
Bintang dan Risda berjalan bersama-sama menuju arena panjat tebing yang sudah terlihat. Bintang melirik Risda yang berjalan disebelahnya yang berjalan dengan raut wajah kebahagian, senyum tipis terus terpancar dari wajah cantik nan manis Risda.
Aku akan melakukan apapun demi terbitnya senyum dari wajah cantikmu. Aku bahagia melihat bahagiamu, aku tersenyum melihat senyum dari wajahmu walau senyumku tidak sama seperti senyum mereka. Dan jika itu menyangkut sedih atau laramu, akulah yang paling tersakiti jika menyadari atau melihat hatimu menangis. Aku mohon tetap bahagia seperti ini sayangku.
"Terimakasih Bintang" ucap Risda tulus.
"Heum" deheman singkat sebagai jawaban dari Bintang.
Risda tidak mempedulikan Bintang menjawab dengan deheman atau kata apalah, Risda tidak peduli yang penting dirinya telah mengucapkan kata terimakasih pada Bintang.
Bintang dan Risda terus melangkahkan kaki mereka mendekati tebing tinggi yang terlihat menjulang itu. Bintang dan Risda rencana pertama mereka jatuh pada panjat tebing.
Bintang dan Risda mendekati tempat pembelian tiket terlebih dahulu sebelum memanjat, setelahnya mereka berdua langsung masuk dalam antrian.
Kini saatnya giliran Bintang dan Risda yang akan memanjat berdua yaitu Bintang dan Risda.
Tebing yang akan mereka panjat sekitar ketinggian lima puluh meter ketinggiannya.
Bintang dan Risda malangkah mendekati tim pengawas yang menjaga keamaan disitu. Bintang dan Risda berdiri berdamping dengan tim pengawas yang ada di situ yang sedang memasang tali karmantel atau tali pengaman pada Bintang dan Risda yang panjangnya sekitar lima puluh atau sampai dengan tujuh puluh meter. Tali karmentel digunankan sebagai penghubung puncak dan tebing bawah.
"Bint" panggil Risda "lead climbing" menaik turunkan alis menantang Bintang.
"Ya" jawab Bintang singkat.
"Bersiaplah" ucap Risda sambil tersenyum simpul.
"Satu" hitung Bintang.
"Sebentar" henti Risda.
Bintang berpaling wajah menatap Risda mengiyarat "apa".
"Apakah ada piagam jika aku menang" tanya Risda.
__ADS_1
"Tidak ada" jawab Bintang santai.
"Heum" dehem Risda sambil menaikkan kedua alisnya tanda mengerti.
"Satu" hitung Bintang lagi sambil melihat Risda dan berpaling kembali pada tujuan fokusnya "dua" Bintang mulai bersiap, Risda juga mulai memposisikan dirinya "tiga".
Siap hitungan yang terlontar dari mulut Bintang dengan segera Bintang dan Risda meloncat naik keatas tebing adrenalin buatan manusia itu.
Hanya butuh waktu satu menit beberapa detik Bintang dan Risda sampai keatas puncak ketinggian sana. Bintang dan Risda sampai bersamaan. Gerakan Bintang dan Risda cukup gesit, sehingga beberapa orang yang melihat kegesitan Bintang dan Risda menjadi cukup terkagum akan gerakan Bintang dan Risda.
"Yah, tidak ada yang menang" ucap lirih Risda memandang Bintang.
"Anggap saja kamu yang menang Ris".
"Enak saja, mana bisa" lantang Risda sambil memalingkan wajah "ngak ada aturan yang seperti itu".
"Aku mau naik itu" menunjuk dengan dagu.
Baru juga Bintang menoleh pada objek yang ditunjuk Risda namun dalam sekedip mata Risda telah menghilang disampingnya.
"Ada sapu tangan di pinggangmu Bint" teriak Risda dari bawah.
"Untuk apa?" tanya Bintang.
"Pintar-pintar kamulah Bint, mau gunakan untuk apa". Setelahnya Risda tidak mempedulikan Bintang.
"Pak tolong, pak" minta tolong Risda pada tim penjaga disana untuk membuka tali pangaman yang ia gunakan.
