Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Diary


__ADS_3

Mobil yang Bintang kendarai masuk dalam perkarangan rumah, dari kejauhan Bintang melihat segerombolan pelajar sekolah menengah atas duduk santai sambil berkaroke ria dengan alunan lagu suara merdu dari masing-masing siswa dan siswi itu. Bintang melihat jam arloji yang terpasang di pergelangan tangannya oo pantas saja anak-anak itu nyantai disisni bukannya pulang kerumah masing-masing, emang udah waktunya pulang.


Irsyad yang sedang tertawa kegirangan bersama teman-teman sekolahnya yang berada di bawah pohon jambu dan mangga sambil menikmati rujak tentunya bersama-sama dengan kawan-kawannya langsung berdiri saat melihat mobil Bintang memasuki perkarangan rumah dan kawan Irsyad yang lain juga ikut berdiri saat melihat Irsyad yang berdiri itu.


"Abang" panggil Irsyad lirih.


Dari kejauhan Bintang melihat Irsyad yang tiba-tiba berdiri mengeryitkan dahinya bingung kenapa Irsyad berdiri raut takut-takut pada dirinya. Bintang tidak mempedulikan itu lalu turun dari mobil dan memutar haluan ingin membuka pintu sebelah yang diduduki oleh Risda.


"Risda bangun" Bintang menggoyang-goyangkan badan Risda perlahan namun nihil hasilnya sudah pasti Risda tidak mudah bangun jika sudah tertidur. Satu helaan nafas kasar terdengar dari Bintang. Bintang mengambil keputusan untuk mengangkat mengendong Risda saja masuk kedalam untuk menghemat waktu karena sia-sia saja membangunkan Risda yang tidak akan bangun jika belum waktunya bangun.


Disisi lain Irsyad yang masih berdiri menegang diantara kawan-kawannya menghembuskan napasnya pelan dan mengelus dadanya tanda selamat. Irsyad berpikir Bintang akan memarahi dirinya karena membawa teman-temannya kerumah tanpa izin terlebih dahulu.


"Irsyad" panggil salah satu teman Irsyad yang perempuan.


Irsyad menolehkan kepalanya pada sumber suara "apa".


"Itu siapa" bertanya sambil menunjuk dengan dagu dan kemudian menaik turunkan alisnya tanda rayuan.


"Kecentilan lo" teriak teman Irsyad lainnya sambil melempar potongan buah.


Sedangkan Irsyad melongo terkejut tidak percaya ganteng dari mana? abangku itu sikapnya aja dingin kayak es balok gitu monolog hati Irsyad yang membenarkan logikanya.


"Ih apaansih kalian, lihatlah baik-baik orangnya ganteng loh itu" tersenyum-senyum sendiri "Irsyad itu siapa sih?" bertanya lagi masih dengan senyum centil.


"Abangku" jawab Irsyad singkat.

__ADS_1


"Yah, udah ada yang punya" siswi itu terlihat kecewa melihat Bintang yang menggendong seorang wanita yang sangat romantis dalam pandangan matanya.


"Hahahahahha" tertawa kompak teman-teman Irsyad, tertawa mengejek temannya yang kecintilan itu.


Malam harinya Risda mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan pencahayaan dengan kelopak mata yang lama telah terpejam.


Risda bangun melihat jam di dinding terlonjak kaget karena Risda telah melewatkan sholat ashar. Risda terburu-buru masuk kembali kekamar bersiap sholat magrib yang masih tersisa waktu sedikit lagi.


"Kak, kak, kakak tuh tidur atau mati sih" ucap santai Irsyad santai tidak habis pikir kakaknya kok bisa tidur seperti orang mati dengan melipat kedua tangannya di dadanya dan badan Irsyad yang bersandar di dinding.


Irsyad sedikit berngedik ngeri melihat tatapan tajam kakaknya itu sekilas, lalu Irsyad segera membalik haluan melangkahkan kakinya menuju dapur memilih membantu Nur saja didapur yang sedang sibuk mempersiapkan makan malam mereka.


Makanan sudah tersaji semua siap untuk dinikmati bersama. "Beres" ucap Nur lirih yang masih bisa didengar oleh Irsyad. Arah mata Nur kemudian beralih pada Irsyad yang masih setia berdiri disampingnya "nak, tolong panggilkan abang, bapak sama kakak ya".


