Cinta Bercabang

Cinta Bercabang
Tampan


__ADS_3

Setengah jam berlalu setelah perang bodoh dan malu terjadi. Adi dan Bintang keluar dari masjid dengan ketampanan yang bertambah berkali kali lipat.


Rita melihat dua pria tampan berjalan menuju kearahnya memberitahukan dan memamerkan kegantengan pria tersebut pada sahabatnya, Risda "Riis, lihat mereka" menunjuk Adi dan Bintang yang sedang berjalan beriringan "tampan ya".


Risda melihat kearah yang ditunjuk oleh Rita, Risda juga mengakui dalam hatinya kedua pria itu memang tampan apalagi Bintang yang penuh berkarisma dengan sikap cueknya itu yang selalu mendominasi tapi tidak dengan mulut Risda yang mengatakan "tidak, biasa-biasa ajalah" kembali merebahkan badan istirahat sejenak lagi.


"Ish" decih Rita "akui sajalah" tersenyum-senyum sendiri "awas hati-hati Ris, takutnya nanti kamu jatuh hati sama Bintang, apalagi kalau kalian jadi pasangan. Uhhh serasinya" masih ngoceh kesana kemari tidak sadar mata elang Risda sedang memindai dirinya.


Phoom. Suara pintu mobil tertutup dan dua pria tampan telah masuk dalam mobil kembali dan salah satunya duduk tepat disebelah Rita.


"Seharusnya kamu yang harus pandai jaga hati, lihat ke sebelah kamu itu" Rita menoleh kesampingnya dan mendapati Adi yang tengah tersenyum kepadanya "apa kurangnya abangku itu, udah tampan, mapan lagi" setelah itu Risda langsung berbalik arah, melirik Bintang sekilas dan kemudian pandangan Risda lurus kedepan, tidak lagi tidur dan menaikkan sandaran kursi normal kembali.


"Hay sayang" sapa Adi pada Rita setelah melihat adik kesayangannya seperti kesal pada Rita.


Rita langsung membuang muka malu pada Adi karena Risda yang terang-terangan merestui hati Adi tertuju pada Rita.


"Pasar malam" suara Risda yang memecah keheningan malam dalam kesunyian tanpa sua suara.


"Riis, aku belum mandi" protes Rita.


"Jalan" perintah Adi.


Bintang melajukan mobilnya kemana tujuan Risda sampaikan tadi. Di pasar malam begitu banyak permainan yang bisa dinaiki dan dimainkan oleh orang dewasa, lagi dan lagi dan untuk kedua kalinya Bintang melewai tempat tujuan begitu saja.


Risda dan Rita melihat pasar malam berbinar kesenangan merencanakan permainan apa saja akan dinaiki mereka nanti.


"Yaah, dilewatin lagi" frustasi lirih Rita. Berbeda dengan Risda yang tiada kata langsung menatap tajam sang supir yang seolah tidak bersalah melewati tujuan tuannya begitu saja.


"Memainkan permainan disana juga membutuhkan asupan energi" Bintang memberikan pemahaman pada Risda dan Rita, setelah menyadari tatapan tak bersahat dari Risda dan kemudian dibalas dengusan kesal dari Risda.

__ADS_1


Mobil berhenti di parkiran rumah makan siap saji. Rita turun terlebih dahulu menuju toilet setelah meminta izin pada yang lain.


"Dek turun, kita makan dulu yuk" ucap dan ajak Adi lembut sambil memegang bahu Risda dari belakang "nanti adek mainkan semua permainan sepuasnya, abang yang bayarkan" tersenyum hangat.


"Betul abang?" tanya Risda antusias.


"Iya, turun makan dulu ya".


Risda turun dari mobil langsung memasuki warung makan siap saji dan duduk tenang disana seorang sambil menunggu abang dan dua sahabatnya menyususl dirinya.


Bintang mebuang napas kasar.


"Kenapa" tanya Adi yang hendak turun menyusul Risda.


"Adik, abang" menghadap Adi "kadang dewasa dan kadang-kadang juga seperti anak-anak" berbalik arah lagi, dan duduk normal kembali "jika sifat kekanak-kanakannya kumat, sungguh sangat merepotkan" memeluk kemudi menyembunyikan wajah lantaran malu "tapi aku tambah cinta".


