
Bocah perempuan yang sedang mengomel itu seketika berhenti dan menatap takut pada Risda yang sedang menasehati mereka.
"Iya kak" jawab kedua bocah itu serentak.
"Hm kelas berapa kalian sekolah".
"Kelas satu sekolah menengah pertama kak, iyakan ma".
"Panggilan mama papa emangnya kalian sudah nikah apa?"
"Dapat peringkat berapa kalian di sekolah?".
"Saya peringkat sembilan belas (19) kak".
"Kamu berapa?".
"Saya delapan belas (18) kak".
"Dari berapa siswa?".
"Dua puluh tujuh (27) siswa kak".
"Bodoh kalian, otak bodoh taunya pacaran aja, dapat untung apa kalian dari pacaran haa?, apa dengan kalian pacaran otak kalian bisa pintar dan bisa membanggakan orangtua kalian gitu."
"Saya rasa kalian ini sekolah di sekolah yang sama dan kalian ini sekelas?".
"Iya kak kami sekelas" jawab si cewek dengan menahan isak tangis ketakutan sedangkan yang cowok tidak menjawab apa-apa lagi hanya badannya yang terlihat sedikit gemetar.
Risda yang menyadari kedua bocah itu mulai ketakutan, Risda mencoba merilekskan suaranya kembali.
"Kalau kalian sekelas kenapa kalian tidak saling membantu dalam hal pelajaran bukankah itu kalian tetap akan selalu bersama-sama. Berkawan boleh tapi jangan sampai kelewat batas seperti kalian ini, jalan rangkulan tangan, panggilan mama papa. Janganlah merusak diri kalian terutama kamu yang cewek. Nanti kalau kita bertemu lagi awas saja kalian jika tidak mendapatkan peringkat tiga teratas di kelas. Berarti ini kita sudah berjanji untuk pertemuan kita selanjutnya saya tagih janji kalian".
"Mengerti kalian".
"Meengerti kak" jawab mereka serentak tentu dengan nada gemetar ketakutan.
"Pulang sana kalian".
"Iya kak", kedua bocah itu langsung lari kocar kacir sangking takutnya pada Risda, Risda tetaplah Risda walaupun ia ngomong lembut tetap menakutkan karena sifatnya yang sangat tegas. Bahkan ada remaja lainnya yang sedang berpacaran juga di situ langsung berbelok arah berlawanan saat mendengar Risda menasehati dua bocah tadi.
Risda yang melihat hal itu mengernyitkan kulit yang berada di dahinya kenapa remaja lainnya juga menjauh dan ada beberapa juga pengunjung lainya di sana menatapnya bengong, ada yang mengancungi jempol, ada menggelengkan kepalanya dan bahkan ada yang menepuk tangan.
Risda melihat ke depan ada Rita sedang duduk menatap penuh kagum padanya dan melihat sisi kirinya ada Bintang yang duduk sambil tersenyum tulus bangga pada Risda tetapi menurut Risda senyum dari Bintang terlihat menyebalkan.
__ADS_1
"Apaansih kalian senyum-senyum".
"Hebat Riis".
"Hebat darimananya kelakuan bocah sekarang pada pacaran terang terangan di depan orang jomblo dari lahir lagi" jawab Risda dengan nada jutek kesal.
Bhahahahaa. Padahal maksud Bintang, Risda keren dalam menasehati kedua bocah yang sedang pacaran itu.
"Lah Bintang kamu kenapa pulak ketawa sendiri" tanya Risda bingung pada Bintang.
"Oh jadi kamu cemburu sama bocah tadi karna sahabatku yang cantik ini masih jomblo, pacaran aja sama aku apa susahnya sih".
"Enak aja ya, ngak mau aku
Nanti aku pacarannya setelah nikah tidak untuk sekarang merepotkan, buang-buang waktu aja".
"Berarti aku kamu suruh nikahin kamu gitu".
"Siapa yang suruh sih, nantilah setidaknya setelah kita lulus kuliah dan orangnya bukan kamu Bintang, karena kamu akan tetap menjadi sahabat terbaikku".
"Dah ayok pulang mau magrib ini, udah tadi pergi ngak izin sama mama lagi".
"Nih kuncinya" Risda melemparkan kunci mobil pada pemilik aslinya, bukannya tidak mau menyetir lagi tetapi ia sayang dan kasihan melihat kondisi Rita setelah tadi waktu pergi ia yang nyetir.
Bintang yang belum siap menangkap lemparan kunci yang di lempar oleh Risda dengan gelagapan menangkapnya tetapi tetap juga berhasil di tangkapnya.
