Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Mantra


__ADS_3

Malam semakin larut, rembulan bersinar dengan cerah, bintang-bintang bagai bertaburan berkelap kelip diatas ketinggian sana. Waktu istirahat memang sudah tiba dari awal mula namun sepasang mata Risda tidak bisa terpejam mengistirahatkan badan.


Entah berapa jam berlalu, Risda berguling-guling diatas ranjang besarnya itu tetapi kali ini Risda berhati-hati supaya tidak terjatuh lagi karena jatuh dari ketinggian ranjang tak seindah jatuh cinta.


Suara kumandang Adzan terdengar di pendengaran Risda. Risda terbangun dan memegang kepala yang sedikit berdenyut sakit karena baru sebentar ia memejamkan mata kini harus terbuka lagi.


Risda bangkit untuk shalat shubuh setelah shalat shubuhpun Risda tidak melanjutkan tidurnya lagi dikarenakan jika Risda tidur kemungkinan besar Risda tidak akan terbangun cepat, sedangkan sekitar dua jam lebih lagi Risda harus mengikuti ujian akhir semester di kampus.


Risda melihat jam yang tertera di ponsel dan bergumam lirih masih tersisa banyak waktu.


Risda duduk santai di meja belajarnya sambil jemari tangannya yang aktif berselancar di keyboar laptonya. Risda menuliskan diary kenangan sebagai bentuk pertemanan curhatan isi hatinya tentang Albert.


Sinopsis rasa. Ini untaian rasa berupa kata yang ingin aku ungkapkan padamu sang kekasih jiwa. Raga kita begitu dekat semalam, ingin kuungkapkan rasa dalam bentuk lisan menyerupai kata tapi aku terpaksa menelan setiap kata-kata yang ingin aku lontarkan padamu kekasih jiwa.


Bodoh. Ya aku memang bodoh dalam mencintaimu dan melupakan logika. Kefasihan lisan kataku dan setajaman logikaku seakan tidak berfungsi jika aku maenatapmu, apalagi berdekatan denganmu.


Didepanmu, aku bungkam, dibelakangmu aku menyidang diriku dalam pertemuan semu melatih diri jika suatu waktu aku mempunyai kesempatan mengungkap pernyataan berupa rasaku padamu tapi nyatanya jangankan aku mengungkapkan rasaku padamu, mengeluarkan kata saja aku hampir tidak mampu.


Jika nanti aku mendapatkan kesempatan kedua dalam berdua denganmu, aku ingin mengungkapkan rasa hatiku untukmu.


Aku berharap jika suatu saat kesempatan itu menghampiri aku dengan kamu, aku akan berusaha keras mengatakannya padamu bahwa aku mencintaimu. Tetapi aku ragu apakah kamu akan menerima tau menolakku mengingat rasa cintamu pada wanitamu itu bukanlah rasa biasa.


Setelah menulis apapun itu yang dirasakan oleh Risda pada plastist kemudian Risda merebahkan kepalanya pada meja belajar dengan keadaan laptop tetap bernyala.


Lagi lagi waktu berlalu begitu saja. Jarum jam menunjukan pada angka jam tujuh tepat, Bintang telah sampai pada kediaman Risda sekeluarga. Bintang masuk kedalaman rumah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu dan kemudian Bintang langsung melangkahkan kakinya menuju dapur menemui Nur, menanyakan kabar dan keberadaan Risda dimana sekarang.


"Maa" panggil Bintang.


"Eh nak Bintang udah sampai. Mau jemput Risda ya?" tanya Nur sambil menata beberapa macam lauk untuk santapan sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Iya ma, kami ada ujian akhir semester nanti pukul delapan" tersenyum singkat namun kaku.


"Hhhh" Nur tertawa cekikikan sendiri yang ditatap bingung oleh Bintang namun Bintang enggan bertanya menatap bingung dalam kebisuannya.


"Hahaha" Nur menambah kadar tawanya "Bintang kamu benar-benar ngak bisa tertawa ya. Senyumanmu betul-betul kaku, Bint. HAhah" malanjutkan tawa.


Selang beberapa menit berlalu, Bintang melihat Nur telah menurun taraf nada tawanya kemudian meminta izin pada Nur untuk memanggil Risda "mama" panggil Bintang "Bintang izin panggil Risda  boleh?. Sebab sebentar lagi kami akan mengikuti ujian".


