Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Kata Pedas


__ADS_3

Akhir pekan yang cerah tiga sahabat karib sedang menikmati akhir pekan di sebuah taman kota dengan aktivitas olahraga yang sangat menguras tenaga bagi Rita namun tidak dengan Bintang dan Risda yang terbiasa dengan olahraga ekstrim.


"Hah hah tuu tunggg tungguuiiinn aku" ucap ngadu Rita pada Bintang dan Risda supaya berhenti sebentar. Rita berhenti dengan napas ngos ngosan menompa badan dengan memegang kedua lututnya.


Bintang dan Risda menghentikan ayunan langkahnya yang sedang berlari bersamaan dan membalikan badannya melihat Rita yang telah terduduk di tanah dengan menselonjorkan kedua kakinya yang siap ancang-ancang ingin merebahkan badannya di tanah tanpa memperhatikan keadaan dan tempat yang tidak mendukung.


"Eh, Rita ngapain kamu tidur disitu" teriak Risda memperingatkan Rita.


"Bangun" ucap Bintang singkat dengan menyodorkan tangannya bersamaan dengan tangan Risda yang juga menyodorkan tangan pada Rita setelah Bintang dan Risda berdiri tepat di hadapan Rita.


Bintang dan Risda menarik tangan Rita bersamaan dengan sedikit keras "aaaaaa" teriak keras Rita yang merasakan seperti melayang di udara.


Phoomm suara Rita yang jatuh tergelatak terduduk kembali di tanah. "Aduh" mengaduh Rita yang kesakitan sambil mengusap pantatnya yang terasa perih nyeri "jahatnya kalian" ucap Rita dengan mata mengembun. Sakit dan lelah jadi satu itulah yang Rita rasakan saat ini.


Beberapa sekian detik terlewati "hahahaha" tawa membahana dari Rita yang dibalas kebingungan oleh Bintang dan Risda.


Rita yang masih terduduk di tanah melihat posisi Bintang yang memegang kerah baju belakang Risda supaya tidak terjatuh menimpa badannya, mimik lucu wajah dari Risda yang muka kemarahan akibat tercekik dengan kerah bajunya sendiri yang ditarik oleh Bintang.


Tawa membahana dari Rita yang sampai mengeluarkan air dari kelopak matanya kini berubah menjadi tangis kembali.


Bintang melepaskan genggaman tangganya pada kerah baju Risda yang Risda sendiri tidak sadari.


Risda berlutut mensejajarkan posisi dengan Rita yang masih duduk di tanah dengan menekuk dan memeluk kedua lututnya itu.


Satu elusan lembut di punggung Rita rasakan yang membuat Rita mendongakkan kepalanya melihat sosok yang baru saja mengelusnya "Risda" ucap Rita lirih dan Rita langsung memeluk Risda.


Risda yang mendapat pelukan dari Rita tidak merespon apa-apa masih dengan kebingungannya menatap Bintang yang masih setia berdiri disampingnya juga mengangkat bahu tidak tahu kenapa dan apa yang terjadi pada Rita.


Satu menit, dua menit, lima menit sudah posisi Risda bertahan tanpa gerakan. Risda tidak lagi sanggup menahan kebas kesemutan pada kakinya mengurai pelukan Rita perlahan saat mendengar isakan tangis dari Rita kian melemah dan hilang.

__ADS_1


"Yah malah tidur ini anak" geram Risda sekaligus lucu dengan tingkah Rita kali ini. Risda menggoyang-goyangkan badan Rita pelan namun tidak ada reaksi.


"Tidur atau mati?" sahut Bintang dengan menaikkan sebelah alisnya bertanya.


"Kaauuu" teriak Rita dengan diikuti tatapan tajam dan jari telunjuk menunjuk Bintang geram. Niat Rita ingin sedikit ngedrama biar heboh sedikit, supaya tidak kaku kali namun malah mendapat ucapan pedas dari Bintang sahabatnya itu.


Rita melihat Risda niat ingin mengadu tidak jadi saat melihat wajah Risda yang hampir sama datarnya dengan wajah Bintang. "Heheh jangan marah Ris" menampilkan wajah cengengesan sedikit merasa bersalahan atas tindakannya tadi "pulang yuk, capek" menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal merasa tidak enak.


Helaan napas jengkel terdengar dari Bintang dan Risda. Rita mengelus dadanya tidak kenak semprot marah dari Bintang yang mengakhiri olahraga akhir pekannya, Rita sangat bersyukur akan hal itu walau merasa tidak enak setidaknya ia tidak mendapat amarah dari Bintang.


