Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Jangan Tertawa


__ADS_3

"Berhenti. Jangan mengejekku. Huuaaaa" menambah kadar tangis.


Nur dan Zay bukannya berhenti malah semakin tertawa terbahak-bahak melihat sisi kekanak-kanakan Adi yang menangis hanya karena hal sepele.


Risda diam tiada kata, celingak celinguk mencari keberadaan hp nya yang telah dilempar Adi tadi entah kemana dan Risda menemukannya berniat hati ingin memfoto Adi dan memvidio Adi yang sedang menangis terisak itu namun keadaan tidak memihak Risda kali ini yaitu hp Risda telah wafat meninggalkan dunia. Hp Risda mati diakibat kemasukan minyak panas dan ditambah lagi bantingan dahsyat dari Adi pada hp Risda.


Risda sibuk membolak balik hp nya sendiri mencoba memperbaiki menghidupkan kembali namun sebuah suara mengagetkan Risda "jangan peluk-peluk istriku" teriak Zay.


Risda melihat Adi yang sedang memeluk Nur meminta bantuan untuk membersihkan wajahnya sedangkan Zay berteriak-teriak sambil berusaha melepaskan rangkulan pelukan Adi pada Nur.


Risda diam hanya memantau tanpa niat membantu.


"Risda tolong mama, ammb....." belum siap Nur menyelesaikan katanya namun Risda langsung menjawab "tidak mau. Sudah ada bapak yang nolonginn mama" ucap Risda sambil mengeksekusi hp mengambil sim card yang tersimpan di hp.


"Tolong ambilkan minyak pembersih make up di kamar mama".


"Oo" jawab Risda enteng. "Minyak goreng bisa ma?" tanya Risda polos ingin memastikan.


"Tidak bisa" tegas Nur membenarkan.


"Kan sama sama minyak juga ma".


"Ambilkan sebentaaarrr" teriak Nur hampir kehilangan kesabaran karena menjadi bahan rebutan antara suami dengan anaknya.


Tiada kata dari Risda namun Risda berlalu mengambil apa yang dimintakan Nur. Sesampainya Risda dalam kamar Nur, Risda menatap bingung yang mana yang dimaksudkan Nur tadi, botol-botol make up Nur tertata rapi dan semua hampir sama dimata Risda sedangkan Risda seumur umur belum pernah menyentuh dan berkenalan dengan alat-alat make up.


Risda menemukan tas make up terletak di pojokan meja hias berisikan maskara dan lipstik yang tadi dipakai Irsyad pada Adi. Risda yang malas harus bolak-balik jika salah mengambil yang dimaksudkan Nur mengambil kesimpulan memasukkan semua botol-botol yang tertata diatas meja hias Risda pindahkan dalam tas make up.

__ADS_1


Dengan bangga Risda membawa dan menyerahkan satu tas make up tersebut pada Nur.


"Kenapa diambil semua" frustasi Nur yang ingin menangis juga. sedangkan Adi semakin erat memeluk Nur dan menambah kadar tangis yang kian belum mereda juga.


Risda hanya mengangkat alis dan kedua bahunya tanda tidak mengerti.


Nur mengambil tas meke up yang disodorkan Risda. Nur merogoh dan mencari apa yang ia butuhkan dan Nur menemukannya. Nur menatap Risda yang kemudian Risda juga menatap Nur.


Mengangguk kepala sekali maksud bertanya ada apa pada Nur.


"Kapasnya mana?" tanya Nur saat tidak menemukan yang ia cari dalam tas yang dibawakan Risda.


"Kapas apanya?" tanya Risda bingung "kapas bantal?" lanjut bertanya "kan bantal kita model busa semua ma".


"Buukaaannnn" teriak Nur, benar-benar frustasi kali ini "Kapas muka. Anak gadisku yang paling cantik, tapi kelakuan kayak lakik".


Risda mulai paham namun salah mengerti. Risda berbalik badan melangkah beberapa langkah dan membuka lemari kaca yang tersimpan kotak P3K dan mengambil kapas yang tersimpan disitu. "Nih" menyodorkan kapas pada Nur tepat dimuka Adi yang sedang dibanjiri air mata.


