Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Darah


__ADS_3

Adi dan Bintang memelototkan mata mereka saat cairan berwarna merah mengalir di tangan Risda, setelah Risda duduk sambil menutup hidungnya.


"Riiisdaaaa" teriak Adi dan Bintang bersamaan.


Adi dan Bintang langsung berlari mengampiri Risda yang masih duduk dilantai sambil memegang hidungnya yang terus mengeluarkan darah.


Adi dan Bintang merasakan panik yang luar biasa.


Bintang dengan sigap menggendong Risda menuju mobil Adi sedangkan Adi juga ikutan berlalri menyeimbangi langkah Bintang yang berlari sambil menggendong Risda.


Adi menyetir dengan kecepatan penuh dikarenakan panik dan takut yang mendera diakibatkan darah yang mengalir dari hidung Risda bertambah deras mengalir.


"Santai abang" ucap Risda menenangkan Adi yang mengebut dalam keadaan panik.


Risda melirik Bintang sekilas yang sama paniknya dengan Adi. "Bint" panggil Risda.


"Iya Riss" sahut Bintang dengan nada cemas walau mukanya tetap datar.


"Tolong ambilkan tisu".


Bintang mengambil tisu yang disodorkan oleh Adi.


"Tolong gumpalkan tisu menjadi lonjong panjang".


Walau bingung akan perintah Risda Bintang melaksanakannya sesuai perintah Risda.


"Ini" menyodorkan tisu yang telah Bintang gumpalkan.


Risda mengambil tisu dari tangan Bintang dan memposisikan badannya seperti tiduran dengan mendongakkan kepala keatas supaya darah yang mengalir dari hidung Risda segera berhenti dan memasukkan tisu tersebut kedalam lubang hidungnya.


Bintang yang melihat Risda melakukan hal demikian mengumpalkan tisu satu lagi.


Beberapa menit berselang. Risda memejamkan mata menahan sakit merasakan hidungnya seperti berdenyut.


Bintang melihat Risda yang memejamkan mata kembali panik mendera dirinya. "Ris" panggil Bintang pelan "jangan mati dulu, aku tidak sanggup jika kehilangan kamu" memeluk Risda erat dengan derai air mata mengalir deras.


"Apaan sih" mendorong Bintang menjauh. Risda membuka matanya dan melihat mata Bintang yang berair. "Kamu nangis, Bint?" tanya Risda tersenyum simpul pertama kali melihat Bintang mengeluarkan air mata.


"Jangan tinggalkan aku" ucap Bintang masih dengan nada lirih menahan isak tangis.


Risda melihat Bintang yang mulai rapuh karena dirinya menjadi tidak tega dan membawa Bintang dalam dekapan pelukannya. "Jangan takut, aku tidak akan meninggalkanmu sahabatku" mengusap sayang pada kepala Bintang.

__ADS_1


Adi telah menurunkan kecepatan laju mobil yang sedang ia kendarai setelah mendengar penjelasan Risda dan melihat sendiri keadaan Risda yang tidak apa-apa. Adi yang melihat kelakuan Bintang pada Risda ingin tertawa dan kasihan melihatnya.


Sepanjang perjalanan Bintang terus berada dalam pelukan Risda sedangkan Adi yang melihatnya hanya bisa mendengus kesal saja melihatnya.


Mobil berdecit pelan tanda tujuan telah sampai. Bintang melerai pelukan Risda padanya. Bintang melihat Risda kembali memejamkan mata dan menepuk nepuk pelan pipi Risda supaya bangun.


Tidak ada pergerakan dari Risda.


"Kenapa Bint" tanya Adi yang mulai panik lagi.


"Risda ngak bangun nih"


"Tidur mungkin. Angkat saja Bint, bawa masuk dalam".


Risda kembali berada dalam gendongan Bintang. Bintang membawa Risda masuk dalam klinik terdekat dari pabrik jika harus pergi langsung ke rumah sakit jaraknya lumayan jauh maka dari itu Adi dan Bintang memilih membawa Risda ke klinik terlebih dahulu.


Dokter yang bertugas segera memeriksa hidung Risda yang baru saja berhenti mengeluarkan darah.


"Bagaimana dok" tanya cemas Adi sedangkan Bintang hanya diam menyimak.


"Tidak ada yang serius, tetapi saran saya besok bawa pasien untuk ronsen di rumah sakit takutnya bermasalah pada tulang. Tidak perlu dirawat inap dan biarkanlah dia sadar dulu ya, baru dibawa pulang".


