
Keanggunan Risda semakin terpancar saat langkah Risda melebar dan ditambah lagi api kecemburuan menggelayuti seakan sinaran yang terpancar menghipnotis siapapun yang memandang Risda. Risda terus melangkah tanpa mempedulikan Bintang dan Rajif yang terus mengikutinya.
Bintang dan Rajif mengikuti langkah Risda dari belakang merasakan sedikit kewalahan.
Perempuan kalau sudah cemburu bahaya batin Bintang bersuara sambil terus melangkah mengikuti Risda.
Si Risda sedang berjalan atau lari sih, lebar amat langkahnya batin Rajif berteriak keras karena merasakan keringat yang mengalir di badan Rajif sudah lumayan deras, baju kemeja yang berada dalam baju jas yang ia kenakan sudah lumayan terasa basah.
Bintang dan Rajif terus melangkah mengikuti langkah Risda.
"Dimanasih kamu parkir mobilnya, jauh sekali" keluh Rajif pada Bintang yang berjalan beriringan dengannya mengikuti langkah Risda yang berjalan bagaikan sedang berlari.
"Siapa suruh kamu ngikutin kami" sarkas Bintang.
"Sayangku itu, sepertinya kayak ada masalah" ungkap Rajif yang tidak tahu bahwa Risda sedang dikuasai amarah cemburu sambil menunjuk kearah Risda yang sedang berjalan di depan mereka berdua.
Terik matahari menyinari bumi terasa panas menyentuh kulit. Bintang semakin panas saat ada pria lain yang mengaku sayang pada kekasihnnya Risda. "Tidak malu. Asal ngaku" sarkas telak Bintang memukul kesadaran Rajif melalui beberapa kata yang terdengar kejam.
Rajif berpaling wajah menatap Bintang sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya mengejek Bintang. Bintang menganggap Rajif menyatakan perang secara terbuka padanya ingin merebut Risda darinya.
Bintang dan Rajif saling tatap, Rajif dengan senyuman ejekan sedangkan Bintang kedataran mukanya yang bertambah diatas rata-rata. "Jangan harap bisa mendekati Risda" ucap Bintang yang kemudian memalingkan wajah menatap lurus kedepan.
Rajif tidak menjawab sarkas dari Bintang dikarenakan Rajif tidak ingin membuang-buang energi meladeni Bintang. Rajif terus mengikuti Risda yang melangkah lebar itu.
Risda melangkah lebar terus berjalan menghampiri dimana mobil Bintang terparkir. Kini Risda telah berdiri tepat disamping mobil Bintang. Risda menarik-narik knop pintu mobil namun pintu mobil itu tidak bisa terbuka. Sinar matahari terasa panas, kecemburuan yang menghasil api amarah juga terasa panas dan ditambah lagi kekesalan Risda yang tidak bisa membuka pintu terasa makin panas.
"Buka" ucap Risda dengan muka datar menatap Bintang. Bintang yang masih melangkah itu merogoh saku celana, mengeluarkan kunci beserta remote mobil untuk membuka pintu mobil.
Rajif untuk pertama kali melihat raut wajah Risda yang begitu datar, sedikit bertambah kagum akan kecantikan Risda yang kian bertambah selebihnya merasakan takut saat melihat wajah Risda yang tidak bersahabat itu.
__ADS_1
Pintu mobil telah bisa dibuka oleh Risda yang sebelah kiri pengemudi. Risda tidak jadi masuk dan malah menutup pintu kembali, bukan menutup tetapi membanting pintu sampai tertutup kembali.
Risda berdiri tegap tetap dengan mempertahan kedataran wajahnya menunggu Bintang mendekatinya. Risda menyodorkan tangan bermaksud meminta kunci mobil pada Bintang.
Bintang yang telah berdiri tepat di hadapan Risda melihat saja sodoran tangan yang diajukan Risda padanya.
"Minta" ucap Risda kemudian.
"Tidak" jawab Bintang sambil menggenggam erat kunci mobil dan menyembunyikan tangan ke belakang punggungnya.
Rajif yang semenjak tadi memperhatikan Bintang dan Risda menjadi bingung sendiri apa yang sedang dibicarakan dua insan yang berada di hadapannya. "Kalian ngomong apa sih?" tanya Rajif kemudian.
"Minta" Risda meminta lagi kunci yang ada pada Bintang.
