Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Bakso


__ADS_3

Mendengar bunyi perut Risda yang begitu nyaring, Bintang tidak langsung membawa mereka pulang melainkan memutar kemudi menuju pedagang kaki lima yang masih buka saat jam menunjukan kelarutan malam.


Mobil berhenti tepat di rak yang bertuliskan sate padang dan sebelahnya ada rak yang bertuliskan bakso ayam.


Adi, Risda dan Rita terlebih dahulu turun dan menunggu Bintang selesai memarkirkan mobilnya dengan rapi.


Phoom. Bintang menutup pintu mobil dan berjalan ke arah Adi, Risda dan Rita yang sedang berdiri menunggu dirinya.


"Ayook" ajak Bintang pada abang dan dua sahabatnya dan langsung diikuti oleh mereka bertiga.


Dua porsi sate dan dua porsi bakso jumbo telah tersaji di hadapan mereka dan tidak lupa minuman yang disandingan empat jus yang berbeda rasa dan tidak lupa empat gelas air putih sebagai pelengkap hidangan.


Adi, Bintang, Risda dan Rita makan dengan lahap setelah hampir seluruh energi mereka terkuras di wahana ditempat di pasar malam tadi.


Satu jam telah terlewati begitu saja. Sate dan bakso yang telah mereka pesankan telah habis tidak ada sisa lagi.


Bintang melirik sekilas jam arloji yang melingkar ditangannya, pukul dua belas tepat sudah.


"Bagaimana, apakah sudah bisa gerak pulang sekarang" tanya Bintang yang dibalas tatapan datar dari ketiga pasang mata lainnya.


"Jam berapa?" tanya Adi sambil melihat jam arloji yang melekat pada pergelangan tangannya.


"Ayok pulang" ajak ulang Adi pada yang lain.


Bintang langsung berdiri menuju mobil dan diikuti oleh Risda dan Rita sedangkan Adi sedang membayar sate dan bakso yang telah mereka makan terlebih dahulu, setelahnya Adi baru menyusul Bintang, Risda dan Rita yang lebih dulu masuk mobil.


Perjalanan pulang terasa lebih cepat sampai dikarenakan jalanan yang sepi.


Mobil telah berhenti tepat depan rumah, Adi turun lebih dulu membukakan pagar rumah, sedang Risda dan Rita mereka telah terlelap karena kecapekan. bintang kembali menancap gas. Mobil kembali berdecit dalam garasi rumah yang begitu luas.


Adi menutup pagar kembali dan tidak lupa menguncinya lagi. Adi berjalan ingin memasuki rumah tetapi pintu rumah telah terkunci.


Tok tok tok. Suara ketukan pintu disebabkan oleh Adi.

__ADS_1


"Ma" sambil menegetuk pintu "Adi pulang, tolong bukain pintunya, ma. Assalamu'alaikum".


"Sebentar" suara sahutan teriakan dari dalam.


Pintu belum terbuka sempurna namun Nur langsung mengajukan pertanyaan pada Adi "adik kamu mana?".


"Masih didalam mobil, ma". Adi berlalu menuju mobil untuk membangunkan adiknya dan Rita, cintanya setelah berpamitan pada Nur.


Sesampainya di mobil, seperti biasa saat membangunkan Risda harus membutuhkan tenaga ekstra.


Bintang hanya menyaksikan perjuangan Adi. "Bang" panggil Bintang.


"Gendong saja" usul Bintang.


"Baiklah" pasrah Adi "silahkan" mempersilahkan Bintang untuk menggendong Risda sedangkan Rita, Adi yang akan mengurusnya.


Bintang menggendong Risda bak bagaikan pasangan romantis, membawa Risda masuk kamar dan menidurkan Risda perlahan diatas kasur empuk miliknya.


"Astaqfirullah" terkejut Rita sambil membuka kelopak matanya dalam seketika namun kesadarannya tidak sepenuhnya kembali.


Rita membuka pintu mobil dan menutupnya kembali, berjalan dua langkah dan kembali masuk pada pintu lain. Rita kembali tidur, mencari posisi ternyaman dan memjamkan matanya kembali sedangkan Adi yang melihat tingkah Rita melongo heran dengan tingkah Rita yang begitu menggemaskan dimatanya, satu senyum terpancar dari wajah tampan Adi.


