
Beberapa menit berlalu, makanan yang telah masuk dalam perut Rajif masih Rajif muntahkan. Airmata tangis Rajif belum mengering menjadi tidak henti-henti berderai kini dengan alasan yang disebabkan muntah. Bintang masih setia berada di sisi Rajif yang masih muntah-muntah itu.
Risda telah selesai memakirkan mobil dengan di bantu oleh tukang parkir yang bertugas merapikan kereta atau mobil. Risda menghampiri Bintang dan Rajif dengan membawa sebotol air mineral.
"Nih" ucap Risda sambil menyodorkan sebotol air pada Rajif.
Rajif segera meraih botol air dan berkumur-kumur terlebih dahulu baru setelahnya Rajif meminum air tersebut.
Risda melihat sekilas wajah Rajif yang sudah pucat pasi lalu memalingkan wajah tersenyum simpul "ternyata nahkoda bisa mabuk juga ya?" tanya sarkas Risda.
Rajif tidak segera menjawab pertanyaan berupa ejekan dari Risda karena sedang meminum air yang diberikan Risda barusan, dengan susah menelan air mineral yang berada dalam mulutnya dan menjawab pertanyaan dari Risda dengan pertanyaan lain lagi "apakah kamu tahu bedanya antara lautan dengan daratan?".
Bintang masih bisa merasakan aura Risda yang masih belum terlalu bersahabat akibat kecemburuan yang ia rasakan tadi segera merangkul Rajif "acara muntahnya sudah selesaikan?. Ayo kita duduk dulu". Bintang berjalan dengan tangannya merangkul pada pundak Rajif dan dengan rangkulan itu, otomatis Rajif akan mengikuti langkah Bintang.
"Berat" Rajif melepas paksa rangkulan Bintang pada pundaknya.
"Jangan banyak tingkah, itu muka masih warna mayat" ucap santai Bintang.
"Kamu mendoakan aku cepat mati ya. Aku masih hidup tahu".
"Syuuuttt, diam" bisik Bintang "nona ratu masih dalam mode tidak bisa dikendali".
"Apaansih. Ngak jelas" Rajif tidak terlalu paham apa yang dimaksudkan Bintang.
Rajif dengan tenaga yang sedikit melemah tidak bisa melepas rangkulan erat Bintang walau setengah tenaga sudah Rajif kerahkan untuk melepas rangkulan itu. Risda berjalan mengikuti langkah Bintang dan Rajif mendengar Bintang yang bisik-bisik pada Rajif merasakan jijik sendiri melihat kedekatan jarak antara Bintang dan Rajif.
Phoom. Risda dengan sengaja menabrak Bintang dan Rajif di bagian antara keduanya. Bintang dan Rajif yang mendapatkan tabrakan sengaja itu sampai terhuyung-huyung, Bintang hanya terhuyung beberapa langkah saja langsung bisa mensejajarkan langkahnya kembali sedangkan Rajif tidak semudah itu dikarenakan kondisinya yang lemah, Rajif hampir saja terjatuh sedikit lagi badan Rajif akan menyentuh tanah namun tidak jadi karena dengan kesigapan Risda yang menangkap dan menahan tubuh Rajif supaya tidak terjatuh.
Posisi Rajif dengan Risda terlihat romantis yaitu Risda merangkul Rajif menahan tubuhnya supaya tidak sampai terjatuh.
Para pengunjung wisata lainnya yang melihat posisi Rajif dan Risda pada tersenyum-senyum sendiri dan salah satu pengunjung disitu menyuarakan suaranya mengeluarkan isi keluh kesah para pengunjung lain yang ingin diungkapkan sambil berteriak "posisinya kebalik woooyyy".
__ADS_1
Tiga insan itu mendadak wajah mereka merah padam. Rajif dan Risda muka mereka berdua merah menahan malu sedangkan Bintang mukanya kemerahan dikarenakan kecemburuan melihat kedekatan jarak antara Rajif dengan Risda.
Risda dengan reflek melepaskan Rajif begitu saja sehingga Rajif mau tidak mau harus tiduran di tanah pasir itu.
"Aduuh" mengaduh Rajif kesakitan.
"Hahahahaha" tawa serentak pengunjung yang melihat apa yang terjadi. Bintang juga mengulum senyum puas melihat Rajif yang terkapar di pasir.