"Hahhahahah" tawa Adi pertama kali melihat sikap manja Bintang yang ditujukan padanya "sekolah dulu kalian sampai lulus, setelah itu baru ada restu dari abang" beranjak turun dan meninggalkan Bintang yang masih memeluk kemudi.


Membunuh atau dibunuh


Mungkin dalam peperangan ataupun konflik jika ia tidak membunuh musuh maka musuhlah yang akan membunuhnya.


Beda halnya dengan perang yang sedang kuperangi, berperang dengan batin sendiri, membunuh rasa cintaku padamu atau rasa itu yang akan membunuhku secara perlahan dengan tombak asmara dalam kerinduan dalam diam, diam-diam menancap dalam kerelung usus jantung hatiku paling dalam.


Tidak mudah memebuat pilihan yang sama-sama menggeroti rasa mengikis masa, sayang. Aku akan tetap memilih mencintaimu dengan segala konsekuensinya, aku siap menjalaninya, asalkan dikau bahagia dengan cintamu itu. Satu pintaku padamu jangan tinggalkan aku, tidak mengapa bagiku posisi sahabat yang dikau berikan padaku.


Muhammad Bintang.


Adi, Bintang, Risda dan Rita telah berkumpul di satu meja makan di salah satu warung yang dipilih mereka untuk makan malam terlebih dahulu sebelum menuju ke pasar malam yang tentu akan meguras tenaga mereka disana.

__ADS_1


Risda mencuci tangannya setelah siap makan dan langsung mengajak pergi tanpa melihat kondisi. "Ayok" ajak Risda.


"Sabarlah Riis" Rita tersenyum cengengesan dengan mulut dengan makanan karena belum satu suap pun makanan berhasil Rita telan.


"Sabarlah dek, lihat kakak ipar maa" belum selesai Adi berucap, ada satu kata yang harus menghentikan Adi.


"Lambat" sarkas Bintang.


"Diam" Rita menatap tajam Bintang setelah bersusah payah menelan nasi dalam mulutnya yang masih belum terkunya sempurna "mentang-mentang kamu dan Risda bisa makan secepat kilat".


Hampir setengah jam berlalu, Rita baru menyuapkan nasi terakhir dalam mulutnya, tanpa menunggu lama, Bintang langsung memanggil satu waitress untuk menghitung berapa tagihan yang harus dibayar oleh Adi dikarenakan Bintang melihat Risda yang sudah tidak sabaran ingin mengunjungi pasar malam yang telah dilewatiya tadi.


"Sabarlah Bint" kesal Rita.


Tidak ada jawaban dari Bintang namun Rita melihat arah pandangan Bintang yang tertuju pada Risda. Rita melihat Risda duduk tenang dengan wajah datar melihat kearah luar rumah makan, Risda melihat sepeda motor, mobil dan orang-orang yang berlalulalang kearah tujuan mereka masing-masing.


"Hey" panggil Rita "Jangan melamun".


Risda tersadar dari lamunannya dan menatap Rita intens "ada apa" tanya Risda.


"Ayok" langsung bangkit dan juga disusul oleh Adi namun Adi berbelok menuju kasir terlebih dahulu.


Hanya sekitar sepuluh menit jarak antara rumah makan yang disinggahi mereka dengan pasar malam yang akan mereka kunjungi.


Yees teriak girang Risda dalam hati berbeda dengan Rita yang lantang berteriak keras "yeess, hoooreee pasar malam, yuuuuhhuuu".


Adi menatap Rita yamg berada disebelahnya yang terlalu bersemangat sedangkan adiknya Risda berwajah datar, yang tidak bisa Adi tebak, adiknya itu merasakan senang atau tidak saat ini.


Disisi lain Bintang sedikit terkejut dengan teriakan Rita yang begitu antusias kesenangan, melihat sekilas Rita melalui kaca yang ada di hadapannya dan Bintang juga melirik sekilas pada Risda disebelah yang berwajah datar.

__ADS_1


Dasar Risda, padahal kamu saat ini tengah merasakan senang karena kamu melihat apa yang kamu senangi ada depan mata tetapi mengapa satu senyum saja begitu pelit dikau umbarkan. Aku merindukan senyumanmu sayangku monolog hati Bintang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2