Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Final


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Risda bro" tanya Adi pada Rafi yang sedang bertugas memeriksa kesehatan Risda kembali.


"Keadaannya baik baik saja masih normal seperti tadi saya memeriksanya di rumah".


"Normal dari mananya, ini adik saya ngak bangun bangun dari tadi".


"Sabar napa sih, ini juga ngak bangun bangun karena efek obat bius yang tadi saya berikan saat proses penjahitan di kening Risda".


Perdebatan tetap terus berlanjut. Risda yang kesadarannya sempat menghilang kini kembali secara perlahan lahan.


Dengan suara lemah Risda berkata "apaansih bang ribut ribut terus dari tadi, berisik tahu".


Mendengar suara lemah parau dari Risda, dua orang yang sedang berdebat segera menghentikan perdebatannya dan menoleh ke arah sumber suara.


Rafi memeriksa kembali kesehatan Risda tidak ada masalah yang serius hanya demam biasa karena waktu istirahat yang kurang karena memang Risda sangat susah untuk tidur.


"Tante kondisi Risda sudah stabil kembali tetapi saya menyarankan supaya Risdanya di rawat dulu di sini sekitar dua atau tiga hari sampai tenanganya pulih kembali".


"Baiklah lakukan yang terbaik untuk anak tante".


"Baik tante Rafi izin keluar dulu sebentar mengecek pasien yang lain".


"Iya, terimakasih ya nak Rafi".


Setelah Rafi keluar dari ruangan


Risda merengek minta pulang tidak betah jika harus di rawat di RS.


"Ma pulang yok, rawat di rumah juga bisa kan, malaslah ma kalau di sini, ini apalagi selang berair ada di tangan".


Risda terus saja merengek minta pulang dan mengoceh tidak jelas ingin pulang walau keadaannya saat ini sangat lemah tetapi sifat keras kepalanya memaksa dirinya supaya terlihat sudah sehat kembali.


"Diamlah dek, kamu tidur aja di sini ngak lama kok cuma tiga hari, jangan banyak protes okey.


Risda cemberut di marahi oleh abang sepupu kesayangannya itu tetapi tidak juga kehabisan akal membujuk abang dan mamanya itu supaya membawa dirinya pulang ke rumah.


"Abang".


"Hm apa" jawab Adi seolah olah cuek padahal ia sedang mengalihkan diri dari Risda supaya tidak terpedaya oleh Risda untuk membawanya pulang. Adi tahu sifat Risda dari kecil ia sangat anti yang namanya obat apalagi kalau harus di rawat inap.


"Risda besok masih ada ujian akhir semester yang belum siap, jadwalnya masih ada tiga hari lagi" ucap Risda berusaha untuk membujuk agar dirinya di rawat di rumah saja.


"Ngak apa apa Risda ada aku di sini sahabatmu yang terbaik yang akan membantu kamu dalam menjawab semua pertanyaannya, kan aman ujiannya online"


Tiba tiba saja Bintang yang baru juga datang langsung menyaut omongan rengekan Risda.


"Ish Si Bintang kacau, gagal deh untuk bisa pulang sekarang".


Hari ini, hari keempat Risda di rawat di RS, dan hari ini juga Risda di perbolehkan pulang untuk istirahat di rumah setelah adanya drama ngak mau minum obat setiap harinya. Bintang yang selalau sabar dan berhasil membujuk Risda supaya mau minum obat dan Bintang juga yang selalu bisa diandalkan dalam membantu Risda untuk menjawab semua pertanyaan dalam ujian akhir semester UAS dikarenakan pengaruh obat Risda selalu tertidur setiap saat.

__ADS_1


"Bintang" panggil Risda agak masih lirih karena keadaan Risda belum pulih normal kembali.


"Iya Ris, kenapa?".


"Ujiannya sudah diujiankan semua di setiap mata kuliah?".


"Belum


Masih ada dua mata kuliah yang belum di ujiankan yang di hari kamis kemaren karna tanggal merah hari libur".


"Huft jadi belum habis ya".


Bintang tidak lagi menyaut ocehan Risda yang menggerutu kesal, Bintang hanya tersenyum saja melihat Risda yang sudah mulai punya tenaga lagi.


Bintang melihat Risda sudah mereda dengan ocehannya kemudian Bintang bertanya


"Sudah".


