Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Jatuh


__ADS_3

"Tidak usah melihatnya terus" sarkas Bintang menghentikan Risda menatap Albert lama.


"Apaansih, Bint".


"Jangan cari masalah Riis" peringat Bintang.


"Iya" jawab Risda singkat.


Albert melihat arah mata Risda tidak lagi menatapnya memilih masuk kembali dalam ruangannya mengajar. Albert sedang memberikan pertanyaan kuis pada mahasiswa dan mahasiswinya salah satu mahasiswi yang sedang mengikuti kelas Albert adalah Safira salah satu sahabat Risda dan juga teman Albert.


Segenap pertanyaan kuis yang diberikan Albert telah dijawab tuntas oleh mahasiswa dan mahasisiwi, maka dari itu mereka semua mengumpulkan lembar jawaban mereka dan beranjak keluar dari ruangan satu persatu.


Arah pandangan mata Risda kembali fokus pada ruangan yang ada Albert di dalam, Bintang yang melihat pandangan Risda kembali tertuju pada suatu objek yang membuat dadanya nyeri sakit akan tatapan mendamba pada pria lain selain dirinya.


Risda tidak menghiraukan tatapan tidak suka dari Bintang. Risda terus memperhatikan para mahasiswa dan mahasiswi keluar dari ruangan tanda pelajaran telah usai. "Safira" pekik Risda girang.


Semua orang tersentak kaget dengan suara Risda yang keras hampir setara sama dengan suara toa madrasah yang begitu menggelegar. Tidak ada kecualinya Albert dan Bintang juga ikut kaget dengan suara Risda.


"Bint, aku temui Fira sebentar ya" izin Risda pada Bintang, Risda bangun dan berdiri. "Jangan tinggalin aku sendiri, kalau mau pulang bilang" peringat Risda. Setelah itu Risda berlari menemui sahabat sekaligus guru mengaji Risda yang diam-diam mengajari Risda ilmu agama Allah.


"Hy, Risda Zay Akli, murid tomboyku" ucap Safira sambil memeluk Risda.


"Ish, ummi ini, kalau mau panggil murid ya murid aja tidak usah ditambah tomboy lagi".


Safira tidak menjawab protes manja dari Risda hanya terkekeh pelan saja.


Cukup lama Risda dengan Safira berbincang menukar kabar satu sama lain. Suara dering ponsel dari Risda harus menghentikan kebersamaan dari mereka.


"Pulang sekarang?" tanya Risda melalui sambungan teleponnya.


"Heum" deheman seperti biasa sebagai bentuk jawaban dari Bintang.


"Sebentar, aku permisi dulu ya. Tunggu lima menit lagi aku nyusul kamu, Bint".


"Lah. Dasar si Bintang ini cueknya tidak ketulungan. Belum juga aku selesai bicara main tutup aja sambungannya" gumam lirih kesal Risda yang masih di dengar oleh Safira.


Safira terkekeh pelan dan balik mengatai Risda yang mengatai Bintang "Riis, kamu sadar ngak? kamu dengan Bintang cueknya sebelas duabelas cuma beda tipis. Kalian itu sama-sama cuek, ngak usah ngatain Bintang cuek lagi".


"Eh itu si Bintang datang" menunjuk kearah Bintang dengan dagu dan "eh" mencolek Risda dengan telunjuk di bagian bahu "tapi ngomong-ngomong kalian cocok jadi pasangan deh" terkikik sediri.

__ADS_1


Risda tersenyum simpul menanggapi ocehan Safira sahabatnya sekaligus gurunya.


Brum brum brum. Suara motor besar kesayangan Risda yang sedang dikendarai oleh Bintang berhenti tepat dihadapan Risda dan Safira yang sedang mengobrol dan becanda ringan.


"Fir, aku gerak duluan ya". Risda menaiki motor sambil memegang bahu Bintang supaya tidak terjatuh.


"Hati-hati Ris".


"Iya Fir. See you next time" sambil melambaikan lambaikan tangan.


Bintang melajukan motor sedang, menikmati momen kebersamaannya bersama Risda karena jarang sekali ia menikmati waktu seperti ini bersama dengan Risda.


Apa yang terjadi hari ini adalah kenyataan, yang terjadi kemarin ialah kenangan dan yang akan terjadi esok ialah impian.


