Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Logika Rasa


__ADS_3

Mengenai cinta, akan jadi rumit jika hanya rasa yang berfungsi dan melupakan logika, jika sebaliknya, terlalu mengedepankan logika maka rasa yang akan tersiksa, lalu cinta harus berjalan kemana?, atau hanya berdiam saja, itu tidak mungkin juga.


Risda keluar dari kamar mandi dengan muka yang masih memerah manahan malu seorang diri dengan juga menenteng paper bag yang berisi baju kotor yang ia kenakan tadi.


Ceklek. Suara pintu ruangan yang dibuka oleh Bintang dengan membawa seporsi kotak makan siang untuk Risda yang kebetulan belum makan. Bintang meletakkan kotak nasi tersebut pada meja yang berkursikan sofa itu.


Bintang melihat Risda sekilas menaikan alisnya sebelah, mempertanyakan kenapa muka Risda memerah "sakit?" tanya Bintang kemudian untuk memastikan.


Risda yang semenjak tadi melihat kedatangan Bintang semakin malu dan otomatis muka Risda semakin kemerahan. Risda mengalihkan pandangan kearah lain tidak berani melihat kearah Bintang. Bintang malah mempertanyakan keadaan Risda, dengan sedikit gagap Risda mencoba menjawab "tiii tii daak".


Risda memelototkan matanya terkejut bukan main sesaat dikarenakan tiba-tiba Bintang sudah berada tepat dihadapannya sambil memegang keningnya, mengecek suhu tubuh Risda, panas atau tidak.


Bintang tidak merasakan adanya suhu panas pada badan Risda "normal" ucap lirih Bintang.


"Apaan  sih" menangkis tangan Bintang. Mencoba rileks kembali.


"Aku sudah wudhu"


"Wudhu lagi" ucap santai Bintang sambil berlalu pergi menuju meja kerja dan mengambil mukena baru yang sengaja Bintang simpan untuk saat darurat seperti ini.


Risda tidak sempat melihat Bintang mengambil apa dari laci meja kerjanya karena langsung masuk dalam kamar mandi lagi untuk mengambil wudhu lagi. Risda terlupa bahwa ia tidak membawa mukena kali ini, biasanya selalu ada, tidak pernah terlupakan. Kali ini Risda hanya membawa tas slempang kecil yang berisikan kartu atm saja, itupun tertinggal juga dalam mobil Bintang, Risda hanya membawa hp yang baru ia beli tadi ikut bersamanya, dan sekarang posisi hp sedang dalam keadaan tercharger.


Bintang juga meletakkan mukenah di meja yang sama yaitu berdampingan dengan nasi kotak yang  dibelikan Bintang barusan untuk Risda, setelahnya Bintang keluar lagi melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Risda keluar dari kamar mandi lagi dan kemudian berputar-putar seorang diri mencari tas berisikan mukena yang sering ia bawa yang padahal Risda tidak membawanya. Hampir tiga menit lamanya Risda mencari-cari tetapi tidak menemukan yang ia cari.


Risda berdiri dengan posisi berkacak pinggang sambil menatap langit loteng kala teringat apa yang ia cari sedang tidak bersamanya.


Kemudian pandangan Risda beralih pada meja sofa yang biasa ia duduki dan Risda menemukan dua kotak berukuran sedang. Yang satu isinya nasi dan satunya lagi Risda tidak mengetahui isinya apa, lantas Risda melangkahkan kakinya menuju sofa. Risda membuka kotak yang membuatnya merasa penasaran akan isinya dan isinya ternyata mukena. Satu senyum simpul tercetak dibibir Risda diiringi dengan setetes airmata meluncur keluar tanpa izin.


Ini posisinya kemana, aku harus bagaimana? batin Risda yang mulai bimbang, satu sisi hati Risda mencintai yang lain yang tidak mencintainya sedangkan sisi lainnya ada seseorang yang mencintainya begitu hebat tetapi Risda hanya mampu memberikan posisi sahabat pada yang mencintainya.


Hembusan napas kasar dari Risda terdengar dan Risda mengusap wajahnya kasar.


"Ahhhh" teriak Risda merasa tertekan bersalah pada Bintang sang sahabat. Setelahnya Risda menunaikan sholat Dzuhur, makan dan tidur.


