
Risda berlari melewati dua pria tampan yang menatap dirinya satu dengan senyuman dan satu lagi degan kebingungan. Risda lari dengan secepat kilat memasuki kamar mandi dan tidak lupa rampasan handuk yang ia lakukan terlebih dahulu.
Dia tersenyum batin Adi berteriak karena mata Adi melihat senyuman perdana Bintang dan hanya Risda, adikku yang bisa membuat muka datar itu tersenyum. Tingkah Risda imut sih tadi, tapi kenapa hanya mesti Risda, ada banyak tingkah imut lainnya seperti tingkah Rita misalnya sang kekasihku batin Adi berteriak.
Adi menggeleng-gelengkan kepalanya, atas kejutan yang ia terima pagi ini bukan karena senyuman perdana Bintang saja dan juga kata mantra ajaib apa yang Bintang bisikan pada Risda.
Adi melihat Bintang yang masih senyum-senyum sendiri sambil matanya menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup. "Kata mantra apa yang kamu ucapkan tadi?. Dan kenapa kamu mudah sekali dalam membangunkan Risda?. Dan".
"Dan apa lagi" tanya Bintang yang telah berubah mode datar kembali. Kembang senyum Bintang hilang entah kemana, Adi tidak menyadarinya sejak kapan senyum Bintang hilang.
Bintang berlalu pergi begitu saja tanpa memikirkan Adi yang masih sibuk dengan pikiran kebingungannya.
Bintang melangkahkan kakinya menuju dapur, menemui Nur yang sibuk dengan aktifitasnya. Adi juga tidak tinggal diam ingin mengikuti langkah Bintang tapi gayung yang berisi air di tangannya tidak mungkin Adi bawa keluar juga lantas Adi berlari mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya beberapa kali setelahnya gayung yang berisi air itu Adi letakan begitu saja didepan pintu kamar mandi setelah sebelumnya berteriak "hati-hati ada air didepan pintu" kemudian Adi keluar kamar Risda, menutup pintu kamar dan kemudian mencari keberadaan Bintang.
Adi begitu penasaran mantra apa yang diucapkan oleh Bintang, kata apa yang diucapkannya tadi.
Adi telah menemukan keberadaan Bintang yaitu Bintang sekarang berada dekat dengan Nur yaitu Bintang membantu Nur di dapur. Adi yang melihat Bintang berada dekat dengan Nur menjadi tidak jadi menanyakan hal mantra yang Bintang ucapkan lantas Adi juga ikut membantu Nur.
Waktu sepuluh menit lagi menunjukan pukul delapan tepat, Risda baru keluar dari kamar dalam keadaan wangi namun acak-acakan yaitu jilbab, tas, dompet, hp Risda tenteng semua ditangannya dan kemudian Risda berlari ke rak sepatu sambil berteriak "BINTANG AYOO CEPAT, KITA TERLAMBAT".
Bintang yang mendengar teriakan menggema dari Risda segera menghampiri Risda dengan membawa sekotak bekal makanan untuk Risda.
Phoom. Suara pintu mobil yang dibanting keras oleh Risda.
Risda hanya melihat kelakuan Risda yang tidak aneh lagi menurut Bintang dan Bintang juga mengikuti langkah Risda memasuki mobilnya. Risda dengan mudah masuk dalam mobil Bintang dikarena pintu mobil Bintang tidak Bintang kunci sewaktu ia turun tadi.
__ADS_1
Setelah Bintang berada dalam mobil dan duduk dikursi dan Risda duduk tepat disamping Bintang. Bintang menyodorkan kotak bekal pada Risda yang sedang menunduk memakai kaos kaki pada kakinya sendiri.
"Apa itu?" tanya Risda tanpa mengalihkan pandangannya pada kakinya.
"Bekal. Setelah itu makanlah".
"Heum" deheman seperti biasa jawaban dari Risda.
Bintang melajukan mobil santai mengutamakan keselamatan mereka berdua.
Risda yang telah selesai memakai sepatu dan jelbabnya juga sudah rapi sekarang sedang memakan bekal yang telah disiapkan menjadi kesal sendiri karena Bintang melajukan mobil terasa lambat bagi Risda.
"Ngebut Bint" perintah Risda.
"Ngapain?".
"Tau" jawab Bintang santai.
Maafkan aku ya sayang, tidak apa bagiku kita terlambat barang sejenak asal aku bisa berdua denganmu batin Bintang bersuara memberitahu Risda yang jelas-jelas Risda tidak bisa mendengar bahasa batin Bintang.