"Ooh. Boleh. Panggillah Risda di kamarnya" melanjutkan aktifitas menata hidangan makanan sarapan pagi.


Bintang berlalu pergi meninggalkan Nur dengan segala aktifitasnya dan melangkahkan kakinya menemui Risda.


Tok tok tok. Bintang mengetuk pintu kamar Risda.


Tidak ada sahutan dari Risda.


Dengan sabar Bintang mengetuk lagi pintu kamar Risda. Tok tok tok "Risda. Risda" panggil Bintang berulang kali sambil terus mengetuk pintu.


Adi keluar dari kamar dengan stelan yang sudah rapi dengan menggunakan jas. Adi melihat  Bintang yang berdiri di depan kamar Risda, lalu Adi beranjak melangkahkan kakinya menuju Bintang "lagi ngapain?" tanya Adi.


"Lagi bernapas" sahut Bintang sekenanya.


Adi terdiam beberapa detik mencerna dua kata yang keluar dari mulut Bintang dan setelah memahaminya Adi mendengus kesal.


Plak. Satu tamparan mendarat di bahu Bintang menandakan Bintang telah membuat Adi kesal akan kata yang terlontar dari mulut Bintang.


"Kalau bernapas, aku juga bernapaslah".


Adi duluan mendaratkan pukulan pada bahu Bintang baru kemudian  Adi melontarkan kata kekesaalnnya pada Bintang. Lantas Adi bertanya kembali pada Bintang "mau ngapain" geram Adi harus bertanya hal yang sama untuk  kedua kalinya.

__ADS_1


"Memanggil Risda".


"Ooo" jawab Adi yang mulai mengerti apa yang dilakukan Bintang.


Bintang menatap Adi tajam.


Adi yang ditatap tajam oleh Bintang merasakan ketidaknyamanannya dan lantas bertanya "apa?" tanpa rasa bersalah.


"Cuman itu saja responnya" sarkas Bintang tidak terima atas reaksi Adi yang begitu sloww.


"Lalu" tanya balik Adi sambil membuka pintu kamar Risda.


Ceklek. Suara pintu kamar Risda yang di buka oleh Adi.


Bintang berdiri diambang pintu memperhatikan Risda yang tertidur sambil duduk di kursi yang kepalanya Risda sandarkan pada meja belajarnya. Buku-buku dan laptob Risda masih terbuka namun Risda sangat nyenyak terlelap dalam tidurnya, sampai air liur Risda mengalir mengenai meja belajarnya.


Adi yang melihat Risda tidur dalam keadaan seperti itu, melangkahkan kainya menuju kamar mandi yang berada dalam kamar Risda dan kemudian Adi keluar lagi dengan membawa segayung penuh air yang ia ambil dari bak kulah air. Niat Adi, dengan air yang berada di tangan, Adi akan mencelupkan tangannya ke dalam gayung tersebut hendak mengusap wajah Risda yang masih tertidur pulas, dengan tangannya yang basah.


Bintang melihat apa yang akan dilakukan Adi segera menghentikannya. "Biarkan aku saja ya" izin Bintang pada Adi. Adi mundur beberapa langkah memberi ruang pada Bintang untuk mendekati dan membangunkan Risda.


Bintang yang semula bersadar pada kosen pintu yang terbuka sambil melipat kedua tangannya di dada kini telah berubah posisi, dan mengambil posisi melangkahkan kakinya mendekati Risda yang masih tertidur pulas. Bintang mencondongkan badannya dan memposisikan bibirnya tepat di telinga Risda dan membisikan mantra ajaib untuk membangunkan Risda "Ahmad Alfarisi Albert sudah menunggumu Risda zay Akli".


Dalam sekedip mata Risda membuka sepasang kelopak matanya dan duduk tegap dan berteriak "MANA?" sambil mengelap mulutnya sendiri yang terasa tidak nyaman.


Bintang juga dengan refleks langsung berdiri tegap kembali saat Risda terbangun dan berteriak. Bintang tersenyum simpul singkat menatap dalam Risda yang celingak celinguk mencari apa entah apa yang ia cari.


"Cari apa sayang" canda Bintang.


Risda ingin protes kata sayang yang dilontarkan Bintang padanya namun ia terlanjur malu pada Bintang yang melihat dirinya tidur sambil ngiler, biasanya Risda tidak pernar ngiler.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2