"Hah" terkejut Adi dan Bintang bersamaan. "Bukannya adik saya tidur ya dok" sahut Adi


Adi dan Bintang saling pandang sekilas setelah mendengar gumaman seorang perawat yang ikut membantu merawat Risda.


"Dok, tadinya anda bilang adik saya tidak apa-apa, ini kok malah pingsan dia".


"Adiknya pingsan karena terlalu banyak megeluarkan darah. Sebaiknya cari makan dan minuman manis untuk adiknya ya".


Adi segera berlalu mencari apa yang dokter katakan tadi dan setelah lima belas menit berlalu Adi kembali dengan membawa teh hangat dan beberapa roti.


"Sudah sadar dek. Ini makan dulu, baru kita pulang".


"Pulang sekarang bang" rengek manja Risda yang sudah tidak tahan.


"Yaudah ayo. Ingat ini makanannya tetap harus dimakan".


"Iya abang".


Risda turun dari brankar pasien dan berjalan santai mencoba tenang walau sekarang sakitnya sudah beralih berdenyut di bagian kepala.

__ADS_1


"Bang, ini obatnya belum ditebus".


Bintang menyerahkan secarik kertas yang berisikan resep obat pada Adi dan Adi menyerahkan kunci mobil pada Bintang karena Risda sudah lebih dulu keluar menuju parkiran.


Risda duduk tenang dideretan kursi belakang sambil memakan roti yang telah Adi belikan. "Bint, kamu mau" tawar Risda pada Bintang yang kembali duduk disebelahnya.


"Tidak. Kamu makanlah setelah itu minum obat ya". ucap Bintang yang sedikit panjang kalimat yang dilontarkannya kali ini.


Tidak ada sahutan kata dari Risda hanya anggukan kepala yang terlihat.


Matahari hampir terbenam, mega merah telah muncul tergambar jelas di langit sana, Adi, Bintang dan Risda baru sampai rumah.


Nur melihat kedatangan anak-anaknya sambil menutup jendela rumah, dari kejauhan sedang melaju menuju arahhnya.


Mobil telah berhenti di perkarangan rumah. Risda terlebih dahulu turun menuju kamarnya.


Nur melihat Risda yang jalan sempoyongan segera mengandeng Risda jalan masuk dalam kamar.


Risda telah tidur di kamarnya kemudian Nur berlalu meninggalkan Risda istirahat dan menyusul Adi dan Bintang yang duduk di ruang keluarga.


"Apa yang terjadi pada adik kamu, Di?"


"Adek jatuh dari sofa tadi" jawab Adi sambil mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Jatuh dari sofa kenapa jalannya sampai sempoyongan gitu".


"Mama" potong panggil Bintang pada Nur membantu Adi menjelaskan sambil berpindah posisi duduk di sedeblah Nur dan mengenggam tangan Nur lembut.


"Kami minta maaf karena tidak becus menjaga Risda. Tadi kami ada masalah sedikit di pabrik jadi Risda ikut dengan Bintang ke pabrik. Jadi tadi kami kelamaan meeting, Risda jenuh dan tiduran disofa saat Risda mengubah posisi tidurnya tiba-tia saja Risda terjatuh dari sofa dengan posisi telungkup. Hidung Risda tadi terantuk lantai dan mengeluarkan darah dan kami telah membawanya ke klinik. Kata dokter tidak apa-apa tapi disarankan besok Risda disuruh bawa ke rumahsakit untuk di ronsen takut kenapa napa dengan tulang hidung Risda" jelas Bintang panjang kali lebar sambil mengenggam tangan Nur.


"Besok sabtu dan lusa minggu, mana ada jadwal ronsen".


"Kita tunggu sampai lusa raya tapi permasalahannya Risda mau tidak, pergi ke rumahsakit?".


"Seret saja kakak" timpal Irsyad yang tidak sengaja mendengar kondisi kakaknya saat Bintang menjelaskan pada Nur tadi.


Tiga pasang mata itu manatap Irsyad intens dan memilih mengabaikan Irsyad yang baru saja mengoceh itu.


"Abang, mama, adek lagi ngomong ini, jawablah" protes Irsyad tidak terima diabaikan.


"Mandi sana, bau itu keringatmu dek" Adi menyuruh Irsyad pergi tetapi Irsyad masih saja duduk santai malah sekarang dengan sudah menyalakan televisi sambil menonton kartun kesayangannya.

__ADS_1


"Irsyad" panggil Bintang "Mandi" hanya satu kata yang keluar dari mulut Bintang namun Irsyad segera meloncat kabur menuju kamarnya untuk mandi.


BERSAMBUNG...


__ADS_2