Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Hp Baru


__ADS_3

"Counter ponsel" ucap Risda.


"Menemani Risda" ucap Bintang bersamaan dengan Risda.


Nur melihat Risda dan Bintang bergantian dan tersenyum "menemani  Risda ke counter ponsel" simpul Nur mengulang pernyataan Bintang dan Risda. "Hati-hati ya" menunduk melanjutkan menggores mencoret coret kertas putih menggambar baju-baju.


Bintang dan Risda berlalu pergi pada tujuan mereka sebelumnya dan meninggalkan Nur dengan segala aktifitasnya.


Dalam perjalanan keadaan seperti biasa, terasa hening namun anehnya mereka berdua merasa nyaman dalam keheningan itu.


"Ris" panggil Bintang.


"Heum" deheman dari Risda sebagai jawaban.


"Mama udah lama mendesain baju".


"Iya".


Bintang terkagum-kagum dalam hatinya dan kemudian bertanya "kenapa tidak membuka butik. Jika punya keahlian kenapa disembunyikan kenapa tidak diasah dan ditunjukan" lanjut ungkap Bintang.


Hembusan napas terdengar kasar dari Risda "sudah aku beri masukan dan mama lebih memilih tinggal dirumah saja mengurusi kita semua".


"Pilihan yang mulia" ucap Bintang tanpa mengalihkan pandangan menatap lawan bicara.


Hening kembali menghampiri, sampai tujuan telah di depan mata. Bintang dan Risda turun bersamaan dan mereka berjalan berdampingan bagaikan pasangan kekasih yang begitu sangat serasi terlihat.


Sedangakan dilain sisi Rajif Fandi alfarisi seorang mantan nahkoda yang rela meninggalkan profesinya demi usaha-usaha mandiri yang ia dirikan dan kelolakan kini. Rajif meluangkan waktu mempromosikan sendiri produknya sambil melihat sendiri bagaimana perkembangan dan tanggapan para konsumen terhadapa produknya.


Bintang dan Risda jalan beriringan memasuki counter hp yang kebetulan kepunyaan Rajif.


Conter yang memiliki ruangan luas. Rajif meninggalkan sesaat tempat promosi dan berjalan sudut ruangan yang menyediakan sofa. Rajif duduk bersama dengan klain nya yang sedang membahas kerjasama.


"Ponsel terbagus" ucap Bintang langsung the to ponit saat sudah berhadapan dengan para penjaga counter tersebut.


"Baik kak, sebentar ya" panjaga counter mengambil hp dan menyerahkkan pada Bintang, Bintang mengambilnya dan menyerahkan pada Risda.


Risda bertanya kelebihan dari hp yang sedang dipegangnya.

__ADS_1


Rajif yang sedang mendiskusikan hal apa yang perlu di diskusikan mendadak hilang fokus tatkala mendengar sama-samar suara orang yang telah lama mencuri rasa hatinya.


Risda Zay Akli batin Rajif.


Rajif celingak celinguk mencari suara yang menganggu konsentrasi dirinya dan Rajif menemukan Risda yang berdiri mengesampingkan dirinya dan Rajif juga menemukan seorang pria yang berdiri dekat dengan Risda namun Rajif tidak bisa melihat jelas siapa laki-laki tersebut.


"Baiklah, itu saja yang perlu untuk diskusikan saat ini. Selebihnya nanti saya akan mengirimkan proposal pada email anda" ucap Rajif mengakhiri rapat segera.


Rajif bangun dan saling berjabat tangan dengan klain nya dan melangkah kaki mereka ke tujuan mereka masing-masing.


Rajif melangkah kakinya mendekati Risda yang sedang menunggu pihak couter yang mempersiapkan program di hpnya.


"Hy" sapa Rajif pada Risda dan Bintang.


Rajif mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan Risda dan Bintang.


Risda menerima uluran tangan Rajif dan segera melepasnya, tidak nyaman jika berlama-lama bersentuhan walau hanya sekedar berjabat tangan. Rajif kemudian beralih menjabat tangan Bintang, Bintang menerimanya dan Bintang dan Rajif saling berjabat tangan.


"Senang bertemu dengan anda kembali. Perkenalkan saya Rajif Fandi Alfarid".


"Ya" jawab Bintang singkat dan padat. "Kamu nahkoda itu kan" ucap Bintang memastikan.


Risda melihat interaksi antara Bintang dengan Rajif yang terlihat sengit ditambah lagi jabat tangan itu terlihat semakin erat seakan tidak mungkin akan terlepas.