Detik berdenting dengan berirama menandakan jam terus berputar tidak akan menunggu apalagi menanti tetap akan terus terlewati. Risda sibuk berkelana menjelajah alam mimpi alias tidur.


Kini persoalan waktu telah menandakan ashar. Bintang kembali lagi keruangan untuk melihat dan mengecek keadaan Risda. Bintang melihat Risda tertidur pulas. Bintang mendekati Risda yang sedang tertidur diatas sofa itu "sayang" panggil Bintang lembut dan kemudian terkikik sendiri kala teringat akan setiap reaksi Risda pasti akan tidak suka jika dipanggil sayang.


Respon Risda hanya menggeliat kecil dan tidur kembali. Sudah jadi kebiasaan Risda jika sudah tidur susah bangun.


"Albertmu itu mengirim undangan pernikahan" ucap santai Bintang yang telah duduk di sofa yang sama dengan Risda, Bintang duduk tepat disamping kaki panjang Risda yang di tekuk itu.


Phooom. Bintang jatuh melayang terduduk di lantai akibat tendangan Risda.


"Enak saja langsung nikah, aku belum bilang suka padanya" teriak Risda yang masih belum terlalu sadar dari alam mimpinya, masih antara iya dan tidak.

__ADS_1


Bintang bangun dan berdiri tegap kembali sambil menahan nyeri akibat terjatuh dikarenakan tendangan Risda yang tidak main-main. Bintang memandang Risda dalam, kesal melihat Risda hanya Albert, Albert, Albert saja yang ia pikirkan seharian ini lantas Bintang mencubit hidung Risda lama sampai Risda kesulitan bernapas dan Risda akhirnya terbangun.


Aku memberimu seluruh hatiku, aku menyayangimu lebih dari nyawaku karena kamulah jantung hatiku. Sebagian tujuan hidupku hanyalah untuk kebahagianmu kasihku. Aku tersiksa melihatmu mencintai hati selain hatiku, mengapa kamu begitu sulit membuka sedikit pintu hatimu untukku. Seringkali logikaku menyadarkan hatiku untuk jangan terlalu mencintaimu namun hati menyangkal pasti bahwa kamu adalah napas hidupku namun logika menentang keras untuk tidak memaksakan cintamu hidup bersama denganku. Muhammad Bintang.


"Bangun juga kamu. Sholat Ashar sana, setelah itu pulang" ucap datar Bintang.


Bintang melihat Risda menghilang dibalik pintu kamar mandi yang tertutup kembali. Dan Bintang sendiri memilih keluar melangkahkan kaki menuju mushala untuk shalat juga.


Setengah jam berlalu Bintang kembali lagi menuju ruangan untuk menjemput Risda dan membawanya pulang. Sesampainya Bintang di ruangan malah Risda duduk bersandar memejamkan matanya kembali yang disangkakan Bintang Risda tertidur kembali.


Risda yang mendengar derap langkah kaki yang seperti menghampiri segera membuka matanya dan melihat Bintang yang telah masuk ruangan kembali.


Bintang mengambil mukena yang dipakai Risda tadi dan memasukkannya kembali dalam kotak dan menyerahkannya pada Risda "untukmu".


"Untukku". Risda diam tidak mengambil mukena yang disodorkan Bintang malah Risda hanya menatapnya saja.


"Niatnya aku menyimpannya untuk calon istriku nanti, tapi tidak mungkin aku menyerahkannya lagi padanya karena kamu telah memakainya duluan".


Risda menatap Bintang intens dan Bintang juga menatap Risda dalam. "Oo" respon Risda sebagai pengakhiran tatapan. "Nanti barang hantaran mukena saya beli baru" ucap Risda berlalu pergi mencabut charger hp.


"Jika istriku nanti kamu?".


"Ya, tidak usah beli baru lagi, karena sudah duluan kamu beli. Ayok". Risda berlalu pergi meninggalkan Bintang yang sudah senyum-senyum sendiri. Risda tidak menyadari jika Bintang tidak mengikutinya keluar, malah sibuk sibuk senyum-senyum sendiri di ruangan.

__ADS_1


Dia menerimaku sebagai suaminya. Tapi hatinya masih ada yang lain. Tidak apa, aku akan berusaha membuat hatinya mencintai hatiku girang batin Bintang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2