
Risda tidak lagi mempedulikan ocehan Rita yang tidak terlalu penting baginya karena Risdapun sekarang agak sedikit stress karena dilarang inilah, dilarang itulah alasannya karena kesehatannya sekarang kurang stabil.
Risda terus melangkahkan kakinya ke garasi untuk mengambil kereta vixion kesayangannya sedangkan Bintang masih memantau apa yang akan dilakukan Risda.
"Rita ayok sini naik" teriak Risda karena melihat Rita yang masih bengong berdiri di tempat bagaikan patung.
"Eh Iya Riss".
"Mau kemana?" tanya Bintang.
Risda mendelik kesal dan memutar bola matanya kesal, padahal Bintang sudah tahu kemana ia akan pergi bersama Rita kenapa mesti ditanya lagi mau kemana.
"Kemana aja yang penting sampai".
Bintang mengernyitkan dahinya bingung, lah ini kenapa, tadi rasanya Risda baik baik aja, lah kenapa sekarang mesti marah - marah.
Rita sudah standbay duduk cantik di belakang Risda. Rita melihat Risda dan Bintang yang tiada kata yang terucap diantara mereka tetapi malah saling berebutan sesuatu yang ada di tangan Bintang.
"Biiintaaang" teriak Risda kesal, Rita yang mendengar teriakan Risda hampir saja terjatuh dari motor sangking terkejutnya ia.
"Sini kembalikan".
"Tidak boleh".
"Sini balikin kuncinya".
"Tidak boleh, kamu tidak boleh bawa motor sendiri nanti kena angin sakit lagi".
Risda menghembuskan napasnya kasar.
"Kalau mau ngantar kenapa ngak bilang daritadi sih ini malah pakek drama rebutan kunci segala".
Rita yang kebutulan paham kondisi segera turun dari motor Risda dan mengikuti langkah kaki Risda yang akan memasuki mobil Bintang. Rita mengernyitkan dahi melihat Risda dan Bintang kembali berebutan seperti anak kecil yang sedang berebutan permen, yang terus terusan berebutan.
Risda segera masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian kemudi. "Pasang seat beatl kalian, pegangan yang kuat kalau perlu kalian istiqfar sekalian", ucap Risda dengan ekspresi yang tenang dan santai.
__ADS_1
Rita yang duduk di bagian belakang sudah kelihatan pucat, batinnya mengatakan "oh tidak" firasatnya mengatakan "akan adanya terjadi sesuatu kalau seperti ini keadaannya" sedangkan Bintang tetap memakai seat bealt seperti perintah dan tersenyum mengejek pada Risda.
Risda juga membalas senyuman dari Bintang, dan bermonolog dalam hatinya sendiri "kamu lihat saja nanti sahabat terbaikku, aku tahu senyuman menyebalkan kamu itu tanda sebagai kamu sedang mengejek aku, kita buktikan sekarang tidaklah usah khawatir sahabat terbaikku".
Rita yang duduk di bagian belakang kursi kemudi sudah dengan muka mulai pucat bertambah pucat bagaikan mayat hidup yang di kasih farmalin saat melihat adanya tatapan perang senyum saling mengejek di hadapanya depannya.
"Riis kita ngak usah pergi sajalah, kita main ps aja yok di rumah kamu".
Bintang hanya melihat saja interaksi antara Risda dengan Rita tanpa intruspeksi darinya.
Risda melihat sekilas kepada Bintang yang seperti mengejek dirinya. "Rita kamu tidak usah takut ya, perbanyaklah istiqfar dan dzikir di hatimu, Ins Sya Allah kamu akan tenang".
Rita mendengus kesal bagaimana bisa tenang, jika dirinya sendiri sudah tahu apa yang akan di lakukan Risda sangatlah berbahaya dan membahayakan nyawanya dan nyawa orang lain.
Risda menghidupkan start mobil, menurunkan rem tangan, memasukkan clos dan menekan pedal gas secara perlahan untuk keluar terlebih dahulu dari gerbang rumah.
Setelah keluar dari komplek perumahan memasuki kawasan jalanan agak lumayan sepi menuju wadhu Risda menoleh ke arah Rita yang berada di belakang melalui spion yang berada di depannya sambil tersenyum, Risda berucap pada Rita "Rita bersiaplah".
