
Entah seberapa lama waktu terbuang sia menangisi hal yang tidak pasti. Udara malam menyelimuti, badan mulai terasa dingin, tangis sudah berhenti semenjak tadi tetapi kesadaran hilang pergi kealam mimpi. Perlahan kesadaran Bintang mulai kembali tetapi tidak dengan kesehatan Bintang yang mulai menurun, menandakan sakit akan menghampiri.
Bintang membuka kelopak matanya perlahan dan merasakan nyeri dibagian kepala karena terlalu lama menangis dan Bintang merasakan badannya yang mulai kedinginan diterpa angin malam diatas ketinggian puncak gunung yang ia datangi. Bintang turun dari kap mobil dan mencoba berdiri tegap kembali sambil mengusap-ngusap telapak tangannya sendiri kedinginan ditambah lagi baju yang dikenakan Bintang bukan baju tebal.
Bintang melihat sisi kiri dan kanan mencari keberadaan orang tetapi Bintang tidak menemukan seorangpun, hanya ia seorang diri disitu lantas Bintang masuk dalam mobilnya kembali dan mencoba menelpon Adi hendak meminta bantuan untuk menjemput dirinya yang tidak sanggup lagi pulang.
Bintang dengan penglihatan mata sedikit buram mencari-cari hp nya dan menemukannya tetapi sinyal hp terpalang, tidak ada sinyal sama sekali.
Bintang memegang gagang kemudi erat menahan sakit di kepalanya sambil memejamkan matanya kembali. Setelah Bintang merasakan nyeri di kepalanya mulai reda, Bintang menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas melajukan mobil pulang kerumah.
Jalan yang dilalui begitu juram dan berbengkolan tajam sepanjang jalan sampai bertemu jalan raya sana. Perjalanan pulang kerumah lumayan jauh sampai lebih dari dua jam perjalanan.
Bintang melajukan mobil pelan dikarenakan perjalanan pulang kebanyakan penurunan ditambah lagi pandangan matanya sedikit buram dikarenakan kepalanya berdenyut sakit dan badan yang sempat menggigil dingin, padahal Bintang telah menutup kaca jendela mobil dan Bintang juga tidak menghidupkan AC mobil.
Baru juga setengah jam berlalu mengendarai kendaraan, Bintang melihat orang yang melintas menyebarangi jalanan yang padahal tembok pembatas jalan berdiri tetap tanpa pergerakan sama sekali. Lantas Bintang karena penglihatannya buram, membanting stir kemudi ke arena luar jalanan alhasil Bintang beserta mobil yang dikendarainya terjun bebas ke jurang.
"Aaaa" teriak Bintang merasakan dirinya melayang bebas. "Riiiiiiisdaaaaa" teriak Bintang lagi sambil memejamkan matanya.
Disebuah pondok jaga, seorang warga yang sedang duduk santai beristirahat dari kerja lelah berkebun yang dilukannya sepanjang hari tadi, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa ada mobil yang terjun bebas dalam jurang lantas warga tersebut segera melaporkan pada pihak kepolisian. Beberapa saat kemudian pihak kepolisian sampai ke tkp dengan membawa tim untuk pengevaluasi korban. Pihak tim evaluasi hanya mememukan jasat mobil beserta identitas korban sedang korban tidak berada ditempat.
Sedangkan dilain sisi, Risda yang sedang menulis novel tiba-tiba teringat Bintang tanpa sebab. Risda memegang dadanya sendiri merasakan ada yang tidak beres, seperti sesuatu telah terjadi. Sampai beberapa menit berlalu, kegelisahan masih bisa Risda rasakan lantas Risda memutuskan untuk shalat insya yang kebetulan Risda belum menunaikannya dan Risda melanjutkan dengan membaca Al-Qur'an untuk menghapus keresahan yang dirasakan hatinya.
__ADS_1
Setengah jam lebih berlalu Risda masih dengan membacanya tetapi sudah beralih pada buku biasa yang dibacanya tiba-tiba Risda dikejutkan dengan kedoran keras dipintu kamarnya.
Tok tok tok tok tok tok tok. ketukan beruntun yang dilakukan oleh Adi di pintu kamar Risda.
"Apa" tanya Risda setelah pintu kamar terbuka lebar.
"Bintang, Bintang, Bintang" ucap berulang Adi dengan bibir bergetar ketakutan.