Belum puas Adi menertawakan kekonyolan tingkah Rita, satu suara yang mengagetkan dirinya "bang" panggil Bintang.


Tidak ada jawaban dari Adi. Adi kembali menjalankan aksinya membangun Rita yang hanya dibalas dengan geliatan kecil yang hanya mengusik ketenangan istirahat Rita.


"Gendong sajalah bang, biar cepat. Ngantuk aku".


Masih tidak ada jawaban dari Adi namun Adi segera melakukan apa yang Bintang suruh yaitu mengangkat mengendong Rita masuk kedalam.


Rita yang berada dalam dekapan pelukan Adi merasakan kehangatan dan ketenangan, lantas Rita semakin nyenyak tidurnya merasakan dirinya terbang seolah dirinya sedang bermimpi.


Bintang mengambil barang-barang Risda dan Rita lalu mengunci pintu mobilnya dan mengikuti langkah Adi masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Tepat pukul tiga pagi Risda terbangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi setelahnya Risda kembali merebahkan badannya disamping Rita yang masih sangat terlelap dalam tidurnya.


Setengah jam berlalu namun mata Risda sangat sulit untuk kembali terpejam akhirnnya Risda memutuskan keluar dari kamarnya dan menuju balkon kamar yang kebetulan kamar Risda yang berada pada lantai dua.


Risda menghirup udara malam yang begitu segar, Risda menghirupnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Seorang gadis berwajah datar yang bernama Risda Zay Akli berdiri di balkon kamarnya dengan tenang namun tidak dengan kepalanya  yang begitu berisik.


Malam memang menenangkan dari segala aktifitas yang memusingkan kepala tetapi tidak dengan pikiran, yang selalu berdebat yang tak akan berkesudahan. Banyak hal yang telah aku dapati dan temui hari ini, dan hal itu pula yang dapat aku jadikan pelajaran dan pengajaraan terutama bagian cinta, sungguh merepotkan.


Rangkul lah cinta dengan pernikahan jika tidak sanggup, maka lepaskan cinta dengan penuh keridhaan. Kata-kata ini terus menyerang isi kepala Risda, yang kian membara beragumen ingin menyuarakan suara antara logika dengan nurani yang selalu bertolak belakang.


Rangkul cinta dengan pernikahan tanya logika Risda memastikan?, bagaimana bisa cinta itu di rangkul bagiku yang mencintai seorang diri dan jikapun harus melepaskan cinta itu dengan penuh keridhaan, mana sanggup aku melakukannya, aku sungguh sangat mencintainya.


Satu jam lebih terlewati terbuang percuma, Risda berdiam diri membiarkan angin malam menerpa menembus pori-pori kulitnya langsung disebabkan baju lengan pendek sedang Risda gunakan.


"Aaaakkhh". Teriak Risda keras meluapkan kekesalannya seorang tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri.


Satu teriakan keras mengagetkan seorang pemuda yang sedang berjalan kaki seorang. Pemuda itu adalah Bintang yang terbiasa bangun jam empat pagi. Bintang celingak celinguk kesamping kiri dan kananya namun tidak menemukan asal suara teriakan tersebut.


Satu teriakan lagi terdengar tetapi tidak sekeras yang pertama, Bintang menemukan seorang wanita menyerupai Risda sedang berdiri di balkon kamar diatas sana yang sedang mendongakan kepalanya menatap langit, mamandangi sinar bulan dan bintang yang mampu membuat terlena siapapun yang melihatnya.


"Oy" teriak panggil Bintang, "siapa itu?" tanya Bintang masih dengan nada teriakan.


Risda tersentak kaget dari lamunannya dan mencari sumber teriakan yang terdengar oleh indera telinganya. Bintang gumam lirih Risda, setelah mengetahui siapa yang telah berteriak itu.


"Ngapain disitu Bint?" tanya Risda.


"Seharusnya aku yang tanya, ngapain kamu disitu teriak-teriak?, kurang kerjaan ya?". tanya sarkas Bintang.


"Tidak bisa tidur" balas sendu Risda. Kemudian Risda langsung balik badan masuk kedalam kamarnya kembali, memilih membuka laptop untuk melanjutkan naskah novelnya yang belum disentuhnya selama dua hari terakhir ini. Risda melihat Rita yang masih sangat nyenyak dalam tidurnya bahkan Rita membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut bahkan satu helai rambutpun tidak terlihat.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2