Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Menangislah


__ADS_3

"Kyyyaaaaaaaaaaaa" teriak Bintang sekeras mungkin sampai urat-urat berwarna hijau bermunculan di lehernya. "Baapaak" panggil Bintang dengan tangis yang berusaha keras ia tahan supaya tidak pecah.


"Menangislah nak untuk kali ini saja" Zay mendekat dan memeluk Bintang sebagai seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya yang sedang terpuruk sedih. Zay berulang kali menepuk-nepuk punggung Bintang untuk menguatkan dan memberi pengertian bahwa Bintang tidak sendiri.


Adi yang sedang tidak sadarkan diri alias sedang tertidur di sofa yang ada dalam ruangan Bintang yang sedang di rawat terperanjat kaget langsung terbangun dan terduduk saking kaget dirinya. Adi mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali dengan apa yang terlihat di hadapan matanya merasa tidak mempan dan tidak percaya jika hanya mengedipkan saja kemudian Adi mengucek matanya untuk ke sekian kalinya, barulah Adi percaya setelah ada suara isakan tangis memilukan dari Bintang yang sedang menangis sesegukan dalam pelukan Zay.


Untung ruangan yang di tempati Bintang yaitu ruangan VVIP dengan stuktur kedap suara jadi tidak akan mengganggu ketenangan pasien lain.


Adi yang melihat Bintang menangis sampai segitunya menjadi ikutan menangis sampai ingusnya ikutan mengalir seiring air dari kelopak matanya keluar. Sroot bunyi ingus Adi yang terus mengalir dan Adi mengelap ingusnya itu dengan baju yang sedang melekat di badannya.


Zay yang melihat kelakuan Adi geram sekaligus jijik dan lucu melihatnya, bagaimana bisa Adi ikutan menangis padahal ia sama sekali tidak tahu apa permasalahannya toh dari tadi Adi cuma tidur saja di sofa. Zay yang sedang membekap Bintang dalam pelukannya yang sedang menangis, berulang kali mengisyaratkan pada Adi untuk berhenti menangis dan berhenti mengelap ingusnya itu seperti anak kecil tetapi seakan Adi melihat kalau Zay melambaikan tangannya untuk bergabung memeluk dirinya juga.


Sambil mengelap ingus dan airmata  dengan bajunya, Adi melangkahkan kakinya mendekati Bintang dan Zay ikut bergabung berpelukan dengan tetap melanjutkan tangisnya.


Sudah lebih dari setengah jam Adi dan Bintang masih menangis dalam dekapan pelukan Zay. Jangan tanya bagaimana keadaan baju kaos yang Zay kenakan bagaimana bentuknya, air mata dan ingus bercampur menjadi satu. Kaki Zay sudah kram kebas hampir mati rasa dalam mempertahankan posisi berdirinya tetap memeluk Adi dan Bintang dalam dekapan hangatnya.


Irsyad, Nur, Risda dan Rita memasuki ruangan VVIP di mana Bintang yang sedang di rawat. Irsyad yang mendorong membuka pintu duluan syok bukan kepalang melihat posisi bapak dan abang-abang kesayangannya. Ketiga wanita yang mengikuti langkah kaki Irsyad mendengus kesal di karenakakn Irsyad berdiri tepat diambang pintu kamar yang akan mereka masuki juga.


"Awas dek, kami juga mau masuk" ucap Risda geram pada adiknya Irsyad. Lantas Risda yang melihat Irsyad berdiam diri bagaikan patung kaku tanpa beranjak sedikitpun dari tempatnya kemudian mendorong Irsyad paksa masuk ke dalam.

__ADS_1


Nur, Risda dan Rita yang melihat kondisi para laki-laki kebanggaan mereka tidak kalah kaget dengan Irsyad sampai-sampai Nur dan Rita yang sedang menenteng tas mereka jatuh ke lantai dengan sendirnya sangking terkejutnya mereka.


Zay mendengar keributan dari pintu masuk yang di dalangi oleh istri dan anaknya-anaknya memohon minta bantuan mereka untuk menyadarkan Adi yang masih terus menerus menangis tersedu sedu sedangkan Bintang tidak lagi hanya isakan kecil saja yang masih terdengar.


