
Bintang datang bersama dokter yang membawa peralatan apa saja yang dibutuhkan. Bintang bagaikan terpaku di tempat menatap pilu pemandangan di hadapan matanya yaitu pemandangan memandang mendamba yang Risda berikan pada Albert. Dada Bintang begitu nyeri menyaksikan pemandangan seperti ini. Bintang menyentuh dadanya yang terasa begitu nyeri.
"Maaf, pak. Permisi" izin lewat seorang dokter dan juga seorang perawat pada Bintang yang berdiri tepat diambang pintu, menghalangi perawat yang ingin memeriksa Risda.
Bintang tersentak kaget dengan suara yang berasal dari belakangnya dan segera menggeser tubuhnya dari ambang pintu membiarkan sang dokter masuk mengganti inpus Risda.
Bukan Bintang saja yang tersentak kaget namun Albert dan Risda juga kaget.
Risda merasakan tidak enak hati pada Bintang sempat menangkap pandang kesakitan mendalam dari pancaran mata Bintang. Risda sempat melihat mata Bintang sekilas.
Albert yang melihat dokter masuk dan juga melihat Bintang juga segera melepas tautan tangannya dari tangan Risda sambil tersenyum manis.
Deg. Jantung Risda tidak terkondisikan, berpacu kencang bahkan sangat kencang sekali.
Dadaku terasa nyeri gembira melihatmu tepat dihadapanku dengan senyum manismu terukir indah diwajah tampanmu. Jantung hatiku semakin berdebar melihat senyum merekahmu yang menghipnotis kesadaran jiwaku seakan logika berhenti untuk berfungsi hanya kekaguman tercipta akan dirimu. Salam dariku Risda Zay Akli untukmu sayangku, cintaku, Ahmad Alfarisi Albert. Risda Zay Akli.
Bintang yang melihat itu memalingkan arah pandangan matanya tidak ingin melihatnya, begitu sakit yang ia rasakan dan segera beranjak keluar ruangan.
Risda Zay Akli, kekasihku, cintaku. Apakah kamu tidak pernah melihat cintaku untukmu melebihi seorang persahabatan. Muhammad Bintang.
Albert melihat Bintang pergi begitu saja lantas mengikuti langkah kaki Bintang keluar. Albert mensejajarkan langkah kakinya dengan Bintang "Muhammad Bintang" panggil Albert. Namun Bintang tidak menghentikan langkah kakinya tetap terus melangkah.
"Risda Zay Akli" tersenyum "cantik ya" tersenyum lagi dan menatap kearah Bintang yang berjalan Cepat.
Dalam seketika Bintang menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Albert. "Maksud bapak?" tanya Bintang dengan tatapan tajam menghunus.
"Tidak ada maksud apa-apa" berpaling wajah menatap lurus kedepan lagi "sepertinya Risda suka sama saya".
"Jangan macam-macam kamu". Hilang sudah sebutan bapak untuk Albert sebagai gurunya, Bintang. Bukannya ia tidak sopan hanya saja kecemburan dan kemarahan sedang merasukinya.
"Hahahaha" Albert tertawa lepas menertawakan Bintang yang terlalu posesif pada Risda.
Phom. Tepukan keras mendarat di bahu Bintang. Tidak ada kesakitan yang Bintang rasakan. Bintang melihat kearah tangan Albert yang masih berada pada bahunya, kemudian Bintang beralih menatap Albert lebih tajam bagaikan mata elang.
Albert tersenyum tulus "saya tahu kamu tulus menyayangi dan mencintai Risda. Jangan khawatir saya sudah mempunyai calon istri kok".
__ADS_1
"Baguslah. Kalau sudah punya jadi tidak usah lagi memuji wanita saya". Bintang berlalu pergi begitu saja meninggal Albert di koridor RS.
*Lautan mendalam dalam hati, kepala mengudara pikiran melayang entah kemana, kaki melangkah menapaki bumi mengikuti kata hati dan pikiran. Berhenti sejenak menetral hati dan pikran dengan napas tersengal, tercekat tertahan di tenggorokan. Cinta tulus bagaikan lautan yang begitu luas dan tak berujung, begitulah cintaku padamu Risda.*Muhammad Bintang.
Albert melihat Bintang meninggalkan dirinya sendiri, tersenyum saja menatap kepergian Bintang. Dan Albert juga berbalik arah menuju tujuannya kembali yang belum sempai pada tujuannya.
