Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Kekanak kanakan


__ADS_3

Risda melihat Rita yang sudah berhenti mengomel namun tidak dengan wajah Rita yang masih mengerucutkan bibirnya tanda kesal belum hilang. Risda mengedarkan pandangan melihat ke sekelilingnya memilih mengabaikan Rita.


Satu senyuman tipis terbit dari bibir manis Risda kala melihat sang pujaan hati Ahmad Alfarisi Albert dari kejauhan sedang berjalan kaki entah kemana tujuannya, Risda tidak tahu.


Beberapa menit berselang suara tawa yang begitu membahana dari Risda terdengar "hahhahahahahahha" dan mampu membuat Rita tersentak kaget dan merinding sendiri jadinya melihat Risda yang tertawa.


"Riiiss kamu kenapa?" tanya Rita sedikit takut.


"Tidak kenapa napa" tersenyum "ayok pulang, itu Bintang udah siap" menunjuk kearah Bintang yang sedang berjalan menuju kearah mereka berdua.


Bintang berjalan mendekati Risda dan Rita.


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Dua diantaranya tetap dengan tampang datar tanpa senyum, hanya Rita seorang yang murah senyum.


Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda, dua pasang insan yang biasanya tiada senyuman namun salah satu dari antaranya terlihat sedikit senyum tersungging indah namun seyuman itu sangat tipis bukannya terlihat manis melainkan terkesan menakutkan bagi mereka yang telah lama mengenal Risda.


Flashback On


Risda melihat Albert keluar dari ruangan kelas yang ia ngajar dan kemudian berjalan menuju parkiran motor. Albert berjalan dengan sepasang kaki panjangnya dengan diiringi langkah tegap yang memancarkan sikap ketegasan dan juga ketampanannya yang sangat berkarisma dan menawan.


Albert berjalan melewati pepohonan namun saat melewati satu pohon yang rantingnya agak sedikit menjuntai ke bawah dengan gerakan cepat, Albert berlari dengan kecepatan penuh, melompat tinggi setingginya dan memukul dedaunan pohon juntaian daun ranting pohon, setelah itu Albert berjalan normal kembali.


Flashback Off


Lagi dan lagi Rita tanpa sengaja melihat Risda tersenyum melalui kaca samping, jendela mobil. "Risda" panggil Rita dengan nada pelan.


"Iya" sahut Risda lembut.


"Masih waraskan?" tanya Rita takut-takut.


Tidak ada jawaban dari Risda bahkan senyum Risda lenyap entah kemana. Tanpa sadar satu kotak tissu mendarat sempurna atas kepala Rita.


Bintang hanya menyaksikan perdebatan antara Risda dan Rita, tidak melerai ataupun merespon hanya memandang sekilas saja karena Bintang tahu penyebab Risda senyum-senyum sendiri, Bintang melihat Albert disekitaran kantin tadi.


Sakit. Jelas sakit, tetapi sakit ini tidak seberapa lagi, bukan rasa sakit yang berkurang namun keadaan yang memaksa untuk terbiasa.

__ADS_1


Aku adalah seorang pemuda yang begitu mencintai seorang gadis mandiri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Risda Zay Akli aku tidak bisa melepaskanmu dari hatiku tapi aku akan mencoba mengiklaskan dirimu bersama kekasih pujaan hatimu itu, Ahmad Alfarisi Albert.


Muhammad Bintang


"Eh Bintang rumahnya kelewatan" teriak Rita yang menyadari rumah Risda sudah terlewati begitu saja.


"Kita ke pabrik sebentar" beri pengertian Bintang.


"Ngapain" tanya Risda yang tentu saja Bintang tidak akan memberikan jawabannya.


"Hahaha" Rita tertawa seorang diri "Risda, Risda" geleng-geleng kepala "ngapain kamu memberi pertanyaaan pada batang balok es, tentu tidak ada lah jawabannya hahaha" melanjutkan tawa.


Bintang melirik Rita sekilas melalui kaca yang ada didepannya dengan tatapan tajam elangnya, yang siap akan memangsa mangsannya.


Rita dengan susah payah meneguk air liurnya yang terasa tercekat tertahan di tenggorokan "ngak" elak Rita "Bintang bukan batang balok es dingin tapi batang balok es hangat kok".


"Rita mau turun disini atau kamu tutup mulut baumu itu" tawar Bintang.