Irsyad masih berdiri ditempat tanpa gerakan maupun jawaban.


Irsyad menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal tanpa niat ingin beranjak sedikitpun langkahnya yang telah menancap sempurna.


"Iya-iya, adik panggilkan kakak sekarang" bagaikan buah simalakama yang Irsyad rasakan sekarang ini maju kena, mundurpun sama-sama kena. Irsyad takut bertemu dengan kakaknya karena barusan saja dirinya mengejek kakaknya, kalau dirinya tidak memanggil sama aja dirinya akan kena omelan dari Nur, ibunda tercinta.


"Kakak" teriak Irsyad menggema seluruh rumah.


Risda yang tertidur kembali selepas sholat maghrib terlonjak kaget dengan teriakan adiknya itu, langsung keluar dari kamarnya.


Phoom pintu terbanting keras akibat Risda yang sedikit panik mendengar suara teriakan adik kesayangannya "kenapa?" tanya Risda cemas.

__ADS_1


"Hehehe dipanggil sama mama kak" sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal akibat canggung yang lagi-lagi membuat kakaknya marah padanya.


"Hm" jawab Risda cuek, malas menanggapi. Risda masuk kembali dalam kamarnya untuk membuka mukena yang masih melekat pada badannya. Tidak lama setelahnya Risda keluar lagi dari kamarnya dan menuju dapur bergabung bersama yang lain.


"Anak gadis maghrib-maghrib tidur, kalau udah tidur lupa bangun lagi" cibir Adi untuk merubah kebiasaan buruk Risda itu.


Lagi-lagi hanya deheman jawaban dari Risda yang malas meladeninya tetapi apa yang abangnya katakan Risda membenarkan itu. Risda berjanji pada dirinya sendiri untuk merubah kebiasaan buruknya sedikit demi sedikit.


Makan malam telah selesai semua anggota keluarga kini berkumpul di ruang keluarga sama seperti malam sebelumnya hanya pada malam hari saja anggota keluarga berkumpul semua.


Sekali dua kali terlihat Nur menguap menahan kantuk yang mulai menghampiri dirinya. "Tidurlah ma, kalau udah ngantuk" ucap Zay sambil menatap Nur istrinya.


"Ayok pa" ajak Nur.


Satu persatu anggota keluarga masuk dalam kamar masing-masing untuk mengistirahatkan badannya setelah seharian penuh menjalani aktivitas yang melelahkan dari pagi hingga sore harinya.


Sekilas arah jarum jam yang menempel sempurna di dinding menunjukkan angka jam sebelas malam. Risda masih duduk sendirian di ruang tamu sedangkan yang lain sudah pada nyaman dengan mimpi indahnya. Entah sejak kapan peralatan menulis Risda sudah berada di hadapan Risda, laptop, buku, pulpen dan barang lain sebagainya.


Aku Risda Zay Akli seorang gadis tomboy yang baru mengenal cinta. Hari ini aku melihat dirinya cinta pertamaku dari kejauhan hatiku berbunga-bunga berjuta tangkai seketika tumbuh tanpa mau tahu ada atau tidaknya tempat lapang bunga itu tumbuh. Bunga yang tumbuh sedikit berduri dan melukai hatiku sendiri sedangkan dirimu tidak tahu apa-apa sayang.


Aku Risda Zay Akli seorang anak gadis remaja beranjak dewasa yang baru mengenal dunia percintaan. Ahmad Alfarisi Albert cinta pertamaku. Aku selalu mengharapkan sebuah temu terjadi diantara kita namun aku sadar temu diantara kita hanya aku saja yang mengharapkannya sedangkan kamu tidak sama sekali, walaupun seperti itu aku tetap masih mengharapkanmu sayang.


Sudah beberapa hari berlalu setelah pertemuan tanpa sengaja di hari itu yaitu pertemuan yang hanya Risda seorang yang mengharapkannya sedangkan Albert sendiri tidak tahu apa-apa.


Pagi hari di akhir pekan yang cerah, tidak ada mata kuliah di akhir pekan dimana para mahasiswa dan mahasiswi merehat badannya sementara, tidak ke kampus namun tidak dengan pikiran dan waktunya yang penuh dengan tumpukan tugas.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2