
Rita memegang tengkuk lehernya yang terasa merinding, tatapan dua sahabatnya ini begitu tajam melebihi ketajaman belati pikirnya. Rita melihat tatapan tajam antara dua sahabatnya itu sedang berperang interaksi yang Rita tidak tahu arti dari tatapan meereka.
"Sudah lihatnya" tanya Bintang pada Risda.
Risda memutar bola matanya jengah padahal malu setengah mati karena kepergok Bintang dirinya sedang melihat cinta pertama, pak Albert.
Sedangkan disisi lain Albert yang melihat salah satu mahasiswi diantara segerombolan mahasiswi lainnya menatap lain kepadanya daripada yang lain, menaikan alisnya sebelah bertanya-tanya dalam benaknya, apa maksud gerangan dari mahasiswi ini.
Berpaling jengah, membuang pandangan ke sembarang arah setelah satu kata terucap oleh teman yang berada di sebelah Risda yang Albert sendiri tidak tahu kata apa yang terucapkan itu.
Setelah pandangan itu teralihkan, Albert segera berlalu keluar cafee menuju agendanya selanjutnya, mengabaikan pandangan yang tertuju padanya.
Risda mengalihkan pandangan sekilas karena pertanyaan dari Bintang.
Beberapa detik terlewati namun Risda tidak sanggup jika harus tidak lagi memandangi kekasih hati yang telah lama dirindui hati.
"Kemana" ucap Risda lirih yang tidak lagi menemukan kekasih hati di posisi.
"Hilang" sarkas Bintang yang hanya dibalas tarikan napas frustasi dari Risda dan tatapan bingung masih Rita berikan pada Bintang dan Risda.
Gubrak. Suara Rita memukul meja keras lalu mengibaskannya cepat, rasa perih yang dirasakan tangannya.
Bintang menaikkan sebelah alisnya bertanya sedangkan Risda mengerutkan kulit dahinya tanda tanya juga yang di berikannya pada Rita.
Dengan wajah memeles Rita "ceritalah padaku, apa yang terjadi?".
Kekompakan antara Bintang dan Risda tidak dapat di pungkiri selalu sehati. "Kepo" teriak Bintang dan Risda bersamaan dan saling membuang pandangan mereka.
"Kalian kenapa sih selalu kompak. Apapun yang kalian lakukan walau tanpa insturuksi tetap saja kompak" merebahkan kepalanya di meja.
"Makan dulu baru tidur" saran dari Risda dengan bantuan dorongan pinggan oleh Bintang.
Lagi dan lagi Rita ingin menangis melihat frekuensi Bintang dan Risda yang begitu sangat kompak yang hanya Rita sendiri tidak pahami walau mereka sudah bertahun-tahun sudah bersama.
__ADS_1
"Makan, makanan itu tidak akan habis jika hanya dilihat saja".
Dua pasang mata tertuju pada Bintang yang ketajamannya sangatlah tidak terkira.
Bintang tidak bergeming dengan tatapan tajam malah pandangan matanya tertuju pada tiga porsi nasi makan siang mereka yang belum tersentuh sama sekali.
Seporsi makan siang yang berada tepat di hadapan Rita telah kandas habis tidak tersisa, memandang Bintang mengisyaratakan supaya menyadarkan Risda yang sudah sejak kapan telah larut dalam lamunan.
Tepukan pelan Bintang berikan pada Risda yang di balas tonjokan keras dari Risda.
Haaaappp. Bintang menangkap gepalan tangan yang dilayang Risda padanya "makanlah sayang" tersenyum hangat dan melepas genggaman kepalan tangan Risda perlahan.
Tersenyum, dia tersenyum monolog teriak hati Rita dengan memelototkan matanya.
"Awas Rita, bola matamu jatuh".
Rita mengedip-ngedipkan mata berulang, terpengaruh dengan kata Risda mengatakan bola matanya jatuh.
Ketukan pelan terdengar dari meja saat jari tangan Bintang bersentuhan langsung dengan meja yang terdengar nyaring bunyi terasa keras ketukan yang terjadi bagi yang mendengar padahal Bintang hanya mengetuk pelan. Pelan menurut Bintang.
Rita melihat Risda sahabatnya yang mulai menyuapi satu sendok penuh dalam mulutnya memilih mengabaikan Risda dan mengambil alih perhatiannya sambil memainkan handphone nya.
