
Nur dan Zay masuk ke kamar mereka kembali dengan membawa satu porsi makan malam untuk Risda yang belum makan.
"Sudah bangun nak" tanya Nur sambil memeluk dan menciumi pucuk kepala Risda.
"Bagian mana yang sakit nak" tanya Zay antusias takut terjadi apa-apa pada anak kesayangannya "kita RS ya besok".
Risda mengernyitkan dahinya bingung kenapa harus mesti ke RS. "pak" panggil Risda.
"Iya nak" tersenyum.
"Ngapain ke RS" tanya Risda bingung.
"Untuk periksa kamu" Nur memberi pengertian pada Risda.
Risda menghembuskan napasnya kasar "bapak, mama, Risda tidak kenapa-napa. Kenapa Risda harus diperiksa ke RS" beri pengertian Risda pada orangtuanya.
"Tadi kamu pingsan Risda" ucap Adi yang tiba-tiba muncul diambang pintu kamar.
"Mana ada" bantah Risda yang tidak menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri "Risda tadi cuman tidur aja kok". Risda merasakan perutnya yang dituntut untuk diisi melihat Nur membawa masuk sepiring nasi dan segelas air kekamar kemudian Risda memintanya "ma, nasi sama minum ini untuk Risda ya".
"Iya, ini memang untuk Risda kok" tersenyum "mama suapin ya".
"Eh eh tidak usah ma" mengambil alih nasi yang berada di tangan Nur dan Risda membawa nasi itu keluar dan duduk didepan televisi di ruang tamu yang menayangkan film karrtun kesayangan Risda.
"Alhamdulillah kenyang" mengusap perutnya sendiri setelah menghabiskan makan malamnya.
...****************...
Pukul dua pagi Nur terbangun dan mendengar ada suara yang berasal dari ruang tamu walau takut Nur memberanikan dirinya untuk melihat penyebab suara itu. Nur menghembuskan napasnya kasar ketika melihat Risda yang masih duduk fokus menghadap laptobnya. "Lagi ngapain nak?, udah hampir pagi bukannya tidur" tanya Nur sedikit geram.
Risda mendongakkan kepalanya sebentar dan tersenyum "lagi nulis mama".
__ADS_1
"Tidur sana, besok sambung lagi nulisnya".
"Iya ma, sebentara lagi".
Nur meninggalkan Risda seorang diri dan beralih menuju kamarya kembali karena rasa kantuk yang dirasakannya masih sangat mendominasi.
Satu jam kemudian Risda menjeda sebentar penulisan naskahya tapi tidak dengan membereskan perlengkapan tullis malah Risda membiarkan semuanya tergeletak berserak diatas meja tamu. Risda beralih melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Uh lelahnya Risda merentangkan tangannya sebentar lalu mengambil posisi untuk loncat ke tilam kasur.
Cit suara decijatan ranjang yang di sebabkan Risda yang melompat keatasnya. "Astaqfirullah'' terkejut Risda ternyata kasurnya masih basah. Risda turun dari kasurnya dengan omelen tanpa suara.
Risda beralih menuju kamar Irsyad dan kebetulan malam itu Irsyad tidak mengunci pintu kamarnya. Seulas senyuman muncul dari wajah manis Risda, pikiran jahat Risda sedang bekerja.
"Aaaaaaaa basah" teriak Irsyad disaat ia tersadar dari tidur lelapnya sedangkan Risda yang berada di kamar sebelahnya tertawa cekikikan sendiri membayangkan sepanik apa adik kesayangannya itu.
Adi, Nur dan Zay lari terpogoh-pogoh ke asal suara "kenapa" teriak Nur panik setelah membuka pintu kamar Risda.
Keadan hening meyelimuti dan kemudian "Hahahahahahahhaah" tawa Adi pecah seketika melihat keadaan Irsyad yang sangat memprihatikan yang kemudian tawa Adi juga menular pada Nur dan Zay "Hahahahahah".
Irsyad menunduk malu karena dirinyalah yang menjadi objek bahan tawa kali ini. Bibir Irsyad mengerucut kesal karena ia tahu ini adalah ulah kakaknya.
"Hahaha makanya kalau mau usil liat lawan dulu" ucap Adi sambil menyeka airmatanya saking kerasnya Adi tertawa lalu Adi meninggalkan Irsyad yang masih mengerucutkan bibirnya kesal pada sang kakak.
Flasback On
Arah jarum jam menunjukkan pada pukul tiga pagi sekilas Risda melirik pada jam yang tertempel pada dinding di ruang tamu dimana ia berada sekarang. Risda menguap sekali untuk mengusir rasa kantuk yang sangat memberatkan kelopak matanya untuk segera tertutup.
Risda melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya. Uh leganya ucap Risda seorang diri setelah badan dan kasurnya menempel rapat namun Risda merasakan dingin di area punggungnya yang ternyata bekas air yang sengaja disiram oleh Irsyad shubuh tadi masih belum mengering.
"Ah" kesal Risda kasur yang ditempati kasur yanng jenis tidak bisa dijemur. Risda bangun lalu menggerai karpet khusus anti air yang mampu menampung air sehingga tidak langsung membasahi tilam kasurnya lagi. Risda kembali merebahkan tubuhnnya pada kasur namun Risda merasakan panas dan tidak nyaman tentunya.
Risda bangun kembali dan kemudian duduk dipinggiran kasur memikirkan caranya untuk bisa dirinya tidur dengan nyaman. Aduh haus pulak monolog Risda dalam hati sambil memegang leher kerongkongannya sendiri.
__ADS_1
Srutt suara air yang Risda tuangkan dalam gelas. Risda duduk dikursi meja makan tanpa sengaja matanya melihat kulkas seulas senyum tipis dari bibir Risda muncul.
Risda menyusun semua es batu yang semula berada dalam kulkas kini telah tersusun rapi diatas kasurnya yang sebelumnya telah di pakainya karpet anti air oleh Risda kemudian Risda melangkahkan kakinya menuju kamar Irsyad adiknya dan kebetulan Irsyad tidak mengunci pintu kamarnya.
Cekrek suara pintu terbuka. Risda tersenyum tipis melihat adiknya terlalu pulas tertidur. Risda membopong adiknya itu bagaikan karung beras yang tiada terasa beban berat dan membaringkan Irsyad tepat ditengah-tengah diantara tumpukan es batu tersebut.
Dua jam kemudian Irsyad baru tersadar tatkala es yang membeku sudah mencair dan menyatu merapat pada dirinya.
Flashback Off
Alah kenapa lambat sih masuk hari ini kesal Risda dalam hati. Mau keluar kamar tidak berani, pura-pura tidur juga tidak bisa. Aaaaaa teriak Risda dalam hati padahal dirinya belum tidur sama sekali setelah ia bangum dari pingsan yang disangkakan tidur itu oleh Risda.
Risda meminta bantuan Bintang untuk menjemput dirinya pergi ke kampus bersama-sama. Setengah jam lagi biasanya seluruh keluarga penghuni rumah akan berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama sudah pasti dirinya juga harus ikut gabung.
Risda mengendap-ngendap menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap menuju ke kampus.
Astaqfirullah jerit istiqfar hati Risda mendapati adiknya Irsyad masih berada dalam kamarnya. Mata Risda terbelalak kaget melihat Irsyad adiknya dengan entengnya duduk dimeja belajar sambil membaca naskah diary Risda, yang Risda beri judul di cover buku Diary Tinta Cinta.
Irsyad belum menyadari kalau dirinya telah ketahuan mencuri informasi hati Risda kakaknya.
Risda menutup pintu kamar pelan dan berdiri bersandar di dinding dengan melipat kedua tangannya didadanya. Walau geram setengah mati tetapi Risda membiarkan adiknya membaca diary dirinya. Risda melihat raut wajah adiknya yang berubah-ubah kadang menangis, kadang tertawa dan kadang-kadang seperti orang bingung.
"Hahahah" tawa Irsyad yag menggema seluruh ruangan.
"Asik ya ceritanya" saut Risda masih dengan garang tidak suka.
"Iya. HAhahhahha" masih melanjutkan tawa yang masih belum usai.
Phoom Risda menonjok dinding kamar pelan untuk menyadarkan Irsyad adiknya. "Apaan sih" ucap Irsyad merasakan terganggu dengan suara yang terdengar di pendengarannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1