
Saatnya balapan batin Risda berteriak kesenangan.
Sat set sat set. Risda menyalip kendaraan yang menghalangi jalannya baik itu motor, mobil ataupun truck, Tetap saja Risda salip semua.
Perjalanan yang seharusnya satu jam perjalanan dengan jarak tempuh enam puluh km / jam baru sampai sedangkan laju motor Risda yang Risda kendarai seratus km per jam sampai. Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit Risda telah sampai di rumah.
Risda langsung memasukkan motor ke garasi samping rumah yang kebetulan terbuka.
Risda bergegas masuk dalam rumahnya yang pintunya terbuka lebar. "Assala..." belum sempat Risda mengucapkan salam memasuki rumahnya namun empat pasang mata menatapnya tajam yaitu Adi, Bintang, Nur dan Zay yang duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Risda.
"Kenapa?" tanya Risda pura-pura tidak tahu apa kesalahan yang ia lakukan.
"Kenapa, kamu tanya" ucap Adi dingin.
"Iya maaf" minta maaf Risda langsung the to point yang enggan berlama-lama di ruang tamu itu karena Risda yakin pasti akan mendapat siraman rohani alias cermah panjang dari keluarganya. Setelah mengucapkan kata maaf Risda ingin berlalu pergi dan memasuki kamarnya, terutama Risda ingin membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket.
"Mau kemana?. Duduk sini dulu nak" ucap Zay lembut menahan kesal dengan ulah Risda kali ini.
Risda tidak melanjutkan langkahnya dan berhenti di tempat. Risda tidak menuruti keinginan Zay yaitu menyuruhnya untuk duduk tetapi Risda memilih berdiri saja.
"Ya pak" berdiri tegap dengan tetap menenteng tas yang berisi mukena dan baju latihan bersabuk yang ia gunakan tadi.
"Apa saja aktifitas anak bapak hari ini" tersenyum dan bangun beranjak mendekati Risda lalu mengusap kepala Risda.
Risda merasa sangat bersalah atas keteledoron waktu ia habiskan diluar tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada orangtuanya sehingga membuat orang-orang kesayangannya menjadi cemas akan diriya dan karena dirinya.
"Pagi tadi Risda latihan, sore melatih setelah itu pergi ke pantai sebentar dan malamnya tadi Risda makan di rumah makan" jawab Risda seadanya namun Rida melewatkan ceritanya tentang kebersamaan singkat antara dirinya dengan Albert.
"Itu saja" sarkas Bintang.
"Tadi magrib ada orang kehabisan bensin motor, Risda bantu dorong motor orang itu sampai pom bensin".
__ADS_1
"Dengan bercakap mesra dengan orang itu" sarkas Bintang kemudian ikut mengintrupeksi.
Risda menatap Bintang tajam "jika aku tidak tanya permasalahan orang itu, mana bisa aku tahu orang ada masalah apa".
Suasana ruang tamu yang semula hangat lama kelamaan terasa menegangkan akibat pertanyaan dari Bintang dengan bernada amarah kecemburuan.
"Ditambahi dengan senyum langkamu itu".
"Maumu apasih Bint" tanya Risda kemudian yang tidak ingin berdebat dengan Bintang sahabat terbaiknya itu.
"Aku tahu dia itu gurumu, tetap saja dia itu laki-laki Risda. Kamu tidak boleh terlalu dekat dengannya jika itu bukan pertemuan formal".
Risda mengerutkan kulit keningmya, mencoba mengartikan maksud tujuan Bintang mengatakan itu.
"Albert" lirih Risda setelah tahu arah pembicaraan Bintang.
"Aku hanya menolongnya" menatap intens Bintang "walau aku suka dengannya bukan berarti logikaku tidak berfungsi dengan meruntuhkan harga diri". Menarik dan menghembuskan napas perlahan "tenanglah. Aku tahu batasan dalam hal menyukai. Terimakasih telah khawatir padaku" tersenyum.
Nur dan Zay tidak menjawab pertanyaan daari Risda karena mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka sendiri mengenai apa yang terjadi antara Bintang dengan Risda. Sungguh mereka belum mengerti.
