Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Caffe


__ADS_3

"Santai kak, makan aja kayak orang keserupan" canda Irsyad, berniat ingin menggoda kakaknya.


Risda melihat adiknya sekilas kemudian meminum air putih yang di sodorkan oleh Bintang yang berada di sampingnya.


Irsyad meneguk air liurnya dengan susah payah saat melihat tatapan kakaknya yang tajamnya melebihi ketajaman silet. Irsyad juga curi-curi pandang pada Bintang yang berada tepat disebelah Risda kakaknya, tatapan Bintang juga tidak kalah tajam dari kakaknya bahkan melebihi kakaknya.


Irsyad mencondongkan sedikit tubuhnya untuk berbisik pada Rita yang asik main hp setelah membantu Nur membersihkan semua piring kotor.


"Kak" panggil Irsyad sambil menyentil hp Rita pelan.


Rita menoleh pada Irsyad "apa" tanya Rita tanpa suara.


"Tu" menunjuk dengan memonyongkan mulutnya.


"Kenapa" tanyanya masih tanpa suara, masih tidak mengerti..


Irsyad merapatkan kursi dengan Rita dan kemudian berbisik "Kak, lihat itu kakak sama abang, muka mereka kayak balok es sama-sama datar. Hihihi" setelah berbisik Irsyad cekikan sendiri. Rita spontan melihat kearah Bintang dan Risda yang duduk bersebelahan tepat di hadapannya.


Irsyad mendekatkan badannya kembali dan kembali berbisik lagi "Kak, bayangkan deh, kalau mereka itu nikah, pasti mereka akan mendapatkan julukan pasangan es balok".


Rita memandang pada Bintang dan Risda sekilas lalu memandangi irsyad disebelahnya "Haahahaahh" tertawa renyah keduanya yang malah mendapatkan tatapan horor dari pasangan kw yang ada di hadapannnya.


"Kak, kabuuurr" teriak Irsyaad setelah lebih dulu lari.


Rita mengarahkan pandangannya mengikuti kemana arah kaki Irsyad berlari. "Dasar" Rita bergumam dengan gelengan kepala lucu melihat tingkah Irsyad tapi Rita juga membayangkan apa yang dibilang Irsyad jadi kenyataan. "Hihihi" terkikik geli seorag diri.


"Udah ngak waras kamu?" tanya Bintang.


"Ih apaan sih" mendelik kesal.


Bintang menatap lurus pada Rita tanpa berkedip.


Rita melemparkan biji jeruk yang baru siap dimakannya tepat mengenai wajah tampan datar Bintang.

__ADS_1


"Eh eeh eeeh maaf, maaf, maaf aku tidak sengaja" mengambil ancang-ancang langkah seribu untuk lari sejauh mungkin.


"Rissss, aku tunggu kalian di mobil ya" teriak Rita sambil terus berlari.


Dua tarikan napas terdengar bersamaan.


Setengah jam berlalu Rita menunggu kedatangan Bintang dan Risda untuk pergi berangkat ke kampus bersama-sama. Jenuh tentu saja Rita rasakan, ingin pergi duluan juga tidak mungkin disebabkan Rita tidak bisa menyetir.


"Lama sekali kalian" ucapan sekalian dengan dengusan kecil dari Rita.


"Siapa suruh kamu nunggu dsini" sahut Bintang sarkas.


Terdiam kaku tak ada lagi jawaban dari Rita memang dirinyalah sendiri yang memilih menunggu disini.


Ban mobil terus berputar dengan segala bantuan mesin yang membantu mobil melaju dengan kecepatan tertentu sesuai dengan tancapan gas yang ditekan.


Perjalanan terasa sunyi sesunyi permukaan kuburan tanpa hiruk pikuk aktitifias diatasnya. Tak sepatah kata yang terlontar dalam mobil yang di kendarai oleh Bintang dan ditumpangi oleh Risda dan Rita. Rita yang merasa jenuh akhirnya memililh menyibukkan dirinya dengan hp genggamnya seorang diri, jangan tanya Bintang dan Risda yang nyaman dan terbiasa dengan kekakuan mereka.