Dhek bunyi jantung Rita yang hanya bisa terdengar olehnya saja, hati menjerit oh tidak Risda tidak pernah main-main dengan ucapannya, Ya Allah selamatkan hamba dari kegilaan Risda.
"Apa Ta, kamu bilang saya gila gitu".
Seet Seet Tiit Tiit.
"Sampai" ucap Risda dengan santai pada Rita. Perjalan yang seharusnya kurang dari tiga puluh menit, kini terpangkas waktunya hanya sepuluh menit sampai tujuan.
Rita tidak mampu menjawab, buru-buru keluar dari mobil dan memuntahkan semua gejolak yang saling beradu di dalam perutnya.
Bintang merasa kasihan melihat kondisi Rita yang tersiksa mabuk perjalanan, biasanya Rita tidak pernah muntah. Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, Rita terkulai lemas, lututnya tidak mampu menopang badannya sendiri saking lemas.
Rita hampir terjatuh ke tanah untung ada Bintang yang berdiri di belakangnya dan dengan sigap menangkap dan menopang tubuh Rita supaya tidak jatuh melorot ke tanah.
Risda mdnghampiri Rita yang sedang muntah-muntah lalu menyodorkan sebotol minuman mineral pada Rita.
"Nih minum dulu, baru ngebut sedikit aja langsung muntah dasar cemen".
__ADS_1
Rita mendelik kesal ingin protes tapi kondisi tubuh tidak memungkinkan.
Bintang memapah Rita berjalan dan duduk di kursi taman yang telah di sediakan di sana.
Satu jam sudah mereka duduk sambil mengobrol ringan dengan canda tawa gurauan yang terdengar dari mereka bertiga.
Bintang nanti waktu pulang kamu aja yang nyetir ya, kalau Risda yang nyetir takut kayak orang kesetanan dia nyetir ngak bisa pelan, balap-balap aja dia tahunya. Rita terus saja mengomel, Risda dan Bintang saling berpandangan, susah kalau Rita mode ngomel kayak gini susah berhentinya.
"Ehm" Risda berdehem pelan.
Rita hanya melirik Risda sekilas lalu melanjutkan omelannya yang tertunda gara gara deheman dari Risda.
"Ehhhmmmm" Risda kembali berdehem dengan suara keras.
Seketika Rita berhenti dari omelannya dan menatap Risda dengan kesal dan tentunya dengan tatapan tajamnya.
Risda menanggapi tatapan Rita dengan senyuman dan berucap "yang sudah punya tenaga lagi, udah sanggup ngomel ya?, bagaimana sudah siap omelannya".
"Resee kamu Risda" ucap Rita sambil melempar kentang goreng yang sudah di lumuri saos.
Risda dengan reflek menghindar dari lemparan Rita supaya tidak terkena kentang goreng itu, malah kentang yang di lempar Rita tersebut kena di baju bagian lengan orang lain yang sedang melintas di belakang Risda.
Rita memelototkan matanya ketakutan sedangkan Bintang dan Risda saling berpandangan menatap lucu ketakutan di wajah Rita dan menatap heran pada pasangan anak remaja ingusan yang kelihatan romantis itu, jalan sambil rangkulan lengan dan sebutan panggilan mama papa.
Lemparan kentang goreng dari Rita kena di bagian lengan si cewe dan si cewe itu langsung tancap gas omelan melebihi omelan Rita tadi ke Risda.
Pacar cewek itu sibuk menenangkan pacarnya udah dong ma, jangan marah-marah nanti cantiknya hilang loh.
"Ma di sana ada eskrim, beli yok ma".
"Diamlah pa, mama belum siap kasih pelajaran sama ibu-ibu kurang kerjaan ini".
"Hey bocah, kalian sekolah dulu yang benar, jadi orang yang sukses, jadilah anak yang bisa di banggakan oleh orangtua kalian". Ucap Risda dengan nada lembut.
Lontaran kata pada dua bocah itu Risda ucapkan dengan lembut, Risda tetaplah Risda tidak selalu ia bisa lembut selalu sikap tegasnya itu terlihat garang "Apalah ini jalan berduan gandengan tangan, panggilan mama papa, ngak malu kalian apa haa."
__ADS_1
"Pulang sana kalian ke rumah masing masing jangan asik buat maksiat aja kalian, sayang orangtua kalian di rumah".
BERSAMBUNG.......