
Bintang celingak celinguk sendiri kesisi kiri dan kanan melihat kendaraan yang berlalulalang yang dipandang heran Rajif dan Risda. "Turun" ucap Bintang tiba-tiba setelah setelah sekian menit senyap dari kata.
"Hah?" tanya Rajif dan Risda bersamaan.
"Kamu turun" ulang kata Bintang sambil melihat Rajif tajam.
"Kenapa. Apa salahku. Kan ini belum sampai" sanggah tidak terima Rajif akan perintah Bintang padanya.
"Kepalamu yang bermasalah" sarkas Bintang sudah kembali naik pitam saat mengingat kata Rajif yang mengatakan cemburu segitiga. Padahal Bintang dari counter tadi sudah menahan diri supaya tidak terlihat amarah cemburunya yang sungguh sangat sulit untuk disembunyikan, malah Rajif dengan terang-terangan mengatakan padanya cemburu segitiga.
Sontak Rajif meraba-raba kepalanya sendiri kala mendengar penuturan Bintang kepalanya yang bermaslah. Risda yang duduk tenang di belakang mengulum senyum saat melihat dan mendengar pertengkaran kecil antara Bintang dan Rajif walaupun dirinya tidak tahu akar permasalahannya diantara mereka apa.
"Mau turun sendiri atau saya yang turunkan" tanya tawar Bintang yang sama sekali tidak menguntungkan Rajif.
Rajif bisa merasakan bahwa Bintang kali ini tidak akan main-main dengan kata-katanya terlihat sangat serius. "Iya baik, aku turun, setelah kamu mengatakan apa salahku".
"Selain tidak sopan ternyata kamu pikun juga ya".
Cemburu segitiga batin Rajif menemukan jawaban atas bantuan logikanya dikerahkan penuh tenaga.
"Tidak sopan karena apa?" tanya Rajif yang terlupa akan tindakannya diawal mula perjalanan.
Bintang turun dari mobil dan melangkah kakinya di samping pintu yang diduduki oleh Rajif. Bintang membuka pintu mobil dan menunduk setengah badan menatap Rajif dalam. "Apakah kamu mendapatkan izin sewaktu ikut dengan kami? dan sekarang kami tidak memerlukan izin untuk meninggalkanmu" ucap panjang kali lebar Bintang.
"Turun".
Rajif tidak lagi menjawab Bintang dan segera turun.
__ADS_1
Risda melihat Rajif turun dan bersitatap dengan Bintang. Risda tidak bisa melihat reaksi Rajif seperti apa karena Rajif berdiri membelakanginya sedang wajah Bintang, Risda melihat jelas bahwa Bintang sedang dalam mode tidak baik-baik saja alias sedang marah.
Risda berdecih pelan seorang diri tidak suka melihat pertengkaran yang tidak jelas asal muasalnya menurutnya. Risda merangkak mencondongkan badannya kedepan dan menekan klakson mobil.
Tiiiiiiiit. Bunyi klakson mobil Bintang.
Bintang dan Rajif sama-sama terkejut namun mereka sama-sama tidak mengeluarkan suara.
Setelahnya Bintang berputar haluan melangkahkan kakinya menuju pintu mobil bagian kemudi meninggal Rajif yang masih berdiri terpaku seorang diri.
Bintang yang telah masuk dalam mobil segera mengunci pintu, tidak membiarkan Rajif masuk kembali, namun Bintang tidak langsung melajukan mobilnya malah beradu mulut cekcok ringan bersama Risda di dalam mobil.
Tok tok tok. Rajif mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Rajif.
Bintang membuka sedikit kaca jendela mobil menatap datar Rajif "jika ingin pulang silahkan pikirkan sendiri caranya, jika tidak, juga tidak ada larangan untuk kamu tinggal di pinggaran jalan sisni" ucap Bintang. Setelahnya Bintang pergi meninggalkan Rajif seorang diri.
"Aaah" kesal Rajif seorang diri sambil mengacak-ngacak rambutnya. Rajif merogoh saku celananya mengambil hp, Rajif melihat sinyal hp nya juga kesal sendiri dikarenakan card sim yang ia pakai sinyalnya cuman satu, itupun naik turun sinyal yang sedang tidak stabil di area keberadaannya kini.