Selang setengah jam berlalu Bintang kembali dengan membawa makan siang untuk Irsyad.
Bintang melihat Irsyad yang duduk di kursi tunggu tepat didepan rungan Risda. "Kenapa tidak masuk?".
"Tidak berani, bang".
Bintang tersenyum menanggapi dan merangkul Irsyad masuk dalam ruangan.
Risda tertidur sambil duduk di brankar pasien dengan bersandar pada dinding.
Ciiiieett. Suara pintu terbuka.
Risda membuka mata perlahan menatap datar dua pria tampan, adik dan sahabatnya yang baru saja kembali yang pergi entah kemana.
"Dari mana saja kalian?" tanya Risda dengan tatapan mengintimidasi.
Bintang mengangkat tentengan belanjaannya dan tetap merangkul Irsyad untuk melangkah maju kedalam.
Beberapa langkah Bintang melangkah, Bintang melepaskan rangkulan tangannya pada pundak Irsyad. Bintang menuju ke nakas meletakkan belanjaan yang baru saja ia beli.
"Apa kata dokter tadi?" tanya Bintang sambil meletakkan belanjaannya.
"Sudah boleh Pulang". Bintang refleks melihat tiang inpus yang sudah kosong.
"Kak" panggil Irsyad. Risda melihat kearah dimana Irsyad berdiri. "Kalau sudah boleh pulang kenapa kakak tidak pulang. Apa kakak udah mulai nyaman tinggal disini? Tanya Irsyad dengan nada sedikit pelan bagian pertanyaannya.
Deg.
Tajamnya monolog Irsyad saat melihat tatapan tajam sang kakak galak kesayangannya.
__ADS_1
Bintang melirik Irsyad sekilas dan kemudian menyodorkan sekotak nasi yang baru saja ia beli "makanlah".
"Terimakasih abang" ucap Irsyad sambil berbalik badan dan mencari tempat nyaman untuk makan nasi yang sangat enak kelihatannya.
Kemudian Bintang melihat kearah tangan Risda yang tidak ada lagi jarum inpus yang menancap. "Ini" menyodorkan nasi yang sama persis dengan Irsyad di hadapan Risda.
Risda menatap Bintang datar tanpa gerakan sama sekali.
Bintang tersenyum tipis "ini nasi tidak akan habis jika tidak kamu makan".
"Jadi makanlah. Sayang" sahut Irsyad lagi yang tiada diminta dan Irsyad memelankan kata sayang yang ia ucapkan.
Risda mendengus kesal pada adiknya sedangkan Bintang tersenyum girang dalam hati karena Irsyad telah mewakili dirinya mengungkap kata sayang pada Risda sang kekasih pujaan hatinya.
Bintang kembali lagi ke nakas untuk mengambil dua botol air meniral dan menyerahkannya pada Irsyad dan Risda. "Kalian makanlah. Aku akan mengurus administrasi dulu. Jangan bertengkar, dan kamu Irsyad jangan ganggu kakakmu" menatap Irsyad sekilas sambil memasukan pakaian terakhir Risda dalam tas.
Irsyad hanya mengangguk sebagai jawaban tidak mungkin Irsyad bisa menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Hampir setengah jam berlalu dan Bintangpun kembali ke ruangan menjemput Risda dan membawanya pulang.
Irsyad dan Risda telah siap makan dan dua-duanya sedang sangat fokus menatap televisi yang bernyala menampilkan tayangan kartun lucu. Bintang diam memperhatikan adik kakak yang tumben-tumbennya akur tidak berkelahi.
"Ehem" Bintang berdehem keras.
Irsyad dan Risda tersentak kaget. Risda menatap Bintang sekilas dengan tatapan datar dan kemudian turun dari brankar pasien sedangkan Irsyad sendiri yang sedang tiduran santai diatas sofa tersentak kaget langsung berdiri kemudian berucap istiqfar sambil mengelus dadanya sendiri.
"Sudah bisa kita pulang?" tanya Bintang.
"Sudah" jawab Irsyad dan Risda kompak.
Sebelum keluar ruangan Risda terlebih dahulu memakai masker yang diberikan oleh Bintang, supaya hidungnya tidak menghirup polusi debu yang bisa saja mengakibatkan infeksi.
Ketiga pasang kaki melangkah beriringan keluar dari RS menuju parkiran.
BERSAMBUNG...
__ADS_1