Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Pasar Malam


__ADS_3

"Turunlah" ucap Bintang setelah memberhentikan mobil tepat di gerbang utama.


"Lah, kamu Bint" cemas Rita.


"Cari tempat parkir dulu" jawab Risda tanpa diminta.


"Yang aku tanya siapa?, yang jawab siapa?" sarkas Rita.


"Sudah-sudah, ayo turun" lerai Adi saat melihat Risda yang hendak menjawab lagi.


"Kami tunggu depan gerbang" beritahu Risda yang dibalas anggukan kepala oleh Bintang.


Risda dan Rita turun terlebih dahulu sedangkan Adi ikut bersama dengan Bintang mencari tempat untuk parkir.


Helaan napas kasar dari Bintang terdengar saat melihat parkiran tidak ada yang kosong, penuh.


Lima belas menit berlalu Adi dan Bintang menuju gerbang utama dimana tempat Risda dan Rita menunggu.


"Ayook masuk" ajak Adi sambil menggandeng tangan Rita.


"Eh" terkejut Rita, mengikuti langkah Adi. Tidak ada bantahan dari Rita saat Adi mengenggam tangannya erat.


Sampailah mereka pada pembelian tiket untuk naik wahana raksasa.


Adi membeli tiket sebanyak dua belas voucher, alias tiga permainan raksasa akan mereka naiki.


"Abang, itu kebanyakan tiketnya" tunjuk Rita pada tangan Adi.


"Tidak" jawab Adi cepat "bahkan ini tidak akan cukup" melihat kearah tangannya yang memegang voucer tiket menaiki wahana.


Pillihan pertama Risda jatuh pada permainan kora-kora.


Adi, Bintang, Risda dan Rita tidak perlu terlalu lama menunggu antrian, berkat kekuasaan dan kemampuan dan kecerdikan Bintang, mereka berempat bisa langsung naik kora-kora tanpa harus menunggu lama.


Aaaaaaa


Aaaaa


AAAa


Teriak para penumpang diatas kora-kora.


"Bintang ayok teriak" teriak Rita menyuruh Bintang.


Bintang hanya mendengus kesal dan dibalas senyuman dari Risda yang duduk bersebelahan dengannya.


"Aku teriak dulu ya Bint" izin Risda pada Bintang


"Silahkan".


Dalam seketika aura Risda, muram, datar tanpa eksperesi dan "AAAaaaaaaaaaaaaaa" teriak Risda sekeras kerasnya mengalahkan teriakan yang lain.

__ADS_1


Adi dan Rita yang duduk tepat depan Bintang dan Rida sontak memalingkan wajah kebelakang, melihat Risda yang berteriak bagaikan naungan singa yang meluapkan amarah.


Adi dan Rita memutar leher mereka separuh guna untuk memastikan siapa yang sedang berteriak itu, kemudian mereka menelan ludahnya susah dan kembali berteriak bersama-sama saat ayunan kora-kora kembali melayangkan mereka tinggi diatas ketinggian setara hampir enam tingkatan bangunan.


Klup.


Listrik padam.


"HAhahaahhahha" tawa Bintang dengan Risda mengelegar membuat semua penumpang dan antrian yang belum naik merinding seketika.


Bintang dan Risda menambah kadar tawa mereka saat merasakan ayunan kora-kora melebihi batas normal.


Sambil berteriak ketakutan, Adi dengan Rita bergumam lirih "dasar pasangan sinting, hampir medekati maut saja, mereka baru bisa tertaw, dulunya kemana tawa mereka". Melajutkan teriakan "Aaaaa".


Beberapa menit terlewati dengan pemadaman listrik sementara. Arus listrik telah normal kembali dan wahana kora-kora juga telah berhasil dihentikan dan semua penumpang turun dengan wajah yang terlihat muram ketakutan dan ada juga yang kegembiraan.


Tawa menggema masih terdengar beralun alun, bukan tawa kebahagian melainkan tawa peluapan yang sedang terjadi pada dua insan yang terlihat seperti pasangan.


Adi dan Rita saling menatap bingung pada Bintang dan Risda yang baru menghentikan tawa dan menggantikannya dengan senyuman.


"Kalian'' tatap Adi tajam pada Bintang dan Risda ''bisakah kalian menghentikan tawa kalian, sungguh, jika kalian tersenyum ataupun tertawa sungguh sangat menakutkan'' ungkap jujur Adi dari lubuk hatinya yang terdalam.


Tidak ada balasan dari Bintang dan Risda hanya lirikan sekilas dan menghentikan tawa yang mereka lakukan.