Tidak ada jawaban Rita melainkan Rita sudah sibuk dengan napasnya. "Hah hah" Rita berkali kali meniupkan napasnya pada telapak tangan untuk memantulkan udara alias aroma mulutnya tercium ke indra penciumannya sendiri, saat Bintang mengatakan mulutnya bau.


Bintang aku tahu, hatimu kembali terluka dengan adanya rasamu yang tidak bisa kubalas sesuai dengan rasa yang dikau berikau padaku. Maafkan aku, aku hanya menempatkan rasaku padamu sebagai seorang sahabat terbaikku.


Aku tahu, ini adalah sikap barumu yang tidak memperlihat kecemburuanmu pada Albert dan aku tahu kamu pasti tadi melihat Albert dan satu lagi, kamu pasti tahu alasan aku tersenyum hari ini yaitu karena aku melihat Albert. Satu yang paling membuatmu sakit sahabatkku senyuman dariku terbit bukan karenamu melainkan karena Albert cintaku. Maafkan aku sahabatku.


Risda Zay Akli


Mobil berdecit pelan tanda injakan rem sudah tertekan, mobil berhenti tepat depan pabrik yang disambut langsung oleh Adi.


"Mau ngapain lagi?" tanya Adi Bingung pada Bintang, pasalnya ini bukan lagi jam kerja.


"Ini" menyodorkan satu file map pada Adi yang masih disambut dengan langsung oleh Adi.


Risda dan Rita yang mulai tidak betah dalam mobil keluar menghampiri Adi dan Bintang yang lumayan lama menghabiskan waktu mereka.


Adi yang melihat Adik dan cintanya, Rita, menghampiri dirinya, segera mengambil file dokumen dari bintang, memasukkannya dalam tas kerja yang ia tenteng ditangannya dan menyuruh Bintang menunggu sebentar.

__ADS_1


Adi berjalan ke post pengamanan pabrik dan menyuruh salah satu staffnya untuk mengantar mobilnya ke rumah sedangkan dirinya jangan di tanya, sudah pasti akan ikut bersama dengan Bintang, Risda dan Rita.


"Ayo" ajak Adi.


"Kemana?" sahut Rita.


Tidak ada jawaban dari Adi yang langsung melangkanhkan kaki panjangnya menuju ke parkiran mobil Bintang, yang juga diikuti oleh mereka bertiga.


Adi, Bintang, Risda dan Rita telah masuk dan duduk di posisi masing-masing. Mereka duduk bagaikan pasangan yaitu Bintang dengan Risda duduk paling depan sedangkan deretan kursi kedua diduduki oleh Adi dengan Rita.


"Mau kemana bang?" tanya Bintang.


"Masjid" jawab singkat Adi. "Kenapa?" balik tanya bingung Adi saat tiga pasang mata tertuju heran padanya "inikan mau masuk waktu magrib" lanjut pernyataan Adi sambil melihat ke lingkaran jam arloji yang melingkar pas di pergelangan tangannya.


Allah Huakbar Allah Huakbar. Suara azan


"Nah itu udah adzan, jalan Bint".


Tiga pasang mata itu berhenti menatap intens Adi setelah mendengar suara azan dan mendengar perintah Adi untuk melajukan mobil ke masjid terlebih dahulu.


Bintang melajukan mobilnya ke masjid terdekat yang hanya memakan waktu kurang lebih sepuluh menit.


Adi dan Bintang turun berbarengan saling menatap aneh kepada dua wanita itu yang tidak turun juga. "Kalian tidak sholat" tanya Adi yang menunduk kepalanya melihat adik dan cinta permatanya, Rita.


"Cuti" sahut keduanya kompak dan segera memalinggkan muka keduanya lantaran malu.


Adi berdiri tegap kembali dan kemudian bertanya pada Bintang yang tengah melepas jam tangannya "cuti, maksudnya Bint?" tanya Adi pada Bintang.


"Menstruasi" jawab Bintang singkat padat dan jelas yang dibalas hanya gumaman "ooo" oleh Adi.


Adi yang telah keluar dari mobil terlebih dahulu menunduk lagi melihat Risda dan Rita yang masih didalam "Kenapa kalian mengambil cuti bersamaaan?" tanya Adi lagi.


"Bintang bawa bos kamu pergi" teriak Rita "sebelum sepatuku melayang" sambung teriak Risda.


Bintang yang mendengar Risda dan Rita yang berteriak padanya meminta meyelamatkan Adi dari amukan dua wanita itu menahan senyum geli karena Bintang tahu pasti kedua wanita itu sedang menahan malu setengah mati.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2