
Penutupan latihan telah Risda pimpin. Rekan-rekan Risda beristirahat sebentar, barang beberapa menit saja dan langsung meminta izin ganti baju mereka dan pulang.
Semua anggota perguruan yang diikuti oleh Risda sudah pulang, ya, rekan-rekan Risda sudah pulang semua kini hanya tinggal Rajif dan Risda di stadion duduk di rumput sambil menselonjorkan kaki mereka. Sebenarnya di stadion bukan hanya mereka berdua saja tapi ada perguruan lain juga yang belum pulang dari stadion itu.
"Dek Risda" panggil Rajif.
"Heum" deheman yang Risda berikan sebagai jawaban. Bukannya Risda tidak sopan terhadap gurunya ini tetapi insting Risda mengatakan Rajif akan menayakan hal pribadi tentangnya.
Tidak ada sanggahan dari Rajif karena respon Risda hanya deheman saja, karena Rajif tahu Risda tipe orang cuek, tidak peduli dan tidak mau tahu jika itu menyangkut hal pribadi. "Apa kamu ada masalah".
Hening. Tidak ada jawaban dari Risda walau hanya sekadar deheman seperti biasanya yang terdegar.
Rajif menyadari akan hal tidak suka dari Risda akan pertanyaan yang diajukannya namun Rajif tetap melanjutkan kata yang ingin ia lontarkan demi kebaikan Risda "jika ada masalah, jangan nyiksa diri kamu, tetapi hadapi masalahmu dengan kepala tenang. Jangan menyiksa diri kamu seperti ini, tidak ada guna, ngak akan selesai juga masalah kamu itu".
"Terimakasih coach atas nasihatnya" menatap Rajif tersenyum simpul "ini bukan bentuk penyiksaan tetapi adalah hobi yang kini menjadi obsesi. Dan untuk masalah, saya tidak memiliki masalah serius hanya tumpukan tugas saja yang menumppuk sehingga membuat saya sedikit stress dan saya melampiaskan emosi stress saya itu dengan latihan keras" tersenyum lagi.
Cantik sekali dia saat tersenyum batin Rajif berteriak keras dan tanpa sadar Rajif juga tersenyum melihat ukiran senyum Risda yang multi jarang keluar alias langka bahkan sangat langka mendapatkan senyuman dari Risda Zay Akli.
Melihat Rajif tersenyum, muka Risda kembali datar lagi, hilang dan musnah sudah senyum Risda dan Risda beranjak bangun, mengambil tas ransel untuk ganti baju dan sholat dzuhur yang sebentar lagi tiba waktunya. "Maaf coach, saya permisi" beranjak pergi meninggalkan Rajif yang baru tersadar bahwa Risda cinta pertamanya telah pergi meninggalkannya lagi seorang diri. Rajif tidak tahu menahu tentang rasa Risda pada Albert yang ia yakini Risda adalah seorang jomblo sejati dan tidak pernah dekat apalagi melakukan yang namanya pacaran.
Risda melangkahkan kakinya menuju toilet untuk membersihkan dirinya dan mengganti baju yang bersih dan menuju mushola yang telah disedikan khusus disitu. Setibanya Risda di mushala pas tiba suara adzan terdengar di telinga Risda. Setelah Risda shalat.
__ADS_1
Kini waktu menunjukan bahwa Risda yang gantian melatih para junior-junior dibawahnya. Risda tidak sendiri melatih para junior ini melainkan Risda berdua melatih dengan rekannya lantas rekan Risda berkata tidak kalah tajam seperti kata-kata Risda sering layangkan pada yang lain sekarang kata pedas nan menusuk tapi nyata itu tertuju padanya "apa?, mau latihan lagi. Tidak bisa, pulang sana. Aku tidak punya waktu menjengukmu di rawat inap" menatap tajam.
Risda juga menatap tajam. Akhirnya terjadi peperangan saling menatap tajam siapa yang paling tajam beberapa detik kedepan. Dan Risda menyerah "ya. Baiklah aku pulang" menunduk pura-pura lesu karena sedih "tapi masih ada waktu satu jam lagi latihannya" sanggah Risda yang tidak ingin pulang dulu.