Risda melihat orangtuanya seperti terbengong sibuk dengan pikiran mereka sendiri lantas Risda berlalu pergi menuju kamar dan tidak lupa kata "permisi" ia ucapkan terlebih dahulu.
Risda masuk dalam kamarnya dan mengunci pintu. Risda melempar tas yang ia bawa tadi ke sembarang arah lalu Risda melompat naik atas ranjang.
Risda tidur terlentang, sambil tidur Risda membuka jilbabnya dan juga melemparnya ke sembarang arah. Saat ini kamar kotor tidak masalah, nanti bisa dibereskan lagi pikir Risda enteng.
Selang beberapa menit berlalu Risda yang tidak menghidupkan pendingin kamarnya merasakan panas, dan badan Risda terasa lengket lagi.
"Akkkhhhh" teriak Risda kesal sendiri.
Risda turun dari ranjang dengan sekali lompatan dan merampas handuk yang terletak rapi di tempatnya. Risda masuk kamar mandi dan mandi.
__ADS_1
Tidak lama waktu yang terlewati, kini Risda telah tidur kembali diatas ranjangnya.
Biasanya pertemuan pertama akan ada isyarat rasa penasaran yang terselip di hati, pertemuan kedua akan ada rasa ingin ketemu lagi dan pertemuan ketiga sudah pasti jelmaan rindu yang mulai menggeroti.
Pertemuan kita harus diisyarat sebagai apa sayangku?.Pertama pertemuan kita melalui online, temu formal ruang perkuliahan. Pertemuan kedua di lingkungan kampus, tidak dalam ruangan hanya curi-curi pandang saat dikau bertugas mengajar murid-muridmu yang lain yang ternyata bukan aku yang menjadi salah satu muridmu, aku hanya mampu mencuri pandangan perhatian kamu untukku walau aku tidak mendapatkan itu. Pertemuan ketiga kita sangat berkesan untukku yaitu tadi saat aku bersamamu, walau tanpa ungkapan rasa antara kau dan aku.
Risda tersenyum-senyum sendiri mengenang masa yang ia lewati bersama Albert tadi, singkat tapi melekat.
Risda memeluk bantal guling dan berguling-guling seluruh kasur dan PHOOOM. Risda terjatuh kebawah dengan masih memeluk guling.
Kasur Risda lumayan tinggi sekitar sembilan puluh cm ketinggian tidak terasa sedikit rasa sakitpun di badan Risda bahkan Risda malah semakin menjadi-jadi berguling di lantai sambil menciumi bantal guling yang berada dalam pelukannya.
Dua puluh lima menit berlalu, bukan rasa nyeri yang Risda rasakan melainkan dinginnya lantai menembus kulit bahkan tulang belulangnyapun terasa ikut menggigil kedinginan lantas Risda bangun dan berdiri.
Crit. Lompat Risda. Yang semula tiduran di lantai dalam sekedip mata langsung berdiri tegap dengan satu kali lompat dengan tumpuan tangan dan kaki.
"Aww" mengaduh Risda suara lirih, Risda baru merasakan sakit di area punggung akibat terjatuh tadi ditambahkan efek latihan keras pagi tadi juga mulai bereaksi.
Kebiasaan Risda yang selalu naik atas ranjang dengan melompat kali ini tidak dengan melompat lagi melainkan Risda sudah naik keatas ranjang dengan normal seperti orang lainnya.
Risda menaiki ranjang dengan sedikit tertatih merasakan kekakuan seluruh tubuhnya.
Gila batin Risda berteriak hebat. Cinta memang membutakan logika.
Cinta.
Cinta.
Cinta.
Tiga kata "cinta" Risda lafazhkan dengan rasa jiwa. Kemudian Risda tertawa dan kemudian menangis kenapa aku gila akan hal cinta tiada guna. Aku cintanya seorang diri sedangkan dia tidak mencintaiku kembali batin Risda menangis jika logikanya sedikit memberikan fakta tapi rasa hati egois menginginkan rasa hati terbalaskan oleh kekasih jiwa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...