Risda yang sedang memegang kotak bekal tersebut sambil mendekatkan kotak bekal itu ke mulutnya, memakan nasi dengan suapan santaimengg dengan menggunakan sendok, supaya makanan itu saat masuk dalam mulut Risda tidak tumpah saat Risda memakan nasi yang tersedia dalam kotak bekal tersebut, kemudian Risda meletakan sekotak bekal nasi itu kasar pada pangkuannya "apa perlu kita tukaran posisi Bint" tanya Risda dengan wajah datarnya kini semakin datar karena kesal.
Bintang tersenyum simpul melirik sekilas Risda yang duduk disebelahnya.
"Aku tidak menyuruhmu senyum" memukul bahu Bintang "tambah kecepatannya".
__ADS_1
"Iya sayangku".
Risda mendengus kesal dengan panggilan sayang Bintang. Bintang menekan pedal gas sedikit dalam yang kemudian melajukan mobil semakin cepat.
Kini Bintang dan Risda telah sampai di ruangan yang membuat rekan-rekan yang lain melihat aneh pada Bintang dan Risda yang tumben-tumbennya sepasang pasangan datar ini terlambat masuk ruangan, kini mereka masuk ruangan melewati waktu yang seharusnya.
Bintang dan Risda yang tidak pernah terpisah bagaikan lem dan prangko yang tidak pernah terpisah sehingga membuat rekan-rekan yang ada dikampus menganggap mereka adalah sepasang pasangan datar yang tidak pernah tersenyum namun sangat cerdas. Itulah perspektif rekan-rekan Bintang dan Risda menganggap mereka.
"Wiiih. Tumben pasangan datar kita ini terlambat" teriak salah satu mahasisiwa ingin menggoda Bintang dan Risda "apa gerangannya ini".
"Sini dulu" Risda memanggil rekannya yang berteriak-teriak itu sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Heheh" tersenyum canggung dan kemudian duduk manis sambil berpaling wajah tidak berani melihat karena takut akan tatapan maut yang diberikan Bintang.
"HAahhhahaha" tertawa seluruh ruangan menertawakan rekan mereka yang baru saja berteriak-teriak tadi mendadak menciut hanya karena tatapan dari rekan mereka yang lain yaitu Bintang "Wuuuuuu" teriak lagi.
Beberapa menit berlalu, dosen masuk ruangan sehingga seluruh mahasiswa dan mahisiswi kecuali Bintang dan Risda menghentikan tawa ejekan mereka. Lalu kemudian membagikan lembaran soal dan kertas kosong untuk mengisi soal jawaban mereka,
Seratus menit waktu untuk menjawab soal yang tertera dalam lembar pertanyaan. Soal yang tersedia hanya lima namun beranak pinak sampai tiga keturunan. Berbagai macam reaksi dari para mahasiswa dan mahasiswi, ada yang memegang kepala, ada yang mengayun ayunkan polpen, ada yang membuat lembar jawaban sebagai kipas dan ada juga yang langsung fokus. Sedangkan reaksi Bintang dan Risda hanya mengangkat alis mereka serentak dan langsung menjawab setiap pertanyaan mereka dalam bentuk jawaban kata yang tertulis.
Bintang dan Risda adalah langganan duduk dibaris terdepan selalu dan sangat mudah bagi dosen tersebut melihat reaksi mereka. Dosen itu hanya hanya bisa tersenyum simpul sambil membatin kompak.
Dua puluh enam menit berlalu, Bintang dan Risda meletak polpen mereka secara bersama-sama tanpa ada instruksi sebelumnya, dan mereka juga bangun secara bersamaan menuju meja dosen yang ada di depan mereka untuk mengumpul lembar jawaban yang telah mereka jawab.
"Kalian berdua benar-benar kompak ya" pernyatan dosen pada Bintang dan Risda. Bintang dan Risda hanya saling pandang sesaat dan meminta izin langsung keluar ruangan.
__ADS_1
Seratus menit kelebihan waktu bagi Bintang dan Risda jika hanya menjawab pertanyaan yang emang Bintang dan Risda telah memahaminya. Bintang dan Risda yang sama-sama memiliki otak cerdas, IQ tinggi jika mempelajari sesuatu cukup sekali belajar langsung melekat dikepala mereka.
BERSAMBUNG...