"Tidak ada tapi-tapian. Pulang atau kamu tidak bisa melatih mereka sama sekali. Kamu pikir tubuh kamu itu robot bisa latihan dua puluh empat non-stop, kamu itu hanya manusia biasa Ris".
"Ya" jawab Risda singkat padat dan jelas. Kemudian Risda berlalu pergi meninggal stadion dan menuju pantai untuk menikmati hari dengan kesendiriannya.
Risda telah sampai di pantai, menatap dalam dan kosong pada hamparan ombak yang saling berkejaran itu, sampai menjelang magrib Risda masih duduk disitu. Alarm hp Risda berbunyi bertandakan sepuluh menit lagi akan adzan maka Risdapun membayar tagihan apa yang telah ia makan dan menuju masjid untuk menunaikan shalat magrib.
Usai shalat, Risda yang sudah bersiap ingin melajukan motornya kembali, tanpa sengaja Risda melihat seorang pemuda yang mendorong motor besar juga sama persis seperti motor kepunyaan Albert. Tapi Risda menyangkal bahwa itu Albert namun disisi lain Risda meyakini itu adalah Albert.
"Pak" panggil Risda.
"Ah iya" menoleh pada Risda "kamu mahasiswa sayakan?" tanya Albert memastikan karena penampilan Risda yang berubah drastis tidak seperti biasanya saat Risda ke kampus.
"Iya pak" tersenyum tulus namun sayang tertutupi kegelapan sehingga Albert tidak bisa melihat senyuman penuh cinta dari Risda untuknya "keretanya sakit ya pak" tanya Risda polos.
"Iya. Habis batery, lupa ngisi bensin. HEhehhe" tertawa canggung.
"Boleh saya bantu dorong pak" tanya Risda mantap.
__ADS_1
"Emangnya kamu kuat?" tanya Albert memastikan, karena masih terselip keraguan dalam hati Albert akan kekuatan yang Risda punya.
Risda yang semenjak tadi ngomong dengan Albert dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari bibirnya kini mendadak datar kembali, ya Risda telah kembali pada mode sedia kala yaitu datar. Entah kemana menghilang senyum Risda.
Tidak ada wanita yang lemah sayangku. Wanita hanya akan lemah jika ditaklukan dengan cinta, didambakan bagai ratu, saat itu berdua diberikan bersamaan maka barulah wanita akan lemah karena pada saat itu ia mengandalkan hati dan melupakan logika batin Risda berteriak membeberkan kebenarannya tapi sayang juga hanya Risda yang bisa mendengarnya sedangkan Albert tidak sama sekali.
"Bapak naik saja. Saya akan dorong".
Albert tidak bertanya lagi dan langsung menaiki motornya karena ia tahu pom bensin sangat jauh dari tempat ia berada sekarang.
Tanpa kata dan tanpa bahasa, melewati jalan berdua bagaikan berkuda hanya kita berdua, sampai mana, entah tidak tahu kemana. Aku ingin mendatangi hatimu membisikkan kata cinta berupa rindu tepat di telingamu dengan suaraku tulus, berasal dari kata hati yang tak dapat terelakkan lagi tapi aku ragu, aku bungkam dengan berbagai bahasa untuk mengutara rasaku ini bahkan suasana biasa ini terasa romantis dalam hatiku namun aku tidak mempunyai keberanian mengungkap akan rasa hatiku padamu, sayangku.
Belasan menit terlewati, melewati angin malam yang menerpa kulit yang tertutupi kain, tidak ada kata yang terlontar dari kekasih yang teranggap asing baginya karena bahasa cinta terlalu dalam yang menyakiti hatiku sendiri.
Kamu adalah pria sejati yang tidak mungkin menyakiti hati kekasih pujaan hatimu.
Apakah aku boleh egois memintamu untuk putus dengan Marliza Selin pacarmu itu dan memilih aku sebagai pacarmu, jika kamu berkenan aku juga bersedia menjadi istrimu.
Sekelebat sengketa antara hati dan logika yang memberontak dalam jiiwa akhirnya Risda menyelesaikan kasus berupa penjedaan dan meredam cintanya untuk sementara jangan sampai Risda melakuan hal gila yang melukai tahta singgasana hargadiri yang selama ini ia jaga, hanya karena cinta.
BERSAMBUNG...
__ADS_1