Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Nyiksa Diri


__ADS_3

Bintang berlalu meninggalkan Risda dan beralih menuju kamar Adi untuk memanggilnya makan bersama, setelahya Bintang baru memanggil Irsyad.


Tiga pemuda tampan datang menghampiri Risda dengan ekpresi yang berbeda-beda. Adi dengan muka bantal baru bangun tidur ditarik paksa oleh Bintang, Bintang tetap dengan pertahanannya sendiri yaitu muka datar sedangkan Irsyad terharu karna baru saja ia membuat kesalahan pada sang kakak tapi kakaknya masih saja memperhatikan dirinya.


Risda senyum simpul sekilas "duduklah".


Adi, Bintang dan Irsyad duduk bersamaan di kursi, Adi yang kesadarannya masih remang-remang antara iya dan tidak langsung tersadar saat mencium aroma mie yang menggugah selera.


Mata Adi langsung cerah saat menatap hidangan mie di hadapannya dan juga senyuman Adi langsung mengembangkan senyum yang semula cemburut karena ulah bangun paksa yang dilakukan Bintang padanya.


Semangkok besar berisikan mie penuh kini telah kandas habis semua dilahap oleh Adi, Bintang, Irsyad dan Risda. Tiga pemuda itu duduk santai sambil mengelus perut mereka masing-masing karena merasa sangat kekenyangan. Risda melihat kelakuan mereka hanya mampu menggelengkan kepala ringan.


Risda bangun dan berdiri dari kursi yang ia duduki dan membereskan pinggan kotor, belum sempat Risda berbalik badan, ada suara berupa kata yang menghentikan aktifitas Risda "dek masakan kamu sangat enak" puji Adi "sering-sering memasak ya" sambung Irsyad, sedangkan Bintang tidak menyahut apa-apa hanya diam hanya menyimak saja.


Tidak sepenuhnya diam menyimak saja tetapi dalam benaknya Bintang juga memuji masakan Risda.


Risda kekasihku, tambatan hatiku, bagaimana bisa rasa cintaku padamu berkurang sedangkan setiap harinya bertambah entah itu ada temu atau tidak diantara kita tetap saja cintaku kian bertambah namun apabila temu tidak terjadi diantara kita, satu hari saja, dapat dipastikan rindu menggelayuti hatiku ingin jumpa denganmu.


Aku jatuh cinta padamu wahai kekasihku hanya dengan hal sesederhana seperti ini contohnya seperti masakanmu ini sangat sederhana bukan, sesederhana rasaku padamu yang kian hari bertambah dari sederhana ke sederhana jadi cintaku padamu sudah bertumbuh tinggi dan tidak mungkin lagi bernamakan sederhana melainkan mewah sudah, sayang.


"Ya" jawab Risda singkat padat dan jelas.


Risda membawa pinggan kotor dan menaruhnya di wastafel untuk ia cuci. Risda mencuci semua peralatan dapur yang kotor dan juga pinggan, gelas dan lainnya yang menurut Risda kotor. Setelah semuanya selesai Risda kembali lagi ke ruang makan dan melihat hanya Bintang yang masih duduk menunggu dirinya. Risda menyadari tatapan aneh dari Bintang ditujukan padanya lantas bertanya "kenapa" menaikkan sebelah alis.

__ADS_1


"Aku baru tahu" Bintang menjeda katanya selanjutnya.


"Tahu apa?" balik tanya Risda.


"Ternyata sayangku ini pinter masak".


"Tapi malas" potong Risda. "Jangan panggil aku sayang" menatap tajam.


"Karena Albert".


Helaan napas frustasi dari Risda akan tuduhan Bintang kepadanya walaupun hampir sepenuhnya, iya, karena Albert. Risda melirik jam yang tertempel di dinding ruang keluarga yang nampak langsung dari ruang makan, waktu telah menunjukan larut malam "sudah larut, Menginaplah. Kamar tamu tadi baru siap dibersihkan" kemudian Risda langsung pergi meinggalkan Bintang.


Bintang mengikuti langkah Risda. Baru satu langkah tapak kaki Risda menaiki tangga suara klakson mobil yang Risda yakini itu adalah suara klakson mobil Zay, ayahnya. Risda berbalik badan menuju ke pintu utama untuk membuka pintu dikarenakan pintu yang terkunci dari dalam.