Irsyad, Nur, Risda dan Rita tidak lama terbengong lalu masing-masing dari mereka membekap mulut mereka masing-masing antara sedih dan lucu mereka tidak tahu harus berekspresi seperti apa saat melihat kelakuan tiga laki-laki kebanggaan mereka itu.


Risda yang mengerti isyarat Zay menyuruh untuk menarik Adi menjauh darinya kemudian langsung melangkahkan kakinya mendekati Adi yang masih manangis.


"Apaansih dek, kenapa abang ditarik-tarik" tanya Adi pada Risda yang masih dengan terisak isak tanda tangis yang masih belum selesai.


Sekuat tenaga Risda menahan tawanya supaya tidak meledak di tempat, yang lain juga sama melakukan hal yang sama apa yang Risda lakukan.


Adi sudah berhasil di tarik Risda menjauh. Zay melihat Bintang yang sudah terlelap kembali walau masih ada sedikit sisa isakan tangis bernapas lega dan kemudian Zay membaringkan Bintang kembali ke tempat tidur dengan perlahan-lahan.


"Kalian bertiga ikut saya keluar" ucap Zay sambil matanya mengarah tajam pada Adi, Risda dan Rita.


Adi, Risda dan Rita saling berpandangan ketakutan dan bingung dalam benak mereka apa yang akan terjadi.


Adi, Risda, Rita dan Zay telah duduk di taman yang berhadapan langsung dengan kamar rawat Bintang. Zay melirik sekilas Bintang yang kembali terlelap memelui kaca jendela yang telah di buka tirainya oleh Zay. "Bagaimana apakah ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Bintang?" tanya Zay pada Adi, Risda dan Rita tanpa mengalihkan pandangan pada jendela kaca ruang rawat inap Bintang

__ADS_1


Zay banyak tahu tentang Bintang karena Risda dan Bintang sudah bertahun-tahun lamanya bershabat dekat dan sekarang posisi Bintag juga menjadi asisten pribadi Adi di perusahan yang  Adi miliki. Bintang juga seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orangtuanya. Orangtua Bintang meninggal pada saat Bintang duduk di kelas dua sekolah menengah pertama dan semenjak itu Bintang mempunyai tanggungjawab menghidupi dan menjaga adik perempuan satu satunya.


Suasana mendadak mencekam dengan intonasi nada Zay yang terdengar serius dan di tambah lagi tatapan mata tajam yang Zay tunjukan pada mereka. Zay yang sedang menunggu sebuah jawaban namun tidak mendapatkannya mengalihkan pandangannya menatap satu persatu anak anaknya yang berada di hadapannya.


"Adi" panggil Zay.


"Iya pak".


"Bisa kamu jelaskan".


"Sebenarnya dalam dua pekan terakhir ini pabrik Adi ada sedikit masalah dan permasalahannya baru selsesai sehari sebeum kami jalan-jalan ke tempat wisata"


Zay semakin menatap tajam Adi yang memberi penjelasan yang tidak logis menurutnya.


Adi yang di tatap seperti itu untuk pertama kali oleh Zay merinding sendirinya dengan susah payah berusaha menyelasaikan kalimat penjelasannya bukan Adi saja yang takut Risda dan Rita juga ikut merasakan takut.


"Pada saat permasalahan itu terjadi waktu tidur kami berantakan dan waktu makanpun juga tidak ada aturan" setelah Adi menyelesaikan kalimatnya dengan takut-takut Adi menatap Zay yang sedang menghembus napasnya pelan.


"Kamu" tunjuk Zay pada Risda dengan matanya.

__ADS_1


Risda yang di tunjuk oleh bapaknya sendiri yang berada di hadapannya merasakan yang dihadapannya seolah-olah bukanlah bapak kandungnya melainkan seperti dirinya sedang di introgasi oleh tim penyidik seperti dirinya adalah tersangka yang telah melakukan kriminal. Sebelum menjawab Risda menelan ludahnya terlebih dahulu walau merasa seperti tercekik tidak bisa tertelan dengan sempurna seperti biasanya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2