
"Mama, bapak Risda pergi dulu ya" sambil menyalim tangan kedua orangtuanya yang masih saja terbengong melihat penampilannya yang berubah drastis itu.
Kemudian Risda beralih mengahap Adi abangnya itu yang tentu masih terbengong juga, Risda menyalami Adi yang masih menatap dirinya tanpa berkedip. Risda tidak mempedulikan tatapan abangnya yang ada malah Risda menatap telapak tangannya sendiri yang masih kosong "duitnya mana bang?, kok tangan Risda kembali kosong". Tatapan kagum dari Adi berubah menjadi tatapan kekesalan pada adiknya yang tidak pernah lupa hanya duit saja. "Duit aja yang tidak pernah lupa kamu" ucapan Adi yang dibalas dengan senyum tanpa dosa dari Risda.
Setelah mendapatkan apa yang Risda mau, Risda segera berbalik badan ingin keluar. Belum juga kaki Risda melangkah sebuah suara menghentikannya lagi "adik kamu itu tidak kamu salim Riis" ucap Adi yang membuat Risda geram mengingat keusilan adiknya itu subuh tadi.
Membalikkan badan kembali dan menyodorkan tangan pada adiknya Irsyad. Irsyad meraih tangan kakaknya untuk salim sambil meminta maaf "maafkan adek ya kak". "Heum" jawab Risda acuh sambil menjitak kepala adiknya keras.
Sebetulnya Irsyad ingin sekali berteriak saat merasakan sakit dikeningnya yang dengan sengaja kakaknya ketuk dengan jari tangannya yang lentik itu namun rasa sakitnya tidak selentik tangan kakaknya sungguh sangat sakit.
Adi dan Nur yang dengan jelas melihat bagaimana Risda menjitak kepala Irsyad mengulum senyum mereka. Zay tidak melihat apa yang dilakukan Risda pada Irsyad karena terlalu asik dengan membaca berita di handphone miliknya, baru mendongakkan kepalanya kala Risda mengatakan "Risda berangkat ya". Zay menganggukkan kepalanya sekali dan tanpa sengaja melihat Irsyad yang mengusap-ngusap keningnya yang sudah berubah warna kemerahan lantas Zay bertanya "kenapa kamu?"
"Kakak pak" Irsyad bermaksud ingin mengadu pada Zay namun Zay tidak mengopen aduan Irsyad itu.
Adi bangun beranjak menyusul Risda yang sudah keluar berada di depan rumah yang sedang memanasi kereta besar kesayangannya. Adi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Risda yang memakai dress gamis rapi lengkap dengan jelbab yang selalu melekat dikepala Risda kala Risda berada di luar rumah namun hendak mengendarai kereta besar kesayangannya.
"Risda" panggil Adi pada Risda yang terlalu fokus pada sepeda motor besar kesayangannya.
"Risda" panggil Adi lagi namun Risda tidak ada tanda-tandanya merespon panggilan dari Adi. Adi geramlah tentunya dua panggilan darinya Risda abaikan. Adi beranjak mendekati Risda lebih dekat lagi dan menyenggol lengan Risda dengan tas laptob miliknya.
Risda melihat kearah lengannya yang tersentuh kemudian melihat Adi yang berdiri tidak jauh darinya lantas kemudian mendongakkan kepalanya sekali bermaksud bertanya ada apa pada abangnya itu.
"Capek abang panggil dari tadi tidak nyaut-nyaut" ucap Adi sedikit geram.
Risda melihat Adi yang menggerakkan bibirnya sedang ngomong tapi Risda tidak tahu Adi sedang ngomong apa padanya karena Risda sedangkan memakai handseat di telinganya "iya abang, ada apa? tanya Risda tanpa rasa dosa sedikitpun setelah melepas handseat yang terpasang di telinganya.
"Simpan aja keretamu itu, abang antar sekarang".
"Nanti pulangnya gimana?".
__ADS_1
"Pulang sendiri".
Risda menghembuskan napasnya kasar "tidak mau, kecuali kita tukeran kendaraan aja bang, boleh?.
Adi menaikan sebelah alisnya, firasaratnya mengatakan Risda akan meminta hal-hal aneh seperti biasanya.
"Abang bawa motor Risda dan Risda yang akan membawa mobil abang" wajah serius.
"Enak aja kamu ya, main tukar-tukar. Tidak mau".
