
Risda tersenyum bukan tanpa alasan, ia tersenyum karena sahabatnya Rita yang tengah bersenang hatinya akan perjalanan mereka di esok hari. Risda tersenyum setelah mendapati jawaban penyebab dari Rita senang setelah dilihatnya dari berbagai segi sedangkan Rita malah ketakutan dengan senyuman Risda.
"Udah-udah Riis jangan senyum-senyum lagi, iya sekarang aku tidur".
"Hm" Hanya deheman ringan yang Risda berikan sebagai jawaban untuk Rita.
Risda dan Rita tidur dengan nyenyak tanpa ada yang mengganggu mereka sama sekali. Jam menunjukan hampir subuh, suara ketukan di pintu kamar terdengar entah sudah berapa lama.
Sayup-sayup Rita mendengar suara ketukan pintu semakin lama semakin kencang durasinya, dengan susah payah Rita mengumpulkan seluruh nyawanya untuk bangun dan melihat siapa yang mengetuk pintu sepagi ini.
Dengan sempoyongan Rita bangun dan turun dari tilam kasur kemudian ia beranjak melangkahkan kakinya mendekati dan membuka pintu kamar untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamar yang tidak sabaran. Saat pertama kali membuka pintu wajah tampan Adi yang menurut Rita menyebalkan yang terlihat pertama kali. Rita mendengus kesal melihat senyuman Adi dan melirik sekilas pada jam dinding yang tertempel di dinding tepat di belakang Adi, Rita melihat jam memasuki waktu shubuh sekitar satu setengah jam lagi.
Adi yang melihat Rita yang masih dengan muka bantal baru bangun dari tidur dan muka sedikit kesal padanya kemudian tersenyum dan berucap "selamat pagi calon istriku, siap-siap sekarang ya, setelah shalat shubuh kita langsung berangkat, oh ya satu lagi tolong bangunin Risda ya sayang".
Dengan malas Rita menjawab "iya-iya abang, oh ya, perlu abang ingat bahwa walaupun kesadaranku belum terkumpul dengan sepenuhnya tetapi aku cukup sadar bahwa aku bukanlah calon istri abang".
Rita lagi dan lagi hanya bisa mendengus kesal pada Adi yang kembali memberi senyuman menyebalkan baginya dan pergi berlalu begitu saja. Kemudian Rita masuk kembali ke kamar dan membangunkan Risda yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. "Risda bangun" berulang kali Rita memanggil Risda supaya bagun, Rita yang kelelahan dalam membangunkan Risda yang tak kunjung sadar dari mimpi indahnya mengambil keputusan dirinyalah yang akan bersiap-siap terlebih dahulu.
__ADS_1
Setengah jam berlalu Rita habiskan dalam kamar mandi tetapi Risda belum juga bangun. Rita kembali memanggil Risda untuk bangun "Risda baaanguunnn" dengan emosi penuh dan suara ekstra Rita berteriak di samping Risda sampai semua penghuni rumah terbangun dengan teriakan Rita. Bintang, Irsyad, Nur dan Zay masih dengan muka bantal berlari terpogoh pogoh menyusul dalam kamar Risda, mereka berpikir telah terjadi sesuatu pada putri bunga kesayangan mereka, cuman Adi yang dengan santai berjalan masuk ke dalam kamar Risda untuk melihat Risda sudah bangun atau belum.
Dengan satu teriakan dari Rita, Risda langsung terperanjat kaget dan terbangun dari tidur lelapnya. Rita yang melihat Risda yang terbangun dengan suaranya merasa bersalah, saat melihat keadaan Risda berdiri dengan sikap kuda-kuda tepat berada di tengah-tengah atas tilam kasur. Antara lucu dan kasian Rita menarik Risda untuk duduk dan mengusap muka Risda supaya tersadar.
"Hm" satu deheman keras yang di berikan Bintang pada Rita.
Rita yang mendengar suara deheman yang begitu keras dari Bintang terkejut bukan main, sampai-sampai Rita yang sedang duduk diatas tilam yang tengah menyadarkan Risda, dengan tidak sengaja Rita melompat tinggi dengan gaya campur adul dan terjatuh terjungkal diatas lantai. Setelah jatuh Rita dengan susah payah bangun sambil memegang b.k.ngnya yang terasa sakit dan menatap Bintang tajam tanda protes.