Tidak sampai dua menit satu porsi makanan yang berada dihadapan Risda juga ikutan habis tidak tersisa berpindah tempat mendomisili dalam perut Risda.
Baru saja Rita terhanyut dalam kesenangan menjelajahi dunia dengan sekadar melihat berbagai tempat wisata yang akan ia kunjungi nanti.
Dentingan beradunya sendok terdengar nyaring akibat ulah Risda, Rita mendongakkan kepalanya mencari titik sumber suara "hah" plongo Rita "kok cepat kali" arah mata Rita melihat piring yang berda di hadapan Risda yang emang betul-betul kosong tanpa sisa sebutir nasipun tidak terlihat. Rita mau heran namun ini Risda yang bisa makan secepat kilat.
Bintang bangun menuju kasir untuk membayar tagihan makan yang telah mereka habiskan. Arah mata Rita memandang Risda lekat "Riis, tadi kamu nasinya ada kamu kunyahkan?" mata penuh tanda tanya Rita tunjukan.
Tatapan datar sebagai jawaban diberikan Risda untuk Rita, yang dibalas senyum kik kuk oleh Rita.
Risda bangun berdiri menghampiri Bintang yang telah menyelesaikan pembayaran dan diikuti oleh Rita yang dengan setia mengekor dibelakangnya.
__ADS_1
Mereka kembali pada agenda masing-masing menyelesaikan SKS yang tertara di jadwal meraka hari ini.
Waktu berlalu begitu saja tanpa menunggu siap atau tidaknya, waktu terpakai atau terbuang sia. Waktu tidak akan pernah menunggu namun ia akan selalu berlalu.
"Huaammm" Rita menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menpautkan ruas-ruas jari tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berjinjit untuk merikleskkan badannya yang terasa kaku setelah menjalani aktifas padat.
Rita merogoh hp dalam tas yang ia jenjeng ditangan kanannya.
"Halloo Riiis, tolong jemput aku ya". Mendengus kesal karena telepon darinya Risda putuskan sebelah pihak tanpa persetujuan darinya. Belum juga lima menit Rita menunggu "tiitt tiitt" suara klakson mobil yang menyadarkan Rita dari kejengkelannya seorang diri.
Rita masuk dalam mobil dengan mengerucutkan bibirnya tanda kesal menghampirinya.
"Kita ke akademik sebentar ya" izin Bintang.
"Mau ngapain Bint?" tanya Rita yang kumat lagi rasa penasarannya.
Tidak ada jawaban dari Bintang namun mobil yang dikendarai oleh Bintang meluncur melesat begitu saja pada tempat tujuan.
Setelah sampai pada tujuan Bintang turun begitu saja tanpa melihat ataupun memberitahu keperluannya pada tempat yang sedang mereka singgahi meninggalkan Risda dan Rita begitu saja.
Risda yang duduk bersebelahan disamping pengemudi, menolehkan kepalanya ke belakang melihat Rita yang masih mengerucutkan bibirnya, "seperti anak-anak kamu" tersenyum simpel "ayok turun, kita tunggu Bintang di kantin sana" menunjuk kearah kantin.
Risda tetaplah Risda yang tidak jauh beda dengan Bintang akan melakukan apapun yang menurutnya nyaman walau tanpa persetujuan sekalipun.
"Ish" Rita berdecih pelan "baru juga dari kantin masak ini ke kantin lagi sih" ucap Rita lirih yang masih berada dalam mobil.
Aaaaaaaa teriak Rita sekuat tenaga karena terkejut setengah mati.
Risda memejamkan mata dan mengeraskan gerahamnya saat Rita berteriak tepat dimukanya "ngapain kamu teriak gitu hah?, turun" berlalu pergi duduk di salah satu kursi yang kosog di kantin.
Rita mengelus dadanya yang dikejutkan kedatangan Risda yang tiba-tiba sudah beraada di hadapannya. "Bagaimana aku tidak berteriak, tiba-tiba kepalanya nongol diantara jendela pintu yang disamping aku duduki. Dasar si Risda, habis itu dia tanya alasan aku berteriak" sudah turun dari mobil dan berjalan mendekati Risda duduk "dasar, emang dia itu yang aneh, buat orang jantungan aja" Rita masih mode ngomel.
Tanpa sadar Rita, sepasang kakinya telah membawa dirinya berada dekat dengan Risda namun mulutnya belum juga berhentih mengoceh, satu kata yang menghentikan mulutnya mengomel "sudah?" tanya Risda sambil tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG...