
Kata Cengeng terus terulang dari mulut Risda sampai tiga kali berturut-turut dengan keadaan wajah datar Risda tetap melakukan aktifitasnya namun karena itu semua menyulut emosi Adi.
"Diam kamu" marah Adi "lebih baik kamu urus aja Bintang pacar kamu itu" meminum air untuk meredakan emosi. Sedangkan Bintang dan Risda yang mendapatkan tuduhan bahwa mereka berpacaran saling berpandangan sejenak dan kembali menatap piring mereka masing-masing.
Nur dan Zay tidak mempedulikan perdebatan kecil yang terjadi diantara mereka malah sangat menikmatai sarapan mereka.
Adi yang baru siap minum meletakkan kasar gelas pada meja makan dan berkata dengan nada keras "apa kamu tahu konsekuensi dari make up bisa menyebabkan kanker" ucap Adi dengan tatapan tajamnya.
Nur dan Zay yang kebetulan sedang minum menyemburkan kembali air dari mulut mereka sedangkan Bintang dan Risda sedikit paham mempertanyakan pada logika mereka masing-masing tentang apa yang dikatakan Adi.
"Hahahha" tawa Nur dan Zay.
"Kamu dengar dari mana?" tanya Nur setelah meredakan tawanya.
Bintang membuka mulut ingin menyuarakan suaranya namun tidak jadi saat mendengar Risda lebih dulu menyuarakan suaranya.
"Jika seperti itu, sudah banyak berarti orang yang terkena kanker karena make up" melanjutkan menyuapkan sesendok makan penuh kedalam mulutnya.
Adi cemburut kesal dan menunduk membenarkan apa yang Risda katakan.
"Kanker bisa saja muncul karena gonta ganti kosmetik scincare tanpa resep dokter, mungkin bisa saja make up yang digunakan sudah kadarluarsa atau bisa saja wajah yang tidak pernah dibersihkan dari make up".
"Kamu baru sekali pakai, langsung berani memvonis takut terjadi kanker" ucap Zay sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Acara sarapan pagi, akhirnya telah selesai juga walau banyak drama dari Adi disebabkan Irsyad.
Adi melangkahkan kakinya mendekati lemari pinggan kaca melihat pantulan dirinya terutama bagian mata yang terlihat merah dan bengkak, ditambah lagi kurang tidur yang tiada mencukupi.
Adi kembali lagi duduk di kursi meja makan mendekati Bintang yang masih duduk memainkan ponselnya memeriksa email pekerjaan yang telah dikirimkan padanya.
"Urusan pabrik hari ini kamu yang pegang kendali" ucap Adi sambil berlalu pergi meninggalkan Bintang seorang diri.
Risda mengikuti Nur sang mama menuju dapur kembali sedangkan Zay telah berangkat kerja.
Risda kembali lagi ke ruang makan melihat Bintang duduk seorang diri. Risda mengamati Bintang yang mengenakan pakaian training "apa kamu berniat mengajakku berolahraga?" berdiri tepat di hadapan Bintang.
Bintang mengalihkan pandangannya dan melihat Risda dan menjawab pertanyaan Risda "iya".
"Baru siap makan, sabarlah" ucap Bintang dengan memandang fokus pada hp nya lagi.
__ADS_1
Risda duduk berhadapan dengan Bintang. Risda duduk menopang dagu sambil mengetuk ngetuk meja dengan jari telunjuk dan jari tengahnya secara bergantian.
Menghembuskan napasnya kasar "bosan" ungkap keluh Risda.
"Hp kamu mana?" tanya Bintang kala teringat tadi pagi ia mencoba menghubungi Risda namun hp Risda tidak aktif alhasil panggilan dari Bintang tidak diterima Risda.
"Rusak" merebahkan kepala tiduran diatas meja.
"Pantas".
"Pantas apanya" bangun dan duduk tegap kembali.
"Pantas kalian berpisah, biasanya lengket bagaikan tidak bisa dipisahkan".
Risda memutar bola matanya geram "kamu Bint" menunjuk Bintang "sekalinya suara kamu keluar tembus menembus jantung hati" geram Risda. Tapi apa yang Bintang ucapkan tidak pernah salah, selalu benar kenyataan begitu, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tajam plus kejam keluh batin Risda mengiyakan.
