
terdengar suara ketukan pintu kembali dan dorongan pelan dipntu dan terlihat sepasang kekasih Albert dan Liza yang tampak sangat bahagia.
Risda sejenak melupakan tentang pernikahan yang akan dijalaninya. Melihat senyum Albert amarah dan sakit yang sedang Risda rasakan mendadak menghilaang pergi entah kemana. "Masuk pak."
Perbincangan hangat mengaliri bagaikan sudah seperti keluarga yang betul-betul terjalin lama.
Bintang semejak tadi kini bersuara bertanya maksud kedatangan Albert "Ngapain Anda kesini," muka datar.
"Oh iya hampir lupa. Ambilkan undangannya sayang," menyodorkan tangan pada Liza.
Albert menyerahkan undangan pernikahannya dengan Liza kepada Risda sambil tersenyum manis.
Risda menegarkan hati tersenyum kaku sambil menerima seccarik kertas undangan pernikahan tersebut. "Selamat ya pak," menatap Albert menahan luka "Liza selamat ya."
Risda sejujurnya ingin sekali menangis menatap foto mesra antara Albert dan Liza, dan yang paling menyakitkan adalah foto Albert saat mengenggam tangan wali dari Liza saat mengucapkan ijap qabul pernikahan.
Risda menahan diri sekuat mungkin untuk jangan sampai menangis.
"Tadi kami sudah kerumah. Tapi kata pak satpam komplek Bintang dan Riisda sedanng dirawat disini."
Dari jarak hanya beberaa meter Bintang memperhatikan bola maa Risda yang memang mengisyaratkan kelukaan.
...Sedalam itukah kamu mencintainya, tetapi kenapa kamu tidak pernah melihat sedalam mana aku mencintaimu....
...Melihatmu terluka, aku juga ikut terluka sayangku. Jika nanti kita bersanding dan hidup bersama, aku berjanji akan membantu untuk mencintaiku....
"Bintang, jangan melamun nak," peringat Zay.
Bintang terkaget keras melihat Albert yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya dan hanya melihat lama tangan Albert yang disodorkan padanya.
"Selamat atas pernikahannya pak." setelahnya Bintang berjabat tangan degan Albert.
Sekian waktu berlau, tidak lama setelah Albert dan Liza menghilang dari balik pintu yang telah tertutup Risda langsung mendapatkan tatapan mata horor yang dari sang bapak. "Itukan Albert yang kamu suka?"
__ADS_1
Risda memalingkan wajah tidak mau menanggapi lantaran tidak kuat, takut airmatanya jatuh.
"Dia telah menikah sebulan yang lalu dan akan mengadakan resepsi di akhir pekan nanti. Tidak ada yang perlu kamu harapkan lagi, bulan depan kalian nikah."
Bintang dan Risda sama-sama hanya mejawab dengan anggukan kepala sekali.
"Udah mau nikah masih pula pelit ngomong," celutuk Irsyad tanpa diminta.
...Aku mencintaimu sepenuh hatiku, tapi kamu mencintainya melebihi cintaku padamu sehingga seluruh cintaku untukmu tidak terlihat dimatamu....
Tanpa kata Risda merebahkan badannya kembali dan tiduran memejamkan mata memaksa untuk tidur, menghilangkan jejak sebentar saja bahwa Risda pernah mencintai.
Baru juga Risda terlelap dalam mimpi, dokter dan dua perawat masuk untuk mengecek keadaan Bintang dan Risda.
Bintang yang hanya demam biasa dan juga lecet-lecet sedikit dibadannya sudah bisa pulang. Sedangkan Risda yang baru saja terlelap dalam tidur, berusaha dibangunkan untuk mengecek keadaan Risda namun apalah daya kalu tidur memang kayak orang m*ati.
"Dokter, itu kakak saya kalau sudah tidur, lupa bangun dia. Sudah jadi kebiasaanya kayak gitu."
Dokter tersebut menatap Irsyad sekilas dan kembali mengecek keadaan Risda.
"Tidak terjadi apa-apa dok," Nur yang menjawab.
"Tidak mungkin. Pak, bu, kondisi Risda belum stabil walau seluruh bisa ular telah keluar semua. Ini anak bapak dan ibu tidak sadarkan diri dan tensi darahnya dibawah normal. Pemicunya tress berlebihan. Apapun masalahnya jangan dulu teralu membani pasien. Malam nanti cek lagi."
Dokter dan dua perawat pergi meeninggalkan ruangan setelah menangani Bintang dan Risda.Nur dan Zay hanya bisa berpandangan mata mempertanyakan apakah tindakan mereka sudah tepat atau tidak.
