
Meregangkan otot setelah merasakan kaku dibadan adalah hal yang biasa dan Irsyad telah melakukannya, kemudian Irsyad menunduk menatap sepatunya sendiri sambil mengusap bening air mata hasil tawa dan tangis akibat pengaruh terlalu terbawa perasaan akan isi dari buku diary yang ditulis oleh sang kakak.
Usapan air dari kelopak mata baru siap Irsyad lakukan dan Irsyad pun membuka kelopak matanya perlahan dan mendapati sepasang kaki putih berdiri tepat di hadapan Irsyad. Perlahan-lahan Irsyad mendongakkan kepalanya menatap siapa yang berdiri di hadapannya. "Abang" ucap lirih Irsyad.
Tatapan tajam menghunus manatap Irsyad dalam mengintimidasi "ngapain kamu disini" tanya Bintang.
"Eh, Ehm".
"Jawab. Kenapa ham hem" atensi pandangan Bintang teralih pada buku yang berada di samping Irsyad "buku diary siapa itu. Kamu curi buku Risda" pandangan mata yang tajam, semakin tajam setajam tombak.
"Ti ti tidaaak bang" jawab Irsyad mulai gugup "adek cuma pinjam sebentar".
"Pinjam tanpa izin maksud kamu" sarkas Bintang telak.
Irsyad menelan ludahnya susah menatap Irsyad dalam. Beberapa detik berlalu dalam keadaan tegang yang terasa berhari hari bagai tertimpa dan terjebak beban berat diatas pundak. Sangat berat.
"Pulang". Hanya satu kata yang keluar dari mulut Bintang sebagai berakhirnya ketakutan Irsyad terhadap dirinya namun Irsyad menyadari kondisinya lebih mengerikan lagi menghadapi sang kakak nanti.
Tidak jauh dari kursi yang diduduki oleh Irsyad terpakir mobil Bintang. Bintang telah masuk dalam mobil dan duduk di kursi kemudi sedangkan Irsyad masih duduk termenung seakan melekat antara dirinya dengan kursi seakan tidak ingin terpisah.
Tiiit Tiittt Titt. Suara klakson mobil mengaget Irsyad dalam yang masih termenung.
Irsyad tersentak kaget namun tidak selangkahpun ia beranjak dari tempat duduknya.
Melihat Irsyad yang tak beranjak lantas menurunkan kaca jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya dan berteriak "mau pulang atau mau tidur disitu?" tanya berupa tawar dari Bintang.
"Ish" Irsyad mendengus kesal akan pertanyan Bintang berbentuk tawaran. Meredam kekesalan, menghadapi konsekuensi itulah tekad Irsyad menghadapi masalah yang ia buat sendiri.
Irsyad bangun dari duduknya dan berdiri, beranjak pergi menemui Bintang.
"Cepat".
"Iya abangku yang bermuka sedatar tembok" ucap Irsyad namun kata tembok yang diucapkan oleh Irsyad dengan nada pelan, pelan nyaris tidak terdengar. Bukannya Bintang tidak mendengar bahwa Irsyad mengatakan dirinya tembok tetapi Bintang hanya mengabaikannya saja.
__ADS_1
Bintang dan Irsyad telah berada dalam mobil. Keadaan terasa hening tentu Irsyad merasakan tidak nyaman dengan situasi seperti ini. "Kenapa bang?" tanya Irsyad.
"Kenapa apanya?" balik tanya Bintang sambil menatap Irsyad "seharusnya saya yang tanya sama kamu, kenapa kamu disini?.
"Ehhmmm itu ituuu bang" gugup Irsyad sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Saya tidak paham bahasa kamu itu. Ngomong yang jelas".
Tidak ada jawaban dari Irsyad tentu juga keadaan menjadi hening kembali. Beberapa menit berlalu keadaan masih saja hening seperti menghening cipta, pandangan Bintang lurus kedepan tanpa pergerakan duduk tegap dan Irsyad juga menunduk ikut mendominasi hening cipta.
"Apa tidak ada tempat lain untuk kamu baca buku?" suara pertanyaan Bintang mengagetkan Irsyad lagi.
"Tidak. Ehh ada abang".
"Lalu" mengalihkan pandangan menatap Irsyad.
"Abaaang" rengek manja Irsyad "kita pulang yok. Adek nyasar tadi kesini" tersenyum takut-takut.
Bintang tidak ingin memperpanjang lagi urusannya dengan Irsyad. Lantas sekarang Bintang mengantarkan Irsyad pulang kerumah.