Waktu berlalu seakan terasa begitu cepat bagi Bintang yang terlalu fokus pada pekerjaannya sedangkan bagi Risda waktu berlalu begitu lambat. Setengah jam berlalu "temani aku" ucap tiba-tiba Risda.
Bintang mengalihkan pandangan melihat Risda datar "Ini juga aku lagi temani kamu".
"Temani aku pergi ke counter ponsel".
"Ayook" bangun Risda dan menarik tangan Bintang.
Bintang tidak bergeming dari duduknya melihat Risda dari atas kebawah, dari bawah keatas "dengan pakaian seperti ini".
Risda melepaskan tangannya dari tangan Bintang dan meneliti baju yang ia kenakan yaitu daster selutut ditambahi celana piama yang warnanya bertolak belakang dengan baju yang ia kenakan. " Sebentar" pamit Risda kemudian.
Risda berlari pergi meninggalkan Bintang seorang menuju kamar mengganti stelan kostum dengan pakaian kebanggaan Risda yaitu training dan topi.
Tidak lebih dari lima menit Risda kembali lagi menghampiri Bintang.
"Sudah mandi?" tanya Bintang lagi dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Sore aja nanti, rapel sekalian".
Bintang memijit kening pelipisnya dalam menghadapi Risda yang begitu malas mandi.
"Mandi dulu".
__ADS_1
"Nanti" tawar Risda.
Bintang tidak bergeming dari tempat duduknya dan menatap Risda datar.
"Iya" pasrah Risda kemudian.
Risda kembali lagi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Setengah jam berlalu, Risda kembali lagi menghampiri Bintang. Kali ini Risda mengenakan pakaian feminim yaitu gamis simpel nan elegan dan ditambah lagi hijab yang menutupi sempurna aurat Risda.
Risda berdiri disamping Bintang yang terlalu fokus akan hal yang ia kerjakan pada hp nya.
Bintang yang terlalu fokus pada hp mencium aroma wangi berada didekatnya kemudian Bintang mengalihkan pandangan mencari sumber aroma maskulian itu berasal dan Bintang menemukan Risda yang sedang berdiri dibelakangnya yang sibuk mengancingkan lengan bajunya yang masih terbuka.
Bintang berinisiatif membantu Risda. Bintang mengantongi hp dan berdiri mendekati Risda dan membantu Risda mengancing lengan baju Risda.
Lengan baju telah terkancing di kedua tangan Risda.
Bintang mundur dua langkah memperhatikan Risda yang begitu anggun terlihat dimatanya "cantik" gumam lirih Bintang.
Risda sedikit mendengar gumaman Bintang tapi Risda tidak tahu apa yang diucapkan Bintang. "Apa?" tanya Risda.
"Tidak jadi olahraga?" Bintang mengalihkan topik pembicaraannya.
"Matahari sudah tinggi" jawab Risda.
"Baiklah tunggu sebentar" berlalu pergi meninggalkan Risda berdiri seorang diri.
Risda tidak menjawab pernyataan Bintang namun Risda memperhatikan kemana langkah Bintang melangkah dan kemudian Bintang kembali lagi melewati dirinya dengan membawa tas ransel kecil yang berada di punggungnya.
Risda diam hanya memperhatikan tanpa mengucapkan sepatah kata atau bertanya apa yang akan dilakukan Bintang.
Bintang kembali lagi menghampiri Risda dengan stelan kostum yang telah berubah. Bintang telah mengganti pakaian training nya dengan pakaian casual biasa. Biasa menurut Bintang namun luar biasa bagi yang lain yang melihat Bintang yang sudah bertambah tampan berkali kali lipat akibat kostum yang ia kenakan menampakan tubuh tegap dan berototnya yang terpampang sempurna.
Risda melihat Bintang memberikan nilai tampan tersematkan pada Bintang.
Nur duduk santai di ruang keluarga sambil menggambar desain baju untuk dirinya sendiri dan keluarganya melihat Bintang dan Risda berlalu dan berpamitan padanya keluar sebentar.
"Eh mau kemana ini anak-anak mama, pada udah tampan dan cantik lagi" Nur melihat Bintang dan Risda yang seakan bagaikan pasangan yang begitu cocok dan serasi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...