Setelah dua hari lagi dirawat Risda baru diperbolehkan pulang. Risda yang memang tidak banyak kata dan tidak ada senyuman diwajahnya kini wajah Risda semakin muram. Setelah sampai dirumah Risda langsung masuk dalam kamar dan mengunci pintu setelah sebelumnya berpesan jangan ada yang menganggu atau memanggil dirinya dikamar.
Tiga hari tiga malam Risda mengurung diri dalam kamar menumpahkann segala keesedihannya atas cintanya yang bertepuk sebelah tangan an juga ditambah lagi dengan pernikahannya dengan sahabat yang selalu ada bersamanya.
Nur dan Zay sangat khawatir pada Risda, dengan segala cara mencoba membuka pintu tapi tetap tidak bisa dibuka.
Setiap pintu dibuka dari luar, Risda hanya melihatnya saja tanpa berniat membuka pintu atau sekadar mengatakan dia baik-baik saja.
__ADS_1
Risda sudah mengantispasi disaat- saat darurrat seperti ini, saat ini Risda hanya ingin sendiri tidak ada ingin ada yang menemani atau menghampiri.
Akhir pekan yang dinanti oleh Albert dan Liza, yaitu segenap acara resepsi yang digelar mewah disebuah hotel ternama dan juga resepsi mereka juga turut serta diyangkan diberbagai siaran televisi nasional.
Bertepatan dengan hari itu Risda keluar kamar dalam keadaan segar bugar tidak ada kekurangan sedikitpun setelah melampiaskan seluruh amaarah dan kecewa pada samsak tinju yang ada dalam kamar Risda.
Risda keluar kamar dengan menggunakan dress gamis yang telihat anggun dan juga ditambah laagi heals tinggi. Sebuah kejadian langka Risda memakai pakaian yang seperti itu dan juga make up natural yang sangat-sangat cantik terlihat.
Kekhawatiran Nur dan Zay berubah menjadi kebingungan melihat penampilan Risda yang sangat jauh berbeda dan juga cantik.
Risda menghampiri seluruh keluarganya yaang sedang makan bersama dan tersenyum lembut. "Pak, aku setuju menikah dengan Bintang. Apakah boleh jadwalnya dipercepat menjadi sepekan lagi. Ah terlau lama, tiga hari lagi ya pak, kalau tidak bisa, ya tidak pernah pernikahan," tersenyum hangat dan kemudia Rida beralih menatap Adi "bang pinjam mobil."
Adi tidak bisa berkata sangking syok dengan perubahan Risda yang super mendadak hanya mampu menunjukan dimana letak kunci mobilny dengan cara meenunjuk.
Risda mengemudi dengan santai tidak segila seperti biasanya sambil berguman lirih masih menahan sakit sesakan dadanya "aku sudah bisa melepaskanmu sayangku, dan sekarang aku akan mencoba untuk mengiklaskanmu untuk tidak bersama." Menghembuskan napas kasar. Risda pergi menghadri pernikahan Albert sang pujaan hati menikah.
...****************...
Pernikahan Bintang dan Risda tidak kalah mewah dan megah daripada pernikahan Albert.
Pernikahanku memang mewah tetapi aku belum menemukann kebahagian dalam pernikahanku ini. Aku Risda Zay Akli telah resmi menjadi seorang istri dari Muhamad Bintang seorang sahabatku yang paling aku sayangi.
Bintang duduk tepat disebelahku sebagai mempelai priaku, senyum yang tidak pernah terlihat dari wajahnya, hari ini dia full senyum, mungkin cita-citanya telah terpenuhi dengan memperistrikan aku.
Semua tampak bahagia atas pernikahanku terutama Bintang dan kedua orangtuaku.
Aku memperhatikan wajah bahagia yang berada disebelahku. Kemudian Bintang menatapku dan tersenyum "aku berjanji akan menjagamu dengan nyawaku, membahagiakanmu dengan seluruh hidupku dan aku juga berjanji akan membantu untuk mecintaiku."
"Aku pegang janjimu sahabat," membalas senyuman Bintang.
"Ciee yang udah saling senyum senyuman disana," teriak Adi dan Rita.
Naag untuk Rita sahabatku, ternyata tanpe sepengetahuanku mereka telah sepakat akan menikah dengan abang sepupuku itu, bang Adi usai perkuliahan kami, setelah wisuda pastinya.
__ADS_1
Sedangkan Rajif entah kemana dia menghilang lagi. Mungkin dia kecewa karena orangtuaku menolaknya secara tidak langsung.
...TAMAT...