Bintang dan Risda melanjutkan langkah mereka menuju wahana lainnya sambil bergandengan tangan dan diikuti oleh Adi dan Rita yang juga ikut bergandengan tangan.


Bintang melirik sekilas pada tangan Risda yang mengenggam tangannya erat dan melihat sekilas pada wajah Risda yang tersenyum manis, walau tipis.


Bermekar bunga hatiku dengan senyummu kasih, senang jiwaku karena bahagiamu dan senyummu. Tidak mengapa bagiku jika sekarang bukan aku cinta pertamamu, semoga nanti aku menjadi cinta terakhirmu.


Muhammad Bintang


Derap langkah Risda begitu lebar membawa Bintang menuju wahana yang ada di pasar malam. Bintang dengan mudah bisa menyesuaikan langkah lebar Risda namun tidak dengan Rita yang sudah bernapas terengah-engah, kecapekan.


"Riss" panggil Rita berteriak.


Tidak dihiraukan oleh Risda yang terus melangkah dan dengan tetap mengenggam tangan Bintang erat.


Langkah lebar Risda dan Bintang tetap diikuti oleh Adi dan Rita dengan napas yang terengah-engah.


Adi  melihat Rita yang begitu kelelahan menyusuaikan langkahnya dengan Risda dan Bintang. Adi tersenyum merasakan degupan dadanya yang bergemuruh hebat akibat genggaman tangan yang tergenggam erat oleh Rita.


Kriing Kriing Kriing dering ponsel Adi.


"Iya hallo ma"


...


"Ada"


...

__ADS_1


"Pasar malam"


Setelah sambungan tereputus sambil terus berjalan menyeret langkah, Rita bertanya pada Adi "siapa?".


"Mama" tersenyum hangat.


"Ish" Rita mencibir dan berpaling muka "mentang-mentang ganteng, tebar pesona jadi hobi" gumam lirih Rita yang masih bisa didengar oleh Adi.


Lagi dan lagi Adi tersenyum senang dengan gumaman lirih Rita.


"Sayang" panggil Adi pada Rita.


Tidak ada sahutan dari Rita.


"Sayang" panggil lagi Adi.


Belum ada sahutan juga dari Rita.


"Saayaangg" panggil manja Adi.


"Apasih?" melotot malu Rita dengan orang-orang yang menatap kagum pada mereka.


"Kenapa tidak izin sama mamak tadi"


"Lupa" jawab Rita cepat.


Dalam hati Adi bersorak riang dengan jawaban panggilan sayang darinya, walaupun jawaban bernada kekesalan yang ia dapatkan tapi Adi menyadari sesuatu, kalau perasaannya sudah mulai Rita terima perlahan.


Balasan tiket voucher telah mereka habiskan dan pukul telah menunjukan larut malam. Adi dan Bintang melihat kearah pergelangan tangan mereka masing-masing, melihat jam yang tertera pada jam tangan arloji mereka.


"Pulang" ucap mereka bersamaan.


Risda dan Rita tersentak kaget menatap heran pada Adi dan Bintang yang tumbennya kompak sambil menghentikan gerakan mereka mengelap lelehan keringan yang membasahi mereka.


"Abang bisa tegas juga ya" ucap sarkas Risda karena kesal membuatnya terkejut dan langsung melihat Bintang tajam sekilas sedangkan Rita hanya tersenyum tidak jelas.


"Kamu kenapa lagi" tanya Bintang pada Rita.


"Tidak ada apa-apa".


Empat pasang kaki keluar gerbang utama menuju parkir mobil untuk kembali pulang. "tungu disini" henti Bintang.


Selang lima menit berlalu, Bintang telah kembali dengan mengendarai mobil sedan miliknya. Adi, Risda dan Rita masuk kedalam mobil dan mencari posisi duduk ternyaman mereka.


Mobil melesat pergi hendak pulang. Keadaan dalam mobil terasa hening tak ada sepatah katapun yang terucap tiba-tiba kruuk krukkk kruuk. Bunyi perut Risda yang terdengar nyaring.


Hahhahhahah


Tawa Adi dan Rita pecah seketika sedangkan Bintang melihat kearah Risda sekilas dan meluruskan pandangannya kedepan kembali memfokuskan diri dalam menyetir.


Asal bunyi yang menyebabkan sahabat dan abang tertawa adalah dirinya. Tidak ada kata yang terucap dari Risda menunduk menatap sebal pada perutnya sendiri dan kemudian memilih membuang pandangannya kearah luar jendela menyaksikan pepohonan yang saling berkejaran seiring kelajuan mobil yang ia tumpangi melaju sedang.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2