Bintang bersiap-siap pagi sekali ingin mengajak Risda berolahraga sesampainya Bintang dirumah Risda, baru juga ingin mengucapkan salam masuk rumah namun Bintang dikejutkan dengan suara teriakan memanggil nama Risda yang begitu menggema. Bintang langsung berlari masuk kedalam rumah yang kebetulan pintu tidak terkunci lagi dikarenakan telah dibuka oleh Irsyad, jadi memudahkan jalan Bintang masuk dan berlari kedalam rumah mencari asal teriakan suara menggema itu.


"Riiiisdaaaaa" teriak Adi, Nur dan Zay bersamaan.


Risda yang mendapatkan teriakan menggema terlihat biasa saja, tidak terpengaruh suara lantang menggema itu tertuju padanya, hanya mengedipkan matanya sekali dan beralih pandangan melihat Bintang yang tiba-tiba sudah ada. Risda melihat Bintang yang terlihat muka cemas khawatir yang Risda tidak tahu khawatir dikarenakan apa.


Bintang melihat Risda yang tidak kenapa kenapa bahkan Risda terlihat sehat wal afiat.


"Sejak kapan kamu datang?" tanya Risda pada Bintang.

__ADS_1


Tiga pasang mata lainnya memandang Bintang tiada berkedip. Arah mata Bintang tertuju pada Adi yang berada dalam dekapan Nur dengan linang air mata yang membanjiri wajah tampan kelihatan menor kelunturan make up.


Bintang memelototkan matanya tidak percaya akan penglihatannya. Bintang beralih menatap Risda sekilas dan beralih menatap Adi lagi. Bintang yang jarang tersenyum kiniĀ  tersenyum sekilas melihat keadaan Adi demikian. Senyum Bintang bukan hanya sekilas namun batin Bintang telah tertawa terpingkal pingkal sama halnya Risda yang bisa hanya batin yang tertawa.


Bintang segera beralih pandangan melihat kearah lain, tidak sanggup jika lama-lama melihat keadaan Adi.


Bintang beralih pergi menuju ruang makan meninggalkan apa yang baru saja ia lihat seolah ia tidak melihat apa yang terjadi.


Setelah kepergian Bintang, Adi melepas pelukannya dari Nur dan merampas paksa kapas yang masih berada pada genggaman Risda dan menatap tajam Risda yang tidak bersalah tapi salah. Dan Risda sendiri tidak mempermasalahkannya dan beralih mengambil lauk pauk yang baru siap dimasak dan membawa, menata di meja makan yang terletak di ruang makan tanpa mempedulikan lagi drama Adi.


Bintang dan Risda tidak lagi terlihat dalam pandangan Adi dengan masih sesegukan sisa tangis yang belum berhenti sempurna ia bertanya "ini gimana cara pakainya?" tanya Adi.


Nur mengambil kapas yang telah dirampas Adi pada tangan Risda tadi lalu Nur mengumpal kapas tersebut dan menuangkan cairan yang dari botol khusus pembersih make up dan menghapus perlahan make up yang tertempel di wajah Adi.


Tidak lama, belum juga melewati dua menit waktu berlalu, kini wajah tampan Adi tidak tertutupi make up lagi.


"Sudah" Nur menepuk bahu Adi "ayok makan" ajak Nur.


Zay yang daritadi hanya diam memperhatikan proses pembersihan yang dilakukan Nur pada Adi, kini juga ikutan mengikuti Adi dan Nur menuju meja makan, disana Bintang dan Risda sudah duduk diam menunggu.


Adi menarik kursi dan duduk.


"Cengeng" sarkas Risda mengambil piring, mengisi piring dengan nasi dan lauk pauk dan kemudian menyerahkannya pada Bintang. Lalu baru mengisi piring dengan isi yang sama seperti tadi untuk dirinya.


Adi menatap tajam Risda.


"Cengeng" sarkas ulang Risda.

__ADS_1


Adi menatap tajam Risda yang sibuk dengan aktifitas namun tidak dengan mulut Risda yang begitu tajam mengatainya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2