Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Evaluasi


__ADS_3

"Pak permisi. Bagaimana, apakah korbannya sudah ditemukan?" tanya Risda pada salah satu tim, karnet mobil derek.


Sang karnet bukannya menjawab pertanyaan dari Risda malah sibuk melamun memandangi Risda tanpa berkedip sama sekali. Risda tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya memilih tidak bertanya dan melangkahkan kaki menuju tepian jurang, beberapa tim terlihat dengan tali pengaman turun perlahan untuk pengevaluasi mobil Bintang terlebih dahulu dan sebagian tim lainnya tetap mencari keberadaan Bintang.


Hampir tiga jam berlalu mobil Bintang telah berhasil diangkat keatas dalam keadaan tidak berbentuk lagi. Nur berteriak keras "anakku. Binntaanggggg" melihat keadaan mobil, terbayang lintas buruk bagaimana nasib Bintang, sangat kecil kemungkinan selamat.


Nur berteriak-teriak dan menangis sedari tadi. Adi dan Zay juga menangis tanpa suara sedangkan Risda tidak ada satu tetespun airmata yang lolos dari kelopak matanya, malah raut wajah Risda datar seperti biasanya namun tidak dengan hati Risda yang sudah menangis histeris sama seperti Nur. Kepala tim pengevaluasi mendatangi Zay mengatakan pencarian harus dihentikan sementara waktu karena para tim sudah kelelahan hendak beristirahat sebentar.


"Tiiiidaak. Jangan berhenti. Tolong cari anakku. Cari anakku. Anakku. Bintang" Nur malah  yang menjawab.


Phom. Nur jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Adi segera mengangkat dan mengendong Nur menuju ambulance, seorang dokter dan dua perawat yang sedari tadi sudah ada disana untuk pertolongan pertama pada korban. Risda melihat Nur yang sudah berada dalam gendongan Adi segera mendekati Zay bapaknya.


"Pak" lirih Risda.


"Pencarian akan diberhentikan sementara" ucap Zay sambil merentangkan tangan ingin memeluk Risda guna untuk memberi kekuatan pada Risda tetapi Risda malah berbalik arah berjalan melangkahkan kaki menuju tim evaluasi yang satu persatu naik permukaan atas jurang kembali. Risda segera mengambil alih paksa tali pengaman yang baru saja dilepas oleh salah satu tim.


"Dek. Jangan aneh-aneh. Jangan menambah beban pekerjaan kami" ucap salah satu anggota tim yang Risda rebut paksa tali pengaman darinya.


"Kalian yang lambat. Membuatku menunggu lama" jawab bentak marah Risda, sudah tidak mau menunggu lagi.

__ADS_1


Klik. Klik. Klik. Suara Risda yang memasangkan tali pengaman pada tubuhnya dengan gerakan secepat kilat. Dalam secepat kilat Risda sudah melompat menghilang dalam gelap juram jurang.


"Deeeek" teriak hampir seluruh anggota tim yang melihat Risda melompat, terjun bebas kebawah sana. "Pak. Ini anak bapak melompat kejurang" teriak salah satu anggota tim.


Jantung Adi dengan Zay seakan berhenti saat mendengar Risda yang nekat turun sendiri mencari Bintang dibawah sana sedangkan Nur tidak mengetahui bahwa Risda ikut terjun kebawah mencari Bintang karena dalam keadaan belum sadarkan diri dari pingsan. Adi dan Zay segera berlari meninggalkan Nur begitu saja untuk melihat Risda yang benar-benar hilang dalam gelap juram jurang itu "Riisdaaaaaaa" teriak Adi dan Zay yang sudah sama-sama tidur tengkurap dipinggir jurang itu.


"Pak. Pak, jangan dekat-dekat pinggir" salah satu anggota tim menarik Adi dan Zay dari pinggir bibir jurang.


Adi dan Zay terduduk lemas sudah berada di jalan pinggiran jurang, memeluk satu sama lain saling menguatkan, sama-sama menangis ketakutan kehilangan.