"Tidak mau ya sudah". Risda menaiki motor besar kesayangannya, memakai helm, menarik pedal gas dan melaju meninggalkan Adi yang sedang manarik napas panjangnya berkali-kali melihat kelakuan Risda yang begitu keras kepala itu.
Calling on
Bintang: "Assalamua'laiikum bang, saya izin terlambat ya karena harus kekampus dulu sebentar".
Calling of
Di parkiran kampus, Risda merasakan hampir semua mata memandang Risda aneh. Risda mengabaikan pandangan yang tertuju padanya. Baru saja Risda akan melangkah namun harus menghentikan langkahnya karena melihat mobil Bintang memasuki perkarangan parkir juga.
Bintang yang sifatnya begitu cuek tidak mempedulikan apa yang ada disampingnya. Risda datang menghampiri Bintang yang baru saja turun dari mobil. "Bintang" panggil Risda.
Bintang mendongak kepalanya melihat siapa yang memanggil dirinya itu. Bintang terdiam bagaikan patung saat melihat Risda antara percaya atau tidak melihat penampilan Risda yang sangat berubah itu. Bintang melihat Risda dari bawah keatas dari atas kebawah dengan tatapan tidak percaya karena ini baru pertama kali Bintang melihat Risda secantik ini.
Risda memukul bahu Bintang sedikit keras untuk menyadarkan Bintang yang terlalu terpana dalam memandanginya.
"Aduh" mengaduh Bintang sambil mengusap bahunya yang terasa perih akibat pukulan yang diberikan oleh Risda kepadanya. Bintang melihat Risda berlalu meninggalkannya ketakutan sendiri kalau Risda marah padanya. Bintang segera beranjak mengejar langkah panjang Risda itu.
Ini yang Risda tidak suka kalau dandanannya feminim sudah pasti pandangan terpana terpesona akan ia dapatkan. Risda melangkahkan kakinya menuju toilet terlebih dahulu untuk mengganti bajunya seperti stelan biasanya yaitu training dan sebuah topi di kepala yang tidak pernah terlupakan.
__ADS_1
Bintang melihat Risda yang melewati ruangan kelas menghentikan langkahnya dan memperhatikan Risda akan melangkahkan kakinya kemana.
Risda keluar dari toilet dengan stelan andalannya Bintang yang melihat Risda yang sudah mengganti bajunya menarik napas panjang, ini juga salah dirinya yang terlalu lama memperhatikan Risda tadi.
...****************...
Risda dan Bintang memasuki ruangan bersama-sama dan duduk di kursi yang bersebelahan dan dengan tampang datar dari masing-masing wajah mereka sehingga tidak ada yang berani menyapa ataupun mendekat. Mereka semua merasakan segan dan sedikit takut walau hanya sekadar menyapa.
Bintang dan Risda tidak merasa heran jika tidak ada orang yang berani mendekati mereka berdua karena sifat aura kejam mereka terlalu mendominasi tentunya.
Dosen masuk dalam ruangan melihat sepasang anak manusia yang duduk bersebelahan dengan muka sama-sama datar. Dosen itu merinding meraba tengkuknya dan kemudian menyuruh salah satu dari mereka untuk pindah "kalian berdua" tunjuk dosen itu pada Bintang dan Risda.
"Kami pak" tunjuk Bintang dan Risda pada diri mereka masing-masing.
"Iya kalian, salah satu dari kalian pindah keujung sana" menunjuk kursi yang masih kosong.
Risda bangun dan pindah duduk di kursi yang ditunjuk oleh dosen yang dihadapannya. Dosen itu memperhatikan pakaian yang Risda kenakan mengernyitkan dahinya bingung lantas lalu bertanya setelah Risda menduduki kursi yang telah dipersilahkan kepadanya. Kemudian dosen itu bertanya "kamu cewek atau cowok".
"Cewek pak" jawab Risna seadanya.
Dosen itu tidak menyadari ada sepasang mata yang menatap dirinya tajam.
"Untuk pertemuan selanjutnya kamu tahukan pakaian seperti apa yang harus kamu kenakan".
"Baik, saya paham pak" jawab Risda dengan tetap mempertahankan wajah datarnya itu.
Risda bermonolog dalam hatinya jika bukan karena tatapan mereka aku juga tahu pakaian apa yang seharusnya dikenakan. Risda membuang pandangannya jengah paling malas jika dirinya dikritik bagian pakaian.
BERSAMBUNG...
__ADS_1