Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Makan Rujak


__ADS_3

"Risda turun kamu, aku juga mau''.


"Petik sendiri, kalau ngak minta saja sama bang Adi saja kamu, jangan ganggu aku".


Rita dan Risda terus melanjutkan perdebatan mereka walaupun posisi mereka satu berada diatas pucuk pohon jambu dan satu lagi berada di bawah pohon.


Bintang dan Adi yang menyaksikan perdebatan Risda dan Rita hanya menggelengkan kepala mereka saja. Adi dan Bintang tidak lagi terlalu heran dengan tabiat Risda jika sudah nyaman akan sesuatu hal tidak mungkin akan cepat berubah. Risda sebisa mungkin akan mempertahankan kenyamanannya.


Rita yang melihat Risda diatas pohon tidak ada lelahnya berteriak hanya karena perdebatan yang tidak penting menolehkan kepalanya kesamping menghadap Adi dengan maksud meminta bantuan pada Adi supaya menyuruh Risda untuk segera turun.


Adi yang melihat tatapan memohon pertolongannya dari Rita menjadi tidak tega, lantas tersenyum menatap teduh penuh sayang pada Rita. Sedangkan Rita mendengus kesal melihat tatapan Adi yang di tujukan padanya, niat ingin komplain ada pada Adi sudah ada di hati Rita, tetapi Rita sudah kehabisan tenaga berteriak berdebat dengan Risda yang berada diatas pohon sana.


Bintang yang melihat tatapan Adi pada Rita hanya bersikap cuek saja, karena hal itu tidak ada hubungan sama sekali dengannya.


"Risda turun dek, kita makan rujaknya sama-sama" ucap Adi sedikit berteriak pada Risda.


"Iya sebentar lagi bang".


"Sekarang" ucap Adi garang, tidak ingin di bantah lagi oleh adiknya itu.


Risda yang melihat raut wajah dari Adi yang tidak ingin dibantahkan lagi segera turun dan kemudian bergabung bersama yang lain di bawah sana.


Risda berdecih pelan dan mengatakan "iya-iya ini juga mau turun".


Phoom Risda memilih jalan singkat turun dari pohon dengan meloncat dari ketinggian sekitar tiga meter lagi dari tanah.


Adi yang melihat lagi dan lagi Risda meloncat loncat dengan ketinggian lumayan tinggi mendengus kesal dan kemudian Adi mendekati Risda dan memukul Risda di bagian bahu.

__ADS_1


"Aduh" mengaduh Risda sambil mengusap ngusap bagian bahunya yang terasa panas perih dengan pukulan yang lumayan keras yang diberikan oleh Adi padanya "Sakit abang".


Adi setelah meluapkan kekesalannya pada Risda dengan memukulnya dengan sedikit keras, beranjak menjauh dari Risda karena yang merasakan sakit bukanlah Risda saja, tetapi telapak tangan yang di gunakan Adi untuk memukul Risda juga terasa sakit, dalam hati Adi bermonolog sendiri "adikku itu badannya terbuat dari apasih, keras sekali kayak batu".


Bintang yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Risda dengan Adi mengulum senyum menahan tawa, Bintang melihat tangan yang digunakan Adi untuk memukul Risda sedikit bergetar kemudian beranjak mendekati Adi dan menepuk pelan bahu Adi dan kemudian Bintang berbisik tepat di telinga Adi "bagimana sakit?, makanya sering-sering olahraga jangan sampai kalah sama perempuan".


Adi menatap Bintang tajam ingin protes, namun ia sadar, apa yang di katakan Bintang ada benarnya juga.


Bintang setelah mengatakan sesuatu berupa nasihat pada Adi kemudian berlalu meninggalkan Adi dan menghampiri Rita yang sedang sibuk mengupas kulit mangga. Sedangkan untuk bumbu rujak sudah Rita siapkan sebelumnya.


Bintang melirik Risda sekilas yang sibuk menonton Rita yang sedang mengupas kulit mangga sambil makan buah jambu tentunya.