"Apanya yang sudah".


"Ocehan tidak berfaedah kamu".


Risda mendengus kesal kepada Bintang yang selalu membuatnya jengkel.


...****************...


Pengecekan nilai melalui portal akademik universitas dilakukan oleh setiap individu mahasiswa dan mahasisiwi.


Alhamdulillah nilai Risda dan Bintang diatas tiga


Mereka bertos ria kesenangan karna semua mata kuliah nilainya bagus tidaklah harus mereka ulang.


"Rita ip kamu berapa".


"Tiga koma satu" jawab Rita lesu.


"Lah kok lesu gitu sih jawabnya".


"Nilai kalian lebih tinggi dari aku".


"Belajarmu kali yang kurang makanya segitu,


Ngakpapalah yang penting semua mata kuliahkan lulus".


"Iya sih lulus".


"Risda gimana keadaan sudah sehatkah?" tanya Bintang pada Risda.


"Sudah

__ADS_1


Kenapa emangnya Bintang, mau ngajak aku jalan jalankah?


Ayok aku siap kok, sekarang pun bisa".


Bintang memutar matanya malas, kalau badan belum sehat ngak ada yang namanya jalan jalan.


Kalau sudah sehat nanti ke wisata puncak pengunungan aku bawa kalian


Rita yang daritadi tampak lesu kini matanya berbinar kegirangan, "yang benar Bint kita pergi ke gunung salak, ayok kita pergi". Rita yang mulanya duduk di kursi taman depan rumah Risda segera beranjak dari kursi yang ia duduki untuk menarik lengan Bintang untuk segera berangkat ke wisata puncak pegunungan


Bintang menatap Rita kesal kemudian beralih pada lengannya yang di gandeng oleh Rita. Senang boleh tapi kalau mau pegang pegang di pikir pikir dulu jangan asal pegang.


Rita melepas rangkulan tangannya di lengan Bintang dan kembali lesu sejak ia mengetahui nilainya yang kurang memuaskan. Yah ngak jadi pergilah kalau kayak gini ceritamya.


Risda hanya duduk manis menyimak saja tentang perihal liburan mereka karena ia sedikit bisa memahami spikolog dan karakter Bintang yang tidak mau senang sendiri, karakter Bintang kala senang ia nikmati bersama orang orang yang ia sayangi dan jikalau susah Bintang akan menghadapinya sendiri.


"Ris bujuklah si Bintang biar kita pergi sekarang stress aku nilai aku jelek".


Risda yang mendengar keluh kesah dari sahabat ke sahabatnya hanya tersenyum saja menanggapi.


"Eh malah senyum senyum, orang capek ngadu juga sama dia, ini responnya cuma segitu".


"Bintang ngak akan bawa kita ke gunung salak sekarang karena kondisiku yang belum benar benar sembuh, jangan cemburut gitu ih, itu bibirnya di patok ayam baru tahu kamu".


"Ish kamu Riis sama si Bintang sama sama ngeselin tahu ngak".


"Hahaha jangan cemburut terus nanti cantiknya hilang. Ngakpapa ngak jadi pergi ke gunung salak sekarang gimana kalau sekarang kita pergi waduk jeulikat mau?".


"Mau aja deh".


"Yaelah sok sok mau aja deh padahal mau bangetkan"j jawab Bintang menginstruspeksi.


"Diam kamu Bint".


Okey Bintang menjawab dengan isyarat tangan iya dan mengarahkan tangannya kemulut sendiri seolah olah telah mengunci mulut untuk tidak ngomong lagi.


Risda masuk ke kamar untuk berganti kostum karena baju yang gunakan sekarang hanya piama rumahan biasa, Risda masuk ke dalam kamar mengganti pakaian stelan training andalannya.


"Ayok siap".


Rita  yang melihat Risda yang memakai celana training, baju kaos oblong lengan panjang dan tidak lipa topi yang selalu melekat di kepala Risda.


"Riis boleh tidak kamu kalau keluar rumah tidak usah bergaya tomboy begini, ini lagi pakai topi segala".


"Jadi mau pergi sekarang atau tidak sama sekali jawab Risda dingin".


"Iya iya kita pergi sekarang. Kalian berdua sama saja kalau udah marah selalu saja menakutkan sikap kalian".


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2