Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Kumat Rindu


__ADS_3

Phom phom phom gedoran pintu terdengar keras dan nyaring masuk ke pendengaran. Risda yang mendengar suara gedoran di pintu semakin keras mendengus kesal yang tidak sabaran dalam hal mengetok pintu.


Risda sangat malas beranjak membuka pintu, baru juga Risda berdiri namun Rita yang lebih dulu membuka pintu kamar dengan keadaan mukena yang acak-acakan dan di tambah lagi sisa iler dari Rita yang masih sedikit membekas di sudut bibir Rita sambil berteriak "geeempaaa".


Rita berlari dengan tenaga ekstra cepat sambil berteriak berkoar-koar berlari-lari mengitari dalam rumah, dari pintu depan ke pintu belakang, dari pintu belakang ke pintu depan.


Adi yang menggedor pintu tidak tahu adanya keberadaan Rita jadi bingung dengan tingkah Rita.


Risda pusing dan geram bukan kepalang pada Rita. Risda berdiri santai di ambang pintu kamarnya, melirik sekilas pada Adi yang berdiri bagaikan orang bodoh, melongo heran alias bingung tak tahu-tahu apa "tangkap bang" ucap Risda santai.


"Apanya yang harus di tangkap" Bingung yang Adi rasakan semakin menjadi-jadi.


"Tu" menunjuk dengan dagu pada Rita.


"Geeempaaa aaaa" Rita masih berteriak keras dan berhasil membuat seisi penghuni rumah heboh kecuali Adi dan Risda.


Irsyad, Nur, dan Zay berlari kocar kacir keluar rumah dengan adanya teriakan dari Rita sedangkan si dalang buat ulah yang berteriak masih berlari putar-putar dalam rumah.


"Tangkap si Rita, abang" geram Risda "sebelum sekampung nanti panik dengan ulah si Rita".


Adi tidak merespon ucapan dari Risda malah masih terbengong bagaikan orang bego melihat Rita yang masih berlari.


Hap


Risda menangkap Rita dengan mencekal tangan Rita dan mengusap wajah Rita berkali-kali supaya sadar kembali. Sedangkan Adi hanya jadi penonton.


Diluar rumah, Irsyad, Nur dan Zay sedang berdebat non faedah penyebab mereka berlari keluar rumah disebabkan ada yang berteriak gempa sesampainya mereka di luar rumah keadaan di luar aman-aman saja tidak ada tanda apa-apa.


"Mana gempanya ma?" tanya Irsyad pada Nur yang sama-sama bingung dengannya.


"Hah" menoleh pada Irsyasd dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Gempa mana bisa dilihat" sahut santai Zay.


"Jadi" tanya Nur yang masih bingung.


Zay yang cepat tanggap akan keadaan mencoba memberi pengertian pada anak dan istrinya yang masih saja bingung. "Ma, coba deh mama lihat ke sekeliling mama, tetangga atau di jalan sana ada tidak, orang yang lari kalang kabut keluar dari rumah mereka".


Nur mengarahkan pandangan matanya kesekelilingnya dimana tempat yang di tunjuk oleh Zay padanya, namun Nur melihat keadaan di sekelilingnya aman-aman saja malah cenderung masih sepi. Irsyad mendengar penuturan pengertian yang diberikan oleh Zay kepada Nur ikut mengedarkan pandangannya melihat keadaaan.


"Sial" umpat Irsyad tanpa sengaja dan kemudian karena umpatannya ia mendapatkan tatapan maut dari orang yang ia sangat sayangi. "Heheheh, maaf mak, pak, adek tidak sengaja" menampilkan senyum mamelas, takut terkena hukuman dari orangtuanya.


Dua tarikan napas kasar terdengar bersamaan dari orang yang berdiri tepat di samping kiri dan kanannya yang mampu membuat Irsyad meremang takut seketika. "Masuk" ucapan dingin kembali terdengar secara bersamaan antara dua orang itu yaitu Nur dan Zay.


Irsyad tidak berani menjawab perintah dari orangtuanya takut akan hukuman dari kesalahan mulut yang mengeluarkan umpatan serapah dikarenakan ada yang mengeprenk keluarganya di pagi-pagi buta. Sebetulnya Irsyad tahu orangtuanya juga kesal bukan main akan teriakan gempa barusan. Irsyad melangkahkan kakinya masuk kembali dalam rumah.