Dua hari sudah terlewatinya hari dimana hari Bintang, Risda dan Rita melakukan joging bersama.


Pagi hari yang cerah, matahari menyinari bumi, hiruk pikuk aktifitas manusia mulai aktif kembali setelah sebelumnya mereka mengistirahatkan badan mereka yang lelah dan letih.


"Huaaam" menguap Rita dan merentangkan tangannya keatas. Belum juga mulut Rita yang sedang menguap itu mengatup kembali sebuah bantal guling melayang tepat mendarat dimukanya.


Phoom


"Apa?" tanya Risda garang. "Mandi sana, duluan ayam bangun daripada kamu bangun".


Rita yang mendapat omelan singkat namun pedas di pagi hari dari Risda menghembuskan napasnya pelan dan mengelus dadanya sekali. Jarang sekali mulut Risda bersua sekali keluar suaranya oman sakitnya tembus ke hati.


"Iya, ini aku bangun" Rita bangun dan beranjak menuju kamar mandi tidak lupa merampas handuk terlebih dahulu.


"Dasar si Risda ini jarang sekali ngomong, sekali ngomong ucapannya pedas bukan main" Rita bergumam lirih sambil berlalu ke kamar mandi, walau nada Rita pelan nyaris tak terdengar namun pendengaran Risda yang tajam mampu mendengar omelan Rita untuk dirinya.


"Astagfirullah" ucap istiqfar Rita sekilas melihat tatapan tajam nan menusuk dari Risda.


Thik thik thik bunyi dari gigi Rita yang saling bertubrukan.

__ADS_1


Risda melihat sekilas pada Rita baru keluar dari kamar mandi yang hanya melilitkan satu helai kain pada tubuhnya dan beralih kembali pada tumpukan buku yang ada di hadapannya.


"Dingin Ris" ngadu Rita.


"Ngak nanya".


Rita yang mendengar jawaban Risda atas dari pernyataannya mendadak menjadi panas, dingin yang tadi mendera dirinya hilang entah kemana. Entahlah Rita tidak tahu rasa dingin yang menderanya, pergi ke mana. Sungguh Rita tidak tahu.


Risda melihat Rita yang mulai berdiri mendirikan sholat, ia juga bangun beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudhu dan kemudian sholat.


Risda melantunkan ayat suci Al-Qur'an di mushola keluarga karena di sana sunyi tanpa adanya orang kecuali dirinya sendiri.


"Shaadaqallah hul'azim" menutup Al-Qur'an.


Melipat dan menyimpan mukena dan Al-Qur'an pada tempat semula kemudian Risda melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya Risda melihat seorang gadis manis yang masih terbalut dengan mukena tertidur dengan manis diatas sajadah.


Satu tarikan napas dari Risda ketika melihat Rita yang kembali menggulung dirinya kembali bagaikan kepompong bertapa. Waktunya tidur bukannya tidur, sekarang waktunya bangun lah dia sibuk tidur monolog Risda seorang. Risda membiarkan Rita tidur sebentar lagi sampai waktu sarapan pagi tiba.


Risda meluangkan waktu senggangnya dengan menulis di buku diarynya yang sudah beberapa hari ini tidak ia sentuh. Risda terlalu asik dengan penulisan fiksi bahkan ia lupa menulis yang real di buku diarynya.


Aku terlalu terlena oleh penulisan, aku terlalu terpana akan indahnya kata-kata, aku melambung tinggi dengan adanya imajinasi atau ekspetasi namun aku tergeletak dan terkapar dengan realita fakta.


Setelah menulis Risda menutup buku diary yang hanya menulis sepatah dua patah kata dan melanjutkan lagi dengan imajinasinya dalam buku fiksi yang ia ciptakan sendiri.


Waktu bergulir begitu saja bagaikan air yang berporos pada arus yang mencari titik terendah untuk kenyaman air mengenang begitupun dengan Risda yang terlalu dalam menyelam dalam hayalan imajinasinya sendiri sampai ia lupa matanya belum terpejam sama sekali semenjak malam tadi.


Ting bunyi pesan dari Hp Risda yang berisi pesan dari Bintang "nanti ke kampus kita pergi bersama-sama ya".


"Iya".

__ADS_1


BERSAMBUG...


__ADS_2