Dengan susah payah tanpa pertolongan dari Bintang ataupun Risda, Rajif berusaha bangun sendiri walau keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
Bintang dengan kekesalan kecemburuan dan dipadukan dengan kasihan menghampiri Rajif yang berusaha bangun dari keterjatuhannya.
"Sudah saya katakan tadi, nona ratu belum bisa diatur" ucap Bintang kembali merangkul Rajif erat dan memaksa mencari tempat duduk kosong di pingir pantai.
"Memang ada ratu yang bisa diatur?. Lepas" meronta ronta mencoba melepasakan diri dari Bintang.
Bintang diam tidak menjawab ocehaan Rajif.
Risda diam terpaku menatap lurus ke depan, melihat lautan luas yang menembus awan bahkan bertemu langit. Gamis yang dikenakan Risda tertiup angin, bertebangan menambah kesan anggun yang begitu terpancar.
Dibawah langit, diatas bumi dan aku berada diantara keduanya. Dalam dunia ada kehidupan yang pasti diwarnai dengan cinta, terserah manusia mempercayai cinta itu ada atau manusia itu tidak mempercayai cinta itu ada untuknya.
Aku percaya cinta itu ada, dan aku percaya cinta iitu ada untukku namun syukur masih kurang dalam dadaku, aku tidak menerima cinta yang tertuju padaku malah dengan lantang aku mengabaikan cinta yang tertuju padaku demi cinta yang kuidamkan menghampiriku.
Risda masih saja berdiri tidak ada pergerakan selama beberapa menit memandangi laut, mengamati hampa ombak yang sedikit menerjang.
Bintang dan Rajif hanya bisa memandangi Risda dari kejauhan yang berdiri bagaikan patung di tengah terik matahari, tiba-tiba Bintang dan Rajif tersentak kaget dengan aksi Risda yang tiba-tiba berteriak keras.
Rajif yang mendengarkan teriakan Risda merasakan panik ingin berlari menghampiri dan bertanya apa yang terjadi namun dengan kesigapan Bintang menahan Rajif menghampiri Risda yang hanya ingin seorang diri terlebih dahulu.
"Mau kemana?".
__ADS_1
"Apa kamu tidak dengar, itu Risda teriak-teriak" panik Rajif sambil meronta ronta ingin berlari menghampiri Risda.
"Diam" ucap Bintang singkat dan padat namun belum jelas bagi Rajif. Bintang menghentikan Rajif bukan saja dengan satu katanya tetapi juga dengan mencengkram lengan Rajif kuat.
"Sakit tahu" peringat Rajif pada Bintang.
"Lihat itu" tunjuk Bintang dengan dagu pada Risda yang sedang pemanasan siap hendak berlari di pesisir pantai seorang diri.
Mendengar penuturan Bintang, Rajif berhenti beronta melihat Risda yang sedang menarik-narik kakinya sendiri. Mau ngapain dia batin Rajif mempertanyakan karena tidak mengerti apa yang akan dilkukan oleh Risda.
"Lepas. Dasar elang" ucap Rajif melepas paksa cengkraman yang dilakukan Bintang pada lengan kirinya.
Bintang tidak menanggapi Rajif lagi setelah Rajif tetap duduk diposisinya tanpa ingin lagi menghampiri Risda yang sibuk dengan dirinya sendiri walau tetap dengan mengoceh tiada henti mempertanyakan ini dan itu apa yang akan dilakukan Risda.
"Eh, eh eh, si Risda ngapain lari-lari pakai baju gamis gitu lagi".
Rajif mulai geram sendiri karena setiap pertanyaan yang ia tanyakan pada Bintang tidak dijawab Bintang sama sekali tanpa melihat terlebih dahulu apa yang sedang dilakukan Bintang.
Phom. Rajif memukul Bintang.
Bintang yang sedang merekam Risda dengan kamera hp nya yang sedang berlari-lari kencang bagaikan sedang mengikuti lomba lari maraton.
Pheek. Hp Bintang jatuh tergeletak tidak berdaya diatas pasir.
Bintang menatap Rajif datar.
Rajif tersadar akan kesalahannya, menunduk mengambil hp Bintang dan menyerahkan pada Bintang kembali sambil tersenyum canggung.
"Jangan marah ya" menyerahkan hp sopan sedangkan Bintang mengambil hp nya dari tangan Rajif secara kasar.
BERSAMBUNG...
__ADS_1