Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Bintang


__ADS_3

Risda terus melangkahkan kakinya keluar dari pabrik, menuju parkiran mobil dimana tempat Bintang memakirkan mobil, tanpa melihat Bintang ada mengikutinya atau tidak, karena kebiasaannya Bintang selalu mengikutinya.


Langkah Risda telah membawa Risda tepat disamping mobil Bintang. Risda menarik-narik knop pintu mobil namun pintu mobil tidak bisa terbuka. Risda melepaskan jari tangannya dari knop pintu mobil dan memutar badan melihat Bintang depan, belakang, kiri dan kanan, namun Risda tidak menemukannya.


"Pak permisi. Apakah bapak melihat sekretaris Bintang sekitar sini" tanya Risda pada salah satu staf penjaga keamanan yang melintas daerah parkiran.


"Pak Bintang tadi masuk kedalam bersama adek, belum keluar sama sekali".


"O. Terimakasih pak" tersenyum dan izin permisi mencari keberadaan Bintang.


Risda mengerutkan kulit dahinya menebak-nebak dalam benaknya dimana keberadaan Bintang lantas Risda memutuskan mencari keberadaan Bintang dimana. Tujuan pertama Risda adalah kembali keruangan Adi dimana terakhir kali ia bertemu Bintang tadi. Risda melangkahkan kakinya masuk dalam pabrik menuju ruangan Adi lagi.


Ceklek. Sura pintu terbuka.


Bintang yang masih sibuk senyum-senyum sendiri dengan secepat kilat langsung merubah ekspresinya datar kembali. Namun kecepatan Bintang masih kalah dengan kegesitan mata Risda yang sempat melihat Bintang masih senyum-senyum sendiri.


"Gila" sarkas Risda. "Pulang" melangkah keluar lagi tanpa mempedulikan Bintang yang semenjak tadi terpaku.


Bintang mengusap keningnya sendiri menyadari kebodohannya sendiri lalu mengikuti langkah Risda keluar tidak lupa Bintang mengunci pintu ruangan terlebih dahulu.


Bintang dan Risda masuk dalam mobil. Bintang melajukan mobilnya menuju pulang kerumah sedangkan Risda sendiri sibuk masuk kembali pada akun sosial media dan akun penulisan pribadinya di hp barunya.


Waktu terus berlalu tiada pernah menunggu kini mobil yang dikendarai Bintang telah sampai pada kediaman keluarga Risda Zay Akli, dari kaujahan Bintang dan Risda bisa melihat Adi yang berdiri sambil berkacak pinggang memerintah dan memarahi Irsyad untuk menyapu seluruh halaman rumah, sedangkan disisi lainnya Nur dan Zay duduk saja diteras rumah, menonton anaknya yang sedang di disiplinkan oleh Adi.

__ADS_1


"Itu lagi, masih ada banyak daun yang tertinggal" ucap garang Adi pada Irsyad sambil menunjuk-nunjuk bagian yang belum bersih.


"Iya iya" jawab Irsyad dengan nada yang sudah ingin menangis lantaran halaman belakang sudah bersih mengkilat Irsyad bersihkan seorang diri dan sekarang halaman depan juga harus Irsyad bersihkan lagi.


Mendengar deru mesin mobil mendekat dan memasuki halaman rumah, Irsyad curi-curi pandang melihat siapa yang datang dan kebetulan yang turun dari mobil adalah Bintang dan Risda dengan segera Irsyad berteriak "kakak tolong aku".


Adi yang posisi berdiri membelakangi Risda, berbalik badan dan menatap tajam Risda yang dibalas senyum simpul oleh Risda. Risda datang menghampiri Irsyad yang berteriak meminta tolong padanya, sesampainya disana Risda bukannya menolong Irsyad malah sama melipat kedua tangannya di dada sambil berkata "berani berbuat harus berani bertanggungtajawab" tersenyum berbalik badan dan pergi meninggalkan Irsyad yang sudah betul-betul menangis tetapi masih menyapu halaman dengan air mata bercucurun.


Sedangkan Bintang tidak peduli lebih memilih bergabung duduk bersama Nur dan Zay diteras. "Si Irsyad kenapa nangis ma?" tanya Bintang.


"Kelas tanggungjawab" jawab Risda yang tiada diminta yang juga telah ikut bergabung duduk diteras.


Bintang menaikkan sebelah alis tanda tidak mengerti sambil menatap Risda bermaksud tanggungjawab apa yang dimaksud.


Beriringan dengan suara adzan magrib berkumandang Irsyad baru selesai dengan hukuman yang ia lakukannya yaitu menyapu seluruh halaman rumahnya seorang diri. Adi tersenyum kemenangan puas karena bisa mendisiplin Irsyad yang selalu usil.


"Sudah selesai ini" ucap Irsyad yang tidak menangis lagi tetapi mukanya yang cemburut sepertiĀ  jeruk nipis.


"Simpan sapunya, dimana kamu ambil tadi" muka garang.


"Iya".


"Setelah itu mandi dan sholat" berlalu pergi meninggalkan Irsyad.

__ADS_1


"Ya".


Bintang hanya sebentar duduk bersama Nur, Risda dan Zay diteras, setelahnya Bintang izin pamit undur diri pergi ke pesantren untuk menjenguk adiknya. Kata menjenguk hanya sekian persen dari alasan Bintang yang padahal daritadi Bintang ingin meluapkan emosi amarah cemburunya yang semenjak tadi ia tahan. Pertama saat di counter dikarenakan kedatangan Albert dan yang kedua di pantai kedekatan tanpa sengaja Rajif dengan Risda.


Bintang menaiki mobil kembali dan menuju ke tujuannya.


Tes.


Setetes airmata Bintang keluar dari kelopak matanya saat teringat sekilas memori terlintas apa yang telah terjadi hari ini. Bintang menarik napas panjang dan menghembusnya perlahan "jangan menangis dulu" peringat Bintang pada dirinya sendiri sebab Bintang harus ke pesantren menjenguk adiknya, Bintang tidak mau adiknya melihat sisi dirinya yang lemah.


Tidak lama Bintang di pesantren hanya memberikan apa yang adiknya butuhkan dan langsung kembali. Kembali, tetapi tidak kembali malah pergi untuk sementara waktu. Jika terus berdiam diri, memendam hati malah tidak ada arti. Untuk saat ini, Bintang membutuhkan ketenangan, menjernihkan pikiran dari kabutan cemburu yang tiada guna sama sekali.


Perlahan namun pasti Bintang menginjak pedal gas, melajukan mobil menuju ke atas puncak gunung. Bintang melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Kini telah sampai Bintang di tujuannya. Bintang memakirkan mobil tepat di tepi jurang dalam, Bintang keluar dari mobil dan beralih duduk diatas kap depan mobil sambil memandangi matahari yang tenggelam dan di gantikan dengan sinar bulan yang akan menerangi bumi.


Katabaku. Kali, tambah, bagi dan kurang adalah rumus dasar matematika dalam menghitung perhitungan sedangkan cintaku padamu tidak bisa untuk dirumuskan jika hanya untuk menghitung seberapa besar dan luas cintaku padamu, karena hasilnya pasti tidak terhingga.


Aku menyerahkan kepingan hatiku selembar demi selembar setiap harinya yang berawal dari kekagumanku akan dirimu dan sekarang kekaguman itu telah menjelma berupa cinta, kasih dan sayangku hanya untukmu. Hari demi hari hatiku menunggu balasan rasa hatimu tertuju pada hatiku namun hatimu malah kesasar dan tersesat pada hati yang tidak mencintaimu kembali.


Kita sama-sama tersiksa sayangku, mencintai tanpa dicintai kembali. Aku ingin merenggut hatimu hanya untukku, tapi aku tidak bisa melakukan itu, karena hanya seorang pengecut egois yang memaksa hati untuk mecintai kembali walau ia tahu cinta itu tidak pernah tertuju untuk hatinya.


Bintang menarik kedua kakinya dan kemudian memeluk kedua lututnya. Dan yang terjadi selanjutnya menangis. Bintang menangis seorang diri maratapi nasip cintanya yang bertahun-tahun sudah, belum juga terbalaskan sampai kini.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2