
"Ish Bapak. Terkejut aku" keluh kesal Risda. "Mau cuci muka dulu" menyibakkan selimut dan langsung berdiri.
Phom. Risda jatuh terduduk. Kaki kiri Risda seakan mati rasa, tidak bisa digerakkan sama sekali bahkan warna kaki Risda sudah membiru karena aliran darah yang terhenti disebabkan jelab dan baju Bintang yang masih terikat dikaki Risda.
Zay segera meletakkan mangkuk nasi di tempat penyimpanan khusus yang disediakan disitu dan segera mengangkat Risda dan mendudukkan Risda di brankar pasien. "Pak" panggil Risda "Apa aku lumpuh" mata berkaca-kaca.
Zay tidak langsung menjawab karena tidak tahu harus menjawab apa. "Jawab pak" desak Risda. Risda melihat mata Zay mencari jawaban dari sana malah Risda melihat mata Zay yang kebingungan menjawab atas pertanyaannya lantas Risda langsung memvonis dirinya lumpuh dan "tiiiiidakkkkkkkk" teriak Risda sekeras mungkin.
Bintang yang baru saja tertidur, mendengar teriakan Risda langsung terbuka lebar kembali matanya terkejut akan suara Risda yang tidak tanggung-tanggung saat berteriak tadi. "Kenapaa?" tanya Bintang yang sudah duduk diatas brankar pasien Risda sambil memeluk Risda.
Zay memelototkan mata terkejut akan tindakan Bintang yang memeluk Risda langsung dihadapan dirinya tetapi aneh Zay malah terpaku tidak tahu harus melakukan apa.
"Aku lumpuuhhh. HUaaaa" menangis histeris sendiri.
"Tidak mungkin. Jangan takut aku akan selalu ada disampingmu Risda" masih tetap memeluk Risda yang sedang menangis histeris.
Beberapa saat kemudian setelah Risda berhasil ditenangkan oleh Bintang, Zay segara melepas pelukan mereka berdua dan menatap tajam Bintang sambil berkata pada Bintang "dapat izin dari mana kamu memeluk anak saya".
Bintang hanya bisa mengusap tengkuk lehernya tidak tahu harus menjawab apa selain kata "maaf".
Sedangkan dilain sisi Adi dan Nur telah kembali pulang kerumah semenjak Bintang dan Risda dipindahkan ke ruang rawat inap. Sesampainya Adi dan Nur dirumah, mereka berdua melihat Irsyad yang duduk menangis sesegukan dipintu rumah.
Irsyad melihat kedatangan mamanya bersama Adi menatap kesal pada Adi yang menghukum dirinya tanpa ampun kemarin sambil mengusap airmata dan berpaling wajah melangkah pergi masuk dalam rumah kembali. Adi juga tidak mau kalah menatap Irsyad datar sedangkan Nur hanya bisa manarik napas panjang dan juga masuk kedalam rumah juga yang diikuti oleh Adi dibelakangnya.
"Assalamualaikum" beri salam Nur masuk dalam rumah.
"Walaikumsalam" jawab Irsyad sambil bergelanyut manja pada Nur. "Mama pergi kemana?. Bapak juga ngak ada di rumah, kakak cantikku yang berwajah datar sedatar tembok juga ngak tahu menghilang kemana. Aku takut ma, sendirian dirumah. Jangan tinggalin aku ma" mata mengembun siap hendak menangis lagi.
"Abangmu kecelakaan".
"Kecelakaan apanya, itu orangnya dibelakang kita, yang sok kegantengan itu" melirik sekilas kebelakang menatap Adi yang mengekor di belakang mengikuti Nur.
"Bintang".
"Oo. Abang tembok. Jadi kakak juga ada RS ya ma".
__ADS_1
"Iya. Kamu kenapa tidak sekolah?. Sudah mandi?".
"Emm. Ma adek mandi dulu" melepaskan lengan Nur sambil berlari masuk kamarnya sendiri.
"Dasar bocil" menggeleng-gelengkan kepala heran, anak laki-laki kelakuan manja seperti anak perempuan sedangkan yang anak perempuan kelakuan kayak laki.
"Adi" panggil Nur sambil melihat kebalakang dimana Adi masih berjalan mengikutinya dan Nur melihat Adi yang mengerutkan kening seperti orang sedang berpikir keras. "Apa yang kamu pikirkan. Tolong bantu mama masak, bisa?. Mama mau mandi dulu sebentar".