Bintang yang berada masih diatas puncak ketinggian sana mencari-cari sapu tangan yang diselipkan Risda pada bagian pinggang. Bintang menemukan sepasang sapu tangan tebal di bagian pinggangnya yang di tempel Risda dengan bantuan perekat khusus kain. Bintang membatin mempertanyankan dari mana Risda mendapatkan ide ini, sejak kapan ia menyelipkan sapu tangan ini dan kapan ia membali sapu tangan ini, apa mugkin ia bawa dari rumah. "Ahh" kesal Bintang seorang diri.
Risda teleh selesai melepaskan tali karmantel yang terpasang pada tubuhnya sebagai pengaman panjat tebing ia lakukan tadi yang dibantu oleh tim penjaga yang ada disana juga dan sekarang Risda duduk tenang diatas rumput hijau sambil memeluk kedua lututnya. Risda mendongakkan kepalanya keatas memperhatikan Bintang yang susah payah mencari dan memakai sarung tangan.
Risda tersenyum simpul memperhatikan Bintang yang sedang berjuang diatas ketinggian sana.
__ADS_1
Bintang turun dari ketinggian tebing yang ia panjat dengan perlahan tidak seperti cara Risda turun hanya dengan sekali lompatan seperti pelatih-pelatih profesional yang dengan mudah turun dari ketinggian dengan mudah.
Hampir satu menit berlalu Bintang baru sampai kebawah dan langsung disambut tim panjaga yang bertugas membuka tali karmantel yang terpasang pada Bintang.
Risda bangun dan beranjak mendekati Bintang "lima puluh delapan detik" ucap Risda sambil melihat jam arloji yang melekat pada tangan Risda.
Bintang diam tidak merespon Risda dengan kata hanya dengan lirikan singkat yang Bintang berikan pada Risda. Dan Bintang juga tidak mempermasalahkan sikap Risda yang emang sudah lazim cuek itu.
Tali karmantel yang terpasang pada badan Bintang kini telah terlepas dan kata terimaksih tak lupa Bintang ucapkan terlebih dahulu pada penjaga yang membantunya membuka tali karmantel, setelahnya Bintang melangkah kaki keluar dari area tebing yang diikuti oleh Risda.
"Apa lagi?" tanya Bintang yang sedang berjalan beriringan dengan Risda.
"Tinju" tunjuk Risda dengan telunjuk tangannya.
"Tidak" tolak Bintang telak "Bahaya".
"Bahaya apanya, kan ada pengaman. Boleh ya, boleh ya Bint. Ayo kita coba" rayu Risda pada Bintang supaya Bintang mengizinkannya.
Hembusan napas terdengar kasar dari Bintang "Baiklah, tapi ini yang terakhir, setelah ini langsung pulang.
"Ya" jawaban singkat dari Risda.
Sayangku, kamu begitu bersinar dengan pancaran semburat keinganan yang ingin kamu lakukan. Aku tidak mampu menghentikanmu dan aku tidak rela melihat pancaran kesedihan atau kelukaan tercetak pada wajahnmu, sayangku. Aku bukanlah insan yang sempurna yang mampu menyerpurnakan hidup bahagiamu namun aku akan melakukan apapun demi bahagiamu. Muhammad Bintang.
Kini giliran Risda dan Bintang yang menaiki dan aturan dari game olahraga ini, Risda akan berhadapan dengan Bintang yang dimana Risda disini akan melawan Bintang diatas ring tinju itu.
Bintang duduk samping matras memperhatikan Risda yang sedang mamakai sarung tangan.
Risda terlihat sangat serius saat memakai sarung tangannya.
Bintang menatap Risda tanpa kedipan, bibir tersenyum tipis memperhatikan keseriusan sang kekasih hati.
Diam-diam Bintang mengeluarkan hp nya untuk membidik Risda dengan kamera hp yang ada padanya.
__ADS_1
Cekrek. Suara kamera. Suaranya pelan sehingga Risda tidak mendengar suara kamera Bintang disebabkan pula keseriusan Risda yang terlalu mendalami menjalani aktifitasnya. Senyum simpul tercetak pada bibir Bintang mengagumi Risda yang mempunyai sifat beda dari kebanyakan wanita lain diluar sana. Dimata Bintang hanya Risda yang terlihat yang lain tidak. Mau heran, tapi ini Bintang yang tidak main-main dengan perasaan hatinya.
BERSAMBUNG...