"Rita, Bintang" panggil Nur dengan suara lembut keibuan.
"Iya ma", jawab mereka serentak.
"Jangan pulang dulu ya, makan malam di sini dulu, kita tungga bapak dan bang Adi pulang baru kita makan ya, tadi sudah mama telepon katanya masih dalam perjalanan pulang, tunggu ya sebentar lagi".
Selang beberapa menit suara deru mesin mobil telah terpakir dengan rapi dalam garasi yang di bangun khusus yang terletak di samping rumah.
Nur menyambut kedatangan Zay dengan senyum indah dari bibirnya sambil menyiumi telapak tangan Zay.
"Ayok kita makan dulu, nanti setelah itu baru bersih-bersihnya. Sayang anak anak sudah lapar, belum makan tungguin bapaknya pulang biar bisa makan barengan".
Semua telah berkumpul di meja makan, makan malam terlaksana dengan canda tawa yang bermula dari coleteh dari Rita.
"Ma tadi kami pergi ke wadhu".
"Ngapain kalian kesana?" tanya Adi dengan penasaran dahi berkerut bingung, karena ia tahu Bintang dan Risda bukan tipe orang yang suka jalan-jalan keluyuran ngak jelas.
__ADS_1
"Jalan-jalanlah ngapain lagi emangnya" jawab Rita ketus dengan muka kesal kemudian ia segera beralih menatap Nur untuk meneruskan ceritanya tentunya dengan ekspresinya yang telah berubah tiada lagi dengan muka menahan kekesalan.
Irsyad yang sibuk mengunyah makanan yang berada dalam mulutnya penasaran dan menyakan kelanjutan dari Rita "Terus".
"Kalian dengar dulu kenapa sih, belum juga aku ngomong ada aja yang memotong cerita aku".
"Emang cerita bisa di potong, ngak adapun pisau yang terlihat" tanya Bintang dengan tampang polos seolah-olah tanpa dosa pada Rita.
"Ish kau Bintang, menyebalkan" Rita menghentikan ceritanya yang belum ia mulai sama sekali. Bintang menghentikan Rita bukan tanpa alasan karena ia tahu Risda tidak suka apa yang ia lakukan ataupun yang ia kerjakan di bicaran oleh orang lain.
Nur yang melihat raut wajah Rita yang cemburut kemudian tersenyum. "Lanjutkan nak apa yang akan kamu ceritakan jangan cemburut gitu dong nanti cantiknya hilang".
"Iya cantik, bibirnya di mundurin dikit jangan monyong gitu" ucap Adi dengan ekspresi serius niat ingin menggoda Rita tapi malah salah bicara.
Zay, Nur dan Irsyad mengulum senyum berusaha sekuat tenaga menahan tawa sedangkan Bintang dan Risda tidak ambil pusing langsung tertawa terbahak bahak sampai mata mereka berair dan memegang perut mereka masing-masing lantaran kram saking kerasnya mereka tertawa.
Irsyad yang melihat itu langsung berucap, "Waw dua es gunung balok sepertinya telah mencair, kekakuan kalian sepertinya sudah menghilang, senang sekali kalian melihat sahabat kalian yang monyong itu".
Rita yang mulanya manyun ngambek sekarang terlihat bingung dan sedikit takut karena hampir enam tahun mereka bersahabat baru kali ini ia melihat ketawa yang begitu lebar dari dua sahabat tercintanya, tidak apa-apalah pikirnya jika dirinya harus di tindas yang penting dua sahabatnya bahagia.
Setelah makan malam usai dan drama juga telah siap, Rita dan Bintang pamit izin pulang.
"Oh iya hati hati kalian di jalan".
"Bintang mama titip anak gadis mama diantar dengan selamat sampai rumah tanpa ada yang lecet ya".
"Iya siap mama.
...****************...
"Bintaang" teriak Rita begitu melihat Bintang dan Adi baru pulang dari kilang padi.
"Apaansih Ta, teriak teriak tidak jelas, kamu mau bikin aku budeg ya dengan teriakan cempreng kamu itu".
"Ya maaf".
"Ada apa".
"Aku mau nagih janji kamu waktu itu soal pergi ke wisata di puncak gunung".
"Ish masih ingat kamu rupanya".
"Iya ingatlah, masak engak. Jadi kapan kita pergi, Ayoklah kita pergi".
__ADS_1
"Iya iya akhir pekan nanti kita pergi".
BERSAMBUNG.......