badan melihat bapaknya yang berdiri di belakangnya sebentar.
Adi mendongakkan kepalanya dan mendapati Zay yang sudah berdiri di samping Irsyad menjadi malu sendiri dan langsung bangun menuju parkiran mengambil mobil.
...****************...
Pukul tujuh tepat Risda keluar dari kamarnya dengan penampilan yang berubah seratus persen. Risda melangkahkan kakinya keluar kamar menuju ke dapur untuk meminta izin pada orangtuanya yang sedang berada di dapur sana yang sedang sarapan pagi.
Tap tap tap bunyi sepatu heals yang digunakan Risda. Semua pandangan beralih pada arah suara itu berasal, Adi, Irsyad, Nur dan Zay yang sedang sarapan melongo bingung sekaligus terkejut melihat penampilan Risda.
Triiieengg suara sendok terjatuh yang disebabkan oleh Irsyad "bang itu beneran kakak kan?" tanya Irsyad pada Adi yang juga sama-sama bingung.
"Iya kayaknya, tapi abang kurang yakin dek".
Risda melihat abang dan adiknya yang belum bisa sepenuhnya menguasai dirinya. Risda juga melihat orangtuanya yang jauh dari kata sadar saat melihat penampilannya yang memakai gamis dan jelbab yang sangat cantik walau tanpa make up sama sekali.
"Mama, bapak, Risda rasa mulut mama dan bapak sebaiknya ditutup saja takut masuk lalat nanti" ucap Risda santai sambil duduk dikursi meja makan untuk menikmati sarapan bersama-sama.
Adi dan Irsyad menghentikan bisik-bisik mereka dan langsung melihat kearah Nur dan Zay. Sedangkan Nur dan Zay menutup dan membekap mulut mereka masing-masing dan Risda yang melihat itu hanya bisa tersenyum ringan menanggapi.
Risda menarik kursi dan duduk setelahnya, melihat setiap insan yang berada didekatnya masih melongo bingung melihat dirinya tanpa kata. Risda memberi satu senyuman manis untuk menghentikan keterpanaan abang, adik dan orangtuanya sambil mengisi nasi goreng dalam piringnya sendiri.
Risda telah menghabiskan nasi goreng yang berada dipiringnya tadi, hendak beranjak bangun menyimpan piring kotor ke wastafel dan sekalian untuk mencuci tangannya karena Risda makan nasi langsung dengan tangannya sendiri.
Kreet bunyi kursi yang terserat dengan sendirinya karena efek Risda yang bangun beranjak dari kursi. Dua langkah kaki menapaki sebuah suara menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya pada Zay yang menanyakan "anak gadis bapak cantik sekali hari ini, mau kemana?" tanya Zay yang tidak tahu kalau Risda hari ini akan memasuki ruang kelas dikampus untuk menuntut ilmu.
"Cuci tangan" jawab Risda seadanya sambil berlalu menuju dapur.
Risda masuk kamar dan kemudian keluar dengan menenteng satu tas ransel kecil yang berisikan laptob, satu buku, sebatang polpen dan sepasang baju training andalannya. Risda datang menghampiri orangtua tercintanya bermaksud ingin salim terlebih dahulu seperti kebiasaan ia sebelumnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...