Rajif terus berjalan menyusuri jalan pandangan terang akibat terik matahari terasa menyengat. Rajif mencoba menelpon para sopirnya namun tidak bisa. Hampir satu jam waktu berlalu, panggilan yang ia sambungkan akhirnya tersambung juga "jemput saya sekarang" ucap Rajif, setelanya Rajif mengeshare lokasi keberadaannya melalui aplikasi khusus chattingan.
Tidak lama kemudian sekitar setengah jam menunggu, baru sampai sopir yang menjemput Rajif.
Sedangkan di lain sisi yang terjadi antara Bintang dan Risda. "Kenapa kamu meninggalkannya?" tanya Risda dengan nada sedikit emosi.
Bintang diam, tidak menjawab.
"Kamu juga sama kayak dia ngak sopan. Apakah kamu pikir yang kamu lakukan tadi sopan. Hah?".
__ADS_1
Bintang masih diam, tidak menanggapi Risda sama sekali.
"Jawab. Aku ngomong sama kamu".
Bintang diam tidak menyahut Risda sama sekali. Sekilas Bintang melirik Risda yang sudah berada di sampingnya semenjak Rajif diturunkan paksa oleh Bintang tadi.
Risda bukan tipe yang marah merepet-repet tidak jelas dan berlarut-larut, cukup sepatah dua kata yang diungkapkannya dan kemudian diam dengan datar tiada lagi kata sama sekali, jadi sepanjang perjalanan keadaan hening seperti biasa akan terjadi.
"Kita akan ke pabrik sebentar" ucap Bintang tiba-tiba setelah sekian belas menit terlewati dengan keheningan.
"Gerah" ucap Risda sambil menutup mata sebentar dan memijit keningnya sendiri.
Tidak lama Risda merasakan kelajuan mobil telah menurun dan kini mobil yang dikendarai Bintang telah berhenti. Risda membuka matanya kembali dan melihat Bintang yang telah keluar dari mobil.
Bintang melangkahkan kakinya mamasuki pakaian lengkap khusus wanita dari usia balita sampai dewasa. Sekitar sepuluh menit berlalu Bintang kembali lagi memasuki mobil dan menyerahkan paper bag berisikan pakaian untuk Risda.
Risda melihat isi dari paper bag dan menemukan satu set baju untuk dirinya.
Waktu tetaplah berjalan, tiada pernah berhenti dan kini mobil yang dikendarai Bintang telah sampai pada pabrik milik Adi. Bintang dan Risda turun dari mobil berjalan beriringan masuk kedalam pabrik. "Aku langsung naik keatas ya" ucap Risda pada Bintang dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bintang yang mulai sibuk dengan pekerjaan mengecek stok padi yang harus digiling dan stok beras yang harus diekspor.
Risda masuk dalam ruang kerja Adi dan langsung masuk dalam kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaian baru yang baru saja dibelikan oleh Bintang. Tidak lama waktu terlewati Risda telah siap mandi dan kini saatnya mamakai baju yang berada dalam paper bag yang ikut dibawakan Risda ke kamar mandi.
Risda mengeluarkan sepasang baju dari paper bag yaitu baju panjang dan calana kulot, secara tidak langsung dia ingin merubah kepribadianku sedikit feminim batin Risda bersua sambil tercetak sedikit senyum dibibirnya. Risda meletakkan bajunya di gantungan khusus baju yang berada disitu dan meletakkan paper bag itu diatas closet namun Risda masih bisa merasakan seperti masih ada isi didalamnya, Risda mengambil kembali paper bag itu dan melihat kedalamnya.
Mendadak muka Risda merah padam lantaran melihat isinya yaitu pakaian dalam sesuai ukuran yang ia pakai. "Aaaaaa" teriak Risda seorang diri yang hanya Risda sendiri yang bisa mendengarnya lantaran ruangan yang kedap suara.
"Dasar Bintang. Bagaimana bisa muka ini nanti bersitatap mata dengannya" ucap Risda seorang diri dengan batin menangis menahan malu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...