Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Menjenguk


__ADS_3

Plak. Adi memukul kepala Irsyad pelan. "Yang sopan kamu."


"Aduuh" lirih Irsyad sambil mengusap-ngusap kepala bagian yang sakit akibat pukulan dari Adi. "Iya iya iya."


"Maaf. maksudnya suami Risda apa ya. Rasanya saya belum pernah menerima lamaran siapapun untuk menjadi menantu saya. Risda sedang sakit dan sedang dirawat di RS xx melati no sembilan, jika ingin menghampiri silahkan mendatangi" melangkah dua langkah kedepan dan berbalik badan, mengunci pintu, berlalu pergi meninggalkan Rajif dalam kebingungan".


Irsyad mengikuti langkah Nur dan juga meninggalkan Rajif.


Adi masih berdiri menatap Rajif dalam "sepertinya saya tidak asing dengan kamu. Asalkan kamu tahu, orangtua Risda orang yang tegas apalagi ini menyangkaut tentang anak gadis kesayangan mereka maka sikap mereka akan lebih protektif lagi.  Kamu baru saja melakukan kesalahan di hadapan mamanya Risda, jika kamu benar-benar menyukai Risda kuharap kamu tidak melakukan kesalahan lagi dihadapan bapaknya Risda. Satu lagi jika ingin melamar anak gadis orang harap belajar etika dan pahami tata cara bagaimana cara melamar yang sesungguhnya" tersenyum dan menepuk bahu Rajif sekali dan berlaku pergi menghampiri Nur yang lebih dulu masuk dalam mobil bersama Irsyad.


Rajif berbalik badan melihat kepergian Adi, Nur dan, Irsyad. Setelah mobil yang dikendarai Adi menghilang lantas Rajif juga masuk dalam mobilnya lagi tetapi Rajif tidak langsung jalan malah sibuk berselancar di situs web pencarian bagaimana tatacara melamar yang benar. Hampir dua jam berlalu barulah Rajif menghidupkan mesin mobilnya dan menekan pedal gas mobil menuju ke RS hanya untuk menjenguk Risda saja.


Adi, Irsyad dan Nur kini telah berada di RS tepat dalam ruangan dimana Adi dan Risda di rawat. Suasana terasa aneh dan tidak nyaman lantas Nur berdiri diambang pintu memastikan apa yang sedang terjadi, sedangkan Adi dan Irsyad hanya bisa mengintip dari balik celah celah yang tersedia, memperhatikan dan menyimak apa yang terjadi.


"Dapat izin darimana kamu peluk anak saya."


Bintang diam tidak menjawab, hanya menunduk menatap lantai.


"Apa kalian sering peluk-pelukan dibelakang saya," merendahkan intonasi bicara dengan tetap menatap tajam lawan bicara.


"Pak" panggil Risda untuk mengalihkan amarah Zay.


"Iya" mendekati Risda.


"Kakiku tidak bisa digerakkan," mata mengembun siap hendak menangis kembali.


"Syut. Tidak. Jangan bicara yang tidak tidak, berpikir posistif aja ya."


Nur melihat kondisi tidak semencekam tadi lantas masuk kedalam ruangan dan juga diikuti oleh Adi dan Irsyad.


Adi yang tanpa diminta menyuarakan suaranya, malah bersuara mengatakan "apanya yang tidak lumpuh, itu kaki sudah ikat sampe membiru kayak gitu." merebahkan badan duduk di kursi sofa panjang yang juga diikuti oleh Irsyad.

__ADS_1


Nur menatap datar Adi, tanpa berniat mengomentari.


"Apa salahku?" tanya Adi saat melihat tatapan tajam Nur tertuju padanya. Kemudian Adi melihat Bintang yang tumben yang berdiri bagaikan tembok tiada pergerakan sama sekali. Irsyad mengikuti arah pandangan Adi yang menatap Bintang, satu senyum terukir dari wajah Irsyad. "Bang, julukan tembok semakin cocok untuk abang," celutuk Irsyad yang tidak diminta.


"Irsyaaadd," seru Nur dan Zay bersamaan "tidak sopan."


Irsyad hanya bisa menanggapi seruan Nur dan Zay dengan senyuman cengengesan dan beralih pandangan merogoh hp dalam saku celananya dan mulai fokus menatap layar monitor hp memainkan game kesukaannya.