Risda yang menyadari kalau Bintang melirik dirinya kemudian bertanya "Kenapa Bint".


"Bantuin Rita kenapa sih, jangan duduk aja kamu".


"Ini juga lagi bantuin, bantuin nonton maksudnya" Risda setelah mengatakan itu kepada Bintang tertawa cekikikan sendiri.


"Oh kalian lagi makan rujak ya, boleh mama dan bapak ikutan gabung sama kalian".


"Boleh dong mama" jawab mereka serentak.


Acara makan rujak terus berlanjut sampai tanpa terasa mangga dan jambu yang di petik oleh Adi dan Bintang sudah habis tanpa sisa dan bumbu rujak yang di buat oleh Rita juga habis tanpa sisa.


...****************...


Hari yang di tunggu-tunggu oleh Rita sampai juga, besok mereka berempat akan berangkat ke tempat wisata puncak gunung atau lebih sering di sebut dengan julukan kota dingin. Malam hari sebelum keberangkatan mereka sibuk mempersiapan diri untuk keperluan penginapan perjalanan mereka. Rita yang sangat antusias dengan jalan-jalan kali ini sedangkan Adi, Bintang dan Risda terlihat biasa-biasa saja.

__ADS_1


Bintang dan Rita malam ini akan menginap di rumah Risda di karenakan mereka akan berangkat setelah shalat shubuh besok.


Setelah makan malam berlangsung semua penghuni rumah berkumpul di ruang keluarga terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar masing-masing untuk mengistirahatkan badan mereka.


Risda memejamkan mata berharap ada mimpi indah yang menghampirinya malam ini, tidak bisa terlaksana karena terganggu dengan adanya pergerakan dari Rita yang tidur di sebelahnya. Risda menghembuskan napasnya pelan kemudian berucap "Rita bisakah kamu tidur dengan tenang, jangan grasak grusuk gitu, boleh ngak hm?".


"Boleh dong, sebentar lagi ya".


Risda mengernyitkan dahinya bingung, "maksud kamu, sebentar lagi apa?".


"Tidurnyalah, emang apa lagi?".


" Sekarang Rita" Risda mengeram kesal menahan kekesalannya dalam menghadapi Rita karena kebiasaan Risda jika matanya ingin terlelap dan tidak langsung tidur itu sampai pagi bertemu malam lagi belum tentu Risda bisa memejamkan matanya kembali.


Dengan tampang bodoh senyum tidak jelas Rita menjawab "Risdaku tersayang, tercinta, sahabat terbaikku, apakah kamu tahu, aku tidak bisa tidur karena terlalu senang untuk perjalanan kita besok yang akan menjadi pengalaman pertama bagiku naik ke puncak gunung".


Risda tidak langsung menjawab, Risda diam untuk beberapa menit sambil menatap mata Rita dalam untuk mencari kebenaran dari sorot mata Rita. Setelah Risda mendapati jawaban dari tatapan sorot mata kemudian Risda tersenyum. Rita yang melihat Risda yang tiba-tiba tersenyum berngedik ngeri melihatnya.


"Riis jangan senyum gitu kenapa sih, merinding aku lihatnya" sambil menahan ketakutan dan kekesalan Rita menyelesaikan kaliamatnya yang di tujukan pada Risda.


"Kamu senang Ta, besok kita pergi ke puncak?".


"Senanglah Riis".


Kemudian Risda hanya menanggapi Rita dengan senyuman lagi, tidak lama senyuman itu bertahan karena bantal guling yang di peluk Rita melayang hampir mengenai kelapa Risda, Risda tetaplah Risda jangankan orang, benda sekalipun sangat sukar menyentuhnya, guling yang Rita layangkan pada Risda berakhir terbang melayang kemudian tergelatak di lantai bawah tilam.


"Apaasih Ta main pukul-pukul aja".

__ADS_1


"Senyumanmu itu Riis, buat aku merinding tau".


BERSAMBUNG.......


__ADS_2