"Siap, mama" menganguk dan berbelok arah menuju dapur.
Adi dengan cekatan meracik bumbu-bumbu apa saja yang dibutuhkannya. Hampir satu jam berlalu kini masakan menu yang dimasak Adi siap berbarengan dengan kedatangan Nur dan Irsyad.
"Waw bubur ayam komplit spesial" teriak Irsyad melihat menu yang sudah Adi siapkan dalam rantang namun Adi belum menutupnya karena masih panas jadi Adi membiarkan terbuka dulu untuk sementara sampai buburnya tidak panas lagi.
"Eps, bubur itu bukan untuk kamu" memukl tangan Irsyad yang hampir menyendok bubur.
"Maaaa, abang peliiiit" teriak Irsyad.
"Jangan teriak-teriak dek, mama masih disini."
"Waw. Ini lebih enak" langsung mengambil sup dari tangan Adi.
"Panas. Hati-haaa" belum juga Adi menyelesaikan kata-katanya namun Irsyad sudah lebih dahulu berteriak "paaaanaaaaassssss".
"Udah diingatin hati-hati malah. Aduhh" menghembus napas panjang.
"Cuci tangan sana" suruh Nur pada Irsyad karena sup panas tadi sedikit mengenai tangan Irsyad.
Irsyad melangkah pergi menuju wastafel, mencuci tangan dan kembali lagi ke meja makan untuk memakan masakan Adi. Baru juga Irsyad ingin menyuapkan sesendok kuah dalam mulutnya namun Nur sang mama malah berkata "tambahin nasi" sambil menaruh nasi dalam mangkok sup. Irsyad melihat wajah Nur pasrah sedangkan Adi yang semenjak tadi memperhatikan Irsyad mengulum senyum menahan tawa.
Sarapan pagi tetap terlaksana walau sedikit terlambat dari hari biasanya dan ditambah lagi anggota keluarga yang kurang lengkap. Masakan enak tidak terasa terlalu enak dikarenakan ada ruang hati yang terasa kekosongan disebabkan anggota keluarga tidak lengkap.
Tidak lama setelahnya, sarapan pagi telah selesai. Nur telah siap semenjak tadi hendak pergi menuju RS lagi. Tetapi Nur harus menunggu Adi siap mandi dulu, sambil menunggu Adi siap, Nur membersihkan sisa pinggan, gelas dan peralatan masak lainnya yang kotor. Sedangkan Irsyad duduk cantik mengawasi mamanya hendak ingin ikut juga ke RS, tidak berani duduk sendirian dirumah.
Ting Tong. Ting Tong. Suar bel rumah tanda ada tamu yang sedang berkunjung.
__ADS_1
"Adek tolong lihat, siapa yang datang" teriak Nur masih tetap dengan aktifitas bersih-bersihnya di dapur.
"Siap, ibu komandan". Irsyad melangkapkan kakinya ke pintu utama rumah untuk menyambut tamu yang datang siapa. Irsyad membuka pintu dan melihat seorang pemuda tampan datang bertamu sambil tersenyum ramah dengan membawa rangkaian bunga ditangannya dan bertanya "apakah ini rumahnya Risda Zay Akli".
"Iya. Kenapa."
"Boleh saya bertemu dengan Risda".
"Kakak ngak ada di rumah. Kakak di RS".
Rajif terdiam terpaku di depan pintu tidaktahu harus mengatakan apa, dengan adanya suara cempreng Irsyad akhirnya Rajif tersadar "itu bunga untuk kakak" menunjuk bunga dengan dagu.
"Iya" angguk rajif sekali.
"Kakak tidak suka bunga. Kakak lebih suka samsak tinju" ungkap Irsyad tanpa diminta.
"Dek, kalau boleh tahu, siapa yang sakit?" tanya Rajif.
"Abang dan kakak".
Dengan sedikit bingung Rajif kembali bertanya "yang sakit abang atau kakak?"
"Dua-duanya".
"Mereka dirawat di RS mana".
"Tidak tahu" jawab Irsyad seadanya. Tidak lama setelahnya Adi dan Nur menghampiri Irsyad dan Rajif. "Cari siapa?" tanya Adi langsung the to point.
"Risda" menyalami Nur dan juag Adi.
"Siapanya Risda ya" tanya Nur.
"Calon suaminya Risda, bu".
"Preeet" jawab Irsyad tanpa diminta.
__ADS_1
BERSAMBUNG...