Irsyad, Nur dan Zay walaupun baru terbangun dari tidurnya, kesadaran mereka sudah terkumpul penuh apalagi setelah melihat pertunjukan bagaimana Rita terjatuh tadi, sekuat tenaga mereka menahan tawanya, Adi juga sekeras mungkin berusaha supaya tidak tertawa dengan reflek keterkejutan dari Rita sedangkan Bintang hanya menatap lurus Rita yang masih sedang berusaha bangun setelah terjatuh karena ulahnya.
Risda yang sudah tersadar sepenuhnya dari tidur lelapnya menatap tajam Rita yang terduduk terjatuh di lantai karena berteriak tepat di bagian telinganya, dengan teriakan Rita menciptakan degungan hebat pada telinga Risda.
Satu persatu orang yang memasuki kamar Risda membalikkan badan mereka dan kemudian membubarkan diri untuk bersiap shalat shubuh terlebih dahulu.
Shalat shubuh telah mereka tunaikan, kini saatnya perjalanan di mulai. Masing-masing dari mereka membawa tas ransel kecil karena mereka berencana akan nginap di penginapan selama dua hari dua malam.
Adi, Bintang, Risda dan Rita berpamitan pada Nur dan Zay karena hanya mereka berempat saja yang pergi ke tempat wisata tersebut sedangkan Nur dan Zay tidak bisa karena mereka berdua ada kepentingan lain yang tidak bisa ditinggalkan.
__ADS_1
"Hati-hati kalian di sana ya" ucap Nur pada keempat anaknya.
"Iya ma" jawab mereke serentak.
Zay melihat mata Adi dalam kemudian berucap "Adi kamu jaga adikmu ini sebaik mungkin jangan sampai lecet sedikitpun". Zay mengatakan seperti itu bukan tanpa sebab walaupun kelakuan Risda sedikit tomboy tetapi Risda tetaplah seorang perempuan juga. Bintang yang melihat tatapan Zay sedikit berngedik ngeri karena tatapan Zay berikan pada Adi sebuah pengancaman kalau terjadi sesuatu pada putri kesayangannya.
Bintang menarik napas panjang dan kemudian membalikkan badannya lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian kemudi tentunya setelah berpamitan terlebih dahulu dengan Nur dan Zay, Bintang menarik napas panjang bukan tanpa alasan, Bintang menarik napas panjang dikarena lebih sulit meluluhkan hati Zay daripada hati Risda. Bintang berpikir tidak mungkin bertahan lama cinta tanpa restu dari orang tua.
Adi yang sempat melihat Bintang menarik napas panjang mengernyitkan dahinya bingung, lantaran Zay menitipkan Risda padanya tapi kenapa malah Bintang yang menarik napas panjang seolah-seolah Risda dititipkan padanya, aneh pikirnya. Adi duduk di kursi sebelah Bintang yang sedang menyetir kemudian Adi bertanya pada Bintang "Bintang kamu kenapa?".
Bintang tidak menjawab atas pertanyaan Adi yang menanyakan dirinya kenapa hanya gelengan kepala ringan yang Bintang berikan pada Adi sebagai jawaban.
Risda dan Rita yang duduk di bagian kursi belakang saling bertatapan mengisyaratkan saling bertanya satu sama lain, apa yang terjadi antara Adi dan Bintang. Saking penasarannya Risda dan Rita secara serentak mereka menyakan "kenapa" pada Adi dan Bintang.
Adi dan Bintang sedikit terkjejut dengan suara Risda dan Rita yang begitu kompak. Bintang hanya melirik sekilas pada Risda dan Rita tentunya dengan tampang datar tanpa senyuman yang selalu mengintimidasi sedangkan Adi menoleh dan memutarkan lehernya sembilan puluh derajat untuk melihat Risda dan Rita dengan senyuman manis yang tertuju pada Rita "iya sayang, ada apa?".
Rita yang mendengar Adi yang menyebutkan kata sayang mendengus kesal dan jengah dengan sebutan sayang tersebut sedangkan Bintang dan Risda hanya menyimak saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......