"Adi, mana bubur yang kamu masak tadi?".


"Dimobil ma. Maaf, lupa turunin tadi," bangun dan keluar ruangan menuju parkiran untuk mengambil bubur yang tertinggal dalam mobil.


Risda sudah berhenti menangis semenjak Irsyad mengatai Bintang yang sangat cocok dijuluki sebagai tembok. Dan kini Bintang sudah beranjak duduk diatas brankar pasiennya.


Tidak lama waktu berselang Adi kembali lagi dengan menenteng serantang makanan yang berisi bubur dan buah-buahan yang telah dikupas Adi. Adi menyiapkan makanan dan memberikan pada Bintang dan Risda. "Makan sampai habis jangan sampai ada sisa." Bintang menatap Adi datar seperti biasanya.


"Jangan lihat aku seperti itu," berpaling wajah "aku capek masaknya, sayang kalau dibuang."


"Heum," dehem Bintang dan Risda yang mulai mode datar kembali.


Lebih dari satu jam waktu terlewati, bubur yang tersedia juga sudah habis dilahap oleh Bintang dan Risda habis tidak ada sisa. Terdengar suara ketukan pelan dipintu kamar. Adi, Bintang, Irsyad, Nur, Risda dan Zay mengalihkan atensi mereka melihat siapa yang datang bertamu. Terlihat Rajif yang muncul dari balik pintu yang kini telah terbuka "Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." jawab serentak semua orang yang ada dalam ruangan.


"Masuk," ucap Risda, memepersilahkan Rajif masuk.


Rajif masuk dalam ruangan dengan perasaan canggung tidak sepede awal tadi, saat ia bertamu kerumah Risda. Rajif datang lagi kini tidak membawa bunga seperti tadi melainkan sudah mengganti buah tangannya menjadi buah-buahan.


"Waw. Dari bunga berubah menjadi buah," Irsyad.


Teguran kembali dapatkan melalui tatapan tajam yang diberikan oleh Adi sedangkan Nur tidak menanggapi.

__ADS_1


Risda terkejut akan kedatangan Rajif mengunjingi dirinyta di RS. Risda bertanya-tanya dalam benaknya darimana Rajif tahu bahwa dirinya sedang di rawat inap, lantas Risda bertanya "darimana kamu tahu, kalau aku disini?."


"Tadi aku sudah datang kerumah, ibu bilang kamu disini," tersenyum,.


"Jadi kamu menyusul kesini. Apa untungnya," sarkas Bintang .


"Apa salah mengunjungi teman yang lagi sakit?."


"Baguslah jika kamu hanya menganggapnya sebagai teman".


Rajif hanya bisa menanggapi Bintang dengan senyuman singkat saja.


Suasana canggung mulai terasa Risda mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengatakan "duduk bang." Dan Rajif menurutinya, duduk di sofa panjang yang diapit oleh Adi dan Irsyad.


Tidak sampai satu jam waktu berlalu, perbincangan hangat terus berjalan tidak ada lagi canggung atau rasa tidak nyaman terasa. Namun kini Rajif harus beranjak pergi meninggalkan kenyamanan kehangatan keluarga Risda yang baru dirasakannya.


Rajif pergi setelah mendapat izin pergi dikarenakan pekerjaan menunggu dan menanti dirinya.


...****************...


"Tamunya sudah pulang," menatap Bintang tajam "kamu harus tanggungjawwab."


Bintang diam menunduk tahu arah pembicaraan Zay. Malah Risda yang bertanya lupa apa yang telah terjadi setelah kepergian tamunya tadi.


"Baik saya akan bertanggungjawab pak."


"Eh, tanggungjawab apa ini."


Risda masih bingung dengan situasi yang terjadi sedanggkan Bintang dibalik wajah datar sedang kesengan setengah mati.


"Bulan depan kalian nikah."

__ADS_1


"Tidak." Memelototkan mata, muka garang seperti saat dimana Risda melatih karate dilapangan.


Nur senyum tipiis menanggapi, sesuai rencana, sudah lama Nur dan Zay mengintai waktu yang pas, membicaraka pernikahan Risda anak kesayangan mereka. Sedangkan Adi dan Irsyad sudah mulai senyum-senyum sendiri menggoda Bintang dan Risda walau tidak ditanggapi sama sekali.


__ADS_2