"Kenapa dengan Bintang" memelototkan mata menahan ketakutan juga, yang disangkakan Adi Risda marah. "Dalam keadaan genting gini, ini muka masih saja datar" menolak muka Risda sedikit kasar sampai-sampai Risda terhuyung ke belakang.
"Bintaang kenapaaa" teriak Risda tidak mempermasalahkan Adi yang baru saja menolak dirinya.
Phoom. Pintu kamar tertutup kasar.
Adi memejamkan mata menahan sakit akibat ulah Risda menutup pintu tanpa aba-aba alhasil pintu tertutup mengenai jidat Adi. Adi belum pindah dari depan pintu kamar Risda tetapi Risda dengan tergesa-gesa kembali membuka pintu kamar dan menabrak Adi yang masih berdiri dan kini Adi terjatuh terlentang di lantai sedangkan Risda langsung bisa menyeimbangi badannya sehingga tidak sampai jatuh.
Teriakan Adi dan Risda membangun penghuni rumah yaitu Nur, Irsyad dan Zay bangun dan menghampiri Adi dan Risda yang sama-sama berteriak. "Ada apasih, teriak malam-malam, kayak orang tuli aja. Bisakan suaranya normal sebisa telinga kalian dengar" geram Irsyad karena tidurnya terganggu.
"Diam" kembali teriak Adi dan Risda pada Irsyad.
Irsyad terbungkam tiada kata dan berbalik haluan melangkahkan kaki masuk kamarnya lagi dan melanjutkan tidurnya yang terpotong.
__ADS_1
"Ada apa" tanya Nur menyadari raut wajah kedua anak-anaknya yang kelihatan menegang ketakutan.
"Bintang kecelakaan" jawab Adi dan Risda bersamaan.
"Dimana" giliran Nur dan Zay berteriak.
"Ambil microfront, biar para tetangga juga dengar" sambung teriak Irsyad dari dalam kamarnya. Yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Adi, Nur, Risda dan Zay, menganggap suara Irsyad bagaikan angin lalu.
Adi bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan padanya malah mengajak Nur dan Zay sekalian ke tkp, tentu saja Nur dan Zay akan ikut serta sedangkan Irsyad dibiarkan melanjutkan tidurnya lagi tanpa tahu apa-apa yang terjadi.
Adi jika dalam keadaan panik tidak bisa mengendalikan emosi, pasti apa yang akan dilakukannnya tetap menciptakan permasalahan baru sedang Zay juga hampir sama seperti Adi maka alih mengemudi dikendalikan oleh Risda, alih-alih selamat malah yang duduk diam dalam mobil pada hampir serangan jantung semua, terutama Nur yang tiada hentinya berteriak dan istiqfar dalam hatinya. Nur dan Zay belum pernah menaiki mobil yang dikendarai Risda, sekalinya naik, malah jadi trauma sedangkan Adi tidak merasa terlalu takut atau terkejut dengan cara Risda mengemudi karena Adi sudah pernah merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Nur dan Zay saat ini.
Dengan istiqfar bersamaan lantunan doa dalam hati dari Adi, Nur dan Zay untuk keselamatan Bintang sekaligus keselamatan dirinya sampai ke tempat kecelakaan Bintang terjadi dan kini, Ciiittt. Decitan ban mobil terdengar bersamaan dengan stir mobil Risda putar penuh sambil tetap menekan pedal gas alhasil mobil berputar ditempat sampai seratus delapan puluh derajat mobil berputar.
"Aaaaaaaa" teriak Adi, Nur dan Zay, yang tidak tanggung-tanggung sampai seluruh isi mulut termasuk gigi, lidah sampai kerongkongan terlihat semua.
Para tim evalusi, beberapa polisi sat lantas dan beberapa warga yang berada disitu sontak melihat dan melongo heran kearah mobilĀ yang tiba-tiba ada dengan berputar-putar di tempat dan mendengar teriakan menggema dari orang dalam mobil tersebut.
Seperti biasa jika Risda nyetir ngebut-ngebut dijalanan, sudah pasti orang yang ikut bersamanya sesampai pada tujuan akan muntah-muntah. Mobil telah berhenti, empat manusia yang berada dalam mobil segera keluar dari mobil, Adi, Nur dan Zay keluar dari mobil dengan segera memuntahkan seluruh makanan yang berada dalam perut mereka sedangkan Risda keluar dari mobil segera berlari menanyakan kabar Bintang apakah sudah ditemukan atau belum.
BERSAMBUNG...
__ADS_1