Hari-hari berlalu, rindu semakin menggebu, kesal dihimpit rindu menggelora ingin bertemu. Pekan depan adalah pertemuan terakhir perkuliahan untuk semester ini dan hari ini adalah akhir pekan.


Hari ini pula, kebetulan Risda ada jadwal latihan karate dan kebetulan lagi Bintang tidak bisa ikut latihan bersamanya dikarenakan ada pekerjaan di pabrik maka otomatis Bintang akan ikut bersama Adi, sedangan Rita jarang bahkan nyaris hampir tidak pernah berolahraga.


Risda mengendarai sepeda motor besar kesayangan dengan memakai stelan training sedangkan baju putih bersabuk ia simpan dalam tas yang berada di punggungnya dan tidak lupa topi yang selalu ada diatas kepalanya walau memakai jilbab saat ia mengenakan training


Bruummm bruummm bruuum. Risda memanaskan mesin keretanya terlebih dahulu. Demi rindu ini meredam aku siap menyiksa fisikku ini, asalkan rindu tidak tahu malu ini segera lenyap dari hatiku ini batin Risda bersikeras ingin membantai rindu tidak tahu malu, hanya menyinggah tanpa tagu waktu. Helaan napas terdengar dari Risda sebagai tanda sudah cukup perdebatan antara kepala dengan batin yang menyiksa hati, saatnya menyiksa fisik.


Irsyad juga ingin bermain bola bersama timnya tetapi Irsyad enggan ke garasi dulu karena Irsyad melihat Risda sang kakak yang melamun diatas motornya pasti ingat Albert lagi. Hadeh dasar si Albert ini ya, keterlaluan, main curi-curi aja hati si tomboy batang balok es itu menunduk dan kemudian lansung duduk di lantai sambil memakai sepatu bola. Itu pasti mau nyiksa diri lagi. helaan napas terdengar kasar dari Irsyad.

__ADS_1


Risda tidak menyadari bahwa Irsyad semenjak tadi memperhatikan dirinya dan berlalu pergi meninggalkan Irsyad begitu saja setelah sekelabat perdebatan memberontak dalam jiwa.


Irsyad melihat jam arloji yang terpasang sempurna pada pergelangan tangannya. Pukul delapan tepat batin Irsyad pukul berapa ia akan kembali.


Tidak lama setelah Risda pergi ke stadion tempat latihan, Irsyad juga pergi ke stadion sepak bola.


Risda telah sampai pada stadion, memparkirkan motornya dan juga melepas helm dan kemudian memakai topinya kembali. Risda masuk dalam stadion dengan santai bermuka datar sudah ciri khas dari Risda jadi siapapun yang melihat Risda sudah terbiasa.


Pagi ini Risda akan dilatih untuk beberapa pekan ke depan Risda akan ada ujian kenaikan sabuk. Waktu telah menunjukan tandanya siang dengan keringat bercucuran dibawah teriknya matahari tidak membuatnya pudar akan semangat. Semakin terik matahari, semakin banyak keringat yang mengalir dan semakin semangat pula Risda dalam berlatih.


"Untuk hari ini sudah cukup dulu. Dua hari lagi kita akan melanjutkan latihan lagi" ucap coach yang melatih Risda dan rekan.


"Yah coach. Aku belum puas latihan hari ini" tidak terima Risda sehingga rekan-rekan seperjuangannya Risda yang lainnya juga tidak kalah berkeringat dan letih menatap Risda bingung yang tidak ada habis-habisnya tenaga yang dimiliki Risda.


"Cukup Risda" teriak semua rekan-rekan Risda bersamaan yang berjumlah sekitar belasan orang.


Coach, sang pelatih hanya tersenyum samar menatap Risda sekilas.


"Risda Zay Akli" panggil sang coach yang ternyata sang coach tersebut adalah Rajif Fandi Alfarid seorang nahkoda yang beberapa bulan lalu rela pindah tugas tidak berlayar lagi melainkan pindah ke pusat kantor yang memantau khusus para nahkoda yang berlayar. "Kamu yang pimpin penutupan latihan kita".


"Osh (baik)" Risda menjalankan tugas yang diberikan oleh coachnya untuk memimpin penutupan latihan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2