Mobil yang dikendari oleh Bintang memasuki perkarangan kampus. Rita melihat kearah jendela memantau aktivitas mahasiswa dan mahasiswi yang lagi sibuk dengan kegiatan mereka masig-masing. Kemudian Rita mengarah pandangannya pada Bintang dan Risda yang masih dengan posisi mereka tetap sama-sama datar. Sebelum mobil memasuki area parkir Rita berucap untuk memecah keheningan yang tercipta diantara mereka "apa kalian tidak bosan dengan kebiasaan kalian yang kaku itu".


Mobil telah berhenti sempurna di tempat khusus parkir yang telah disediakan. Semua yang berada dalam mobil turun menuju ke fakultas masing-masing, Bintang dan Risda pada tujuan mereka yang sama sedangkan Rita sendirian.


Mata kuliah mereka padat hari ini sampai enam SKS lamanya.


"Nanti siang waktu makan tungguin aku ya" Rita terseyum cerah secerah sinar matahari yang menyilau mata sambil berlalu mengibarkan tangan tanda pisah terjadi diantara mereka.


Dua SKS telah terlewati rindu menghampiri menghimpit aktifiitas, mengganggu pikiran sunggguh menyiksa. Menghembuskan napasnya jengah kala rindu datang mengikis waktu. Masih ada empat SKS lagi monolog hati Risda sambil melihat jam arloji yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.


Matahari tepat diatas puncak manandankan tengah hari telah tiba kini saatnya makan siang. Bintang dan Risda keluar dari ruang kelas bersama-sama dan kemudian menelpon Rita unuk menuju ke cafee tempat biasa mereka makan siang.


"Kami sudah siap, langsung ke kantin ya" dua kaliamat pesan terkirim pada Rita melalui aplikasi chattingan.


"Aku sudah disini. Kami cepat keluar tadi" balas Rita kembali.

__ADS_1


Bintang dan Risda mendapatkan balasan dari Rita bahwa Rita sudah lebih dulu berada di tempat janjian mereka jadi Bintang dan Risda juga akan melangkahkan kaki mereka berdua ke tempat makan.


"Kamu bolos lagi Ta?" tanya Risda pada Rita setelah Risda duduk di kursi tepat dihadapan Rita.


"Kali ini ngak bolos kok" tersenyum cengengesan "betulan tadi dosen kami keluarnya cepat ada sidang kelulusan kating hari ini katanya".


Risda menaikan kedua alisnya tanda mengerti.


Bintang mengangkat tangannya memanggil salah satu pelayan cafee untuk memesan menu makan siang mereka.


Risda mengikuti arah pandangan kemana arah pandangan Bintang tertuju.


Melongo terkejut Risda rasakan, tepat di belakang punggung si pelayan seorang pemuda yang berprofesi sebagai dosen itu sedang memasukan buku dan laptop ke dalam tas.


Pandangan mata Risda kosong, menatap tajam pada objek yang dituju namun tidak dengan hati yang terus berdebat ingin menghampiri mengutarakan rindu yang semakin hari semakin menggunung tetapi logika Risda masih sangat berfungsi untuk tidak bertindak melukai harga diri.


Inginku melempar batu kora berbentuk hati padamu sayang, supaya dikau tahu hantaman rindu selalu memukulku. Sungguh aku ingin melemparnya padamu agar dikau juga merasakan sakit sesakan rindu sama seperti diriku.


Rita yang duduk di hadapan Risda terus mengoceh tidak jelas, tidaklah Risda hiraukan karena Risda sibuk memperhatikan sayang cinta pertamanya.


Bintang melirik Risda sekilas yang sibuk dengan urusannya sendiri, Bintang mengarahkan pandangan matanya kemana arah pandangan Risda tertuju. Ahmad Alfarisi Albert monolog hati Bintang.


Melihat Risda yang enggan berpaling walau hanya sedetik saja akhirnya Bintang yang memesankan pesanan Risda. Serangkain pemesanan sudah Bintang pesankan tinggal memunggu hidangan tersaji di depan mereka bertiga.


"Ehm" dehem Bintang untuk menyadarkan Risda. Tidak sadar.


"Ehm" dehem Bintang lagi. Masih tidak sadar juga.


Tiieee Bintang menyentil teling Risda keras.


"Aduh, sakit oy" teriak reflek Risda.


"Baru sadar".

__ADS_1


Tatapan tajam terjadi antara Bintang dan Risda yang ditengahi oleh Rita. Rita berngedik ngeri melihat tatapan dua sahabatnya itu, yang Rita rasakan adalah seolah-olah tubuhnya itu terbelah dua dengan adanya tatapan itu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2