
"Maafkan aku" ucap lirih Bintang.
"Kamu tidak salah, jangan meminta maaf padaku" tidak terima Risda akan permintaan maaf dari Bintang.
Beberapa menit berlalu keadaan masih terasa hening. Bintang dan Risda telah duduk di gerobak makanan yang menjual mie pangsit. Mereka berdua duduk dalam keadaan hening tanpa ada percakapan lagi sama sekali, hening terasa.
Kring. Kring. Kring. Suara dering ponsel Bintang.
"Dimana" tanya Adi.
"Gerobak mie pangsit".
"Masih di tempat tadikan?".
"Masih".
Sebenarnya Bintang ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan Risda namun apalah daya gara-gara ekpresi dan pengakuannya pada Risda tadi membuat suasana canggung, jadi Bintang membiarkan Adi dengan Rita menemuinya dan Risda.
"Riisdaaa" teriak Rita memanggil Risda.
Risda celingak celinguk sekilas mendengar ada orang yang memanggil dirinya dan tiba-tiba Rita sudah muncul dihadapannya, tentu saja itu membuat Risda tersentak kaget.
"Astaqfirullah" kaget Risda.
Adi dan Rita lansung duduk mengambil tempat mereka masing-masing yaitu Risda bersebelahan dengan Rita sedangkan Adi bersebelahan dengan Bintang. Posisi dua pasangan duduk saling berhadapan.
Baru juga Adi dan Rita duduk, pesanan mie yang dipesankan Bintang dan Risda telah sampai.
"Harumnya bau" ucap Rita kala mencium aroma mie pangsit.
Adi yang peka akan kemauan Rita juga memesankan dua porsi lagi untuk dirinya dan juga Rita.
Bintang dan Risda menambahkan kecap, saos dan cabe dalam mangkok mereka berdua dan mereka juga mengaduk-aduknya supaya apa yang mereka campurkan menjadi rata dan bercampur. Risda melilitkan mie di sendok ingin menyuaplan mie tersebut dalam mulutnya namun tatapan tajam dari Adi, Risda dapatkan lantas Risda bertanya "apa".
"Tungguin kami".
"Emangnya kami mau kemana?" tanya Risda dengan kening berkerut namun Risda meletakkan sendok yang dililitkan mie tersebut.
Tidak lama kemudian pesanan yang dipesankan oleh Adi telah sampai. Adi dan Rita melakukan hal yang sama yang dilakukan Bintang dan Risda tadi. Adi menyuapkan sesendok kuah dalam mulutnya. Kini tatapan tajam itu Bintang dan Risda layangkan pada Adi.
"Uhuk uhuk uhuk" tersedak Adi. Rita menyodorkan minuman untuk Adi minum, setelah minum baru Adi bisa ngomong kembali dan mempersilahkan Bintang dan Risda makan "ayok makan makan" persilhkan Adi.
Tidak ada jawaban dari Bintang dan Risda namun mereka melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda ulah Adi barusan.
__ADS_1
Beberapa menit berselang agenda makan mie pangsitpun telah selesai.
Adi sedang membayar tagihan apa saja yang baru saja mereka makan sedangkan Rita celingak celinguk melihat mainan apa yang menarik ia mainkan. Bukan permainannya yang tidak menarik tetapi Rita tidak mampu memainkan permainan ekstrim itu.
"Mau mencoba" tawar Risda pada Rita yang masih celingak celinguk.
"HEheheh" senyum konyol "tidak berani Ris, terimakasih".
"Sebelah pojokan sana, ada kelas latihan seni. Jika kamu mau".
"Mau mau mau" antusias Rita.
Adi kembali mendekati Bintang, Risda dan Rita mengernyitkan dahinya bingung "mau apa?".
Bintang bangun beranjak berdiri sambil menggandeng tangan Risda menuju tempat yang dimaksudkan Risda pada Rita tadi sedangkan Rita juga melakukan hal yang sama pada Adi yang masih dalam kebingungan mempertanyakan dalam benaknya Rita sang kekasihnya ini mau apa?.
"Kenapa, mau kemana?".
"Ikut saja, tidak usah banyak tanya"'.