Hembusan napas kasar terdengar dari Bintang dan kemudian Bintang menyerahkan kunci tersebut pada Risda.
Risda mengambil alih paksa kemudi dari Bintang.
Rajif yang melihat Bintang dan Risda sudah masuk dalam mobil segera menyusul masuk tanpa diundang.
Risda melihat Rajif yang tiba-tiba sudah duduk disampignya mengalihkan pandangan melihat Rajif dan bertanya "mau kemana?".
"Ikut ya" tersenyum lebar.
"Yakin" tanya Risda.
"Jangan menyesal ya" lanjut Bintang.
Dalam seketika seluruh bulu roma Rajif mendadak berdiri merinding, merasakan sesuatu akan terjadi apalagi posisi duduk Rajif disamping Risda. Rajif melihat sekilas Bintang duduk tenang di belakang sambil memakai seat belt.
__ADS_1
Rajif melakukan hal yang sama seperti Bintang, belum juga seat belt nya terpasang sempurna namun Risda sudah menggas pol mobil menancap gas sehingga melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata diawal mula kelajuan mobil, seakan jantung Rajif izin pamit undur diri dari badan.
"Astaqfirullah. Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar" teriak Rajif merasakan kecepatan mobil yang dikendarai Risda semakin menjadi-jadi kelajuannya.
Risda tersenyum simpul dan berucap santai seakan tidak bersalah "banyak makanannya bang" dan menambah kecepatan mobil.
Reaksi Bintang juga tidak jauh beda dari Risda saat mendengar Rajif yang membaca doa makan, Bintang memegang erat hand handle mobil sambil menahan senyum melihat reaksi Rajif yang sedang katakutan itu.
"Jangan becanda Risda" memejamkan mata melihat mobil lawan arah yang melaju sedangkan Risda yang memiliki sedikit celah langsung menyalip mobil lainnya begitu saja saat ada mobil di depannya yang mengahalangi jalannya "Aku belum mau matiiiiii. Risssddaaaaaa" teriak Rajif, menjerit-jerit ketakutan.
Risda malah menjawab santai "iyaaa".
Kendaraan semakin melaju cepat, apalagi sekarang reel jalan Risda pilih jalanan sepi dari kendaraaan lain.
Rajif tidak henti hentinya mengucap istiqfar dan segala macam doa yang ia bisa bahkan doa makan, doa mau tidur sampai dengan doa mau masuk wc juga Rajif rapel sekalian.
Bintang yang duduk dibelakang sisi Risda bukannya takut malah tidak bisa lagi menahan tawanya saat mendengar doa yang terakhir terlafadzkan dari bibir Rajif yaitu doa masuk wc "hahahhaha" tangan Bintang yang semula memegang hand handle beralih memegang perut yang terasa kram akibat tawa Bintang yang tidak main-main, saking kerasnya Bintang tertawa.
"Diamlah. Jangan ketawa kamu. HUAAAAA" Rajif sudah mulai mode keluar air mata alias nangis ketakutan.
Risda mendengar tawa Bintang yang begitu lepas untuk pertama kali mendadak merasakan takut sendiri.
Risda memutar arah stir kemudi menuju tempat wisata laut. Kelajuan mobil yang dikendari Risda telah menurun. Risda melirik sekilas Rajif yang berada di sampingnya terlihat lemas di tambah lagi mukanya yang kelihatan pucat sedangkan Bintang sudah dalam keadaan cool kembali, entah kemana tawa lepas yang ia keluarkan tadi menghilang.
Risda sudah melajukan mobil dalam keadaan normal kembali, mencari tempat parkir yang pas untuk memanjakan matanya melihat pemandangan laut yang berwarna biru airnya.
Belum juga mobilnya berhenti dengan sempurna namun Rajif dengan tergesa-gesa membuka pintu dan berlari keluar menghindari keramain untuk mengeluarkan apa yang daritadi yang serasa diaduk aduk dalam perutnya.
Huek. Muntah Rajif.
__ADS_1
Bintang juga turun mengikuti langkah Rajif yang yang berlari membiarkan Risda memarkirkan mobil dengan pas sendiri. Bintang menghampiri Rajif yang sedang muntah, Bintang mengusap dan memijit tengkuk leher Rajif yang sedang muntah itu.
BERSAMBUNG...