Apa yang terjadi hari ini adalah kenyataan bahwa aku mencintaimu dalam diam seorang, yang terjadi kemarin adalah kenangan kau dan aku dan yang terjadi esok adalah harapan impian kau dan aku menjadi kita di suatu hari nanti.


MUHAMMAD BINTANG


"Riiis" panggil teriak Bintang


"Haa" jawab Risda yang tidak bisa mendengar jelas Bintang ngomong apa karena angin.


"Boleh".


Bintang kembali menancapkan gas melajukan motor lumayan kencang, Risda yang terbiasa membawa motor ngebut-ngebut dijalan terlihat biasa saja saat kini Bintang yang membonceng dirinya juga ngebut dijalan raya.


Bintang menambah kadar sabar dalam dadanya harapannnya saat dirinya ngebut dijalan raya kebiasaan yang ia lihat pada orang lain akan ada adegan memeluk erat sedangkan Risda hanya memegang bahunya saja itupun Risda memegangnya dengan sebelah tangan, "dasar cewek tomboy" gumam lirih Bintang.


"Haa?, apa Bint?" tanya Risda tidak mendengar jelas suara Bintang yang sayup-sayup seperti sedang bicara.


Tidak ada sahutan ataupun kata berupa jawaban malah Bintang makin meng gas pedal motor sampai habis.


Risda menyadari motor yang ia naiki sedang dalam mode ngebut menambah satu tangannya lagi pada bahu Bintang, takut dirinya terbang kebelakang karena Risda sadar diri, berat tubuhnya yang ringan, bisa jadi ia akan terbang seiring angin yang menerpa tubuhnya.


Sampailah mereka di pabrik Adi.


Bintang segera berlalu masuk kedalam pabrik menuju ruangan CEO menemui Adi abangnya, sedangkan Risda sedang merapikan jelbabnya yang berantakan tertiup angin.


Setelah Risda rasa jelbabnya kembali rapi, Risda melangkahkan kakinya masuk kedalam pabrik dan menuju ruangan abangnya yang berada di tingkat teratas.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" salam Risda sambil membuka pintu namun Risda tidak menemukan satu oranngpun dalam ruangan.


Risda celingak celinguk mencari keberadaan orang dan kebetulan Risda berpapasan dengan salah satu staf "pak" panggil Risda sopan.


"Iya dek" menghentikan langkah.


"Bapak ada lihat, abang saya dan sekertarisnya ngak?" tanya Risda.


"Oh bos dan sekretaris ada di ruang rapat dek".


"Oh, gitu ya pak. Makasih ya".


"Iya dek, sama-sama".


Risda memilih masuk kedalam ruangan Adi dan menunggu. Risda duduk di sofa sambil mengerjakan beberapa tugas dari kampus dan lanjut membuat naskah novel.


Beberapa jam berlalu, Risda mulai jenuh dengan menunggu dan semua tugas kuliah sudah Risda selesaikan semuanya sambilan menunggu. Jenuh terasa kala kegiatan tidak mendampingi, akhir cerita Risda memilih merebahkan diri pada sofa yang sedang ia duduki.


"Uhh, leganya" gumam keluh lirih Risda saat meresakan kenyamanan menderai puggungnya.


Satu jam berlalu. Adi dan Bintang kembali dalam ruangan sambil membawa beberapa berkas yang harus dimusyawarahkan lagi oleh mereka berdua.


Ceklek. Pintu ruangan dibuka oleh Adi.


Adi dan Bintang saling berpandangan melihat Risda yang tertidur pulas disertai kertas-kertas yang berserakan diatas meja dan tidak lupa pula keabord blootoot yang bisa ia sambungkan dengan hp nya masih menyala tanda lampu berwarna biru pada keaboard masih berkedip-kedip pelan.


Adi dan Bintang membiarkan Risda tidur dan mereka juga kembali melanjutkan diskusi mereka tentang pabriknya yang terkendala kerusakan pada mesin.


Risda yang memiliki badan tinggi mengalami kesulitan saat mengeliat merentang kaki dan tangannya yang bersamaan.


Phooom.


Risda terjatuh dari sofa dengan posisi telungkup.


"Astaqfirullah" terkejut Adi.


Adi dan Bintang segera beralih pandangan mereka pada Risda yang merintih kesakitan pada siku dan hidungnya yang mancung tidak sengaja mencium lantai kasar.


Air mata Risda berderai berjatuhan tanpa izin, tangan Risda langsung menutup lubang hidungnya yang merasakan ada cairan yang keluar.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2