Adi melihat Irsyad, Nur dan Zay masuk dalam keadaan muka betek mengernyitkan dahinya bingung kapan ketiga orang ini keluar pikirnya yang tidak melihat sama sekali ketiga orang itu keluar. Mulut Adi sungguh gatal ingin menanyakan dari mana ketiga orang itu kembali "dari mana?".


"Siapa yang berteriak gempa tadi?" balik tanya Nur.


"Dia" jawab Adi dan Risda sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.


"Maaf Rita tidak sengaja" menunduk takut.


Bintang tiba memasuki rumah bermaksud ingin menjemput Risda pergi ke kampus bersama tidak mengetahui jika Rita menginap disini langsung masuk kedalam rumah dikarenakan pintu rumah terbuka lebar. Berlalu masuk sambil mengucapkan salam "Assalamu'alaiii" belum juga Bintang selesai mengucapkan salam harus mengehentikan salam yang ia berikan dan langkahnya juga harus Bintang hentikan saat melihat pandangan mata aneh tertuju pada Rita.


Zay melihat kedatangan Bintang yang mengisyaratkan kebingungan apa yang telah terjadi mengkhiri kebingungan Bintang dengan bertanya pada Nur "Ma, sarapannya udah siap?.


"Sudah pa".


"Ayok kita makan dulu" ajak Zay.


Nasi goreng berdampingan dengan telor mata sapi bersanding indah diatas piring yang hanya pandangan kosong yang Risda berikan. Pikirannya bergelanyut akan siksa yang menyiksa jiwanya.

__ADS_1


Lautan mendalam dalam hati, kepala mengudara pikiran melayang entah kemana, kaki melangkah menapaki bumi mengikuti kata hati dan pikiran.


Rindu mengapalah duikau merayu, mendomisilikan  diri di hatiku, menggeparkan isi pikiraku dengan wajah manismu. Apa yang telah kau lakukan padaku, hatiku telah kau curi, pikiranku telah kau racuni. Dimanakah dirimu?, sungguh rindu di hatiku begitu menggebu ingin bertemu.


"Hey bangun" teriak Adi keras yang berhasil membangunkan Risda dari lamunannya.


"Hah" Risda melongo bodoh sekilas dan langsung menetralkan kembali ekpresi datarnya. "Apa?" tanya Risda singkat.


"Makan sayang, dimakan nasinya" sahut Zay yang juga melihat Risda yang asik melamun".


"Iya pak".


Satu suap nasi telah berpindah dalam mulut Risda dan lamunan Risda kembali menyelam.


Cinta tulus bagaikan lautan yang begitu luas dan tak berujung. Hati yang sabar semestinya bagaikan lautan dalam, yang bermula pasir seperti desiran rasa kemudian semakin jauh kapal berlayar semakin dalam lautan tersebut begitupun dengan rasaku yang begitu dalam menyelam.


Semua yang ada di ruang makan telah menyelasaikan tugasnya dengan menghabiskan sarapan yang telah tersaji kecuali sarapan yang seharusnya Risda habiskan yang masih banyak tersisa dan semua yang berada di ruang makan tersebut saling pandang melihat Risda yang kembali tenggelam dalam lamunannya.


"Risda" teriak semua yang ada di ruang makan.


"Astaqfirulah" Risda beristiqfar sambil mengelus dadanya yang sedikit kaget. "Apa" tanya Risda santai.


"Makan" teriak lagi semua yang ada di meja makan kecuali Bintang yang hanya menatap dengan tatapan datar saja seperti biasanya.


"Kompak banget sih" gumah lirih Risda yang masih terdengar seluruh orang yang masih terduduk di kursi meja makan.


"Makan" teriak orang-orang kesayangan Risda lagi yang begitu kompak menyuarakan suaranya.


Mata Risda mengarah satu persatu pada orang  yang meneriakinya untuk makan.


Risda menggantikan ekspresi datarnya menjadi tampang cengengesan sebentar lalu kembali dengan ekspresi datarnya. Risda melahap habis sarapan paginya seperti orang keserupan yang kemudian di suguhi tatapan bingung oleh yang lain.

__ADS_1


Bintang tersenyum samar melihat cara makan Risda seperti saat dirinya sehabis atihan. Bintang menyodorkan minum pada Risda yang disambut segera oleh Risda.


BERSAMBUNG...


__ADS_2