"Sebaiknya acara jabat tangannya disudahi saja ya" ucap Risda sambil memaksakan senyum dan melepas paksa jabat tangan antara Bintang dengan Rajif.


Bintang dan Rajif yang semula saling bertatapan tajam seolah sedang berkompotisi siapa yang paling tajam tatapannya kini mengalihkan pandangan kompak menatap Risda yang sedang memaksakan tersenyum yang terlihat kaku.


Hening kembali mengampiri untuk sesaat.


"Permisi kak" ucap Marliza selin Yang sedang mengandeng mesra tangan Ahmad Alfarisi Albert, memanggil salah satu oenjaga counter untuk melayaninya.


Suara liza yang mendayu lembut membuat semua pandangan mata tertuju padanya terlebih lagi tiga pasang mata yang sangat kompak mengalihkan pandangan mereka pada Liza yaitu Bintang, Rajif dan Risda.


Wajah Risda yang memang datar semakin datar bahkan kedataran wajah Risda semakin datar melebihi kedataran tembok.


Mata Risda tertuju pada pautan lengan yang terlihat mesra itu.

__ADS_1


Albert melihat Risda yang dikelilingi dua pria tampan tersenyum melihat kearahnya dan menghampiri Risda dan menyapa "hy Risda, apa kabar" sapa Albert.


Sapaan Albert memang Albert sengajakan. Bintang menatap Albert tajam sedangkan Albert tersenyum melihat Bintang yang telah terbakar amarah cemburu itu.


Liza juga menyapa Risda dengan kata dan sapaan sopan "Kita seangkatan ya" tersenyum dan melapas rangkulan tautan lengannya dengan Albert dan beralih menyodorkan tangan ingin berjabat tangan dengan Risda.


Risda menatap tangan Liza sedikit lama, baru kemudian Risda menerima uluran tangan Liza sambil menjawab pertanyaan Liza "iya".


"Kak, ini hpnya sudah siap" ucap pihak counter yang telah mempersiapkan hp Risda.


Risda melihat hp telah dimasukan dalam kotak kembali dan diserahkan padannya. Risda mengambil kartu atm dan menyerahkannya bersamaan dengan Bintang dan Rajif.


Risda melihat sisi kirinya yaitu Bintang dan sisi kanannya yaitu Rajif yang mengapit dirinya di tengah, menyodorkan kartu, bahkan kartu yang di sodorkan Bintang dan Rajif sama-sama kartu atm warna hitam yaitu atm unlimited.


"Kartu unlimited kalian simpanlah" ucap Risda melihat pihak counter yang kebingungan memilih kartu tersebut yang disodorkan bersamaan padanya.


Pihak counter yang melayani Risda menatap Rajif bingung sedang Rajif mengisyarat sesuatu yang tidak dipahaminya.


"Bos, ngapain kasih atm juga, kan, bos pemiliknya".


Bintang dan Rida mengalihkan pandangan melihat Rajif mempertanyakan sekaya apa Rajif sebenarnya. Setiap bertemu dan selalu Rajif mempunyai kejutan yang mengejutkan Risda maupun Bintang.


Albert dan Liza diam dan menyimak daritadi.


Rajif tersenyum menanggapi ucapan pengakuan identitas dirinya oleh pegawainya sendiri dengan menahan kekesalan.


"Selain seorang nahkoda kamu berprofesi sebagai apa lagi?" tanya Bintang akhirnya yang sudah sangat penasaran akan siapa Rajif sebenaranya.


"Bukan siapa-siapa" tersenyum manis menatap Bintang dan kemudian beralih menatap Risda.


Risda memandang Albert dan Liza sekilas yang tampak semakin romantis di mata Risda dan memandang dirinya tanpa berkedip yang menjadi bahan tontonan mereka berdua. Lantas Risda menarik tangan pihak counter menaruh paksa kartu atm nya pada tangan couter itu yang melayaninya "cepat urus pembayarannya".


"Baik kak" tersenyum dan menunduk, tidak berani sama sekali menatap Rajif yang menatapnya dengan ancaman yang tertuju padanya.


Albert dengan Liza tersadar kembali akan tujuan mereka dan kemudian mengabaikan Risda dan beralih apa yang seharusnya mereka lakukan.


Pihak counter mengembalikan atm Risda setelah sebelumnya meminta Risda memasukkan pin untuk bisa mentransfer saldo sebagian atas pembayaran hp yang dipilihkan Risda barusan.

__ADS_1


Risda berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bintang dan Rajif sedang Albert dan Liza, Risda memilih mengabaikan mereka berdua yang masih sibuk memilih hp yang akan mereka beli.


BERSAMBUNG...


__ADS_2