Sampai rumah, keadaan rumah sudah gelap dikarenakan arus listrik hampir seluruh rumah Risda padamkan. Nur dan Zay sedang berada di luar rumah menghadiri perjamuan makan malam sesama rekan kerjanya Zay. Sedangkan Adi selepas kepergian Nur dan Zay, memakan makan malam bersama Risda saja. Bukannya Adi tidak menanyakan keberadaan Irsyad namun Risda mengatakan Irsyad telah meminta izin padanya pergi bersama kawan-kawannya.
Suara deru mesin mobil terpakir tepat di depan rumah. Risda yang duduk di ruang tamu sambil menulis tentu mendengarkannya lalu Risda meninggalkan laptop dan beranjak untuk membuka pintu.
Klik. suara kunci pintu besi yang saling beradu dengan kunci sehingga meninggalkan jejak suara. Risda membuka pintu yang pertama kali ia lihat adalah wajah Irsyad yang menegang memelototkan matanya ketakutan.
PLak.
Satu tamparan kekesalan mendarat pada bahu Irsyad. "Aduuh" mengaduh Irsyad sambil mengusap bahu kirinya yang sudah terasa panas akibat tamparan yang disebabkan oleh kakaknya.
"Kembalikan" menatap tajam pada Irsyad.
Irsyad hanya mampu menelan ludahnya walau terasa sangat susah seakan tercekat tertahan di tenggorokan sambil perlahan lahan mengambil buku diary yang ia kantongi di kantong celana yang ia gunakan. Irsyad menyerahkan buku Risda dengan tangan yang sedikit gemetar.
__ADS_1
Bintang melihat Risda melayangkan pukulan segera berlari menghampiri Risda. Bintang takut akan kemarahan Risda karena Risda sangat jarang sekali marah kalau sudah marah Bintang tidak bisa membayangkan bagaimana kejamnya Risda.
Bintang yang telah berada tepat di hadapan Risda segera menyodorkan satu plastik yang berisikan mie instan sambil mengeluarkan jurus maut senyum manis khas Bintang. Irsyad dalam ketakutan sempat melihat senyum Bintang yang pertama kalinya sungguh Irsyad terkagum-kagum pada ketampanan Bintang, abangnya.
"Apa" sangar Risda.
"Tolong masakin".
Tidak ada jawaban dari Risda namun Risda merampas kantong yang berisikan mie instan sambil berlalu meninggalkan Bintang dan Irsyad yang masih berdiri di depan pintu.
"Besok buat ulah lagi ya. Mungkin tadi cuma lembam, bisa jadi lain kali tulang yang patah" menatap datar.
"Maaf bang".
"Kakak kamu itu tidak suka bagian privasinya di ganggu, walaupun keluarganya sekalipun" semakin menajamkan tatapan "termasuk kamu". Kemudian Bintang berlalu pergi meninggalkan Irsyad dan menghampiri Risda. Bintang melangkahkan kakinya menuju dapur dimana Risda sedang memasak.
Bintang duduk di kursi memantau Risda yang begitu serius dalam memotong beberapa potong sayur untuk ia campurkan dengan mie instan.
Tak tak tak. suara pisau yang saling beradu, saling menyentuh dengan telenan, sayur yang tercincang, terpotong rapi sudah. Risda menyadari dan merasakan ada mata yang memandangnya intens lantas berkata tanpa tahu siapa "awas bolamu jatuh" setelah mengatakan itu Risda mencuci potongan sayur.
Beberapa menit berselang harumnya mie mengumpul menjadi berterbangan seluruh dapur padahal mie tersebut belum matang. Mencium aroma yang menggunggah selera Irsyad ingin menyusul Bintang ke dapur jadi tidak berani karena masih takut pada kemarahan Risda lantas Irsyad hanya bisa mengintip sebentar lalu memilih masuk dalam kamarnya untuk tidur.
Bintang yang dari tadi hanya duduk memantau berisiatif membantu Risda, mengambil piring, gelas serta sendok. Bintang meletakkan apa saja yang ia ambilkan di rak pinggan bersamaan dengan kedatangan Risda sambil membawa mie Instan di wadah besar yang telah matang.
"Bint boleh minta tolong".
Tidak ada jawaban boleh atau tidak, Risda meminta tolong pada Bintang hanya pandangan yang mengisyaratkan "apa" yang Bintang tujukan pada Risda.
"Tolong panggilkan abang sama Irsyad".
Masih sama. Tidak jawaban namun Bintang pergi berlalu melaksanakan tugas dari Risda yaitu memanggil Adi dan Irsyad.
BERSAMBUNG...
__ADS_1