Gelapnya malam, dalamnya jurang, sedikit demi sedikit kini mulai diteranginya dengan hadirnya fajar dan akan segera digantikan dengan sinar matahari yang siap menerangi. Risda terus mencari-cari keberadaan Bintang dibawah sana. "Bintaanggg, Bintannggg. Bintanggg" teriak Risda mulai frustasi kuwalahan dalam mencari sudah beberapa jam terlewati tetapi masih tidak bisa menemukan.


"Aku datang, ini aku datang, sahabatmu Risda Zay Akli, datang menjemputmu untuk pulang bersamaku" bibir bergetar menahan tangis "maafka aku, kemarin membuatmu cemburu tanpa sadarku" terduduk bertumpu di kedua lutut sambil kedua telapak tangan menutup muka beberapa saat. "Bintanggg jangan tinggalkan akuuuu" teriak menggema Risda sampai terdengar samar-samar sampai keatas jurang sana.


Sedang dilain sisi Adi, Nur dan Zay yang mendengar samar-samar suara Risda sudah merasakan was-was, berpikir macam-macam apa yang terjadi pada Bintang dibawah sana.


Terdengar suara adzan berkumandang. Zay mengajak Adi dan Nur untuk shalat shubuh terlebih dahulu di pondok warga terdekat disitu, bukan hanya Adi, Nur dan Zay yang shalat disitu tetapi seluruh tim evaluasi dan polisi sat lantas yang berada disitu juga shalat disana dengan bergantian, mengingat ruang pondok yang tidak muat menampung semua orang sekaligus.


Kembali lagi pada Risda.

__ADS_1


Risda masih menangis sesegukan tiba-tiba Risda mendengar suara dengan kata "berisik" dalam seketika Risda menghentikan tangisnya. "Bintang" ucap lirih Risda.


"Diamlah. Berisik" ulang Bintang yang tiduran diatas rumput panjang sambil menahan sakit mulai perih di beberapa titik yang terluka.


Risda diam sejenak celingak celinguk kekiri dan kanan mencari keberadaan Bintang dan Risda menemukan Bintang yang beberapa meter dibawah lagi, hanya saja daritadi Risda tidak melihatnya dikarenakan tertutupi ranting pohon dan ditambah lagi pencahayaan yang kurang mendukung penglihatan Risda. Risda turun pelan-pelan menuju dimana Bintang berada. "Bintang tunggu aku. Aku datang" menahan tangis haru. Tangis Risda berganti dari tangis ketakutan takut kehilangan menjadi tangis haru.


Kini Bintang berada tepat dihadapan Risda dengan posisi Bintang tidur terlentang menutup mata.


"Bintang" panggil Risda "apa kamu dengar suaraku" mengenggam tangan Bintang yang terasa panas. Risda meraba-raba pada kantong celananya mencari hp bermaksud ingin meminta pertolongan menurunkan tandu kebawah malah hp Risda tertinggal dirumah, lantas Risda menarik-narik tali pengaman yang terpasang di badannya, memberikan kode butuh pertolongan.


"Risda, aku mencintaimu. Tolong jangan menyiksa dirimu dengan mencintai dia yang tidak mencintaimu kembali. Lihat aku yang sangat mencitaimu ini" membuka mata perlahan dan mengangkat tangan menyentuh wajah Risda perlahan sebelum kesadaran Bintang menghilang kembali.


"Iya. Aku melihat cintamu. Tetaplah terus mencintaiku dan bantu aku untuk mengambil alih cintaku hanya untukmu, Bintang sahabatku" ucap Risda sambil menangis. Risda terus mengajak Bintang bicara supaya kesadaran Bintang tidak menghilang sambil terus menarik-narik tali pengaman supaya pertolongan cepat datang menghampiri.


"Si nahkoda itu" lirih Bintang.


"Iya. Rajif".


"Jangan sebut namanya. Aku tidak sudi mendengarnya. Dia suka padamu".

__ADS_1


"Aku tahu. Jangan bahas soal dia, tidak penting". Risda ikut tidur berbaring disamping Bintang dan memeluk Bintang sambil mengeluh hal apa yang dari tadi mengganggu pikirannya "Bintang aku sangat takut kehilanganmu, jangan pernah tinggalkan aku. Aku mohon sampai kapanpun jangan pernah tinggalkan aku, tetaplah berada disisiku sampai maut menjemput kita berpulang kepada-Nya" sudah mulai menangis tersedu-sedu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2