Akhirnya Adi diam dan pasrah tidak mempertanyakan Rita maunya apa dan sekarang Rita mau membawanya kemana, Adi pasrah. Adi pasrah dalam kesenangan karena Rita menariknya dan mengenggam tangannya erat.
Dua pasangan itu telah sampai pada bagian seni yang dimaksudkan Risda tadi dan pilihan Rita jatuh pada bagian melukis.
Adi dan Rita memilih menggambar dari awal sampai dengan mewarnai sedangkan Bintang dan Risda pilihan mereka jatuh pada mewarnai saja.
Satu jam lebih berlalu dan sekarang dua pasangan itu sedang memandang takjub pada hasil seni mereka.
"Waw. Bagus sekali" girang Rita saat melihat hasil rajinan tangannya.
Adi tersenyum melihat Rita tersenyum.
Bintang dan Risda menatap datar pada Adi yang tersenyum-senyum melihat Rita yang bahagia tersenyum akan hasil lukisannya "mulai" ucap kompak Bintang dan Risda.
Rita tersadar dari senyumannya dan menatap Bintang dan Risda bergantian "mulai apa, Ris, Bint" tanya bingung Rita.
"Mulai gila" ucap kompak lagi Bintang dan Risda.
Sedangkan Adi yang kepergok senyum-senyum sendiri tadi menghentikan senyumannya dan beralih pandangan pada lain arah.
Beberapa detik berlalu. "Ada lagi yang ingin kamu beli, atau kunjungi" tanya Adi pada Rita dan Adi mengabaikan keberadaan Bintang dan Risda yang masih berada disitu.
"Itu" tunjuk Rita pada inai.
__ADS_1
Adi, Bintang dan Risda menatap jijik pada inai tersebut.
"Kalian pada kenapasih. Cantik pakai itu. Mau coba Ris" tawar Rita pada Risda.
"Tidak" tegas Risda.
"Yasudah". Rita menarik Adi untuk mengikutinya menuju inai tersebut.
Adi melihat proses pemakaian inai pada tangan orang lain terlebih dahulu sebelum selanjutkan inai tersebut akan terlukis indah pada tangan Rita.
"Sayang" panggil Adi.
Rita tidak menjawab hanya memandang Adi saja.
"Bukannya hanya orang yang mau nikah saja ya, yang boleh pakai itu".
"Yang belum niatan nikah juga boleh kok" jawab Rita enteng.
"Jadi kamu tidak ada niatan nikah sama aku" tanya sendu Adi.
Tukang yang inai tersebut telah menyelesaikan lukisannya pada tangan orang tadi dan sekarang ia akan melukis pada tangan Rita dan Rita yang sejak awal sudah duduk mengantri langsung menyodorkan tangannya untuk dilukis juga.
"Eh ngapain kamu pegang-pegang tangan calon istri saya" teriak tidak terima Adi karena tangan Rita dipegang oleh tukang inai yang kebetulan seorang laki-laki sehingga orang-orang sekitaran situ yang mendengar teriakan Adi langsung mengalihkan atensinya pada Adi dan Rita.
Bintang dan Risda juga masih berada diantara dekat situ juga mendengar teriakan Adi hanya menghembuskan napas mereka. "Apakah mereka telah resmi pacaran? " tanya Bintang pada Rita.
"Tidak tahu".
"Apakah kamu juga mau pakai itu juga" tanya Bintang pada Risda.
"Tidak. Ayok susul mereka" mengandeng dan menggenggam tangan Bintang kuat karena orang-orang semakin berdatangan membuat suasana menjadi padat.
Bintang dan Risda jalan bergandengan tangan sedangkan tangan mereka yang sebelahnya lagi mereka memegang eskrim yang baru saja mereka beli.
Bintang dan Risda melihat sekilas Rita yang sedang dipakaikan inai itu. Lalu mereka pergi berkeliling berdua meninggalkan Adi dan Rita berdua saja.
Cukup lama mereka berdua berkeliling "Bint" panggil Risda.
"Heum" deheman sebagai jawaban.
"Pulang yok".
Masih saja tidak ada jawaban dari Bintang namun kini Bintang yang mengandeng tangan Risda keluar menuju parkiran untuk pulang kerumah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...